
Perjalanan Raisa dan Rumi menuju ke tempat orangtua Rumi tinggal pun berlansung dengan hening, tidak ada sepatah kata pun yang terdengar ke luar dari mulut keduanya. Mereka berdua hanya diam...
"Raisa, kau lihat tempat dan orang-orang itu?" Tanya Rumi menunjuk ke arah bawah.
"Aku lihat. Jadi, kita sudah hampir sampai?" Ujar Raisa
"Ya. Ayo, turunlah..." Kata Rumi
"Baiklah. Aku akan segera mendarat. Kau bersiaplah." Balas Raisa
Raisa pun mulai terbang lebih rendah menurun untuk mendarat. Bersama Rumi yang menggengam tangannya, mereka berdua pun turun dan mendarat di atas tanah.
Melihat ada yang datang tiba-tiba dan mendarat dari langit, orang-orang yang berjaga di sekitar tempat itu pun menghampiri Raisa dan Rumi.
"Siapa kalian?! Mau apa datang ke sini?!" Interogasi mereka
"Paman, ini aku!" Kata Rumi memperlihatkan dirinya.
"Dia Rumi, anak Tuan Rommy. Tidak apa." Ucap seseorang penjaga yang mengenali Rumi.
Para penjaga kawasan tempat orangtua Rumi pun mulai menurunkan sikap pengawasan terhadap Rumi dan Raisa. Lalu mereka kembali berjaga di lain tempat.
"Aku ingin masuk ke dalam bersama dengannya, Paman." Ucap Rumi sambil menunjuk Raisa.
"Halo, Tuan Tara." Sapa Raisa sambil melambaikan satu tangannya pada kepala penjaga kawasan tempat orangtua Rumi tinggal.
"Kau gadis bersayap burung... Apa kau adalah Raisa yang banyak dirumorkan itu?" Ujarnya bernama Tara.
"Kau bahkan tau namaku, Tuan?" Tanya Raisa
"Kau saja bisa tau namaku, kenapa aku tidak bisa? Tempat ini memiliki banyak telinga dan mulut." Ujar Tuan Tara.
Maksud dari tempat yang banyak telinga dan mulut adalah bahwa rumor yang terdengar akan sangat cepat menyebar.
"Apa kau yang memberitau tentangku, Rumi?" Tanya Raisa
"Tidak. Aku masih belum sempat ke mari setelah kedatangan pertamamu ke sini. Aku belum bicara apa-apa tentangmu pada mereka yang berjaga di sini." Jawab Rumi
"Kalian ingin masuk kan? Silakan. Mau masuk berdua saja atau kuantar ke dalam?" Ujar Tuan Tara
"Kami berdua saja, Paman. Terima kasih." Ucap Rumi
"Kami masuk dulu, Tuan. Permisi." Sopan Raisa
Rumi pun membawa Raisa ikut serta dengannya masuk ke dalam area tempat tinggal orangtuanya.
"Kau pasti lelah membawaku terbang bersamamu sampai ke sini ya, Raisa? Tenagamu pasti banyak yang terkuras percuma." Ujar Rumi
"Ini bukan masalah, tak apa. Setelah istirahat dan makan, tenagaku juga akan pulih dengan sendirinya." Ucap Raisa
Saat Rumi dan Raisa masuk ke dalam, mereka bertemu kerabat orangtua Rumi yang tinggal bersama di sana. Seorang lelaki bernama Garry.
"Eh, kau pulang ke rumah, Rumi? Siapa yang datang bersamamu?" Tanya Tuan Garry yang menyapa kedatangan Rumi bersama seorang gadis.
"Halo, Tuan Garry. Senang bertemu denganmu." Sapa Raisa
"Kau tau namaku? Kau adalah Raisa yang itu*?" Tanya Garry.
*Ia mengatakan Raisa yang itu maksudnya adalah yang banyak dirumorkan.
"Kau bahkan dapat mengenaliku ya, Tuan?" Tanya balik Raisa
Tuan Garry tidak merespon pertanyaan Raisa, walau begitu Raisa sudah tau jawaban pastinya.
Garry menatap Rumi bermaksud meminta penjelasan. Namun, Rumi tak menanggapinya.
"Di mana dia? Aku mau bertemu dengannya." Ujar Rumi
"Maksudmu, Tuan Rommy? Panggillah dengan benar. Bagaimana pun dia adalah Ayahmu." Ucap Tuan Garry
"Ah, iya, Tuan. Ada suatu kondisi yang mengharuskan Rumi untuk segera menjalani pemeriksaan." Jelas Raisa
Saat itu, tiba-tiba seseorang datang menghampiri mereka. Seorang wanita berkacamata. Yaitu Nona Rina.
"Aku mendengar ada yang datang. Ternyata itu kau, Rumi. Kau bahkan membawa pulang seorang gadis bersamamu. Kau sudah besar ternyata! Tapi, kukira kau akan datang bersama Aqila." Ucap Nona Rina
"Tidak ada urusannya denganmu aku mau datang dengan siapa!" Kata Rumi yang mendelik tajam memprotesi perkataan Nona Rina yang mungkin saja melukai perasaan Raisa.
"Jangan dengarkan dia, Raisa." Imbuh Rumi mencoba menghibur Raisa.
__ADS_1
"Tidak apa." Sahut Raisa
"Oh, ternyata ini dia, Raisa, yang sedang banyak dirumorkan itu!" Ujar Nona Rina
"Senang bertemu denganmu, Nona Rina." Sopan Raisa
"Oh, kau bahkan tau namaku. Aku terkesan!" Kata Nona Rina
Raisa lagi-lagi merasa tersentuh. Kali ini karena Rumi membela dan berusaha menghiburnya.
Kerabat orangtua Rumi sudah seperti keluarga dan saudara bagi Rumi. Namun, Nona Rina malah berharap Rumi datang pulang bersama Aqila. Itu artinya, Nona Rina berharap Rumi memiliki hubungan lebih dengan Aqila. Tidak seperti dugaannya, Rumi malah pulang bersama gadis lain. Harapan Nona Rina seakan pupus bersamaan rasa nyeri di hati Raisa. Tidak menyangka, ternyata Nona Rina sangat mengharapkan kedatangan Aqila yang datang bersama Rumi membuat Raisa merasa sedikit kecewa dan sakit hati. Ternyata kedatangannya di sana tak diharapkan.
"Rin, tolong bawa Raisa untuk istirahat di kamar tamu. Aku akan menemui Ayah." Pinta Rumi
"Eh? Padahal aku menunggu di sini juga tidak masalah." Kata Raisa
"Kau istirahat saja sambil memulihkan tenagamu yang terbuang sia-sia karena menyelamatkanku." Ucap Rumi
"Hei, menyelamatkanmu bukanlah perbuatan yang sia-sia! Jangan berkata seperti itu, aku baik-baik saja kok." Ujar Raisa
"Sudah, kau istirahat saja dulu. Rina akan mengantarkanmu." Ujar Rumi
"Baiklah. Kau juga harus segera memeriksakan kondisimu ya, Rumi." Kata Raisa
"Ya, aku tau itu." Sahut Rumi
"Ayo, kuantar kau untuk beristirahat." Ajak Nona Rina
"Mohon bantuannya, Nona Rina." Sopan Raisa
Raisa pun beranjak pergi bersama Nona Rina menuju kamar tamu. Sedangkan Rumi pergi menemui Tuan Rommy, Sang Ayah bersama dengan Tuan Garry.
Di suatu ruangan yang berisi lengkap dan penuh dengan peralatan medis dan pemeriksaan berteknologi canggih, Rumi bersama Tuan Garry masuk ke dalam sana dan menemui seseorang. Seseorang yang disebut sebagai Ayah sekaligus orangtua Rumi. Seorang pria bernama Rommy.
Tuan Rommy yang menyadari ada yang datang langsung menghadap pintu masuk ruangan pemeriksaan favoritnya, menantikan yang akan datang. Ternyata yang masuk ke dalam ruangannya adalah anak dan kerabat yang merangkap sebagai anak buahnya sekaligus. Rumi dan Garry!
"Rumi, kau datang? Senang bisa bertemu denganmu lagi." Ujarnya. Ayah sekaligus orangtua Rumi, Tuan Rommy.
"Senang bertemu denganmu juga, Ayah. Aku mau melakukan pemeriksaan denganmu." Ucap Rumi to the poin.
"Tumben kau datang dan memanggilku dengan sebutan Ayah. Kau bahkan ingin melakukan pemeriksaan. Ada apa?" Ujar Tuan Rommy
"Saat aku dalam perjalanan ke sini, aku diserang orang-orang tak dikenal dan mereka berhasil menyuntikkan racun ke dalam tubuhku. Beruntung ada seseorang yang datang menyelamatkanku saat aku pingsan. Kalau tidak, aku tidak bisa sampai ke sini atau bahkan sudah tak terselamatkan lagi." Ungkap Rumi
"Kalau begitu, cepat! Berbaringlah. Aku akan melakukan pemeriksaan terhadapmu." Kata Tuan Rommy
Rumi pun menuruti perkataan Sang Ayah untuk berbaring di pembaringan untuk segera melakukan pemeriksaan.
---
Raisa diantarkan ke suatu ruangan oleh Nona Rina. Sebuah kamar istirahat untuk tamu. Raisa masuk ke dalamnya bersama Nona Rina. Raisa pun duduk di tepi ranjang kasur.
"Kau istirahat saja di sini. Aku mau melihat Rumi dulu." Ujar Nona Rina
"Baik. Terima kasih, Nona Rina." Ucap Raisa
"Ya, sama-sama. Aku tinggal dulu." Kata Nona Rina
Nona Rina pun meninggalkan Raisa sendiri di dalam kamar tersebut untuk beristirahat. Saat Nona Rina pergi ke luar dan menutup pintu kamar itu, Raisa langsung merebahkan tubuhnya pada ranjang kasur yang empuk itu. Melepas lelah dan bersantai sejenak.
---
Nona Rina memasuki ruang pemeriksaan favorit Tuan Rommy. Di sana ada Garry, Tuan Rommy, dan Rumi. Rumi sedang melakukan pemeriksaan menyeluruh dibantu oleh Sang Ayah dan diawasi sendiri oleh Tuan Garry.
"Apa yang terjadi denganmu, Rumi?" Tanya Nona Rina
"Katanya, dia terindikasi racun. Walau sudah ada yang menyelamatkannya, dia masih meminta pemeriksaan dilakukan." Jelas Tuan Garry
"Apa Raisa yang sudah menyelamatkanmu?" Tanya Nona Rina
"Srpertinya begitu." Sahut Tuan Garry
"Ya, benar. Pasti dia dan temanku yang lain akan sangat khawatir jika aku tidak melakukan pemeriksaan ini." Ucap Rumi
"Jadi, kau melakukan pemeriksaan ini hanya demi teman-temanmu terutama Raisa agar mereka semua tidak khawatir?" Tanya Nona Rina
"Begitulah..." Singkat Rumi menjawab
"Kau selalu saja begitu, lebih memikirkan semua temanmu itu." Kata Tuan Garry
__ADS_1
Mendengar anaknya sendiri dan kedua kerabat sekaligus anak buahnya menyebut nama seorang gadis yang terdengar sedang berada di tempatnya, Tuan Rommy hanya diam daan fokus pada pemeriksaan yang dilakukan pada anaknya.
"Rin, tolong bawakan makanan untuk Raisa. Dia telah menguras banyak tenaganya untuk menyelamatkanku dan membawaku ke sini. Dia harus segera memulihkan tenaganya." Pinta Rumi
"Ya, baiklah." Paham Nona Rina langsung berbalik pergi
---
Tok-tok-tok!
Setelah mengetuk pintu kamar, Nona Rina langsung membuka pintu kamar tersebut dan masuk ke dalamnya. Ketukan pada pintu itu sudah sekaligus meminta izin untuk masuk.
Nona Rina masuk ke dalam kamar istirahat Raisa dengan membawakannya beberapa makanan di atas nampan. Saat masuk, Raisa sudah dalam keadaan duduk di tepi ranjang kasur.
"Rumi memintaku membawakan makanan untukmu. Katanya, kau harus memulihkan tenagamu dengan makan setelah tenagamu banyak terkuras untuk menyelamatkannya. Makanlah." Ucap Nona Rina
Nona Rina langsung duduk di tepi ranjang kasur berhadapan dengan Raisa dan menyerahkan makanan yang dibawanya pada Raisa.
"Terima kasih, Nona Rina." Ujar Raisa
"Kau panggil saja aku, Bibi. Sama seperti Aqila memanggilku dengan sebutan seperti itu." Tutur Nona Rina
"Baik. Terima kasih, Bibi Rina." Ulang Raisa
Dengan adanya makanan yang dibawakan Bibi Rina, Raisa langsung melahap makanan tersebut dengan tetap terlihat sopan.
"Aku makan ya makanannya, Bi. Apa Bibi Rina sudah makan? Sepertinya tidak sopan jika aku makan sendirian di depan orang yang belum makan." Sopan Raisa
"Aku sudah makan sejak tadi." Kata Bibi Rina
"Bibi, ingin bertanya padaku tentang Aqila? Dia baik-baik saja. Sebelum aku pergi mencari Rumi, aku sudah terlebih dulu bertemu dengannya. Dia akan segera menyusul ke sini kok. Tenang saja, kau bisa bertemu dengannya nanti." Ucap Raisa
Raisa tau, Bibi Rina sangat menyukai Aqila. Ia juga tau karena itulah, Bibi Rina berharap Rumi memiliki hubungan lebih dengan Aqila. Maka dari itu Raisa bisa langsung tau, jika Bibi Rina ingin membicarakan tentang Aqila dengannya.
"Padahal kukira Rumi akan bersama Aqila ternyata dia bersama gadis lain. Sepertinya hubungan kalian cukup dekat?" Ujar Bibi Rina
"Begitulah. Kami berteman, hanya itu." Kata Raisa
"Tapi, sepertinya dia sangat peduli dan menyukaimu, Raisa... Kukira Rumi akan lebih dekat dan memiliki hubungan dengan teman satu timnya, Aqila. Ternyata tidak begitu." Ucap Bibi Rina
"Apa kau kecewa padahal kami hanya berteman? Apa kau kira, Rumi akan sama seperti Paman Elvano dan Bibi Sierra? Kau berharap kau bisa jadi lebih dekat dengan Paman Elvano jika Rumi bersama Aqila? Begitukah, Bibi?" Tanya Raisa penuh selidik.
"Kau bahkan tau sejauh itu!?" Panik Bibi Rina karena maksud niatnya terbaca oleh Raisa
Raisa hanya tersenyum penuh arti menanggapi pertanyaan Bibi Rina. Senyumannya menandakan benar jika ia mengetahui semua maksud tersembunyi Bibi Rina.
Raisa mengetahui sebagian masa lalu yang terjadi pada dunia itu, termasuk masa lalu Paman Elvano, Bibi Sierra, dan Bibi Rina. Bahkan juga Tuan Rommy, Ayah sekaligus orangtua Rumi.
Bibi Rina memiliki perasaan terpendam pada Paman Elvano. Namun, Paman Elvano malah bersama Bibi Sierra yang adalah tenan satu tim hingga sekarang sudah memiliki Aqila sebagai gadis remaja, putri mereka berdua.
Makanya, Bibi Rina lebih berharap Rumi menjalin hubungan lebih dengan Aqila supaya dirinya bisa jadi lebih dekat dengan Paman Elvano, karena bagaimana pun dirinya adalah kerabat yang sudah seperti keluarga bagi Rumi. Dengan dalih hubungan dua keluarga yang bersatu. Namun, ternyata tidak seperti dugaannya karena sepertinya Rumi malah menjalin hubungan lebih dengan gadis lain.
"Bibi, bagaimana rasanya merasakan cinta tak terbalas atau cinta bertepuk sebelah tangan itu?" Tanya Raisa
"Walau pun kau tau itu, itu hanya cerita lama. Hanya masa lalu! Aku sudah tidak punya perasaan apa pun lagi terhadapnya, aku sudah menikmati hari-hariku sekarang. Yang terpenting aku sudah pernah merasakan apa yang namanya cinta, walau itu hanya cinta sepihak." Ungkap Bibi Rina
"Awalnya aku hanya mau kau berbagi cerita untuk meringankan perasaanmu, ternyatau kau sudah melupakannya dan baik-baik saja. Maafkan aku yang tidak sopan sudah ikut campur dengan kehidupanmu, Bibi. Aku tidak bermaksud begitu." Ucap Raisa
Raisa yang menanyakan masalah perasaan Bibi Rina karena ia ingin tau bagaimana rasanya. Kerena sepertinya akan sama sakit hatinya dengan yang ia rasakan. Sakit dan patah hati karena mendapati kenyataan tak bisa bersama dan bersatu dengan seorang yang ia cintai sepertinya akan sama seperti rasanya sakit dan patah hati karena cinta sepihak, cinta tak terbalas, atau cinta bertepuk sebelah tangan.
"Sepertinya kau memang gadis baik, Raisa. Teruslah bersikap baik dan melindungi Rumi saat dia sedang berada jauh dari jangkauan kami." Ujar Bibi Rina
"Sebagai teman, sudah seharusnya aku begitu. Tapi, kau juga tau aku bukan berasal dari dunia ini, aku tidak bisa selalu melindungi Rumi." Kata Raisa
"Sebagai kerabatnya, aku berterima kasih padamu karena sudah menyelamatkan Rumi." Ucap Bibi Rina
"Kau tak perlu sungkan denganku, Bibi. Sudah seharusnya aku menyelamatkan temanku." Ujar Raisa
Bibi Rina pun bangkit, hendak pergi.
"Kau istirahatlah, aku akan meninggalkanmu. Makan dan istirahat yang nyaman di sini." Kata Bibi Rina
"Baik. Terima kasih, Bibi Rina." Ucap Raisa
Bibi Rina mengangguk dan berlalu pergi meninggalkan Raisa di dalam kamar tamu itu. Bibi Rina ke luar dari kamar dengan menutup kembali pintu kamar itu membiarkan Raisa beristirahat di dalamnya.
.
•
__ADS_1
Bersambung...