
Siang hari istirahat di kediaman Tuan Tommy, Raisa tidak bisa tertidur meski sudah lama memejamkan mata, padahal biasanya Raisa akan tidur siang. Entah karena masih asing dengan tempatnya berada atau memang sedang banyak pikiran soal kutukan ciptaan Tuan Rommy. Sedari tadi, Raisa hanya memejamkan mata tanpa bisa tertidur.
Dalam kondisi seperti itu, pintu kamarnya terketuk, lalu terbuka dari luar. Raisa pun bangkit duduk dari posisi tidurnya. Dari luar, Nona Rina muncul setelah membuka pintu.
"Raisa, apa aku mengganggumu?" tanya Nona Rina
"Tidak. Aku mencoba untuk tidur, tapi tidak bisa," jawab Raisa
"Kalau begitu, ke luarlah untuk makan siang," ujar Nona Rina
"Baiklah. Tunggu aku," kata Raisa
Raisa pun bangkit berdiri dan menghampuri Nona Rina.
"Aku masih belum ingat letak ruangan di sini. Aku ikut denganmu saja, Bibi," ucap Raisa
"Baiklah ... ayo, lewat sini," kata Nona Rina
Setelah menutup pintu kamar, Raisa pun mengikuti Nona Rina menuju ke ruang makan.
Setibanya di ruang makan, semua orang sudah ada di sana. Sepertinya hanya tinggal dirinya saja yang datang terakhir.
"Maaf, aku sudah membuat semuanya menunggu," kata Raisa yang lalu duduk di salah satu kursi di sana.
"Kupikir di saat seperti ini kau sedang tertidur, Raisa," ujar Rumi
"Aku tidak bisa tidur," ungkap Raisa
Rumi yang melihat Raisa merespon dengan cuek dan tanpa tersenyum pun mengira gadis cantik itu masih marah padanya soal yang di lorong kamar sebelumnya.
"Kalau begitu, ayo kita mulai makannya," ujar Tuan Rommy
Karena Tuan Rommy sudah bicara seperti itu, semua pun memulai makan siangnya.
"Raisa, kenapa kau hanya makan sedikit?" tanya Logan
"Tidak apa-apa, Kak. Aku memang tidak biasa makan banyak saat siang," jawab Raisa
Usai makan siang, Raisa mencoba berkeliling seorang diri. Saat itu Rumi pun menghampirinya.
"Raisa, kau sedang apa?" tanya Rumi
"Aku sedang ingin berkeliling. Bisakah kau mengantarku melihat-lihat?" tanya balik Raisa usai menjawab.
"Dengan senang hati," jawab Rumi
"Ayo," sambung Rumi mengajak Raisa berkeliling bersama.
"Kalau tidak bisa berkeliling di dalam kediaman, bagaimana kalau kita berkeliling di luar saja?" tanya Raisa
"Baiklah," kata Rumi
Yang Raisa tahu, banyak ruangan di dalam kediaman Tuan Rommy yang tidak boleh dimasuki oleh sembarang orang. Jadi, Raisa memilih untuk berkeliling di luar kediaman saja.
Rumi pun membawa Raisa berkeliling di luar kediaman. Di sana tidak banyak yang bisa dilihat, pemandangan pun tidak ada. Hanya ada hutan yang jauh di depan mata dan sekeliling hanya hamparan kosong bebatuan. Di sana memang tidak ada apa-apa karena kediaman Tuan Tommy memang jauh dari pemukiman.
"Di sini tidak ada apa-apa dan tidak ada yang bisa dilihat juga," kata Rumi
"Tidak apa. Aku hanya ingin berkeliling sambil cari angin untuk mencerna makanan. Aku merasa sedikit bosan," ungkap Raisa
"Mencerna apanya? Kan, tadi kau hanya makan sedikit," ujar Rumi
Raisa tidak merespon kata-katanya lagi. Rumi melihat Raisa memandang hampa jauh ke depan dengan tatapan mata yang kosong. Rumi tidak tahu Raisa sedang memikirkan apa, tapi ia mengira gadis cantik itu marah padanya.
"Kau sedang memikirkan apa? Atau kau sedang marah? Kau masih marah padaku soal di lorong kamar tadi, Raisa?" tanya Rumi
"Tidak," jawab Raisa dengan sangat singkat.
Sebenarnya Raisa tidak marah pada Rumi, hanya saja ia malas menjelaskan karena sibuk memikirkan hal lain. Ia juga sengaja membiarkan Rumi mengiranya sedang marah agar bisa membuat lelaki tampan itu belajar dari kesalahannya yang telah lari dari masalah seperti sebelumnya.
"Aku sudah mulai mengantuk. Kita kembali saja. Aku ingin tidur," ucap Raisa
"Baiklah," patuh Rumi
Rumi pun hanya bisa menuruti kemauan Raisa yang ingin kembali ke kediaman. Rumi mengira sikap cueknya Raisa karena gadis cantik itu marah padanya. Rumi tidak bisa berbuat banyak. Ia hanya bisa mulai memikirkan cara membujuk Raisa agar mau berdamai dengannya.
...
Malam harinya.
Setelah kembali ke kediaman usai makan siang dan berkeliling, Raisa tertidur dengan lelap setelah sibuk memikirkan tentang kutukan dan cara menghilangkannya.
Raisa tidur dengan sangat pulas hingga baru terbangun saat hari mulai gelap karena memasuki waktu malam.
Usai bersih-bersih dan merapikan diri, Raisa pun ke luar dari kamarnya dan menemui orang-orang di sana.
Begitu ke luar dari kamar, ruangan yang sebelumnya masih sepi. Tidak ada orang di sana. Saat mencari orang di sekitar, ia bertemu dengan Nona Rina.
"Akhirnya aku bertemu seseorang di sini," gumam Raisa
"Bibi Rina, kau sedang apa?" tanya Raisa
__ADS_1
"Aku sedang ingin memasak untuk makan malam kita sebentar lagi," jawab Nona Rina
"Kalau begitu, biarkan aku membantumu," ujar Raisa
"Kau bisa masak, Raisa?" tanya Nona Rina
"Lumayan. Aku hanya masak makanan sederhana," jawab Raisa
"Baguslah. Itu lebih baik dari pada kau hanya mengganggu karena tidak bisa masak," ujar Nona Rina
"Kalau begitu, ayo kita ke dapur," sambung Nona Rina
"Baiklah," patuh Raisa
Raisa pun mengikuti Nona Rina beranjak menuju ke dapur. Ia juga memasak bersama Nona Rina dan membantunya di dapur.
Meski merasa asing, Raisa tetap membantu dengan baik di dapur. Bahkan Nona Rina lebih banyak membiarkan Raisa melakukan pekerjaan di dapur.
"Kau sering masak, ya, Raisa?" tanya Nona Rina
"Akhir-akhir ini aku jadi jarang masak karena sibuk kerja. Semoga saja kali ini aku nembantu Bibi memasak dengan baik," jawab Raisa
"Kau bukan lagi membantuku, tapi kau yang lebih banyak memasak dari pada aku. Kau bahkan terlihat sangat mahir saat memasak," ucap Nona Rina
"Tidak. Aku masih jauh dari kata mahir dan hanya melakukan sebisaku saja," kata Raisa
"Kau terlihat cekatan nenggunakan tanganmu saat memasak. Setidaknya kau lebih mahir dari pada aku yang biasanya hanya tahu cara bertarung dalam siasat," batin Nona Rina
Setelah masakan matang, Raisa dan Nona Rina sama-sama menghidangkan masakan itu ke atas piring untuk masakan kering dan mangkuk untuk masakan berkuah.
Saat itu Rumi yang sedang mencari-cari Raisa akhirnya menemukan gadis cantik itu di dapur bersama Nona Rina.
"Raisa, aku mencarimu dari tadi. Rupanya, kau di sini," kata Rumi
"Memangnya aku bisa ke mana lagi saat ada di kediaman ayahmu? Kau tidak mungkin berpikir aku meninggalkanmu, kan ... " ujar Raisa
Rumi terkesiap. Ia tidak bisa menanggapi perkataan Raisa karena memang telah berpikir gadis cantik itu meninggalkannya karena masih mengira gadis cantik itu marah padanya.
"Kau sedang apa di sini?" tanya Rumi
"Kau adalah tamu. Kau tidak perlu membantu Rina," sambung Rumi
"Berada di dapur itu salah satu kesenangan bagi perempuan. Kau jangan mengganggu kesenangan perempuan. Lebih baik kau bantu bawakan masakan di sini ke ruang makan saja," ucap Nona Rina
"Tidak, kutarik lagi ucapanku. Jika kau yang membawa masakan ini nanti yang ada masakannya tumpah semua," sambung Nona Rina
"Ya, kau tunggu saja di ruang makan, Rumi. Aku dan Bibi Rina yang akan mengurus ini," kata Raisa
"Memangnya apa yang bisa kau dapatkan sampai harus membantu Rina seperti ini?" tanya Rumi
"Kau masih tidak mengerti, rupanya. Perempuan itu lebih nyaman pada sesama perempuan, terutama soal meminta bantuan. Ini seperti kedekatan hubungan antara kau dan bocah mataharimu itu," ujar Nona Rina yang merujuk pada Morgan saat mengatakan bocah matahari.
"Kau yang bahkan masih belum bisa memberi rasa nyaman sepenuhnya pada Raisa lebih baik jangan terus mengacau di sini," sambung Nona Rina
Rumi merasa tersinggung dengan perkataan Nona Rina yang mampu menusuk hatinya. Namun, ia merasa perkataan Nona Rina tidak salah karena ia mengira Raisa bahkan marah padanya. Itu artinya Raisa memang belum merasa sepenuhnya nyaman dengannya.
"Biar kubantu, ya," kata Rumi
"Tidak perlu, Rumi. Kau tunggu saja di ruang makan. Aku hanya tidak ingin merepotkanmu," tolak Raisa
"Kalau kau masih ingin membantu, panggilkan saja kakak dan ayahmu ke ruang makan. Katakan kalau kita akan segera makan malam," sambung Raisa
"Baiklah," patuh Rumi
Sebenarnya Rumi merasa agak kecewa karena merasa Raisa terus menolaknya. Namun, Rumi tidak bisa marah dalam situasi yang masih mengira Raisa marah padanya. Karena ia pikir kalau seperti itu akan semakin lama keduanya untuk berbaikan jika keduanya sama-sama marah.
Rumi pun memilih mengesampingkan ego dan rasa kecewanya. Rumi mengalah. Namun, ia malah memeluk Raisa dari belakang.
Raisa terkejut saat Rumi memeluknya dari belakang. Raisa jadi tidak bisa bergerak sama sekali karena takut menjatuhkan masakan yang ada di tangannya dan lebih merasa malu karena Nona Rina melihatnya.
"Kau bisa lebih bergantung padaku dan meminta bantuanku kapan saja. Ingat itu," ucap Rumi
Setelah mengeratkan pelukannya pada Raisa sejenak, Rumi pun melepaskan pelukannya dan berlalu pergi dari dapur itu.
"Ya ampun ... anak itu selalu saja bertindak semaunya. Dia tidak melihat kau jadi syok karena gugup," ujar Nona Rina
Nona Rina langsung mendekati Raisa untuk membantunya saat melihat ekspresi kurang menyenangkan pada wajah Raisa. Nona Rina tahu Raisa merasa malu karena ia menyaksikan saat Rumi memeluknya.
Karena Nona Rina pun berinisiatif membantunya, Raisa langsung saja melepas masakan yang sedang ia hidangkan karena merasa lemas setelah Rumi memeluknya. Saking merasa malu dan gugup, seketika saja Raisa jadi merasa lemas.
"Maaf ... Bibi Rina, sepertinya aku hanya bisa membantumu lebih dari ini," kata Raisa
"Tidak apa. Kau sudah melakukan lebih banyak dari pada aku. Biar aku saja yang lakukan sisanya," ucap Nona Rina
Raisa hanya bisa berdiri tegak sambil sesekali menghela nafas. Ia berusaha melemaskan ototnya dan memulihkan tenaganya setelah berturut-turut merasa tegang lalu lemas karena gugup dan malu.
Setelah pulih, Raisa kembali membantu Nona Rina membawakan semua hidangan makanan menuju ke ruang makan.
"Apa kau bisa membawa makanan itu setelah merasa lemas tadi?" tanya Nona Rina
"Bisa. Aku sudah tidak apa," jawab Raisa
__ADS_1
Saat Nona Rina dan Raisa membawa dan menata hidangan makan malam di atas meja ruang makan, di sana sudah lengkap ada Rumi, Tuan Rommy, dan Logan yang menunggu.
"Kukira kenapa Rumi berinisiatif memanggil untuk makan malam ... ternyata, Raisa yang memasak makanannya," ujar Tuan Rommy
"Aku hanya membantu Bibi Rina saja," kata Raisa
"Tidak ... itu bohong. Aku hanya melakukan sedikit seperti judtru aku yang membantu Raisa memasak. Yang benar adalah ini semua hasil masakan Raisa," ungkap Nona Rina
"Aku jadi penasaran bagaimana dengan rasa masakannya," ucap Logan
"Semua masakan Raisa selalu terasa lezat," kata Rumi yang lebih dulu memberi pujian.
Setelah menghidangkan makanan di atas meja makan, Raisa dan Nona Rina ikut duduk di kursi di sana. Dan semuanya pun memulai makan malam.
"Sekarang ayo makan dan cicipi masakannya," kata Nona Rina
"Selamat makan!"
"Ini sangat enak," puji Tuan Rommy setelah mencicipi langsung masakan yang dibuat oleh Raisa.
"Ya. Kau sangat berbakat, Raisa," sahut Logan
"Terima kasih," ucap Raisa seraya tersenyum senang.
"Jangan pernah meragukan rasa masakan Raisa," kata Rumi
"Kau tidak banyak makan saat siang tadi. Sekarang makanlah lebih banyak. Toh, semua ini juga masakanmu," ucap Tuan Rommy
"Sebenarnya aku memang tidak makan banyak, jadi porsi makanku memang selalu tidak jauh berbeda," ungkap Raisa
"Apa karena kau seorang artis? Jadi, kau menjaga pola makan dan berat tubuhmu?" tanya Logan
"Tidak. Ini sudah jadi kebiasaanku sejak kecil. Kalau makan terlalu banyak perutku malah jadi sakit," jawab Raisa
"Aku tidak begitu peduli dengan berat tubuh, hanya yang penting aku sehat. Kalau memang sedang ingin makan banyak, aku akan makan sepuasnya," sambung Raisa
"Kesehatan memang paling penting. Tapi, kau jangan jadi sungkan karena sedang berada di kediaman kami," ujar Tuan Rommy
Raisa hanya mengangguk pelan.
Semua pun meneruskan makan malam bersama dengan tenang sampai selesai.
Usai merapikan sisa makan malam, semua pun kembali sibuk masing-masing.
"Tuan Rommy, ada yang ingin kubicarakan denganmu," ungkap Nona Rina
"Baklah. Kita bicara di ruanganku saja," kata Tuan Rommy
"Kalau begitu, kami berdua permisi dulu," sambung Tuan Rommy
"Aku juga masih ada urusan yang harus diselesaikan, jadi harus pergi," ujar Logan
Tuan Rommy, Nona Rina, dan Logan pun beranjak pergi dari sana. Kini hanya tersisa Raisa dan Rumi saja. Berdua.
"Ayo, kita ke luar lagi. Sekarang sudah malam, pasti bintang sudah banyak bermunculan di langit. Aku ingin lihat langit malam," ucap Raisa
"Baiklah. Ayo," kata Rumi
Raisa dan Rumi pun beranjak ke luar dari kediaman. Benar saja, di luar sudah banyak bintang bertebaran di langit. Raisa pun bisa melihat pemandangan langit malam yang indah.
"Sekarang di luar sini jauh lebih baik dari pada saat siang tadi," kata Raisa
Raisa terus memandangi langit malam tanpa menoleh pada Rumi. Rumi pun merasa sedih karena merasa Raisa mengabaikannya karena marah.
"Raisa, apa kau masih marah padaku?" tanya Rumi
Kali ini Raisa menoleh untuk menatap ke arah Rumi.
"Kenapa kau merasa aku marah padamu?" tanya balik Raisa
"Itu karena di lorong kamar sebelumnya. Kau juga terus mengabaikanku setelah itu. Aku bahkan merasa perkataan Rina benar bahwa aku masih belum bisa memberimu rasa nyaman sepenuhnya. Bukankah semua itu karena kau sedang marah padaku?" tanya balik Rumi lagi.
Raisa menghela nafas panjang sambil disertai senyuman.
Saat itu Nona Rina datang menghampiri. Raisa dan Rumi pun teralihkan oleh kedatangan Nona Rina.
"Rupanya kalian sedang di sini," ujar Nona Rina
"Raisa, aku sudah mendapat izin dari Tuan Rommy. Katanya, kau boleh melakukan apa pun yang kau mau," sambung Nona Rina
"Izin apa yang kau maksud? Memangnya apa yang ingin Raisa lakukan?" tanya Rumi
"Rumi, aku tidak marah padamu. Aku hanya sedang memikirkan hal lain dari tadi. Mungkin kau jadi merasa aku mengabaikanmu karena ini. Maafkan aku," ungkap Raisa soal pertanyaan Rumi yang mengiranya sedang marah pada lelaki tampan itu.
"Memangnya Raisa belum mengatakannya padamu? Raisa ingin menghilangkan kutukan yang Tuan Rommy ciptakan," ujar Nona Rina
"Pada tubuh Johan ... juga pada tubuhmu," sambung Nona Rina mengungkapkan.
Rumi pun jadi cukup terkejut mendengarnya.
.
__ADS_1
•
Bersambung ...