Bertemu Dan Jatuh Cinta

Bertemu Dan Jatuh Cinta
[Season 2] 55 - Kelakuan Aneh Rumi.


__ADS_3

Hari ini adalah hari perayaan setelah drama kolosal berakhir.


Raisa bersama para artis lainnya dan semua kru mengadakan pesta.


Namun, sebelum bersenang-senang. Mereka semua mengadakan syukuran kecil-kecilan dengan berdoa bersama dan memotong nasi tumpeng sebagai tanda syukur.


Setelah itu, mereka semua makan bersama, bermain permainan, bernyanyi, dan lain-lain. Semuanya dilakukan bersama untuk sekadar bersenang-senang karena telah menyelesaikan drama dengan sukses sampai akhir. Inilah yang dinamakan pesta.


"Raisa, kamu datang sendiri aja? Maura dan Nilam mana? Biasanya kamu selalu datang sama mereka berdua, kan?"


"Aku juga maunya datang sama Maura dan Nilam, tapi katanya mereka berdua ada urusan lain. Padahal mereka berdua juga bilang mau ikut, tapi gak bisa. Mereka berdua udah ikut sibuk nemenin aku syuting selama ini, jadi aku juga gak bisa paksa mereka berdua untuk datang," jelas Raisa


"Selesai syuting drama kali ini ... Raisa, punya rencana apa lagi? Udah ada job lain?"


"Itu masih dalam pengaturan Nilam. Karena syuting kali ini lebih sulit dari biasanya, Nilam kasih waktu aku buat cuti liburan. Aku gak mau sia-siain kesempatan cuti kali ini," jawab Raisa


"Terus, kamu betulan mau pergi liburan? Mau samperin pacar kamu di Jepang, ya?"


Raisa mengangguk pelan.


Semua orang tahu Raisa sedang menjalin hubungan dengan seseorang. Meski tahu, itu hanya hubungan tanpa status, semua tetap menyebut itu adalah pacar Raisa. Semua pun tahu, pacar Raisa tinggal di negara Jepang dari kabar yang sudah tersebar luas.


Saat melihat Raisa seorang diri, Lina langsung mendekatinya untuk berbincang-bincang. Keduanya jadi akrab sungguhan selama ini.


"Apa benar itu Jepang?" tanya pelan Lina yang suaranya hampir tak terdengar seolah segan untuk bertanya, tapi merasa penasaran.


Dengan begitu, Lina tidak terlalu mengharapkan jawaban dari Raisa.


"Kamu juga tahu itu bukan negara sakura biasa," celetuk Raisa seolah tahu jika Lina merasa penasaran.


Raisa menjawab sambil tersenyum. Lina terkekeh kecil.


"Hehe. Aku mengerti. Kak Raisa, tenang aja. Aku akan tetap menepati janji untuk jaga rahasia. Kak Raisa bisa percaya sama aku, aku gak akan bersikap sembrono lagi. Aku akan bersikap baik," ucap Lina


"Ya. Aku percaya kok," kata Raisa


Saat Raisa beralih ke tempat lain, ada seseorang yang menghampiri Lina. Dia adalah sesama artis baru seperti Lina.


"Lina, gak gabung sama yang lain? Aku duduk di sini, temanin kamu, ya?"


Lina mengangguk kecil.


"Lagi mau duduk sendiri dulu, istirahat sebentar."


"Kamu emang gak dekat sama yang lain, ya? Aku lihat, kamu cuma dekat sama Kak Raisa selama syuting drama."


"Iya, aku canggung soalnya. Kalau sama Kak Raisa, dia seniorku di SMA dulu, senior di tempat pemotretan juga. Aku juga baru akrab sama Kak Raisa pas syuting di sini aja, karena ketemu setiap hari. Kalau di studio pemotretan, jarang ketemu," jelas Lina


"Kalau begitu, gimana kalau kita jadi akrab mulai sekarang? Meski syuting dramanya udah selesai, apa aku boleh minta nomor HP kamu? Kita bisa akrab dan mulai kontekan mulai sekarang."


"Nomor HP ... boleh deh." Lina pun memberikan nomor telepon pada teman main dramanya dan itu adalah seorang lelaki.


"Apa dia mau coba pendekatan sama aku? Apa aku terima aja dan kasih respon baik. Kan, lumayan untuk bisa lupain Rumi. Tapi, enggak deh. Gimana kalau dia cuma mau manfaatin aku. Atau kalau benar tulus pun aku gak boleh jadi dekat sama dia untuk lupain Rumi. Kalau begitu, aku yang manfaatin dia untuk dijadiin pelarian. Tanpa dia pun aku yakin bisa cepat lupain Rumi," batin Lina


Setelah menyesali perbuatannya dan ingin menebus kesalahannya dengan berbuat baik, Lina juga bertekad untuk melupakan Rumi. Lina telah sadar dan tidak ingin merebut kasih sayang dan kebahagiaan dari orang lain. Ia ingin menemukan kebahagiaannya sendiri.


•••


Hari ini Raisa akan pergi melintas ke dimensi lain untuk mengunjungi teman-temannya di dunia asing. Kini Raisa sedang bersiap-siap.


"Kamu udah mau pergi, Raisa?" tanya Bu Vani


"Ya, Bu, sebentar lagi. Masih siap-siap," jawab Raisa


"Barang yang kamu bawa cuma segini? Apa kamu gak bawa setelan baju tambahan?" tanya Bu Vani yang melihat barang yang disiapkan Raisa untuk pergi hanya dimuat ke dalam satu tas ransel dan tas pinggang kecil.


"Masih aku cek ulang, sih, Bu, takut ada yang ketinggalan. Aku juga bawa sedikit setelan baju tambahan, tapi emang cuma segini yang aku bawa. Kan, jauh sebelum ini aku udah pernah bawa banyak setelan baju yang aku simpan di sana. Di sana aku dikasih rumah sebagai tunjangan. Aku punya rumah sendiri," jelas Raisa


"Iya. Ibu tahu. Kamu udah pernah bilang," kata Bu Vani


Bu Vani terus memperhatikan Raisa yang sedang bersiap-siap sambil menunggu karena ingin melihat sampai anak gadisnya pergi.


"Raisa kelihatan bahagia banget mau pergi ketemu teman-temannya. Selama ini selalu seperti itu. Apa karena di sana juga ada Rumi?" batin Bu Vani


"Aku senang banget bisa ke sana lagi, Bu. Lumayan untuk liburan di tengah kesibukan. Di sana semua orang baik sama aku dan aku diperlakukan hangat seperti keluarga. Di sana juga udah seperti rumah dan duniaku sendiri," ungkap Raisa seolah tahu apa yang sedang Bu Vani pikirkan dan memberitahu pada Sang Ibu bahwa ia tidak merasa bahagia saat hanya karena bertemu dengan Rumi saja.


"Syukurlah," kata Bu Vani ikut merasa senang.

__ADS_1


Setelah percakapan keduanya tentang Rumi di malam itu, hubungan anak dan Ibu antara Raisa dan Bu Vani jadi terlihat agak canggung. Keduanya seolah memiliki jarak karena tidak ingin membahas hal yang serupa dan berakhir saling merasa tidak enak lagi. Meski begitu, keduanya tetap menjaga hubungan baik.


Setelah selesai bersiap-siap dan mengemas barang, kini Raisa pun bersiap untuk pergi.


"Aju udah siap, Bu. Aku pergi dulu, ya," kata Raisa


"Ya. Ayo, Ibu antar," kata Bu Vani


Bu Vani pun mengantar Raisa sebatas sampai ke halaman belakang rumah saja. Karena di sanalah Raisa akan membuka portal sihir teleportasi untuk pergi ke dimensi lain di dunia ading.


Setelah portal sihir teleportasi terbuka, Raisa memeluk tubuh Bu Vani sebelum pergi.


"Maafin aku, ya, Bu. Aku pergi dulu," pamit Raisa


Raisa melepaskan pelukannya pada Bu Vani. Bu Vani tersenyum. Meski Raisa tidak bilang minta maaf untuk apa, Bu Vani mengerti itu dimaksudkan untuk bahasan soal jodoh. Raisa merasa tidak enak karena tidak bisa memenuhi ekspetasi Sang Ibu untuk mencari dan menemukan jodoh di dunianya sendiri selain Rumi. Bu Vani menyadari hal itu.


"Hati-hati, Sayang. Jaga diri baik-baik," pesan Bu Vani


Raisa mengangguk sambil tersenyum hangat. Ia pun memasuki portal sihir teleportasi yang telah dibuka dan sosoknya menghilang bersamaan dengan lingkaran hitam.


Melihat Raisa begitu antusias saat hendak pergi tadi, Bu Vani jadi berpikir dalam renungan.


"Apa aku biarkan aja Raisa punya hubungan dengan Rumi? Apa aku restui aja hungan mereka berdua? Raisa kelihatan sangat bahagia. Sepertinya dia sudah menemukan kebahagiaannya sendiri," batin Bu Vani


 


Di sisi dimensi lain.


Raisa menapaki kedua kakinya di tempat yang lain dari sebelum ia pergi, tapi sudah sangat mengenal tempat tersebut. Raisa tersenyum dengan penuh rasa bahagia di hatinya.


Raisa pun mengeluarkan ular sihir pemberian Rumi dari tas pinggang miliknya.


"Tolong sampaikan. Rumi, aku sudah datang. Aku akan ke rumahku dulu. Hanya ingin memberitahumu." Raisa berpesan melalui ular sihir untuk memberi kabar pada Rumi.


Setelah mengirim pesan suara, Raisa menyimpan kembali ular sihir ke dalam pas pinggang miliknya. Raisa pun langsung bergegas menuju ke rumahnya di Desa Daun.


Begitu sampai di rumahnya, Raisa langsung membereskan barang bawaannya dan meletakkannya di dalam kamar.


Saat Raisa sedang berkemas di dalam kamar, ia mendengar suara pintu utama rumahnya terketuk dari luar. Sudah lebih dulu menduga siapa yang datang, Raisa pun beranjak untuk membuka pintu.


Begitu pintu utama rumah Raisaa terbuka, orang yang datang langsung berhambur memeluk tubuhnya.


"Selamat datang, Raisa! Aku merindukanmu," sambut Rumi dengan penuh cinta masih dalam keadaan memeluk Raisa.


"Selamat datang juga di rumahku. Aku merindukanmu juga. Kau langsung datang setelah kuberi kabar. Apa kau tidak sibuk?" tanya Raisa


Rumi melepaskan pelukannya dari tubuh Raisa untuk menatap lekat gadis itu sampai puas.


"Akhir-akhir ini kami semua sangat senggang. Tugas pun hanya datang sesekali," jawab Rumi


"Begitu rupanya. Ayo, masuk dulu," kata Raisa yang mempersilakan Rumi untuk masuk ke dalam rumahnya.


Dengan senang hati, Rumi pun berjalan masuk ke dalam rumah Raisa.


"Aku baru datang, jadi bekum sempat bersih-bersih. Maaf, ya, kalau rumahku kotor. Tunggu sebentar," ujar Raisa beranjak pergi ke arah dapur.


"Tidak apa, Raisa," kata Rumi


Raisa pun kembali dengan membawa peralatan kebersihan.


"Aku akan bersih-bersih dulu sebentar. Kau duduk dan tunggu saja," ucap Raisa


"Kalau begitu, aku akan membantumu," ujar Rumi yang langsung mengambil alih sapu yang Raisa bawa.


"Kalau begitu, apa kau bisa menyapu lantai?" tanya Raisa


"Mudah saja," kata Rumi yang langsung bergerak melakukan praktek menyapu lantai.


Melihat itu, Raisa tersenyum. Namun, ia langsung menghentikan Rumi.


"Kau tidak bisa melakukannya dengan terburu-buru seperti itu, Rumi. Menyapu lantai itu harus dengan perlahan. Kalau tidak kotoran di lantai akan semakin berserakan ke arah lain. Meski terburu-buru, kau harus menyapu dengan tenang. Supaya tetap jadi bersih," jelas Raisa yang mengambil kembali sapu dari tangan Rumi dan mempraktekkan cara menyapu untuk memberitahu pada lelaki tampan itu.


"Jadi, seperti ini ... " Rumi langsung menirukan gerakan Raisa yang menyapu sambil memeluknya dari belakang.


"Aneh, deh. Kau punya rumah sendiri, masa tidak tahu cara menyapu lantai? Apa kau tidak pernah bersih-bersih sama sekali? Tidak mungkin seperti itu, kan?" tanya Raisa


"Aku selalu menyapu lantai di rumahku. Setelah dipikir-pikir, aku selalu melakukannya dengan tenang. Kali ini aku hanya terburu-buru. Maaf," jawab Rumi

__ADS_1


"Lalu, apa kau punya masalah sampai jadi terburu-buru dsn tidak fokus seperti ini?" tanya Raisa


"Tidak ada. Aku hanya ingin cepat-cepat bersantai denganmu," jawab Rumi


"Aku akan melakukannya lagi. Kali ini aku akan menyapu dengan benar," sambung Rumi


Rumi pun melepaskan pelukannya pada Raisa dan lanjut menyapu lantai dengan baik dan benar.


"Kalau begitu, aku akan bersih-bersih di tempat lain supaya cepat selesai. Mohon bantuanmu, Rumi," ujar Raisa


Rumi mengangguk. Raisa pun meninggalkannya untuk beralih ke tempat lain.


Rumi menyayangkan saat Raisa meninggalkannya pergi. Namun, ia berpikir untuk tetap membantu Raisa bersih-bersih agar bisa dilakukan dengan cepat. Setelah itu akan ada waktu untuknya untuk berdua dengan Raisa.


"Setelah ini aku akan mengepel lantai. Kulakukan sendiri saja. Kau duduk dan tunggu saja," kata Raisa setelah selesai menyapu lantai.


"Tidak usah. Kau diam bersamaku saja," larang Rumi yang lalu menarik Raisa ubtuk duduk bersama di atas sofa.


Raisa pun hanya bisa mengikuti keinginan Rumi karena lelaki tampan itu sudah membantunya.


"Apa kita berdua tidak berkumpul saja dengan yang lain seperti biasa?" tanya Raisa


"Meski pun kebanyakan dari kami sangat senggang, saat ini mereka sibuk dengan urusan masing-masing. Kita di sini saja, di rumahmu," jawab Rumi


"Oh. Apa akan ada ada acara di desa nantinya?" tanya Raisa mencoba menebak.


Rumi hanya mengangguk sebagai ganti jawabannya.


"Raisa, malam ini ... nanti apa aku boleh menginap di sini?" tanya Rumi


"Kenapa kau ingiin menginap? Tidak boleh. Ini masih siang, tapi kau sudah berpikir yang aneh saja," tolak Raisa melarang dengan tegas.


Rumi langsung terlihat murung. Raisa merasa kelakuan lelaki tampan itu aneh saat ini.


"Kau ingin bersantai denganku, kan? Kalau tidak mau ke luar dan berkumpul dengan yang lain, apa kau tidak bosan terus berada di dalam rumah?" tanya Raisa


"Asalkan bersamamu aku tidak akan pernah bosan," jawab Rumi


"Kita bisa melakukan sesuatu bersama, seperti menonton di rumah. Ya. Aku akan ambilkan kaset serial pahlawan desa di rumahku," sambung Rumi


Rumi bangkit berdiri hendak melangkah pergi. Namun, belum sempat melangkah satu langkah pun Rumi langsung kembali duduk atas di sofa.


"Tidak bisa. Biar ular sihirku saja yang mengambilnya di rumahku." Rumi langsung menggunakan sihirnya mengeluarkan ular yang sangat banyak dari lengan pakaiannya.


Ular sihir yang banyak itu langsung bersatu membentuk menjadi duplikat Rumi yang lain dan palsu. Seolah sudah diberi perintah, Rumi gadungan itu langsung pergi.


"Kenapa kau sampai membuat dirimu yang palsu padahal rumahmu sangat dekat dari sini?" tanya Raisa


"Aku hanya ingin tetap berdua denganmu," jawab Rumi


"Kalau begitu, aku akan membuat minuman dan mengambil camilan," ujar Raisa


"Aku ikut denganmu," kata Rumi


Raisa dan Rumi pun beranjak menuju ke dapur bersama.


Raisa merasa Rumi menjadi lengket dengannya karena terus tidak ingin jauh dan berpisah dengannya. Rumi sampai harus membuat duplikat diri agar tidak pergi meninggalkannya. Raisa merasa pasti ada alasan di balik tingkahnya itu. Namun, Raisa enggan bertanya karena pasti akan mengetahui alasan itu dengan sendirinya nanti.


Setelah menyiapkan minuman dan camilan, Raisa dan Rumi kembali ke ruang tengah. Rumi gadungan pun kembali dengan membawa tumpukan kaset bersamanya. Setelah menyerahkan kaset-kaset itu pada Rumi yang asli, Rumi gadungan itu kembali ke wujudnya yang berupa ular sihir berukuran kecil dalam jumlah banyak dan kembali masuk ke dalam lengan pakaian Rumi seolah menyatu dengan pemilik sihir ular itu.


"Kau juga memiliki kaset seperti ini?" tanya Raisa yang melihat banyak kaset serial pahlawan desa milik Rumi.


Raisa mengira Rumi tidak suka dengan hal semacam itu.


"Aku membelinya karena sangat populer. Serial ini ditonton oleh semua kalangan. Ada banyak pelajaran yang bisa diambil juga. Aku juga banyak belajar untuk kehidupan sehari-hari dari menonton serial ini," jelas Rumi


"Itu memang bagus," kata Raisa


"Kita akan menonton maraton serial ini berdua," ucap Rumi


"Baiklah," patuh Raisa


Rumi pun memasang kaset itu untuk ditonton berdua dengan Raisa. Itu adalah kisah pahlawan desa yang selalu menolong banyak orang.


.


__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2