
"Misi tentang monster yang muncul di desa ini sudah kami selesaikan," kata Sanari
"Masalah monster kali ini sudah terselesaikan. Apa ada masalah lain di desa ini yang bisa kami bantu selesaikan lagi?" tanya Raisa
"Selain munculnya monster baru kali ini sudah tidak ada masalah yang lain lagi. Desa Bambu ini sudah lebih terjamin hidupnya dan sejahtera setelah datang bantuan Raisa dan teman-teman dari Desa Daun saat dulu. Karena sudah ada kebun yang menjadi penopang hidup semua warga di sini. Kami semua memanfaatkan kebun dengan baik," jelas Tuan Derril
"Syukurlah, kalau begitu ... " ujar Raisa
"Karena misi di desa ini sudah selesai, kami berempat akan segera pergi dari sini dan kembali ke Desa Daun secepatnya," ucap Amon
"Jangan terburu-buru pergi dari sini. Hari sudah gelap. Menginaplah dulu semalam di sini, besok baru kalian kembali ke Desa Daun," saran Nyonya Wita, pengurus panti asuhan.
"Baiklah. Kalau begitu, seperti kata Nyonya saja ... kami akan menginap selama semalam di sini dan akan pergi besok," ujar Sanari
Mereka berempat pun istirahat sebentar setelah kembali dari hutan saat itu.
Saat waktu makan malam, Raisa dan Sanari membantu Nyonya Wita menyiapkan makanan di dapur. Keduanya juga membantu menghidangkan makanan di atas meja makan.
"Sanari, tolong kau panggilkan mereka semua untuk makan malam bersama. Katakan, makan malamnya sudah siap," ucap Raisa
"Baiklah," kata Sanari
Seperti yang Raisa minta, Sanari pun menghampiri Amon, Rumi, dan Tuan Derril yang sedang berkumpul bersama anak-anak.
"Semuanya, makan malam sudah siap. Ayo, kita semua makan bersama," ajak Sanari
"Asik ... waktunya makan malam!"
Anak-anak pun lebih dulu beranjak menuju ke meja makan bersama Tuan Derril.
"Hati-hati jalannya, jangan lari-lari di dalam panti. Kalian sudah bukan anak kecil seperti dulu lagi," tegur Tuan Derril
"Jangan berebut makanan, semua pasti dapat. Kita tunggu kakak-kakak yang lain dulu, lalu kita semua makan bersama," ucap Nyonya Wita
"Baik!"
"Raisa, di mana, Sanari? Apa dia masih menyiapkan makanan di dapur?" tanya Rumi
"Raisa masih sedang membantu Nyonya Wita menghidangkan makan malam di atas meja makan," jawab Sanari
"Baiklah. Kalau begitu, aku duluan, ya," ujar Rumi
"Silakan saja," kata Sanari
Rumi pun melangkah lebih dulu menuju ke meja makan meninggalkan Sanari dan Amon.
"Dari mana saja? Kenapa tidak ikut bergabung bersama kami di sini tadi?" tanya Amon
"Aku dan Raisa membantu Nyonya Wita memasak makan malam di dapur tadi," jawab Sanari
"Kau tidak ada membuatku jadi merasa bosan. Apa lagi obrolan mereka tadi sangat nembosankan," ujar Amon
"Bukankah tadi ada Rumi bersamamu?" tanya Sanari
"Lelaki itu sama membosankannya dengan yang lain. Dia lebih banyak diam dan hanya sering tersenyum. Membuatku kewalahan menanggapi ucapan anak-anak satu per satu," jawab Amon
"Jangan seperti itu. Bukankah kau juga pernah membaur dengan anak-anak saat bekerja magang di akademi sihir? Dan kau menikmati waktu itu, kan?" tanya Sanari lagi.
"Selain membosankan, anak-anak juga merepotkan. Hanya sedikit waktu yang kunikmati pada saat itu," jawab Amon
"Akan berbeda dengan anak kita berdua nanti ... pasti. Anak-anak kita nanti pasti sama menyenangkannya dengan dirimu," sambung Amon
"Dasar, kau ini. Yang penting ada waktu yang kau nikmati walau sedikit di saat-saat seperti itu," kata Sanari
"Ayo, kita ke meja makan. Yang lain pasti sudah menunggu untuk makan malam bersama," sambung Sanari
"Makan malam kali ini kau yang masak, ya? Aku jadi tidak sabar ingin makan masakanmu lagi," ujar Amon
"Aku tidak masak seorang diri. Aku masak bersama Raisa dan Nyonya Wita," ungkap Sanari
"Yang penting kau juga ikut masak. Rasa makanannya pasti enak karena kau ikut memasaknya," kata Amon
Amon mengikuti Sanari dengan patuh. Keduanya pun beranjak menuju ke meja makan untuk makan malam bersama.
Hanya tinggal menunggu Sanari dan Amon saja, maka makan malam bersama akan lengkap. Keduanya pun ikut bergabung di meja makan bersama yang lain.
"Maaf sudah membuat kalian semua menunggu. Harusnya kalian makan duluan saja dan tidak perlu menunggu kami berdua," ujar Sanari
"Mana boleh seperti itu. Kita semua harus makan bersama-sama. Ayo, Kak Sanari, Kak Amon, duduk."
Mereka semua pun mulai makan malam bersama dan mengambil makanan ke atas piring masing-masing setelah Sanari dan Amon ikut bergabung dan duduk bersama di sana.
Saat itu, Raisa mengambil alih priring di hadapan Rumi dan mengambilkan menu makanan dengan porsi yang cukup untuk lelaki tampan itu.
"Makanlah yang banyak, Rumi. Kau pasti merasa lelah setelah menahan kekuatan besar Sang Naga Suci yang bersatu masuk ke dalam dirimu. Aku pun sama seperti itu saat pertama kali Sang Phoenix masuk ke dalam diriku. Dan aku bisa cepat pulih setelah makan dan istirahat yang cukup," bisik Raisa
"Baiklah, Sayangku. Terima kasih," bisik Rumi
Raisa hanya tersenyum. Usai nengambilkan makanan untuk Rumi, barulah ia mengambil makanan untuk dirinya sendiri.
__ADS_1
"Oho ... kau perhatian sekali, Raisa. Apa sekarang ini kau sedang latihan menjadi istri yang baik karena tadi Rumi bilang akan segera menikah denganmu?" tanya Amon
Rumi langsung menoleh ke arah Raisa yang duduk tepat di sebelahnya. Ia ingin melihat reaksi dan mendengar jawaban dari gadis cantik pujaan hatinya itu atas pertanyaan dari Amon.
Namun, sepertinya Rumi tidak bisa mendengar jawaban dari mulut manis Raisa setelah melihat reaksinya yang seolah menahan rasa malu usai mendengar pertanyaan yang dilontarkan oleh Amon.
"Ciie ... ciie~" Anak-anak bersorak girang untuk meledek Raisa dan Rumi.
"Jangan ribut, anak-anak!" tegur Tuan Derril
"Amon, kau ini bicara apa di depan anak-anak? Jaga bicaramu," bisik Sanari sambil menendang pelan kaki Amon yang berada di bawah meja untuk menegur kelakuan lelaki itu.
"Raisa memang selalu baik dan perhatian padaku. Tidak peduli dengan alasan apa pun ... perlakuan Raisa sangat tulus padaku," ungkap Rumi
"Jadi, Rumi dan Raisa sedang merencanakan pernikahan, ya?" tanya Nyonya Wita
"Ya. Mohon doa terbaiknya untuk kami berdua," jawab Rumi
"Kalau begitu, semoga dilancarkan sampai rencana mulia ini terwujud. Semoga kalian berdua bisa terus saling mencintai dan hidup harmonis sampai ujung waktu," ujar Tuan Derril
"Terima kasih atas doa dan harapan baiknya," ucap Rumi
Tuan Derril pun hanya mengangguk-anggukkan kecil kepalanya.
"Kak Raisa, malu, ya?"
Raisa yang sedari tadi hanya diam menahan malu pun tersenyum kecil menanggapi pertanyaan yang ke luar dari mulut salah satu anak panti asuhan itu.
"Tidak perlu merasa malu, Kak. Pernikahan itu, kan, adalah hal baik. Bagus dong kalau Kak Rumi merencanakan pernikahan kalian berdua."
"Bicaramu seperti orang dewasa yang tahu segalanya saja. Sudah ... jangan bicara lagi. Lanjutkan saja makan malammu," ujar Nyonya Wita
"Baiklah."
Suasana makan malam pun kembali hening dan hanya terdengar suara dentingan antara sendok yang bersentuhan dengan permukaan piring. Semua pun kembali melanjutkan makan malam dengan tenang.
Usai makan malam, Raisa, Rumi, Amon, dan Sanari berkumpul bersama anak-anak panti asuhan untuk sekadar mengobrol ringan.
Suasana mengobrol kali ini lebih menyenangkan karena Raisa dan Sanari ikut bergabung. Keceriaan lebih menghiasi dari pada saat hanya bersama Rumi dan Amon.
"Kakak-kakak, apa benar besok sudah akan pergi dari sini?"
"Iya. Mungkin kami berempat akan pergi setelah sarapan bersama kalian besok," jawab Sanari
"Apa kakak-kakak tidak bisa menetap di sini lebih lama?"
"Maaf, tapi tidak bisa. Kami cukup sibuk akhir-akhir ini," jawab Amon
"Tentu saja. Kami sudah bilang akan makan bersama kalian besok," jawab Raisa
"Benar. Tenang saja, kami berempat tidak akan pergi tanpa pamit pada kalian semua," kata Rumi
"Misi kalian di sini kali ini cepat selesai, ya. Tentu kami senang karena masalah di desa ini sudah selesai, tapi sangat disayangkan karena artinya kakak-kakak harus pergi dari sini."
Raisa tersenyum lembut.
"Anak-anak, kalian mengobrol sampai malam seperti ini memangnya besok tidak sekolah?" tanya Raisa
"Besok sekolah diliburkan karena ada rapat antar guru satu sekolah."
Di dunia itu, anak-anak dengan bakat sihir atau memiliki batas minimun tenaga sihir akan belajar di akademi sihir. Dan yang tidak memiliki bakat atau tenaga sihir sekali pun tetap dapat belajar di sekolah biasa. Biasanya orang-orang yang tudak memiliki biaya untuk masuk ke akademi sihir pun akan masuk ke sekolah biasa karena biayanya yang lebih murah.
"Anak-anak, sudah waktunya kalian untuk tidur karena sebentar lagi sudah masuk jam malam!" seru Nyonya Wita
"Benar ... jam malam. Padahal besok tidak sekolah."
"Besok tidak sekolah pun tetap harus tidur karena begadang malam itu tidak baik," kata Nyonya Wita
"Baiklah, kami akan pergi tidur."
Mereka semua pun masuk ke dalam kamar tidur.
Kamar tidur di panti asuhan tersebut dibagi menjadi dua antara lelaki dan perempuan. Namun, semua perempuan anggota panti tidur di dalam kamar yang sama. Begitu juga dengan semua lelaki di sana.
Termasuk juga dengan tamu. Raisa dan Sanari akan masuk ke dalam kamar tidur perempuan. Sedangkan Rumi dan Amon akan masuk ke dalam kamar tidur lelaki.
Sudah jelas sekali peraturan itu tidak boleh dilanggar. Dan selama jam malam dimulai tidak boleh ada yang beraktivitas, meski itu tamu sekali pun. Karena tamu justru tidak boleh melanggar kebiasaan yang sudah ditetapkan di sana.
Malam itu, Raisa-Rumi dan Sanari-Amon pun harus rela terpisah dan tidak boleh curi-curi kesempatan untuk bertemu demi menaati peraturan yang dibuat di panti asuhan tersebut.
"Tidurlah dengan baik, Rumi. Kau harus istirahat yang benar supaya bisa pulih besok," pesan Raisa
"Baiklah, Sayangku. Aku mengerti," kata Rumi
Belakangan ini Rumi jadi lebih sering menyebut Raisa dengan panggilan sayang. Raisa tidak terbiasa dengan itu dan wajahnya akan merona saat mendengar panggilan yang dikhususkan untuknya itu.
Mereka berdua pun berpisah saat itu juga. Begitu juga dengan Sanari dan Amon.
Sanari dan Amon pun telah melakukan salam perpisahan sebelum keduanya beranjak untuk tidur. Padahal mereka hanya akan berpisah semalam saja.
__ADS_1
Raisa dan Sanari pun masuk ke dalam kamar tidur perempuan sedangkan Rumi dan Amon masuk ke dalam kamar tidur lelaki.
•••
Keesokan harinya.
Mereka yang berada di panti asuhan melakukan aktivitas paginya seperti biasa setelah bangun dari tidur. Namun, kali ini mereka melakukannya bersama Raisa, Rumi, Amon, dan Sanari.
Saat sarapan bersama, anak-anak tampak murung tak bersemangat. Beberapa dari mereka terlihat seperti memaksakan untuk tersenyum dan sangat minim berbicara. Jelas sekali mereka sedang merasa sedih.
Usai sarapan bersama, Raisa, Rumi, Amon, dan Sanari langsung bersiap-siap untuk pergi dan kembali menuju ke Desa Daun.
Sikap anak-anak di sana masih sama seperti saat sedang sarapan tadi.
Raisa yang tidak tega melihat mereka bersedih pun memiliki ide untuk menghibur mereka.
"Anak-anak, sebelum pergi ... aku ada sesuatu untuk kalian. Karena katanya bulan tiruan dariku sebelumnya rusak, aku akan memberikannya satu lagi yang baru," ujar Raisa
"Wah ... benarkah?"
"Tentu, benar dong ... " jawab Raisa
Wajah anak-anak tampak kembali senang dan bersemangat. Melihat itu, Raisa ikut tersenyum senang.
Raisa pun mengunakan sihirnya untuk mengeluarkan secercah api abadi dan langsung membungkusnya dengan sihir es yang membeku mengelilingi api abadi dan membentuk menjadi bundar.
Setelah bulan tiruan berhasil terbentuk, Raisa langsumg menyerahkannya pada salah satu anak panti di sana. Ia menerima bulan tiruan dari Raisa dengan perasaan senang dan berhati-hati agar tidak merusaknya.
"Bulan ini tidak akan pecah atau meleleh lagi, kan? Yang terpenting ini tidak akan rusak lagi, kan, Kak Raisa?"
"Kata Kak Raisa, karena di dalam sini adalah api abadi yang sangat penting ... dari bulan ini bisa diibaratkan dengan kehidupan Kak Raisa. Bulan ini tidak akan rusak kecuali sesuatu yang sangat fatal terjadi pada Kak Raisa. Bulan yang sebelumnya rusak, tapi yang kali ini tidak akan lagi, kan? Tidak akan ada apa pun lagi yang terjadi pada Kak Raisa, kan?"
Raisa hanya mengangguk untuk menjawab pertanyaannya itu.
"Kak Raisa, teruslah berhati-hati dan jaga diri baik-baik. Supaya kami yang bisa merasakan kehidupan Kak Raisa dari bulan tiruan ini tidak lagi harus merasa sedih karena kehilangan."
"Tentu saja. Kali ini Kak Raisa akan senantiasa baik-baik saja dan dapat dipastikan bulan tiruan ini pun tidak akan rusak lagi. Maka dari itu, jagalah bulan ini baik-baik, ya," ucap Raisa
"Baiklah."
"Tentu saja."
"Kami akan menjaganya dengan sangat baik."
"Terima kasih, Kak Raisa!"
"Sama-sama," balas Raisa
"Jadi, ini yang kalian bilang bulan tiruan itu. Benda yang hebat," kata Sanari
"Raisa, bagaimana cara kau membuat bulan tiruan ini?" tanya Amon
"Kata Kak Raisa, bulan ini adalah api abadi suci yang dibungkus oleh sihir es. Api abadi suci tidak akan padam meski diselimuti oleh es, jadi es pun tidak akan meleleh meski membungkus api abadi suci. Keduanya memang seperti bersatu, tapi sebenarnya mereka seolah hidup terpisah. Namun, keduanya saling berdampingan."
Sekali lagi mereka dibuat kagum oleh Raisa.
Jika dipikirkan lagi bulan tiruan buatan Raisa itu seperti kedidupan pernikahan. Seolah dua orang yang memiliki karakter berbeda dan kehidupan masing-masing, tapi telah bersatu dalam ikatan pernikahan.
"Karena bulannya sudah ada di sini, berarti waktunya kami berempat untuk pamit pergi," ucap Raisa
"Kami pamit, ya, anak-anak ... " kata Rumi
"Ya. Kakak-kakak, hati-hati, ya!"
Raisa, Rumi, Amon, dan Sanari pun beranjak melangkah ke luar dari panti asuhan ditemani oleh Tuan Derril.
Saat itu mereka bertemi dengan beberapa warga desa berkumpul di suaru tempat.
"Tuan Derril, apa monster yang muncul belakangan ini sudah pergi? Kami sudah tidak lagi melihat kilatan api atau mendengar auman menakutkan saat matahari terbit. Apa desa kita sudah kembali aman?"
"Ya. Monster itu sudah berhasil ditangani. Desa Bambu sudah kembali aman seperti semula," jawab Tuan Derril
"Kukira siapa ... ternyata Raisa dan teman-temannya. Pantas saja desa telah kembali aman," kata Tuan Ednan, Pemimpin Desa Bambu.
"Terima kasih pada kalian berempat."
"Sama-sama. Karena Desa Bambu sudah kembali aman, sudah waktunya juga kami berempat untuk pergi. Kalau begitu, kami pamit," ujar Raisa
"Berhati-hatilah!"
Sampai di sana, mereka berempat pun beranjak pergi.
Mereka berempat langsung pergi menuju ke stasiun kereta dan akan menaiki kereta listrik untuk kembali menuju ke Desa Daun.
Di pagi hari, mereka berempat pergi dari Desa Bambu dan kembali menuju Desa Daun. Di siang harinya, Raisa pergi dari dunia itu kembapi menuju ke dunia asalnya dengan membuka portal sihir teleportasi setelah makan siang bersama teman-temannya.
.
•
__ADS_1
Bersambung ...