
Mereka pun sibuk memikirkan cara untuk mengungkap kedok target misi kali ini tanpa harus menimbulkan keributan.
"Biar aku yang mencobanya," kata Rumi
"Apa kau yakin?" tanya Raisa
Rumi mengangguk. Ia pun mengeluarkan ular sihir dari lengan bajunya yang diam-diam berjalan mendekat ke arah target misi.
Ular sihir milik Rumi diam-diam masuk ke dalam celana si tarhet tanpa diketahui dan menggigit target yang ada 2. Mereka hanya perlu menunggu. Target mana yang akan bereaksi dan menghilang begitu saja saat menunjukkan gejala keracunan berarti dialah yang palsu dan target yang asli akan terungkap.
Dilihat, setelah terkena gigitan ular sihir milik Rumi, si target beranjak pergi dari tempat duduknya. Dia berniat untuk melarikan diri setelah menyadari dirinya berada dalam bahaya.
"Dia pergi. Ayo, kita ikuti. Jangan sampai kehilangan jejak atau ketahuan," ucap Devan
Mereka pun ikut beranjak untuk membuntuti ke mana si target pergi agar tidak kehilangan jejak.
Target pergi ke luar bar dan menuju ke arah belakang bar tersebut.
Begitu ke luar dari bar dan setelah berjalan cukup jauh, tiba-tiba saja Rumi yang berjalan dekat Raisa dan Morgan, lelaki tampan itu mendorong dua sosok yang penting dalam hidupnya itu menjauh darinya.
"Cepat menjauh dariku!" pekik Rumi
Raisa terjatuh ke dalam pelukan Morgan setelah didorong oleh Rumi dengan keras. Tentu saja Morgan menahan tubuh Raisa agar tidak terjatuh dan otomatis memeluk tubuhnya.
"Hei! Ada apa denganmu, Rumi? Kenapa kau tiba-tiba mendorong kami berdua?" tanya Morgan
Sontak kedua mata Morgan langsung terbelalak saat melihat tubuh Rumi tiba-tiba terbakar begitu saja dan dilahap oleh api. Api yang melahap tubuh Rumi langsung menyambar bar yang mssih berada tidak jauh dari sana dan terjadilah kebakaran hebat di sana.
Tubuh Raisa yang limbung karena dorongan Rumi langsung menegakkan kembali tubuhnya dan berbalik melihat ke arah Rumi saat merasa perasaannya tidak enak.
Raisa tidak bisa lagi bereaksi lebih. Ia langsung terlihat syok dengan air matanya yang langsung terjatuh dan mengalir dengan deras ke pipinya.
Ini tepat seperti prediksinya yang belum lama dilihatnya. Rupanya meski tidak bersentuhan langsung, si target mampu mengetahui orang yang berusaha menyakitinya dan mengirim serangan balasan dengan membakar tubuh orang yang berniat macam-macam padanya.
Raisa merutuki dirinya sendiri. Harusnya ia menyadari hal ini juga akan terjadi melalui prediksinya. Namun, ia tetap manusia biasa yang tak luput dari kelalaian seperti ini.
Raisa pun langsung berlari ke arah Rumi meski dilarang sekali pun oleh lelaki tampan itu. Raisa juga langsung membawa Rumi pergi menjauh dari api yang berkobar dahsyat di sana dengan terbang menggunakan sayap sihir miliknya sambil memeluk tubuh lelaki tampan tercintanya itu. Saat dipeluk oleh Raisa, api yang membakar tubuh Rumi langsung padam.
Yang lain menatap tak percaya dengan apa yang terjadi. Semua orang di sana menjauh dari sana agar tidak ikut terbakar dan ada juga yang diam menyaksikan kejadian kebakaran itu.
"Yang lain cepat kembali cari keberadaan target. Aku sendiri saja yang akan mengikuti Raisa dan Rumi," ucap Morgan
Mereka kehilangan jejak si target karens kejadian yang tiba-tiba saja terjadi itu.
Amon, Devan, Ian, dan Chilla pun berusaha mencari kembali keberadaan target misi. Sedangkan Morgan mengikuti arah Raisa membawa pergi Rumi dengan cara berlari.
Saat itu juga misi menjadi kacau.
Untung saja Raisa tidak pergi terlalu jauh hingga mudah bagi Morgan menyusulnya. Dilihatnya, Raisa sedang memangku kepala Rumi sambil mengobati lukanya.
Morgan pun menghampiri mereka berdua.
"Bagaimana dengan kondisi Rumi?" tanya Morgan
"Rumi menderita luka bakar tingkat menengah di sekitar punggung, bahu, dan lengan kirinya," ungkap Raisa sambil terus meneteskan air mata.
"Apa luka bakarnya bisa langsung disembuhkan?" tanya Morgan
"Akan kucoba, tapi sepertinya tidak bisa langsung sembuh total saat ini juga," jawab Raisa
Raisa sedang mengurangi raaa sakit dan panas pada luka bakar Rumi dengan memberinya rasa dingin dengan sihir air dan es yang menyejukkan. Setelah itu, barulah Raisa mengobati luka bakar tersebut dengan sihir medis.
Rumi yang sempat tak sadarkan diri, akhirnya membuka kedua matanya perlahan.
"Kau sudah sadar, Rumi," kata Morgan
Rumi mengangguk lemah.
"Aku baik-baik saja, Raisa. Tidak perlu menangis," ujar Rumi dengan suara lirih.
"Apanya yang baik-baik saja? Kau terluka dan ini cukup parah," ujar Raisa
"Ada api abadi yang melindungi nyawa dan inti kehidupanku. Takkan terjadi apa-apa padaku. Kau tak perlu khawatir," kata Rumi
"Api abadi memang melindungi nyawamu dari dalam tubuhmu, tapi tubuh bagian luarmu tetap terkena luka bakar. Bagaimana bisa aku tidak khawatir melihatmu yang terluka seperti ini? Ini membuatku merasa sedih," ucap Raisa
Tidak disangka. Ternyata, luka bakar yang diderita Rumi bisa langsung disembuhkan oleh Raisa. Ini bukan hanya karena kemampuan sihir medis Raisa, tapi juga karena memang pada dasarnya tubuh Rumi memiliki kemampuan regenerasi sihir yang hampir mendekati sempurna hingga tubuhnya yang menderita luka memiliki kemampuan untuk sembuh dengan cepat.
"Luka bakarnya langsung sembuh," kata Morgan
__ADS_1
"Aku memiliki kemampuan regenerasi. Lihatlah, aku sudah tidak apa," ujar Rumi
"Lukamu memang sudah sembug, tapi pasti kondisimu masih lemah. Morgan, aku titipkan Rumi padamu. Tolong jaga dia," ucap Raisa
"Raisa,kau mau pergi ke mana?" tanya Rumi
"Ya. Memangnya kau mau pergi ke mana, Raisa?" tanya Morgan
"Aku ingin mencari target misi kita dan akan membalas perbuatannya yang sudah membuat Rumi terluka dengan menangkapnya," jawab Raisa
"Kali ini aku tidak lagi merasakan firasat buruk, justru sebaliknya ... firasatku sangat baik. Aku yakin bisa menangkap target misi kali ini. Akan kubuat dia mendekam di penjara," sambung Raisa
Raisa menyerahkan Rumi pada Morgan untuk dijaga, lalu ia bangkit berdiri.
"Tapi, kau tidak harus melakukannya seorang diri, Raisa. Jangan tinggalkan aku," kata Rumi
"Aku harus tetap berusaha. Aku akan mencari dan bergabung dengan teman yang lain dulu. Tenang saja dan jangan khawatir. Tetaplah bersama Morgan, kau masih lemah dan dia akan menjagamu," ujar Raisa
"Aku tahu kau ... tidak akan ada yang bisa menahanmu, jadi berhati-hatilah," pesan Morgan
Raisa mengangguk tanda mengerti. Lalu, ia pun beranjak pergi dari sana untuk mencari buronan yang menjadi target misi kali ini dengan meninggalkan Rumi dan Morgan.
Raisa membentangkan sayap sihir miliknya dan langsung melesat terbang di udara untuk mencari buronan itu dari atas.
Setelah Raisa pergi, teman lainnya malah datang ke tempat Morgan dan Rumi.
"Lho, kok kalian malah datang ke sini? Bagaimana dengan target misi kita?" tanya Morgan
"Tidak berhasil ditemukan. Kami kehilangan jejaknya," jawab Ian
"Lalu, bagaimana dengan Raisa? Apa kalian tidak bertemu dengannya?" tanya Morgan lagi.
"Tidak. Benar juga, aku tidak melihatnya. Ke mana dia?" tanya balik Chilla usai menjawab singkat pertanyaan dari Morgan.
"Raisa pergi untuk menangkap target itu. Katanya, dia ingin mencari dan berkumpul dulu dengan kalian," jawab Morgan
"Ini menjadi rumit saja. Kami tidak bertemu dengan Raisa," kata Amon
"Tidak bisa dibiarkan. Aku harus menyusul Raisa," ucap Rumi
Rumi pun memaksakan diri untuk bangkit dan menguatkan diri.
"Tenang dulu, Rumi. Sekarang bagaimana dengan keadaan lukamu?" tanya Devan
Rumi pun hendak langsung pergi.
"Tunggu dulu, Rumi. Kau mau ke mana? Raisa memintaku untuk menjagamu. Bukankah kau masih lemah?" tanya Morgan
"Tidak perlu lagi. Pokoknya aku harus menyusul Raisa sekarang," jawab Rumi
"Dengan kau menyusulnya ... memangnya kau tahu Raisa ada di mana?" tanya Amon
Rumi tidak memperhatikan siapa yang bertanya padanya. Terlebih lagi, ia tidak menjawab pertanyaan itu dan langsung pergi lari begitu saja.
"Dasar, keras kepala. Merepotkan saja," dumel Devan
Saat itu, Morgan melihat ada ular sihir milik Rumi yang tertinggal.
"Ternyata, Rumi meninggalkan ular sihirnya di sini. Kita masih bisa mengejarnya," kata Morgan
"Hei, ular. Kau bisa menyadari keberadaan Rumi, kan? Tunjukkan pada kami ... ke mana pemilikmu itu pergi," sambung Morgan yang bicara pada ular sihir milik Rumi.
Setelah Morgan bicara padanya, ular sihir milik Rumi merayap pergi seolah memandu jalan menuju tempat Rumi berada.
"Ayo, kita ikuti ular itu," kata Morgan
Morgan dan yang lainnya pun mengikuti arah perginya ular sihir milik Rumi agar bisa bertemu dengan sang pemiliknya.
Meski dalam suasana malam yang gelap, Raisa mampu melihat dengan jelas dari ketinggian yang jauh. Ia pun akhirnya menemukan keberadaan target yang sedang berjalan di suatu tempat yang sepi dari atas sana.
Saat itu juga, Raisa pun menggunakan sihir ilusi untuk mengubah penampilannya menjadi sosok gadis lain yang tampak begitu mempesona untuk mengelabui si target misi.
Untuk melancarkan aksinya, Raisa pun segera mendarat turun.
..."Target itu pasti sudah dekat. Aku harus mulai berakting. Huh! Kalau saja bukan karena ini misi penting dan ingin menangkapnya, aku tidak sudi berpura-pura jadi lemah dan merayu pria jahat seperti dia," batin Raisa...
Raisa pun memulai aksinya dengan penampilan lain. Yaitu, perempuan lemah yang butuh bantuan. Akting: mode on.
"Tolong ... aku butuh bantuan di sini. Siapa saja tolong aku. Kumohon ...."
__ADS_1
Raisa melangkah sambil terseok-seok ke arah datangnya buronan yang menjadi target misi kali ini. Ia melihat target itu berjalan mendekat. Di dalam hatinya, Raisa menyeringai tajam.
"Siapa di sana!?"
"Ini aku, aku di sini. Tolong aku."
Melihat ada gadis cantik dalam keadaan lemah, buronan itu pun menghampiri Raisa tanpa ragu.
Sebelumnya, Raisa telah melihat data dan informssi tentang target misi kali ini. Dikatakan si target itu selain suka mabuk, ia juga mata keranjang alias hidung belang. Jika memang seperti itu, akan mudah memerangkap target misi kali ini. Hanya butuh trik rayuan maut.
Raisa yang sedang menyamar pun mendekat ke arah si target dengan langkah lemah dan langsung pura-pura jatuh ke dalam pelukannya.
Saat menangkap tubuh Raisa yang jatuh ke dalam pelukannya, target buronan itu langsung menjatuhkan tas besar bawaannya. Di dalam tas itu pasti ada barang langka curian dari Desa Daun.
"Ada apa ini? Nona cantik, kau kenapa?"
"Aku baru saja dari tempat kebakaran yang di sana. Aku berlari jauh sampai ke sini karena takut api, tapi sepertinya aku terluka karena api itu."
"Aku juga baru dari sana. Bagian mana yang terluka, Nona cantik?"
"Ah, punggungku terasa panas!"
Sambil mengambil kesempatan untuk memeluk tubuh Raisa, si target itu melihat luka bakar di punggungnya.
..."Kalau bukan karena ingin menjebakmu masuk ke dalam perangkap, aku tidak sudi berakting jadi gadis murahan seperti ini. Sungguh menjijikan," batin Raisa...
"Punggung mulusmu telah terluka, Nona cantik."
"Maukah kau menolongku, Tuan. Kau bisa selamat tanpa luka dari lokasi kebakaran itu. Kau pasti sangat hebat dan tangguh."
"Itu pasti. Aku akan menolongmu, Nona cantik."
"Sebenarnya aku juga terluka dengan racun bisa ular yang entah datang dari mana. Tapi, ada mangsa empuk seperti ini yang datang menghampiriku dengan sendirinya ... mana mungkin kusia-siakan begitu saja," batin si target buronan
"Ya. Tolonglah aku, Tuan."
Tanpa si target sadari, Raisa langsung menotok bagian belakang leher di bawah kepalanya dengan kuat hingga membuatnya jatuh pingsan. Selain menghilangkan kesadarannya, Raisa juga menotok bagian dada dan perut si target buronan untuk mengunci pergerakannya.
"Harusnya aku membuatnya pingsan sejak awal," gumam Raisa
Saat itu, Rumi datang hingga membuat Raisa terkejut.
"Rumi!"
Raisa pun langsung mendekati Rumi.
"Siapa pun kau tolong serahkan pria itu," ucap Rumi
Rumi masih tidak sadar jika yang ada di hadapannya itu adalah Raisa yang menyamar menggunakan sihir ilusi.
Raisa menyentuh tangan Rumi, bermaksud ingin mengungkap jati dirinya yang saat ini sedang menyamar. Namun, Rumi malah menepis kasar tangan Rumi dan mencekik leher Raisa dengan satu tangan.
"Aku tidak tahu siapa dirimu, tapi jangan berbuat macam-macam!" tegas Rumi
Rumi bahkan mendorong dan memojokkan Raisa ke dinding tebing batu. Raisa sontak merintih kesakitan.
"Rumi, ini aku ... Raisa," ungkap Raisa berkata lirih.
Sihir ilusi penyamaran Raisa langsung berhasil terpatahkan dan langsung mengungkap jati diri dan penampilan asli Raisa.
"Raisa ...."
Melihat tampilan asli Raisa, Rumi langsung menarik pinggang gadis cantik itu dan mendaratkan bibirnya pada gadis tercintanya itu.
Rumi mencium bibir Raisa dengan terburu-buru seolah menyampaikan perasaan lega telah berhasil menemukannya. Keduanya hanya saling mel*mat dan langsung mengakhiri ciuman singkat itu.
"Syukurlah ... kau baik-baik saja," kata Rumi sambil mengusap lembut bibir Raisa karena ulahnya dengan ibu jarinya.
Rumi menempelkan dahinya pada dahi milik Raisa. Raisa pun menyentuh kedua pipi putih Rumi.
"Harusnya aku yang bicara. Kenapa kau bisa datang dan menyusul ke sini? Untunglah kau sudah baik-baik saja," ujar Raisa
"Aku khawatir padamu. Maaf, sudah mencekikmu tanpa tahu jika ini adalah dirimu. Pasti terasa sakit," ucap Rumi
"Tidak apa. Itu tidak penting dan tidak terlalu sakit," kata Raisa
Rumi langsung menarik Raisa ke dalam pelukannya dan Raisa pun langsung membalas pelukan dari Rumi.
.
__ADS_1
•
Bersambung ...