Bertemu Dan Jatuh Cinta

Bertemu Dan Jatuh Cinta
[Season 2] 118 - Merasa Senang.


__ADS_3

Setelah hanya ada bersama suaminya di rumah tersebut, Raisa yang ingin beristirahat langsung merebahkan dirinya di atas kasur. Raisa menepuk-nepuk sisi kasur yang masih kosong bermaksud meminta suaminya untuk ikut berbaring bersama di sampingnya.


Rumi pun ikut merebahkan tubuhnya di atas kasur di samping sang istri. Kini pasangan suami istri itu saling berbaring berhadap-hadapan satu sama lain.


"Akhirnya, ranjang kasur ini balik lagi ke rumah ini," ujar Raisa


Rumi hanya tersenyum tipis.


"Rumi, kau kenapa? Kenapa seperti ada yang beda pada senyummu? Kau terlihat lesu dan sedih?" tanya Raisa


"Benarkah?" tanya balik Rumi


Raisa mengangguk pelan. Ia pun berpikir alasan apa yang membuat Rumi terlihat murung seperti itu.


"Kau terlihat murung, tidak seperti biasanya. Atau karena ranjang kasur ini? Karena Ibu dan Bapak menolak ranjang kasur yang ingin kau berikan ini, kau merasa sedih dan niat baikmu jadi sia-sia? Kau tidak perlu merasa seperti itu, Sayang," ujar Raisa yang memaparkan dugaannya.


"Aku hanya merasa seolah ingin sedikit membantu dan meringankan beban masalah Ibu dan Bapak, tapi ternyata itu semua tidak dibutuhkan," ungkap Rumi


"Ibu dan Bapak tidak bermaksud seperti itu, Sayang. Mereka berdua hanya memiliki kekhawatiran yang lain dari pada tidak bisa tidur di atas ranjang kasur. Kau tidak perlu merasa sedih," ucap Raisa


"Tapi, aku merasa masih belum dan tidak bisa memberikan apa pun untuk Ibu dan Bapak. Padahal Ibu dan Bapak sudah mau menyerahkan putri mereka yang cantik ini untuk aku jadikan istri," kata Rumi


Raisa tersenyum dengan lembut dan hangat.


"Kan, kau tahu sendiri apa yang dikatakan oleh Ibu dan Bapak yang bisa membuat mereka berdua bahagia, yaitu dengan memberi kebahagiaan untukku, putri mereka yang kau ambil untuk dipersunting sebagai seorang istri ini. Dan sekarang di setiap detik bagiku, aku selalu merasa bahagia karena bisa terus bersama denganmu, artinya itu sudah cukup. Lagi pula, meski ranjang kasur ini dikembalikan, mereka sudah cukup menerima niat baik darimu," ujar Raisa


"Aku juga sangat bahagia karena bisa selalu bersama denganmu seperti ini," kata Rumi


"Sebenarnya, aku juga merasa agak sayang, sih ... padahal jika ranjang kasur ini dipakai oleh Ibu dan Bapak, aku ingin merasakan tidur dengan kasur lantai denganmu. Aku ingin merasakan sensasinya yang berbeda," ucap Raisa


Begitu mendengar ucapan Raisa barusan, kini tatapan dan senyuman Rumi kembali terligat berbeda. Tidak lagi murung, tapi seakan penuh arti.


Raisa pun tersadar jika baru saja mengucapkan kalimat yang terdengar ambigu.


"Yang kumaksud itu bukan hal yang aneh-aneh, lho. Maksudku tidur di atas ranjang kasur dengan tidur menggunakan kasur lantai itu pasti berbeda. Aku hanya ingin merasakan perbedaan itu saja dan tidak sama sekali ada maksud yang lain," jelas Raisa


Rumi terkekeh kecil dan langsung menarik Raisa ke dalam pelukannya.


"Ya, ya. Aku mengerti maksudmu kok," kata Rumi


"Menyebalkan! Kau menjahiliku lagi," dumel Raisa


"Aku hanya diam kok. Bagaimana bisa dikatakan kalau aku menjahilimu?" tanya Rumi


"Tatapan mata dan senyumanmu ... seolah kau salah paham dengan ucapanku," jawab Raisa


"Jadi, siapa yang salah paham dan membuat jadi salah paham?" tanya Rumi dengan pertanyaannya yang berbelit-belit.


Merasa kesal, Raisa pun memukul dada sang suami saat berada di dalam pelukan suaminya itu.


"Aww! Jangan menggodaku, Sayang," pelan Rumi


"Jangan mulai! Aku memukulmu, bukan menggodamu!" seru Raisa


"Baiklah, maaf ... " kata Rumi


Raisa mendorong dada sang suami untuk menatap ke arah manik mata yang terkesan tegas dan tajam milik pria yang membuatnya jatuh cinta itu.


"Kau sudah tidak merasa sedih lagi, kan?" tanya Raisa


"Sudah tidak lagi, tapi aku jadi ingin-"


"Sudah kubilang, jangan mulai!" seru Raisa


Rumi terkekeh pelan dan bergerak hanya untuk mengecup kening istri cantik tercintanya. Raisa pun tersenyum dengan lembut.


"Oh, ya ... rencana berlibur dengan yang lainnya ingin kita mulai pergi ke mana?" tanya Raisa

__ADS_1


"Bagaimana kalau untuk tujuan pertama, kita pergi ke pemandian air panas bersama-sama saja?" tanya balik Rumi memberikan saran.


"Ide bagus. Kita bisa merileksasi tubuh sambil berwisata bersama-sama," jawab Raisa memberi tanggapan pada saran yang diberikan oleh sang suami.


"Selain itu kita juga bisa menginap di sana dan kau bisa merasakan sensasi tidur dengan kasur lantai denganku di sana," ucap Rumi


"Ternyata, pikiranmu mengarah ke sana. Ingat, di sana kau tidak boleh macam-macam," ujar Raisa


"Aku tidak akan macam-macam di sana, hanya satu macam saja kok," kata Rumi


"Ingatlah, Rumi ... di sana kita berlibur bersama keluargaku," kata Raisa mengingatkan sang suami.


"Ya, akan aku usahakan, tapi tergantung suasana dan sikon. Lalu, ingatlah kalau mereka adalah keluargaku juga," ujar Rumi sambil terkekeh pelan.


*sikon; situasi dan kondisi.


"Dasar ... " Raisa kembali memukul pelan dada Rumi.


Membicarakan tentang rencana berlibur dengan Rumi sambil berbaring membuat Raisa perlahan-lahan merasa mengantuk dan lama-lama tertidur dengan lengan Rumi yang digunakan sebagai bantalan untuk kepalanya.


Menyadari Raisa telah terlelap dengan deru nafas yang kian teratur, Rumi bisa lebih mudah memandangi wajah istri cantiknya sepuas hati. Pria itu tersenyum sambil sesekali memainkan helaian rambut halus sang istri.


Kalau saja tidak ingat atau ingin menjaga kedamaian dari pemandangan indah di depan matanya, Rumi pasti sudah menerkam sang istri yang sedang dalam kondisi tertidur dan membuat seisi ruangan kecil itu menjadi bising dengan suara penuh cinta. Namun, Rumi memilih untuk menahan diri demi untuk bisa memandangi wajah polos sang istri yang sedang tertidur hingga membuatnya merasa puas hanya dengan itu.


Hingga beberapa jam telah berselang, akhirnya Raisa mengerjapkan kedua matanya hingga terbuka sepenuhnya. Wanita itu merasa takjub karena saat membuka kedua mata yang pertama kali dilihatnya adalah wajah tampan dari suaminya. Ia pun membalas senyuman sang suami dengan senyum manis terbaik yang dimilikinya.


"Jam berapa sekarang? Sudah berapa lama aku tertidur?" tanya Raisa


"Kira-kira tiga jam," jawab Rumi


Tiga jam itu artinya waktu sudah menunjukkan lebih dari jam tiga sore. Raisa pun langsung beringsut kaget dan bangkit duduk dari posisi tidurnya.


"Aku tidak berniat untuk tidur, tapi aku tertidur. Kenapa kau tidak bangunkan aku?" tanya Raisa


"Karena kau terlihat sangat damai dan cantik saat tertidur. Aku suka saat fokusku hanya memandangi wajahmu," ungkap Rumi


"Masih saja kau sempat merayuku di saat seperti ini padahal kita sudah punya rencana untuk membawa yang lain pergi berlibur. Harusnya kau bangunkan aku sejak tadi," ucap Raisa


"Apa dari tadi aku terus menggunakan lenganmu untuk bantal saat tidur? Pasti rasanya sangat pegal dan aliran darahmu tersumbat. Sini, biar aku lancarkan kembali aliran darahmu," ujar Raisa yang langsung menarik tangan sebelah kiri Rumi untuk dilancarkan melancarkan peredaran darah pada lengan suaminya itu dengan menggunakan kemampuan sihir pengendali darah miliknya.


"Kau tidak perlu merasa bersalah hanya karena ini," kata Rumi


"Bagaimana bisa seperti itu? Aku tahu rasanya saat tangan mati rasa, itu sangat tidak nyaman. Aku tidak bisa membiarkannya saja," ujar Raisa


"Yang penting yang mati itu bukan hatiku karena hatiku akan terus hidup selamanya karena ada cinta dari dan untuk dirimu," kata Rumi


Raisa tidak menanggapi perkataan darinya. Namun, Rumi tetap tersenyum saat melihat sang istri begitu peduli dengannya hingga tampak sangat serius saat sedang melancarkan aliran darah pada lengan tangannya.


"Sudah selesai," kata Raisa


Rumi pun langsung menarik pinggang Raisa dengan menggunakan tangannya yang lain hingga istrinya itu duduk di atas pangkuannya.


"Kalau kau benar-benar ingin menebusnya, kau harus memberi kompensasi lainnya untukku," pinta Rumi


"Dasar ... benar-benar, deh ... " gumam Raisa


Akhirnya Raisa menopang tubuhnya dengan lutut di hadapan Rumi dan mengangkat dagu suaminya dan tersenyum sangat manis pada pria di hadapannya itu. Rumi pun menatapnya dengan sangat intens. Lalu, di detik selanjutnya Raisa mendaratkan bibirnya untuk melahap bibir milik sang suami.


Dengan begitu semangat yang antusias dan terkesan ganas, Raisa memberikan permainan yang tidak Rumi sangka-sangka bahwa istrinya bisa membuatnya puas hanya dengan ciuman itu.


Namun, sepertinya sudah menjadi sifat yang tertanam pada naluri seorang pria yaang membuatnya menginginkan lebih, Rumi pun meneluk pinggang Raisa dengan sangat erat menggunakan kedua tangannya. Kedua tangannya itu pun tidak hanya diam dan bergerak menari-nari pada punggung sang istri yang masih terbalut dengan pakaian berbahan kaos.


Seolah tahu suaminya menginginkan lebih, Raisa malah langsung mendorong sang suami dengan kuat hingga pagutan keduanya terlepas begitu saja.


"Untuk saat ini cukup dengan ini saja," kata Raisa yang langsung beranjak turun dari ranjang.


Raisa langsung melangkahkan kedua kakinya menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Rumi yang tahu akan niat Raisa pun langsung menghentikan langkah sang istri dengan menahan tangan istrinya itu.

__ADS_1


Raisa berbalik dan menatap ke arah Rumi yang seolah menatapnya dengan pandangan mata yang buram karena telah dihalangi dengan kabut nafsu.


"Raisa, bisakah ... bagaimana jika kita mandi berdua saja?" tanya Rumi


Raisa sudah mengerti dengan gelagat sikap sang suami. Rumi akan memanggilnya dengan sebutan Sayang saat ingin bermanja dengannya. Namun, suaminya itu akan menyerukan namanya saat sedang bicara dengan serius.


Pertanyaan yang baru saja dilontarkan sang suami itu artinya suaminya itu bertanya dengan sangat serius karena menginginkannya.


Raisa mendelikkan kedua matanya. Namun, pada detik selanjutnya ia tersenyum sangat manis dan kian menggoda. Lalu, dengan gerakan cepat, Raisa langsung menarik satu tangan Rumi dan membawa suaminya itu untuk ikut masuk ke dalam kamar mandi bersamanya.


"Baiklah, ayo!" seru Raisa


Begitu masuk dan berada di dalam, Raisa langsung menyergap dan memojokkan Rumi ke dinding kamar mandi.


Jika diurutkan, kegiatan di dalam sana adalah pendahuluan, *******, anti-*******, dan ending.


Saat itu Raisa benar-benar membuat Rumi merasa puas hanta dengan sekali permainan yang panas, memuaskan, dan menggairahkan. Jika biasanya Rumi-lah yang membuat Raisa terbang hingga ke angkasa kini malah berbalik Raisa yang membuat Rumi merasa terbang hingga ke angkasa raya hingga membuat pria itu tidak bisa berbuat apa-apa karena dibuat mabuk oleh permainan cinta wanita yang berstatus sebagai istrinya.


Raisa benar-benar merubah dirinya menjadi wanita yang liar dan buas yang bisa membuat prianya puas dengan permainan panasnya. Meski harus bermain dengan cepat dan hanya sebentar karena keduanya harus saling membersihkan diri setelahnya, Rumi benar-benar telah merasa sangat puas. Bahkan pria itu belum pernah merasa sepuas ini sebelumnya.


Setelah selesai membersihkan diri, keduanya pun ke luar dari kamar mandi dan langsung beranjak untuk mengenakan pakaian.


"Sayang, apa kau benar-benar sudah tidak sabar untuk pergi sampai kau bermain dengan sangat luar biasa dan cepat seperti tadi?" tanya Rumi


"Sudah, jangan dibahas dan menunda lagi rencana kita untuk segera pergi," ujar Raisa


"Tapi, tadi itu kau benar-benar seperti berubah. Seperti bukan dirimu saja," kata Rumi


"Lalu, memangnya kenapa? Apa kau tidak suka? Padahal kupikir kau akan menyukainya?" tanya Raisa


"Tidak, bukan seperti itu. Malah aku sangat suka," jawab Rumi


"Kalau kau ingin tahu, itu karena aku merasa senang. Jadilah, aku seperti itu," ungkap Raisa


"Apa artinya jika setiap kau merasa senang aku bisa merasakannya lagi?" tanya Rumi


Raisa kembali mendelik tajam ke arah Rumi. Namun, lagi-lagi wanita itu tersenyum. Ia pun lebih dulu sibuk mengenakan pakaian barulah memberikan jawaban atas pertanyaan dari sang suami.


"Entahlah," jawab Raisa dengan singkat yang sepertinya membuat Rumi merasa kecewa setelah sangat menantikan jawaban darinya.


"Tapi, mungkin saja jika merasa senang maka aku akan jadi seperti itu. Jadi, sering-seringlah membuatku merasa senang, Sayang. Karena kalau aku merasa senang maka aku juga akan membuatmu merasa senang. Kita akan saling membahagiakan satu sama lain," sambung Raisa


"Lalu, apa yang membuatmu merasa senang saat ini?" tanya Rumi


"Karena kita akan segera jalan-jalan," jawab Raisa


"Hanya itu?" tanya Rumi


"Karena mungkin ke depannya tidak mudah untuk meluangkan waktu bersama keluarga seperti ini. Pasti kau akan sibuk bekerja nantinya," jawab Raisa


Usai telah berpakaian dengan rapi, Raisa pun membantu Rumi berpakaian dengan mengancingi kemeja suaminya itu.


"Jadi, cepatlah bersiap-siap, Sayangku ... " kata Raisa yang lalu memberikan kecupan singkat pada pipi sebelah kiri sang suami.


Setelah itu, Raisa pun langsung kembali beralih untuk merapikan rambutnya.


Rumi tersenyum hangat karena ternyata mudah saja membuat istrinya merasa senang, yaitu dengan meluangkan waktu. Tapi, sepertinya tidak mudah juga karena benar kata Raisa pasti dirinya nanti akan sibuk dengan pekerjaan.


Rumi bergerak memeluk Raisa dari belakang dan saat istrinya itu menoleh ke belakang, keduanya saling mengecup bibir dengan singkat. Hanya sekadar kecupan.


"Aku mencintaimu, Istriku," ungkap Rumi


"Aku juga sangat mencintaimu, Suamiku," balas Raisa


Setelah siap dan rapi, keduanya pun bergegas ke luar dari rumah (Rumi) dan beranjak nenuju ke rumah (Raisa) lainnya untuk menjemput keluarga agar bisa segera pergi berwisata bersama-sama.


.

__ADS_1



Bersambung.


__ADS_2