Bertemu Dan Jatuh Cinta

Bertemu Dan Jatuh Cinta
46 - Yang Sebenar-benarnya.


__ADS_3

"Tapi, kita jadi bisa berkumpul di sini. Bercerita sambil memandang langit yang indah. Bukankah cukup menyenangkan?" Ujar Raisa


"Benar juga. Kau masih berhutang cerita pada kami semua tentang kehidupanmu." Ingat Morgan


"Kalau begitu, duduklah..." Kata Raisa


Sebelum duduk, Raisa memagari api unggun buatannya dengan sihir tanah yang mengelilingi api itu. Agar api tidak menyebar, merambat ke mana-mana.


Semua menuruti kata Raisa, mengikutinya duduk di atas hamparan rumput beratapkan langit indah malam bertabur bintang. Duduk dengan melingkari api unggun buatan Raisa.


"Untung saja, aku sudah nembawa camilan yang dibawakan Raisa tadi bersamaku. Bercerita akan lebih asik sambil makan camilan!" Kata Chilla


"Kau mah memang pada dasarnya tukang makan. Dasar, gendut!" Cela Ian


"Jadi, kalian masih ingin mendengar cerita tentangku. Ceritaku kali ini akan sangat panjang, lho... Karena harus bercerita dari awal. Bukankah kalian akan merasa pusing jika mendengar ceritaku yang berputar-putar? Jadi, urungksan saja. Kalian saja yang bercerita tentang hal lain..." Ucap Raisa


"Cih, merepotkan! Tak usah bertele-tele, ceritakan saja!" Kata Devan


Raisa terkekeh kecil...


"Ya, ceritakanlah tentang dirimu. Aku baru kali ini akan mendengar ceritamu langsung dari sumbernya. Sebelumnya, aku hanya mendengar tentangmu dari mereka semua. Itu belum cukup!" Ujar Sandra


"Kau lihat! Sandra, saja sangat menantikannya. Maka, kau harus bercerita. Tepatilah janjimu!" Kata Morgan


"Ya, ya. Aku ceritakan... Aku kan hanya bercanda sebelumnya. Harus mulai dari mana? Baiklah, dengarkan..." Ujar Raisa


Raisa memerhatikan teman-temannya di sekelilingnya. Ia benar-benar tidak sadar, jika ia duduk bersebelahan dengan Rumi. Ia pun mencoba menutupi kegugupan yang di rasakannya...


"Di mulai dari kehidupan keluargaku. Namaku, Raisa Putri Atmawidjaya. Kedua orangtuaku masih lengkap. Aku punya masing-masing satu adik dan kakak. Kakakku sudah berkeluarga dan punya satu anak balita. Sebenarnya, kemampuan sihirku adalah sebuah keajaiban! Dan, kenyataannya adalah di duniaku ini, sihir adalah suatu yang mustahil, tidak ada keberadaannya, nihil! Mungkin memang ada, tapi sangat tipis keberadaannya. Itu pun sudah musnah punah sejak zaman lanpau. Dan, bahkan di negaraku ini jarang yang ada memiliki sihir. Langka! Itulah sebabnya saat kejadian beberapa hari lalu kalian datang mencari untuk membantuku, saat itu aku memakai sihir penyamaran. Wujud transformasi sihir kugunakan agar tidak ada orang-orang yang tau identitas asliku saat melihat dan menyaksikan semua keajaiban itu. Dan, untuk saat ini, yang kutau... Hanya akulah satu-satunya orang, manusia yang memiliki kemampuan sihir. Karena sebelumnya pun, aku tak percaya bahwa sihir itu memang ada. Dulu, sihir bagiku hanyalah sebuah dongeng belaka." Raisa pun memulai ceritanya dari hal yang paling awal.


Dan kenyataan di akhir cerita yang Raisa ungkapkan, mampu membuat semua terkejut tak percaya.


"Tunggu! Bagaimana bisa itu terjadi?! Sihir adalah nihil? Bagi kami itulah yang mustahil! Walaupun di dunia kami, ada juga orang-orang yang tak memiliki kemampuan sihir..." Ujar Billy


"Jika, tak ada sihir di sini. Bagaimana bisa kau adalah orang yang berkemampuan seperti itu?" Tanya Morgan


"Sebelumnya, biar kutegaskan dulu. Ceritaku adalah asli. Jujur, tidak ada kebohongan. Kalian tidak percaya? Sama! Awalnya aku pun tidak percaya. Aku hampir gila saat awal-awal kemampuan sihir dari dalam diriku muncul. Aku bertanya-tanya, apa ini halusinasi? Dan, semuanya akhirnya terjawab!" Ungkap Raisa


"Cerita awal kemampuan sihirku muncul adalah... Bermula saat 3 tahun lalu, aku yang mulanya baik-baik saja tiba-tiba sakit. Awalnya hanya sakit demam biasa, kemudian bertambah buruk! Saat itu, aku bahkan tidak bisa turun dari tempat tidur. Aku pun menjalani perawatan di rumah sakit. Kata dokter, ada yang salah dengan jantungku. 3 bulan aku mengalami hari-hari penuh kebosanan di kamar inap rumah sakit. Setelah dibolehkan pulang, selama setahun aku berangsur sembuh dan pulih. Setelah itu, aku mulai bermimpi aneh yang berkelanjutan sepanjang malam saat tidur. Suatu hari, saat bangun karena sesak di dada. Saat terbangun, kamar tidurku mengalami kebakaran. Saat mencoba meminta pertolongan karena api terus menyebar dan saat api mulai hampir mengenai tubuhku yang tak berdaya... Tiba-tiba saja muncul siraman air entah dari mana mampu memadamkan api itu. Awalnya, aku tak mau mempercayainya. Tapi, aku sadar air itu muncul karena diriku. Bahkan itu pun aku yang menyebabkan kamarku sendiri terbakar secara tak sadar saat masih tidur. Akibat aku yang sebelumnya meminta pertolongan, kedua orangtuaku pun datang, masuk ke dalam kamarku. Saat itu mereka terkejut dengan kondisi kamar yang berantakan dan sebagian benda hangus seperti habis terbakar, ada juga genangan air seperti bekas siraman pemadaman api. Tapi, mereka yang melihatku pun dapat melihat aku sama terkejutnya dengan mereka. Aku histeris! Aku bilang, ada yang aneh pada diriku! Aku sendiri bertanya-tanya, meminta penjelasan pada mereka. Sebagai orangtua, mereka pasti tau, ada apa dengan diriku sebenarnya? Mereka mulai menenangkanku. Ibuku menjelaskan, bahwa inilah takdirku... Aku adalah orang yang terpilih, bahwa aku spesial! Aku menuruni bakat terpendam dari mendiang Kakekku." Jelas Raisa menceritakan.

__ADS_1


"Ibuku bercerita, bahwa Kakekku dulu adalah seorang yang memiliki bakat sihir. Hanya sekedar bakat, sihirnya tak sehebat seperti apa yang diturunkan padaku. Dulu, Kakek hanya bisa menggunakan sihir medis, kemampuannya pun tak semahir Bibi Sierra, hanya bisa menyembuhkan beberapa penyakit ringan. Namun, jarang dipergunakan pada orang luar hanya pada keluarganya Kakekku menunjukkan kemampuannya. Katanya, leluhur Kakekku lah yang menurunkan bakat ini, leluhur Kakek adalah orang-orang yang lebih hebat. Dan, kemampuan inilah yang menurun sampai pada diriku. Awalnya, dengan kemampuan ini aku menganggap diriku aneh yang berbeda dari orang lain, aku tak bisa menerima takdir ini! Namun, lama kelamaan aku mulai memahami diriku dan kemampuanku. Aku mulai menerima takdir ini saat sihirku bisa sedikit memudahkanku, aku mulai terbantu dengan adanya sihir ini, aku bisa menolong diriku sendiri. Ternyata, penyebab aku jatuh sakit adalah karena muncul takdir baru dalam diriku. Dokter yang berkata bahwa ada yang salah dengan jantungku adalah saat ada kemunculannya kemampuan sihir yang nerasuki diriku melalui jantungku. Sihir dalam jantungku adalah takdir baruku. Sihirku mulai muncul 2 tahun belakangan ini, bersamaan dengan mimpi-mimpi tentang kalian, adanya dunia lain, dimensi dunia yang berbeda... Sejak saat itulah aku memutuskan untuk bertekad menerima takdir ini. Menjadi kuat dan menolong banyak orang..." Ungkap Raisa menjelaskan.


"Benar-benar tak bisa dipercaya! Benar-benar tak menyangka sudah seperti cerita dalam dongeng sungguhan saja..." Ucap Wanda


"Benar, aku pun tak menyangka kenyataannya seperti itu. Benar-benar sulit dipercaya!" Ujar Marcel


"Tapi, kurasa masih bisa untuk kita memahaminya. Aku percaya jika Raisa yang bicara..." Kata Dennis


"Aku mengerti jika kalian akan sulit percaya, bahkan menolak atau tak mau percaya sekali pun. Tapi, inilah adanya! Kenyataannya adalah dunia kita jelas sangat berbeda. Dan, aku punya satu permintaan yang sangat memohon untuk kalian kabulkan." Ujar Raisa


"Apa itu? Jika, kau yang neminta, akan kami usahakan menyanggupinya." Kata Rumi


...'Ayolah, Rumi... Jangan buat aku salah paham akan kata-katamu dan jadi goyah lagi. Bisakah kau hentikan perhatianmu padaku? Paling tidak kurangilah atau lebih baik kau taruh perhatianmu pada orang lain.' Batin Raisa...


"Aku minta, saat kalian sedang berada berkunjung ke sini, tahanlah diri kalian. Jangan sampai kalian mengungkapkan identitas kalian atau menggunakan kemampuan sihir kalian dan juga untuk tidak membicarakan tentang sihir. Apapun tentang sihir! Hanya sebatas sihir... Kurasa, seperti kata Rumi, kalian pasti bisa melakukannya, kan? Menahan diri dari sihir? Kumohon..." Ucap Raisa


"Kurasa jika hanya sebatas itu, kami bisa... Tidak mengeluarkan kemampuan sihir, itu mudah!" Ujar Ian


"Benarkah!? Lagipula, coba kalian pikir... Di sini, tidak ada sihir. Jika, kalian menahan diri akan sihir... Bukankah itu akan menghemat tenaga sihir kalian? Saat kalian kembali pulang ke dunia kalian nanti, tenaga kalian masih terjaga penuh dalam diri kalian. Benar, kan?" Tutur Raisa


"Itu memang mudah. Baiklah, kami menyanggupinya! Tapi, jika dipikirkan lagi, sehari-hari kami yang selalu menggunakan sihir kini dilarang untuk melakukannya... Memikirkannya saja, cukup merepotkan!" Ucap Devan


"Terima kasih! Ah, ya, satu lagi... Untuk tidak menggunakan senjata apapun di sini! Baik itu belati kecil, bom asap, apalagi pedang! Tahanlah diri kalian dari mempergunakan itu semua. Kumohon, kalian bisa, kan?" Imbuh Raisa


"Benar sekali! Memang pantas menjadi ketua, kau yang paling bisa paham, Devan... Kau yang terbaik! Ya, sebenarnya meskipun tingkat kejahatan di sini lebih rendah bukan berarti juga hal seperti itu tidak ada. Hal seperti perampokan, perampasan, penculikan, pembunuhan, juga ada di sini. Tapi, hal seperti itu hanya pihak kepolisian yang akan menanganinya. Walaupun ingin membantu pun, paling hanya untuk mencegah, paling parah pencegahan dilakukan hanya dengan perkelahian biasa, lalu tetap diserahkan ke pihak kepolisian. Seperti itu..." Jelas Raisa


"Baik, kami mengerti. Balik ke topik sebelumnya tentang sihir. Jika hanya ada kita semua seperti ini, tidak apa membicarakannya, kan? Lalu, sebenarnya seperti apa sihirmu itu, Raisa? Aku masih terus memikirkannya karena sihirmu yang agak berbeda dengan kami." Ucap Morgan


"Ohoho, kau ternyata sebegitunya penasaran tentang itu? Apa sihirku sebegitu mengagumkannya bagimu?" Ledek Raisa


"Hei, Morgan! Sepertinya agak kurang pantas kau menanyakan itu saat ini. Di saat Raisa dan Sandra akan berduel dam pertarungan, jika Raisa mengungkapkannya, bukankah akan untung bagi Sandra untuk mencari celah?" Timpal Ian


"Eh, tentang pertarungan itu masih akan dilaksanakan?" Tanya Sanari


"Tentu saja! Aku sudah sangat menantikannya..." Jawab Sandra dengan cepat.


"Sepertinya kau sudah cukup menahan diri untuk tidak mengungkit-ungkit tentang itu lagi di awal, Sandra, padahal kau sangat ingin bertarung denganku. Walaupun aku mengungkapkannya pun, Sandra tidak mungkin mencari celah menemukan kelemahanku untuk berbuat curang, kan?" Ujar Raisa


"Sudah pasti dong! Aku kan bukan orang yang berpikiran sempit untuk berbuat curang. Aku bukan p*ng*cut dan aku percaya dengan kemampuanku!" Kata Sandra

__ADS_1


"Kau yakin akan menceritakan tentang ini juga, Raisa?" Tanya Devan


Raisa mengangguk...


"Aku harus mulai darimana? Aku bingung... Sihirku memang berbeda dengan milik kalian, sepertinya. Beda di mananya ya? Kebanyakan yang kalian lakukan adalah merapal matra dan membuat gerakan segel sihir agar sihir itu bisa di keluarkan. Tapi, aku tidak... Aku bebas mengeluarkan sihirku seperti apa yang ada di pikiranku. Seperti yang pernah kubilang sihir dari lambang inti Bunga Teratai Putih milikku berarti kekuatan yang murni. Dapat memurnikan apapun, termasuk pikiran maupun niat jahat dengan mengambil porsi tenaga sihir yang berbeda dari dalam diriku. Semakin sulit usahanya, semakin jahat maksud lawanku, maka semakin banyak tenagaku yang terkuras untuk memurnikan niat mereka. Aku pun menguasai banyak macam elemen sihir... Angin, Air, Tanah, dan Api." Cerita Raisa mengungkapkan.


Di akhir katanya, Raisa ikut mengeluarkan sihir apinya untuk memperbesar api unggun di hadapannya.


Raisa menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya bersamaan lalu diusapkan pada kedua pipi kemudian lemgan atas tangannya. Posisi duduknya pun berganti menjadi meringkuk, menekuk kedua kakinya dan memeluk sepasang kakinya dengan erat. Raisa mulai kedinginan...


Tubuhnya pun sedikit bergetar akibat hawa dingin yang kian merasuki tubuhnya seperti menusuk-nusuk ke dalam tulangnya~


Melihat itu, Rumi yang berada tepat di samping kiri Raisa, merengkuh tubuh gadis di sampingnya itu. Merangkul, menarik tubuh Raisa agar mendekat dengan tubuhnya hingga tubuh keduanya bertempel kulit.


Tubuh Rumi dan Raisa kini saling bersentuhan tak berjarak dengan satu tangan Rumi yang memeluk tubuh Raisa dari samping.


Mata Raisa tentu seketika membelalak heran. Ada apa lagi dengan pria di sampingnya ini?


Ragu-ragu, dengan segela kegugupannya Raisa pun menoleh ke arah Rumi. Mendongakkan kepalanya ke kiri karena tentu Rumi yang lebih tinggi darinya. Raisa ingin bertanya, tapi suaranya tak mampu ke luar tertahan di tenggorokan...


"Kau pasti kedinginan, bukan? Kau lemah dengan rasa dingin, Raisa. Jangan sampai kau jatuh sakit lagi. Aku akan memelukmu sementara seperti ini." Ujar Rumi seakan mengerti tatapan penuh tanya yang Raisa tunjukkan padanya.


Raisa harus berkata apa?


Ia sangat bingung... Padahal, ia tak mau ada lagi kedekatan yang berlebih antaranya dan Rumi. Karena, jika begini, hatinya akan goyah lagi. Namun, ia segan bahkan tak sanggup menolak kebaikan hati serta perhatian dari Rumi. Karena, jika boleh jujur... Sebenarnya, pelukan yang Rumi berikan, selain menghangatkan tubuhnya juga dapat membuatnya nyaman. Hatinya pun ikut menghangat.


Mengingat kebaikan hati yang telah Rumi berikan, Raisa jadi tak tega dan tak enak hati karena telah memutuskan untuk bertekad menghindar darinya sejauh mungkin~


"Ah, kau baik hati sekali, Rumi! Terima kasih telah memperhatikanku. Aku jadi merepotkanmu untuk melakukan seperti ini..." Ucap Raisa


Akhirnya, Raisa membiarkan Rumi memeluk tubuhnya dari samping. Raisa benar-benar tak tega mematahkan dan tak sanggup menolak kebaikan hati Rumi. Raisa hanya menganggap perbuatan Rumi saat ini adalah sebatas kepedulian antar teman... Sebenarnya, itu hanyalah alasan yang dibuat-buat hatinya karena sesungguhnya Raisa juga menginginkan perlakuan Rumi yang berbuat demikian. Dirinya hanya berusaha untuk terus menyangkal dan mengelakkan perasaan di hatinya.


Bahkan, kini ia juga mengabaikan pandangan penuh tanya temannya yang lain yang terus menatap ke arahnya dan juga Rumi.


"Kau tidak merepotkanku, aku yang ingin memelukmu seperti ini. Kami semua tak ada yang ingin kau jatuh sakit lagi. Biar aku yang mewakili yang lainnya untuk menjagamu." Kata Rumi


'Aku yang senang melakukannya. Biar bagaimana pun, aku takkan membiarkan yang lain melakukan yang seperti aku lakukan padamu. Kau hanya memerlukanku saja untuk berada di dekatmu. Karena sesungguhnya, aku sangat merasa nyaman berada di dekatmu seperti ini.' Batin Rumi


.

__ADS_1



Bersambung...


__ADS_2