
"Apa rencanamu setelah ini?" tanya Paman Elvano
"Kalau, Paman sendiri ... punya rencana apa setelah ini?" tanya balik Raisa
"Aku bertanya padamu dan kau malah bertanya balik padaku?" tanya Paman Elvano, heran.
"Maksudku ... kalau Paman ada waktu, maukah Paman melatihku berpedang?" ujar Raisa bertanya.
"Sekarang? Apa kau sanggup berlatih saat baru saja pulih?" tanya Paman Elvano
"Aku sanggup! Latihan bisa membuat tubuhku menjadi semakin kuat, ini juga baik untuk pemulihan asalkan tidak berlebihan," jawab Raisa
"Kalau Paman bisa, tunggulah aku di tempat biasa kau melatih Aqila dan Morgan. Aku akan menyusulmu ke sana setelah mengambil pedangku di rumah. Tunggu aku, ya, Paman. Aku akan berusaha untuk cepat," lanjut Raisa yang langsung bergegas menuju ke rumahnya.
"Jangan berlari! Hati-hati, kau baru pulih!" pekik Paman Elvano yang sia-sia.
"Padahal aku masih belum menyetujuinya!" gumam Paman Elvano yang melihat Raisa berlari dengan cepat.
Setibanya di rumah, Raisa langsung mencari dan mengambil pedang miliknya.
..."Untung saja, pedang ini kusimpan di rumah!" batin Raisa...
Karena kalau saja, Raisa menyimpan pedang miliknya di dalam dimensi ruang penyimpanan sihirnya, mungkin pedang miliknya akan lenyap bersamaan hilangnya kemampuan sihir miliknya. Seperti Phoenix yang bersemayam di dalam dirinya.
Raisa masih menyesalinya karena secara tidak sengaja telah membuat keberadaan Phoenix yang langka menjadi lenyap bersama hilangnya seluruh kemampuan dan tenaga sihirnya.
Setelah menemukan pedang miliknya, Raisa pun membawa pedang itu pergi ke tempat berlatih dengan terburu-buru agar tidak membuat Paman Elvano bosan karena terlalu lama menunggunya.
Raisa sampai ke tempat berlatih dengan nafas yang terengah-engah. Ia melihat ke sekeliling, tidak ada keberadaan Paman Elvano.
"Paman Elvano, masih belum datang atau tidak datang, ya?" gumam Raisa bertanya-tanya.
"Aku sudah menunggumu di sini, siapa bilang aku tidak datang," ujar Paman Elvano
Ternyata, Paman Elvano sudah ada di sana. Namun, sedang menunggu sambil bersandar di balik pohon yang ada di sana.
Raisa pun tersenyum.
"Paman, aku sudah siap untuk berlatih!" kata Raisa dengan penuh semangat meski nafasnya masih tersenggal-senggal.
"Apa kau sungguh yakin bisa berlatih dengan kondisi seperti ini? Terlebih lagi kau baru pulih belum lama ini, kan?" tanya Paman Elvano
"Tentu saja, aku yakin! Aku sudah pulih dan terus berlatih. Aku hanya perlu mengatur nafasku sebentar. Jika sudah bertekad, tidak ada yang tidak bisa dilakukan," jawab Raisa
"Baiklah. Melihat kegigihan dan kesungguhanmu, aku akan melatihmu. Istirahatlah sebentar, lalu lakukan pemanasan. Setelah itu, baru berlatih pedang," ucap Paman Elvano
"Baik. Terima kasih, Guru!" patuh Raisa
Raisa akan memanggil Paman Elvano sebagai Guru selama masa berlatihnya.
Raisa beristirahat sejenak untuk menstabilkan nafas. Setelah itu, melakukan pemanasan seperti kata Guru Elvano dan mulai berlatih bersama.
"Pertegas lagi postur tubuhmu! Kau baru pulih, jadi postur tubuhmu melemah. Kau harus mencoba lagi dari awal," ucap Paman Elvano
"Tidak apa, Guru. Aku mengaku tubuhku memang jadi melemah karena kondisiku sebelumnya, tapi kalau terus dilatih pasti bisa jadi kuat lagi. Untuk itu, aku berlatih denganmu sekarang," ucap Raisa
"Semangat yang bagus! Kalau terus seperti ini, kau bisa segera berlatih tanding," ujar Paman Elvano
"Benarkah!?" tanya Raisa
"Ya. Kau bisa mencobanya nanti. Kalau hasilnya kurang bagus, kau bisa mengulang latihan berpedang dari awal, baru mencoba latihan tanding lagi," jawab Paman Elvano
"Baik!" patuh Raisa
"Kau yakin, jika ada tekad maka bisa melakukan apa pun, kan? Jadi, kau pasti bisa! Berusahalah dan terus bersemangat!" ujar Paman Elvano
"Tentu saja," kata Raisa
Setelah cukup lama berlatih teknik berpedang, Paman Elvano menyuruh Raisa untuk beristirahat.
"Cukup, istirahat dulu," kata Paman Elvano
"Baik, Guru!" patuh Raisa
Raisa pun menghentikan gerakannya dan memasukkan pedang pada sarung pelindungnya. Raisa pun duduk sembarang di atas rerumputan untuk melepas rasa lelah.
Paman Elvano pun ikut duduk di sampingnya.
"Kau sedang berlatih. Apa kau membawa makanan?" ujar Paman Elvano bertanya.
"Aku terburu-buru, selain mengambil pedang, aku tidak membawa apa pun saat ke rumah tadi, tapi aku selalu membawa air minum sejak awal," jawab Raisa
Raisa pun mengeluarkan botol air dari tas yang selalu dibawanya.
"Paman, juga mau minum?" tanya Raisa menawarkan setelah membuka tutup botol minumnya.
"Kalau air minum, aku juga punya," kata Paman Elvano
"Oh, baiklah," singkat Raisa
Raisa pun menenggak air dari botol miliknya.
"Kalau aku juga membawa makanan. Apa Paman akan menerimanya jika aku tawarkan? Kalau begitu, harusnya aku membawa makanan juga tadi," ujar Raisa
__ADS_1
"Tidak juga. Aku tidak suka mengambil milik orang lain," kata Paman Elvano
"Apanya yang mengambil milik orang lain? Kan, aku yang menawarkannya. Kalau begitu, jika lain kali aku menawarkan makanan, Paman harus menerimanya, ya ... " ujar Raisa
"Kalau begitu, baiklah," kata Paman Elvano
Raisa tersenyum.
"Raisa, kau sedang ada masalah dengan Rumi?" tanya Paman Elvano
"Saat itu, aku sedang bicara dengan Bibi Sierra. Paman, mendengarnya, ya ... " ujar Raisa
"Aku tidak bermaksud menguping, tapi kau bicara di tempat terbuka dan aku kebetulan datang," kata Paman Elvano
"Tidak apa. Aku tidak marah dan tidak berhak untuk marah. Justru, aku ingin bertanya sesuatu," ucap Raisa
"Ingin tanya apa, tanyakan saja " ujar Paman Elvano
"Apa Paman mencintai Bibi Sierra?" tanya Raisa
"Tidak. Ini terlalu pribadi, meski yang akan kutanyakan selanjutnya juga masalah pribadi. Apa rasanya setelah bisa bersatu dengan Bibi Sierra? Maksudnya, kan, Paman dulu sudah membuatnya menunggu lama, tapi akhirnya Bibi Sierra mau menerima Paman. Bagaimana perasaan Paman ketika itu?" Raisa memilih untuk mengganti pertanyaannya.
"Ah, tidak! Sudahlah, Paman. Aku jadi terkesan ikut campur dan sok tahu tentang masalah pribadi kalian. Aku ini memang sedang melantur. Aku hanya khawatir berlebihan. Dari dulu aku memang lemah, makanya sekarang jadi merasa seperti ini," racau Raisa
"Aku mencintainya, tapi malah merasa khawatir. Ini seperti, aku mencintainya, tapi mencurigai adanya orang ketiga. Orang ketiga itu adalah rasa khawatirku. Ya, kan? Bodoh sekali!" gumam Raisa
"Orang memang terkadang suka bertindak bodoh, makanya selalu ada orang lain yang akan menyadarkannya. Perempuan memang diciptakan dengan pribadi yang lemah, makanya ada lelaki yang diciptakan untuk berada di sisinya dan akan saling melengkapi " tutur Paman Elvano
"Benar. Aku orang yang lemah dan khawatir salah arah, makanya aku butuh petunjuk dari orang lain, tapi tetap saja aku khawatir tertipu setelah bertanya dan mendapat petunjuk dari orang lain. Aku ini orang yang tidak percaya diri, tidak berguna!" ucap Raisa
"Jika khawatir, kau bisa berhenti. Memang tidak boleh mudah percaya dengan orang lain begitu saja, makanya kau hanya perlu ikuti kata hatimu dan sedikit lebih memberanikan diri. Atau biarkan semuanya berjalan apa adanya. Akan selalu ada jalan," ucap Paman Elvano
"Bicara memang mudah, tapi tetap saja semuanya terasa sulit dan berat," kata Raisa
"Kau mau tahu, perasaanku saat Sierra bersedia menerimaku yang punya banyak kekurangan dan telah membuatnya menunggu lama? Saat itu, aku hanya merasa beruntung! Mungkin kau juga akan mendapat keberuntungan yang sama seperti yang kurasakan suatu saat nanti. Karena yang kutahu, keberuntungan ini selalu menyertaimu ... " ujar Paman Elvano mengungkapkan.
"Saat ini adalah suatu keberuntungan bagiku bisa mengobrol seperti ini dengan Paman. Terima kasih!" ungkap Raisa
"Kau berlebihan," kata Paman Elvano
Raisa tersenyum senang.
"Hanya begini saja, kau merasa senang?" heran Paman Elvano bertanya.
"Tentu saja! Dari dulu aku mengagumimu! Kau mungkin sudah sering mendengarnya. Kau itu orang yang tampan meski sudah tidak lagi muda. Ya, walau belum terlalu tua juga, sih. Orang yang tidak mengenalmu mungkin mengira kau belum berkeluarga alias masih lajang dan perempuan pasti mengejar-ngejar juga mengilaimu," ucap Raisa
"Kau mengagumiku hanya karena aku terlihat tampan bagimu?" tanya Paman Elvano
"Kau belum mengatakannya, tahu dari mana aku akan malas mendengarmu? Tapi, terserah kau saja," kata Paman Elvano
"Paman, aku berharap bisa dekat denganmu. Dengan semua orang di sini juga, sih. Terima kasih sudah bersikap peduli padaku, padahal yang kutahu kau orang yang dingin. Makanya, kubilang aku beruntung saat ini," ucap Raisa
"Kalau begitu, mau kupeluk?" tawar Paman Elvano bertanya.
"Kenapa tiba-tiba? Mungkin akan tidak nyaman, tidak perlu," kata Raisa
Meski tawarannya ditolak, Paman Elvano menarik lengan Raisa dan memeluk tubuhnya.
"Memangnya siapa yang akan merasa tidak nyaman? Kau atau aku? Kan, aku yang menawarkannya, jadi terima saja," ujar Paman Elvano
Raisa merasa terkejut. Namun, perlahan membalas pelukan Paman Elvano.
"Pasti sulit saat kau jauh dari keluarga seperti saat ini. Saat kau pulang nanti, kuharap kau bisa baik-baik menikmati waktumu bersama mereka. Jangan khawatirkan soal di sini karena semuanya akan baik-baik saja," ucap Paman Elvano
Rupanya, Paman Elvano sedang menghibur Raisa.
"Padahal, Rumi sudah pernah memelukku seperti ini untuk menghiburku. Tapi, ternyata aku masih merasa kurang dan terasa sangat nyaman saat kau melalukannya untukku. Terima kasih banyak, Paman Elvano!" ungkap Raisa yang diam-diam meneteskan air mata.
Paman Elvano pun melepaskan pelukannya. Saat itu, Raisa pun menghapus air matanya dengan cepat.
"Kau menganggap kami semua yang ada di sini adalah keluargamu juga, kami pun sama. Nathan, bahkan mengatakan kau adalah bagian dari kami. Jadi, tidak perlu sungkan " ucap Paman Elvano
Raisa mengangguk.
"Latihan hari ini sudah cukup. Akhiri saja. Besok kau bisa datang lagi untuk berlatih di waktu yang sama seperti hari ini. Lalu, kalau kau ingin pulang, katakan saja. Aku akan membukakan portal sihir untukmu," ucap Paman Elvano
Raisa mengangguk lagi.
"Terima kasih banyak untuk hari ini, Paman. Sampai jumpa lagi! Aku pergi dulu ... " ucap Raisa
Raisa pun bangkit berdiri dan beranjak pergi dari sana.
Keesokan harinya.
Seperti kata Paman Elvano, hari ini Raisa kembali berlatih dengannya.
Kali ini, sebagai pemanasan, Raisa juga diminta untuk berlatih membidik sasaran menggunakan belati. Saat itu, Raisa bisa melakukannya dengan baik. Kemampuannya dalam membidik masih sama seperti dulu yang artinya Raisa memang sudah benar-benar pulih.
"Bagus! Gerakanmu sudah tepat. Berarti kau memang sudah benar-benar pulih sekarang," ucap Paman Elvano
"Sudah kubilang, banyak berlatih bagus untuk pemulihanku," kata Raisa
Saat itu, Aqila datang.
__ADS_1
"Papa, aku mencarimu. Ternyata, kau sedang melatih Raisa di sini ... " ujar Aqila
"Aqila, kapan kau kembali dari misi?" tanya Raisa
"Kemarin. Kami hanya mengantar dan mengambil surat balasan Pemimpin Desa ke Desa Batu," jelas Aqila
"Ada apa kau mencariku, Aqila?" tanya Paman Elvano
"Sebenarnya, aku juga ingin berlatih denganmu, Papa," ungkap Aqila
"Kalau begitu, Paman melatih Aqila saja. Aku bisa berlatih lain kali," ujar Raisa
"Kalian berdua berlatih bersama saja," kata Paman Elvano
"Tapi, Aqila, pasti ingin berlatih hal yang berbeda denganku," elak Raisa
Karena yang Raisa tahu, Aqila pasti ingin berlatih kemampuan sihirnya dengan Paman Elvano, Papa-nya.
"Tidak juga. Ayo, berlatih denganku, Raisa," kata Aqila
Raisa pun mengangguk setuju menerima tawaran Aqila untuk berlatih bersama. Ini adalah kesempatan yang tidak boleh dilewatkan.
"Berlatihlah bertarung tanpa senjata," kata Paman Elvano
"Bertarung? Papa yakin?" tanya Aqila yang merasa ragu.
Paman Elvano mengangguk.
"Tidak apa, Aqila. Kau juga boleh menggunakan kemampuan sihirmu padaku. Aku ingin tahu batas kekuatanku saat ini, jadi lakukan saja," ucap Raisa
Raisa sadar dan tahu alasan Aqila merasa ragu. Itu karena yang menjadi lawannya adalah Raisa yang baru saja pulih dari sakit. Ini seperti perlawanan yang tidak sepadan, tapi Raisa menyanggupinya dengan berani dengan dalih ingin mengetahui batas kekuatannya saat tidak lagi mempunyai kemampuan sihir supaya saat menghadapi pertarungan asli ia bisa mengatasinya dengan segala kekuatan yang dimilikinya tanpa harus memaksakan diri.
"Baiklah," kata Aqila
Raisa dan Aqila pun bersiap di posisi untuk saling melawan.
Untuk dapat melawan Aqila yang lebih unggul darinya, Raisa harus menggunakan akalnya. Namun, sebaliknya ia tidak ingin menggunakan akal. Maksudnya tidak memikirkan apa pun saat bertarung adalah hal yang tepat.
Aqila adalah pengguna sihir yang bisa membuatnya memprediksi gerakan lawan. Gerakan dikendalikan oleh pikiran, itu sebabnya Raisa memilih untuk tidak berpikir apa pun selama bertarung sebagai taktik pertarungannya. Tujuannya agar Aqila tidak dapat memprediksi gerakannya. Entah apa rencananya akan berhasil atau tidak dan akan bagaimana hasil pertarungan antara keduanya nanti...
"Mulai!"
Dengan satu aba-aba dari Paman Elvano, Aqila dan Raisa mulai bertarung.
Di awal pertarungan, keduanya terlihat saling menyeimbangi satu sama lain tanpa berniat menyerang dengan serius.
Saat itu Aqila menyadari bahwa Raisa menunggu ia menuntunnya untuk bertarung lebih serius.
"Tadi, Raisa bilang ingin tahu batas kekuatannya. Berarti harus aku yang lebih dulu menyerangnya dengan serius!" batin Aqila
Aqila pun mulai mengaktifkan sihirnya dan berniat membaca gerakan Raisa. Raisa pun menyadari Aqila sudah mulai serius dengannya. Namun, ia tetap tak memikirkan apa pun. Aqila pun merasa aneh saat tidak bisa memprediksi satu pun gerakan Raisa.
Saat Aqila menyerang, Raisa dapat dengan mudah menyerang balik atau mematahkan serangannya. Aqila pun tidak ingin menyerah, ia mencoba menguji serangan Raisa dengan serangan yang lebih serius lagi. Namun, Raisa tetap tenang.
Jika, Aqila menyerang dengan ganas seperti api yang membara, Raisa menyerang dengan lembut dan tenang seperti air yang mengalir~
Aqila merasa heran dengan Raisa yang terlihat tidak gentar sedikit pun. Bukannya ia meremehkan Raisa, tapi yang terlihat di matanya kini adalah Raisa yang seperti tidak merasa khawatir atau waspada sekali pun. Sedikit pun tidak! Dan Aqila tetap tidak bisa memprediksi gerakan Raisa.
"Cukup! Kalian berdua mundur!" kata Paman Elvano
Pertarungan dihentikan!
Keduanya sama-sama melangkah mundur dan mengakhiri pertarungan.
Saat pertarungan berakhir, Raisa dan Aqila sama-sama mengatur nafas masing-masing.
"Aqila, Papa sudah pernah mengajarkanmu cara berpedang, bukan?" tanya Paman Elvano
Aqila mengangguk dengan cepat.
"Kalau begitu, lawanlah Raisa dengan pedang milik Papa," ujar Paman Elvano yang melemparkan pedang miliknya ke arah Aqila.
Aqila pun menangkap pedang yang diberikan Paman Elvano dengan sekali tangkap!
"Tapi, Paman Elvano ... terakhir Aqila berlatih pedang itu sudah lama. Apa tidak masalah jika bertarung tanpa berlatih lagi lebih dulu?" ragu Raisa bertanya.
"Apa kau meremehkan Aqila, Raisa?" tanya balik Paman Elvano.
"Tentu saja, tidak," jawab Raisa
"Kalau begitu, angkatlah pedangmu! Lawanlah Aqila!" kata Paman Elvano
Raisa pun mengangguk patuh.
Raisa pun mengangkat pedang miliknya dan berhadapan dengan Aqila...
Aqila pun ikut mengangkat pedang yang ada di tangannya.
.
•
Bersambung...
__ADS_1