Bertemu Dan Jatuh Cinta

Bertemu Dan Jatuh Cinta
134 - Interogasi [2]


__ADS_3

"Apa saja yang telah terjadi kemarin? Selama penculikanmu berlangsung?" Tanya Paman Nathan, Ayah Morgan, Pemimpin Desa.


"Kemarin... Sebelum aku dibawa pergi, di pagi hari ada yang mengetuk pintu rumahku. Saat itu, aku langsung membuka pintu rumah tanpa melihat dan memastikan siapa yang datang karena awalnya kukira yang datang adalah teman yang menghampiri rumahku untuk segera mengawali hari bersama. Tapi, yang kulihat saat pintu terbuka malah tiga orang asing. Seperti kataku tadi, aku masih berpikir positif dan bertanya siapa mereka. Mereka tidak memberi tahu apa pun dan salah satu dari mereka berkata, Siapa pun yang berada di rumah ini, harus ikut dengan kami! Setelah mengatakan itu, belum sempat aku menyelesaikan ucapanku untuk meminta mereka mengatakan siapa mereka, mereka menyerangku secara tiba-tiba. Aku pingsan setelahnya dan tidak tahu lagi apa yang terjadi, saat tersadar aku sudah berada di suatu tempat yang asing dalam ruangan hsmpa dan gelap dengan kondisi tangan dan kaki yang terikat." Jawab Raisa menjelaskan apa yang terjadi pada awal mula kasus penculikannya.


"Setelah sadar saat itu, ada yang menemuiku di ruangan itu. Mereka membawaku pada ketua mereka. Saat bertemu ketua penculik itu, tanpa basa-basi aku langsung bertanya... Kenapa dan apa tujuan mereka membawaku ke sana? Aku juga meminta mereka untuk melepaskanku. Ketua itu masih begitu santai mengatakan, aku masih berguna. Katanya, aku akan dijadikan umpan untuk menangkap target mereka yang sesungguhnya. Aku sendiri yang akan membawa target itu padanya dan aku akan dianggap sebagai pengkhianat desa setelahnya, maka rencananya akan berhasil. Lalu dia juga sempat bertanya, kenapa aku berusaha menghalangi tujuan besar mereka dan di mana barang yang telah dicuri tempo hari? Lalu, aku berkata, tidak akan memberi tahu apa pun dan juga bertanya, siapa yang coba mereka tangkap selain diriku. Ketua itu tidak menjawabku dan malah berkata aku berads di sana bukan untuk bertukar informasi. Katanya, kalau bukan karena aku dan teman-temanku di suatu malam, rencana mereka akan berjalan mulus hanya dengan menunggu beberapa langkah lagi. Namun, dia senang karena setelah menculikku rencana mereka yang sempat tertunda akan kembali berjalan lancar dan sempurna. Pemimpin besarnya juga akan memberi pujian dan hadiah besar padanya. Aku pikir, ini pasti dan memang berkaitan dengan misiku sebelumnya bersama Tim Aqila dan Devan, yang mereka berdua ketuai." Ungkap Raisa


"Setelah itu, aku kesal dan membebaskan diri dari ikatan mereka dengan sihir elemen api yang membakar habis tali pengikatku. Aku juga menggunakan sihir untuk mengendalikan senjata dan mengancam ketua itu dengan sebuah belati. Tapi, ada suatu situasi yang tidak kusangka. Sudah berhasil berbuat seperti itu, aku malah memuntahkan darah... Ternyata, aku telah diracuni. Ketua itu pun mengakui telah memasukkan sesuatu pada tubuhku saat aku masih tak sadarkan diri. Saat aku mencoba memulihkan diri dari pengaruh racun tersebut, ketua itu mengancamku. Katanya, kalau aku mencoba memberontak dengan berusaha membebaskan diri dari pengaruh racunnya, maka dia akan bertindak pada orang yang dekat denganku. Karena dia berkata begitu, aku langsung terdiam. Lalu, dia menambahkan dan memberi tahu padaku bahwa yang dimasukkan ke dalam tubuhku bukan hanya racun biasa melainkan yang juga punya pengaruh sihir ilusi pengendali yang akan mengambil alih tubuh dan segala tindakanku. Lalu, dia mengancamku lagi, jika aku ingin orang terdekatku baik-baik saja, maka aku harus diam dan menuruti perintahnya. Katanya, aku cukup bawa dan serahkan orang yang menjadi target aslinya untuk menukar posisi kami, maka setelah itu aku akan dibebaskan. Kemudian, dia melakukan sihir untuk menambahkan pengaruh sihir ke dalam tubuhku secara langsung dengan cara menyentuh bagian keningku. Sebelum pengaruh sihirnya bekerja padaku, aku sempat mengatakan bahwa semua usahanya akan gagal, dia takkan bisa memanfaatkan atau menggunakanku sebagai bonekanya dan apa pun takkan bisa dia dapatkan. Lalu, dia memintaku untuk melihat hasilnya nanti karena bagaimana pun saat itu aku hanya diam membiarkan dia melakukan apa pun padaku. Aku pun berkata untuk sama-sama melihat hasilnya di akhir nantinya. Selain telah berkata begitu, aku hanya diam. Dia mau pun para bawahanya tidak tahu, bahwa aku hanya berpura-pura terlihat pasrah. Dia pun menjadi kesenangan setelah melihatku berhasil berada di bawah kendalinya, tapi itu hanyalah sandiwara. Setelah itu, yang dilihatnya adalah aku menuruti perintahnya seperti boneka. Dia memerintahku untuk kembali, temui dan bawa serta serahkan target yang asli padanya. Alias membuatku menggantikannya menangkap seseorang." Lanjut Raisa menjelaskan.


"Jadi, siapa target asli yang dia minta kau untuk menangkap dan membawa padanya?" Tanya Paman Rafka


"Target asli yang dimaksud adalah Rumi. Dia memang berkata akan membebaskanku setelah menyerahkan Rumi padanya, tapi itu hanyalah taktik omong kosong belaka. Aku dengar sendiri dia mengatakan takkan melepaskanku begitu saja karena merasa aku sama bergunanya seperti target aslinya itu. Aku sendiri, tentu sudah mengira hal seperti ini." Ungkap Raisa yang menunjukkan ekspresi wajah sedih saat menyebutkan nama Rumi.


"Tunggu! Kalau kau hanya berpura-pura dan bahkan tahu semua rencananya, kenapa kau masih melukai dirimu sendiri? Apa sebenarnya rencana yang kau pikirkan saat itu, Raisa?" Tanya Bibi Sierra


"Itu karena saat nemerintahku menangkap tangkapan besarnya, mereka memerintahkan tiga orang yang menculikku untuk ikut mengawasiku. Ketua itu juga berkata dia akan mengawasi dari jauh. Aku tidak mengira dia hanya mengatakan hal seperti itu dengan mudah dengan mengawasi dari jauh alias dari sihirnya yang mengendalikanku saja melainkan akan mengikutiku walau pun dari kejauhan. Itulah maksudnya dan ternyata memang begitulah kenyataannya, seperti dugaanku." Jawab Raisa


"Apa itu sebabnya ada satu orang yang ditemukan terbakar di sekitar sebelum tiga orang yang terluka parah kemarin? Apa kau juga bisa menjelaskan tentang itu, Raisa?" Tanya Paman Aiden


"Maaf, atas kelancanganku. Tapi, sebelum aku menjawab pertanyaan dari Paman Aiden, izinkan aku bertanya. Bagaimana Paman bisa tahu tentang itu?" Sopan Raisa bertanya di sela interogasi yang dilakukan padanya.


"Itu bisa dijawab nanti. Kau belu memberi penjelasan lengkap atas pertanyaanku, Raisa!" Sebal Bibi Sierra yang merasa Raisa tidak memberikan jawaban dan penjelasan sesungguhnya aras pertanyaan darinya.


"Kau sabar dulu, Sierra. Biarkan Raisa tenang dan menjawab semua pertanyaan, termasuk pertanyaan darimu." Ucap Paman Nathan

__ADS_1


"Teman-temanmu yang pergi menyelamatkanmu adalah, Ian, Chilla, Devan, Morgan, Rumi, dan Aqila. Sisanya tetap berada di desa untuk menunggu. Tapi, pada akhirnya teman-temanmu yang di desa menjadi terlalu khawatir dan meminta bantuan dari desa. Walau akhirnya teman-temanmu yang pergi lebih dulu datang membawamu kembali, kami yang mendengar kabar ini tentunya tidak bisa diam saja. Apa lagi setelah tahu, ini berkaitan dengan orang-orang organisasi Mata Dewa. Kami langsung pergi mencari tahu lebih apa yang terjadi. Kami menemukan tiga orang terluka parah dan satu orang yang terbakar di daerah setelah Desa Awan. Sebelum kau, kami telah lebih dulu menginterogasi teman-temanmu saat kau masih tak sadarkan diri." Jelas Paman Aiden atas pertanyaan dari Raisa.


"Jadi, seperti itu. Bagaimana aku menjelaskan semuanya atas pertanyaan yang berbeda ini ya? Begini, orang yang ditemukan terbakar itu adalah si ketua penculik jika memang ditemukan tak jauh dari lokadi ditemukannya tiga orang yang terluka. Tiga orang yang terluka itu adalah orang yang menculikku sekaligus yang ikut untuk mengawasiku secara langsung dari dekat. Sedangkan ketua yang terbakar itu memang ulahku. Aku mrnggunakan sihirku untuk membakar tubuhnya sebagai hukuman balasan. Tapi, kejadian yang itu terjadi tepat setelah aku terluka tusukan. Aku harus menjelaskan kejadian yang mana lebih dulu?" Ujar Raisa agak kebingungan sendiri atas tindakannya kemarin dan pertanyaan yang diajukan padanya.


"Kalau begitu, jawab dulu pertanyaanku. Kenapa kau bisa tertusuk dan terluka karena ulahmu sendiri? Rencana apa yang sebenarnya kau pikirkan saat itu?" Tanya Bibi Sierra


Raisa pun melirik Paman Nathan. Sebagai Pemimpin Desa artinya dia juga lah yang memimpin adanya interogasi kali ini. Dilihatnya, Paman Nathan mengangguk kecil yang dapat diartikan Raisa boleh menjawab pertanyaan dari Bibi Sierra lebih dulu...


"Jawablah sesuai urutan kejadian seperti pertanyaan Sierra. Aku juga menanti penjelasanmu. Kenapa kau sampai harus melukai dirimu sendiri dan rela mengancam keselamatan dirimu sendiri?" Ujar Paman Nathan


"Baiklah, sesuai urutan. Setelah beberapa lama berjalan, akhirnya aku bertemu teman-teman yang datang untuk menyelamatkanku. Aku pun memulai siasat dari rencanaku. Saat akhirnya bertemu, mereka yang datang menanyakan keadaanku. Aku menjawab, aku baik-baik saja. Aku juga memberi tahu bahwa ketiga orang yang ikut di belakangku adalah orang yang bersedia membantuku pergi. Di situ aku memainkan sandiwara ganda. Di satu sisi, aku bersandiwara di depan para penculik bahwa aku telah terpengaruh sihir ilusi pengendali padahal tidak. Di sisi lain, aku juga bersikap biasa pada teman-temanku agar para penculik itu berpikir aku sedang berpura- pura di depan teman-temanku dan memikirkan cara untuk menangkap Rumi, padahal kenyataannya adalah sebaliknya, agar mereka percaya.


Saat seperti itu, aku mengirim transmisi suara atas apa yang terjadi padaku hanya pada Ian tanpa diketahui yang lain. Aku memberi tahu Ian, agar Ian bisa berkerja sama denganku agar dia dan yang lain tidak bertindak mendahului aku. Biar aku saja yang bertindak agar mereka tidak ada yang terluka, tapi tanpa sepengetahuanku Ian malah membocorkan perihal transmisi suara yang kukirim padanya dengan teman-teman yang lain. Ian tidak tahu jika aku mengetahui hal ini. Rencanaku mulai tak sesuai harapan, dan semakin kacau dengan salah satu penculik yang ikut untuk mengawasiku malah melakukan penyerangan dan mencoba menangkap Rumi dengan usahanya sendiri. Ternyata, dia mencurigaiku tidak terpengaruh sihir, saat itu terasa kacau bagiku. Teman-teman yang tahu tentang cerita penculikanku jadi merasa bisa bebas bertindak dan melakukan serangan balik, membuatku terpasksa mengubah rencana karena yang berjalan tidak sesuai rencana awalku. Aku memang mengubah rencana, tapi tujuanku tetap sama yaitu agar teman-temanku tidak ada yang terluka." Cerita Raisa


Aku pun mulai kembali beraksi dengan sandiwaraku, menggunakan sihir mengendalikan belati bekas pertarungan yang sempat terjadi untuk kutodongkan pada Rumi yang mendekatiku. Tanpa menghiraukan ancaman yang kuberikan, Rumi malah menarik dan memelukku. Semua terkejut, tapi pada akhirnya Rumi lah yang paling terkejut. Dia mengira belati yang sempat kutodongkan padanya akan mengenainya saat dia memelukku, tapi sebaliknya. Belati itu malah menusukku karena aku lebih dulu membalik arah belati sehingga mata pisaunya tidak melukai Rumi, tapi mengenai diriku sendiri. Ini juga termasuk siasatku, walau memang terbilang sangat aneh." Lanjut Raisa bercerita.


"Sejauh kau menceritakannya, aku masih tidak mengerti?! Untuk apa kau melakukan itu semua?" Bingung Bibi Sierra


"Aku masih belum selesai, Bibi. Akan kulanjutkan lagi. Saat aku memilih tertusuk dengan tusukanku sendiri, aku mulai kehilangan kesadaran. Tapi, sebenarnya kesadaranku berpindah untuk menemukan ketua penculik yang mengukuti dan mengirimkan transmisi suara padanya. Saat ketua itu terus merasa kesal saat menyaksikan sendiri usahanya gagal dari kejauhan, saat itulah suaraku sampai padanya. Aku mengatakan bahwa dia berada dalam kekalahan, dari awal sihir ilusi pengendalinya tidak berpengaruh padaku dan aku hanya berpura-pura. Ketua itu sedikit tidak percaya karena nelihat aku pun telah terluka. Aku pun mengatakan lagi bahwa itu tidaklah seberapa, itu hanya sebuah pertukaran kecil. Kondisiku hanya mengeluarkan sedikit darah, tapi tidak dengan dia. Itu seperti timbal balik karena dia sudah berusaha mencelakaiku, aku pun membuatnya memuntahkan lebih banyak darah dari pada aku. Aku juga mengatakan, usahanya sudah gagal. Tak hanya itu, dia akan kehilangan semua bawahan dan juga markasnya yang sebelumnya digunakan untuk menyekapku. Dia salah besar karena meremehkanku, dan dari awal pun akulah yang menang. Dia pun mencoba kembali, tapi aku tidak membiarkannya pergi dengan mudah. Dia pun terbakar karena ulah dariku, itu adalah sihir dari jarak jauh. Setelah membakarnya dengan sihirku dari jarak jauh, kesadaranku kembali pada diriku yang terluka. Rumi berusaha menyadarkanku, Aqila dan Ian pun berusaha memberikanku pertolongan pertama dengan mengobati luka tusukanku dengan sihir medis. Aku pun berkata, meminta tolong pada mereka untuk menangani ketiga penculik yang sementara masih terpengaruh sihir pengendali darah dariku karena merasa kesadaranku perlahan akan hilang sepenuhnya. Morgan sempat memarahiku karena aku masih saja mengkhawatirkan hal lain. Aku mengatakan akan bahaya jika tidak cepat menangani ketiga penculik itu karena mereka sebenarnya mengincar Rumi. Tapi, kesadaranku terus kenipis dan aku pun kembali memejamkan mata. Rumi memintaku bertahan, aku pun hanya bisa berbisik mengatakan bahwa aku lelah dan memintanya membawaku kembali dan pergi dari sana. Setelah itu, sepertinya aku benar-benar tidak sadarkan diri karena tidak ada lagi yang kuingat sampai situ." Ungkap Raisa sampai akhir.


"Kau juga membuat mereka kehilangan markas? Apa maksudnya itu? Bagaimana kau bisa melakukan sihir jarak jauh untuk membakar ketua penculik itu?" Tanya Tuan Rafka


"Itu adalah kempuan sihirku. Tempat yang pernah aku singgahi, aku bisa meletakkan pengaruh sihirku di sana dan melakukan apa pun sesuai dengan kemampuan sihirku. Itulah saat terjadinya sihir jarah jauh dan aku membakar markas yang digunakan untuk menyekapku, sama seperti yang kulakukan pada ketua penculik itu. Dia sudah sempat menyentuhku walau hanya sedikit saja di keningku, sentuhannya itu bisa kugunakan untuk menaruh pengaruh sihirku padanya dan melakukan sihir jarah jauh padanya dan aku pun membakarnya setelah membuatnya memuntahkan banyak darah. Aku hanya memikirkan cara ini untuk menghentikan mereka, namun untuk menghukum ketua itu aku butuh suatu pengorbanan seperti penghubung timbal balik, makanya aku melukai diriku sendiri untuk bisa melakukan sihir jarak jauh yang terbilang tidaklah mudah itu. Dan aku baru bisa sadar akan satu hal sekarang. Aku sudah membakar markas mereka, padahal mungkin bisa mendapatkan petunjuk lain dari sana. Aku jadi agak menyesalinya. Aku minta maaf karena tidak bisa berpikir jernih saat itu." Jelas Raisa

__ADS_1


"Mau bagaimana pun caramu berpikir, aku masih tak habis pikir sampai sekarang bahwa kau sampai memilih melukai dirimu sendiri." Heran Bibi Sierra


Raisa tersenyum kecil...


"Biar pun kau tidak mengerti, itu tetaplah pilihanku, Bibi. Saat itu, hanya dengan cara begitulah yang mampu terpikir olehku agar bisa pergi dengan selamat tanpa harus melibatkan dan membuat teman-teman yang datang menyelamatkanku sampai terluka, namun juga bisa menghentikan para penculik itu. Cara yang terpikir olehku saat kemarin itu, memang hal yang paling konyol, tidak masuk akal, dan terdengar gila, tapi aku rela melakukan apa saja untuk melindungi orang-orang terdekatku walau harus sampai terluka atau bahkan melukai diriku sendiri." Jujur Raisa


"Raisa, kau bisa mengenali banyak dari kami dengan jelas karena mimpi ajaibmu tentang kami kan? Apa tindakanmu ini karena banyak melihat dan meniru perbuatan Nathan? Yang mampu bersikap untuk melindungi semua orang walau harus mengorbankan diri?" Tanya Bibi Sierra


Raisa terkekeh kecil...


"Bibi Sierra, sampai berpikir ke sana. Jujur saja, walau memang aku salut dengan segala tindakan Paman Nathan yang memiliki pendirian menjadi pelindung bagi semua orang sampai menuruni sifat ke anaknya, Morgan, temanku... Tapi, apa pun yang terjadi padaku, aku juga akan memilih bertindak seperti ini. Semua orang pasti juga pernah mengalami dan memilih hal ini, termasuk Bibi Sierra sendiri. Ini adalah sikap wajar yang terjadi karena adanya hati nurani dan rasa kemanusiaan." Jawab Raisa


"Kenapa jadi namaku dibawa-bawa? Raisa, aku mengerti maksud dari tindakanmu. Tapi, kau harus lebih dan tetap berhati-hati karena jalan yang kau pilih akan sangat berbahaya. Jangan sampai kau sendiri yang harus menanggung semuanya, kau masih punya banyak orang yang juga peduli padamu di sini." Ujar Paman Nathan


"Aku mengerti, Paman. Aku sudah paham atas segala konsekuensi yang harus kutanggung dari segala tindakan dan jalan yang kupilih dan aku sudah siap untuk semua itu." Ucap Raisa


.



Bersambung...


P.S:》

__ADS_1


"Maaf kalau episode tentang Interogasi kali ini terasa sangat membosankan dan maaf juga kalau adanya banyak kesalahan dalam pengetikan..."


__ADS_2