Bertemu Dan Jatuh Cinta

Bertemu Dan Jatuh Cinta
111 - Pesan Untuk Rumi.


__ADS_3

Keesokan harinya...


Seperti biasa, setelah sarapan... Raisa dan semua temannya berkumpul bersama. Raihan dan Farah pun ikut dalam kebersamaan mereka.


Setelah kejadian kemarin, hubungan Raisa dan Rumi pun sudah kembali membaik. Normal dan saling berbaikan. Setelah semua pembicaraan yang dilalukan kemarin pun, Rumi tidak lagi bersikap bucin yang berlebihan dan jadi lebih tenang walau hanya berdua dengan Raisa...


Sejak pagi hari ini, Farah terus menempel dengan Raisa. Sangat lengket, erat bagai tak terpisahkan. Saat berkumpul bersama pun, Farah terus ingin berada di atas pangkuan Raisa dan meminta Raisa untuk mendekapnya dalam pangkuan itu. Seolah tak ingin berjauhan sedikit pun walau hanya berjarak satu inci.


"Raisa, titip Farah sebentar ya. Kakak ada perlu sebentar


sama Arka, mau ada yang diomongin sebentar." Ujar Raina


"Iya, Kak. Tak usah khawatir... Apa yang ingin dibicarakan, bicarakan dulu aja baik-baik." Kata Raisa


"Farah, diam dulu sebentar sama Onty ya." Pesan Raina


"Siap, Mami!" Patuh Farah


Raina pun berlalu memasuki kamar dan berbicara empat mata dengan Arka...


"Kayaknya mau ngomongin hal yang serius tuh." Kata Raihan


"Sudah, gak usah ikut campur masalah orang dewasa." Tegur Raisa


Rumi terus memperhatikan Raisa yang berada di sampingnya yang sedang memanjakan keponakan kecilnya.


Ya, setelah berbaikan kembali... Rumi dan Raisa kembali duduk bersebelahan lagi. Hubungan keduanya kemnali dekat dengan batas yang normal tanpa harus menjadi perbincangan khusus teman yang lainnya.


Rumi merasa ada hal yang sedikit disayangkan. Bisa dibilang, sekarang ini Rumi sedang memendam kecemburuan! Padahal, Raisa sedang berada tepat di sampingnya, tapi perhatian Raisa hanya terfokus pada Farah dan sangat memanjakan keponakan kecilnya itu.


Rumi pun masuk dalam dunia imajinasinya... Andai saja, yang berada di pangkuan Raisa sekarang bukanlah Farah melainkan dirinya. Rumi yang berbaring dan meletakkan kepalanya pada pangkuan Raisa. Lalu, Raisa membelai lembut rambutnya yang halus dengan manja. Dan suasananya hanya ada dirinya dan Raisa, berdua saja tanpa ada yang tahu dan mengganggu. Tapi, mau bagaimana pun itu hanya halusinasi dan imajinasi dari seorang Rumi saja. Sebelumnya, Rumi pun sudah berjanji untuk tidak terlalu bersikap manja dengan Raisa...


Rumi pun hanya bisa tersenyum memandang kedekatan Raisa dengan Farah. Rumi ikut mengulurkan tangan untuk membelai lembut rambut halus Farah yang sedang berada dalam dekapan dan pangkuan Raisa... Pikiran Rumi lagi-lagi melayang, membayangkan jika rambut yang sedang dibelainya kini adalah rambut seorang anak dari dirinya dan Raisa. Dan mereka bertiga hidup dalam keharmonisan keluarga yang dipenuhi dengan kebahagiaan. Tapi, lagi-lagi itu semua hanyalah sebuah angan-angan belaka saja...


"Farah, mau dipangku dengan Paman tidak? Dipangku Paman juga nyaman loh...?" Tanya Rumi


"Enggak deh, Paman ganteng. Aku mau sama Onty aja." Tolak Farah yang langsung menjawab.


"Kalau kau lelah, kau bisa bersandar padaku, Raisa." Kata Rumi


Raisa hanya tersenyum dan mengangguk sebagai balasan...


Tak lama kemudian, Raina kembali menghampiri...


"Farah, sini, Sayang..." Panggil Raina, Farah menggelengkan kepalanya.


"Aku mau sama Onty aja, Mih." Kata Farah


"Sini dulu, Mami mau ngomong sebentar." Ujar Raina


"Gak mau! Mau sama Onty aja!" Histeris Farah yang langsung berbalik untuk berhadapan dengan Raisa dan langsung memeluknya dengan erat.


"Farah, Sayang... Dipanggil sama Mami tuh, samperin Mami-nya dulu dong." Ucap Raisa


"Gak mau, Onty!" Rengek Farah yang sudah hampir menangis.


"Kayaknya kepekaan anak kecil tuh tinggi banget deh. Lihat, Farah gak mau pisah sama kamu." Ujar Raina


"Emangnya ada apa sebenarnya, Kak?" Tanya Raisa


"Sebenarnya, kakak udah harus pulang. Tadi ke kamar tuh beres-beres barang untuk pulang. Kakak tau jadinya bakal susah ajak Farah gak mau pulang, jadi bingung. Arka ada acara kantor besok dan diminta bawa keluarga juga. Kakak sama Farah juga harus ikut kan..." Jelas Raina


"Oh, acara kantor bareng keluarga... Kenapa gak bilang dari tadi aja? Aku kan bisa bujuk Farah..." Ujar Raisa


"Farah kelihatan banget lengket sama kamu. Diajak pulang sekarang aja susah, apa lagi dibilangin dari tadi. Bisa-bisa dia nangis duluan." Ucap Raina


Pandangan Raisa pun beralih pada keponakan kecilnya, Farah. Belum juga berkata apa-apa, Farah sudah mempererat pelukannya dengan Raisa dan membenamkan wajahnya pada dada Raisa saking tidak mau dibujuk untuk diajak pulang.


"Farah, Sayang..." Panggil Raisa dengan suara lembutnya seraya membelai lembut rambut halus milik Farah.


Tak ada jawaban, Farah benar-benar tidak ada niat untuk ingin pulang atau pun berpisah dengan Raisa.


"Dengar dulu... Lihat Aunty, sini. Farah harus ikut Mami Papi pulang." Kata Raisa


"Gak mau, mau sama Onty aja!" Tolak Farah yang langsung mengangkat pandangannya untuk menatap Raisa.


Dilihatnya, air mata sudah hampir menetes dari ujung mata anak kecil itu...


"Kalau Farah mau pulang, nanti juga mau diajak jalan-jalan sama Mami Papi loh. Udah gitu, Aunty janji deh! Kalau nanti Aunty udah pulang juga, Aunty langsung main ke rumah Farah deh. Nanti kita bisa main sulap sampai puas!" Bujuk Raisa


"Sulap?! Benal nih ya, Onty?" Tanya Farah. Raisa pun mengangguk dengan cepat.


"Benar dong! Tapi, Farah harus nurut ikut pulang dulu sama Mami Papi." Jawab Raisa


"Tapi, kan..."

__ADS_1


"Nanti kan Aunty bakal main ke rumah Farah, kita bakal ketemu dan main sepuasnya. Aunty juga udah janji! Terus, nih ya... Kalau Farah mau pulang, nanti Aunty bakal kasih tahu cara sulap yang paling keren! Farah dan Mami Papi bakal pulang pakai sulapnya Aunty loh, jadi gak perlu naik mobil atau apa pun lagi. Sekalinya Aunty pakai sulap, Farah dan Mami Papi udah bakal ada di rumah Nenek Kakek. Baru dari sana, Farah bakal naik mobil pulang ke rumah Farah." Ungkap Raisa


"Wah... Benal ada sulap yang kayak begitu, Onty? Dali sini langsung bisa pulang ke rumah Nenek Kakek?" Tanya Farah dengan antusiasnya.


"Benar, ada dong! Waktu berangkat pergi ke sini dari rumah Nenek Kakek juga pakai sulap Aunty itu, tapi karena Farah lagi tidur, jadi Farah gak tahu dan gak lihat sulapnya Aunty deh. Nah, kali ini ada kesempatan buat Farah lihat sulap Aunty..." Jawab Raisa


"Wah, kelen! Ya udah, Farah mau pulang deh... Tapi, Aunty janji main ke lumah Farah nanti ya. Kita main baleng! Tunjukkin sulap Onty yang banyak!" Ucap Farah


"Sip! Janji harus ditepati, Bos! Tapi, Farah, juga harus ingat... Gak boleh ada orang lain yang tahu tentang Aunty yang bisa sulap kecuali...?" Ujar Raisa


"Kecuali, Mami, Papi, Nenek, Kakek, dan Om Ehan... Selain itu gak boleh ada yang tahu lagi! Aku ingat kok, Onty!" Kata Farah


"Farah, pintar!" Puji Raisa


"Anak Mami pintar deh! Sini, yuk! Kita siap-siap dulu sebelum pulang..." Kata Raina


"Iya, Mih. Onty, aku siap-siap dulu ya." Ucap Farah


Raisa pun mengangguk...


Farah pun langsung turun dari pangkuan Raisa dan berlarian kecil menghampiri Raina~


Raina dan Farah pun beranjak bersama dari sana...


Setelah kedua Ibu dan anak tadi pergi, datanglah seorang Ibu yang lain yang juga merangkap sebagai seorang Nenek, yaitu Bu Vani.


"Raihan, kamu mau ikut gak? Ibu dan Bapak, rencananya mau ikut pulang juga sama-sama Kak Raina. Kamu mau di sini sama Kak Raisa dan teman-temannya atau ikut pulang juga?" Tanya Bu Vani


"Lho, kok jadi pada mau pulang semua?" Tanya Raisa


"Iya. Ada yang mau pulang, ya, ikut pulang aja. Gak mau ganggu kamu sama teman-teman kamu liburan di sini." Jawab Bu Vani


"Aku ikut pulang aja deh, Bu." Jawab Raihan pada pertanyaan Bu Vani sebelumnya.


"Eh, kamu mau pulang juga, Raihan? Sebelum datang ke sini, kamu girang banget mau ikut... Sekarang malah udah mau pulang?" Tanya Raisa


"Ya, senang sih bisa liburan di sini. Tapi, rasanya kangen juga mau main sama teman-teman rumah. Nongkrong di warnet, ngumpul bareng. Jadi, aku ikut pulang aja deh!" Jawab Raihan


"Ya udah... Kalau mau ikut pulang, kamu siap-siap sana. Beresin barang bawaan kamu sendiri sebelum pulang." Ujar Bu Vani


"Iya, Bu. Aku langsung siap-siap nih!" Patuh Raihan


Raihan pun langsung bangkit dan beranjak dari sana untuk bersiap ingin pulang kembali ke rumah...


"Kamu juga siap-siap ya, Raisa. Kan pulangnya harus pakai sihir kamu." Ucap Bu Vani


"Ya udah, Ibu lanjut siap-siap dulu ya." Kata Bu Vani yang langsung beranjak pergi.


"Keluargamu sudah ungin pulang semua ya, Raisa..." Kata Marcel


"Haruskah kita semua juga mengantar kepulangan keluargamu bersama-sama?" Tanya Aqila


"Tidak perlu, biar aku seorang saja. Kalian tetap di dalam vila sini saja. Keluargaku juga tidak terlalu mementingkan formalitas sampai yang seperti itu." Jawab Raisa


Setelah keluarga Raisa telah bersiap, Raihan pun memanggil Raisa untuk mengantar pulang dengan sihir teleportasinya.


Raisa pun mengantar keluarganya yang ingin pulang ke luar dari vila...


"Aku sendiri yang antar semuanya pulang, gapapa kan? Teman-temanku bilang ingin membuat sesuatu bersama-sama di dapur, aku juga gak tahu sih mereka mau bikin apa..." Ujar Raisa


"Iya, gapapa. Toh, kamu yang bisa buka teleportasi buat kami semua pulang." Kata Pak Hilman


"Telepoltasi itu nama sulapnya Onty ya?" Tanya Farah


"Iya, Sayang. Itu nama sulap yang bisa bikin kita berpindah tempat dengan cara buka semacam pintu yang langsung menghubungkan kita ke suatu tempat." Jawab Arka


"Oh, begitu... Teman-teman Onty gak lihatin aku mau pulang? Padahal aku mau lihat teman-teman Onty lagi." Ujar Farah


"Iya, maaf ya, Sayang." Kata Raisa


"Hmm... Ya udah deh, gapapa." Kata Farah


"Kamu baik-baik di sini sama teman-temanmu ya, Raisa." Pesan Bu Vani


"Iya, Bu." Kata Raisa


"Terima kasih juga udah bujukin Farah biar mau pulang ya, Raisa." Ucap Raina


"Iya, Kak. Farah, anaknya nurut kok." Ujar Raisa


"Siap ya... Aku mau buka portalnya di halaman belakang rumah nih, biar gak ada yang lihat." Ucap Raisa


Raisa pun mulai menjulurkan tangannya dan memulai sihirnya untuk membukakan portal teloleportasi...


Gerbang portal teleportasi pun terbuka~

__ADS_1


"Wah, hebat!" Kagum Farah saat pertama kali melihat jenis sihir yang sangat menakjubkan di depan matanya.


"Nah, ini namanya sihir teleportasi, Farah. Pintu yang bentuknya lingkaran ini disebut portal." Ungkap Raihan


"Sini, Farah digendong dulu sama Mami, yuk!" Kata Raina


"Tunggu dulu, Mih!" Potong Farah


Farah pun berlarian kecil menghampiri Raisa dan berhenti saat telah mensejajarkan dirinya dengan kaki jenjang Raisa...


"Onty, sini dulu deh!" Pinta Farah agar Raisa mau merunduk mendekat dengan anak kecil itu.


Raisa pun menurut dan berganti posisi menjadi berjongkok di hadapan gadis cilik tersebut...


"Ada apa, Farah?" Tanya Raisa dengan senyuman manisnya.


CUP!


Farah pun mengecup kilas pipi sebelah kanan Raisa~


"Onty, jangan lupa sama janji sendili loh... Ingat, pulang dali vila ini, langsung main ke lumah aku! Aku sayang Onty Icha!" Pesan Farah


"Pasti ingat, gak akan lupa! Sayang Farah juga..." Kata Raisa


Farah pun berlarian kecil kembali menghampiri Raina. Lalu, Raina pun bergerak menggendong putri sulungnya yang menggemaskan itu.


"Eh, ada Paman ganteng! Paman, titip Onty Icha selama nginap di vila ini ya. Ingat, jaga Onty-nya aku yang baik di sini ya!" Pesan Farah


Mendengar kalimat keponakan kecilnya itu, berarti sosok Rumi sebagai Paman ganteng ada di sana. Raisa pun bangkit berdiri dan menoleh ke belakang, benar saja Rumi ada di beberapa langkah di belakangnya tak jauh dari sana.


Dititipkan pesan sedemikian rupa oleh gadis kecil, Rumi pun mengangguk kecil sambil menunjukkan acungan ibu jarinya. Pertanda akan melaksanakan sesuai apa yang dipesankan padanya...


"Kami pergi dulu ya." Ucap Bu Vani dan Pak Hilman.


"Pamit ya, Kak Raisa..." Pamit Raihan


"Dadah, Onty cantik, Paman ganteng~" Teriak Farah sambil melambaikan tangannya.


Raisa dan Rumi pun membalas lambaian tangan Farah~


Bu Vani, Pak Hilman, Raihan, Raina, Arka, dan Farah pun memasuki gerbang portal teleportasi tersebut dan tiba di halaman belakang rumah keluarga Raisa...


"Benal langsung sampai di rumah Nenek Kakek! Hebat!" Kagum Farah


Setelah mereka yang pulang memasuki gerbang portal teleportasi sihirnya dan merasakan mereka semua telah tiba di tujuan, Raisa pun menutup kembali gerbang portal teleportasinya dan mengakhiri penggunaan sihirnya.


Raisa pun berbalik dan menghampiri Rumi yang tetap bergeming di tempat tanpa menghampirinya di beberapa langkah di belakangnya...


"Kenapa kau tidak bilang kalau kau ada di sini?" Tanya Raisa


"Aku hanya ingin melihat kepulangan keluargamu tanpa harus mengganggu." Jawab Rumi


"Karena kau terlihat muncul di sini, Farah jadi berpesan hal aneh padamu. Aku dianggap sama dengan seumuran anak kecil itu sampai dititipkan padamu." Ucap Raisa


"Apa yang aneh jika demi kebaikanmu? Itu artinya, Farah sangat menyayangi Onty kecilnya yang satu ini." Ujar Rumi


"Itulah yang mengherankan. Anak kecil itu mampu terpikirkan hal yang luar biasa dan mengatakan hal yang juga tak biasa pada anak seumurannya." Ucap Raisa


"Farah, memang anak yang pintar!" Puji Rumi


"Benar, dia keponakan kecilku! Tentu saja, dia pintar!" Bangga Raisa pada sosok keponakan kecil tersayangnya.


"Keponakanmu saja pintar... Apa lagi jika akan ada anakmu dan aku nantinya!" Gumam pelan Rumi


"Kau bilang apa barusan?" Tanya Raisa yang tak sampai mendengar gumaman kecil Rumi.


"Tidak ada. Ayo, kita kembali ke dalam vila." Kata Rumi


Rumi tak ingin mengungkapkannya karena mingkin akan membuat Raisa marah saat ia mengungkit kembali hal tentang anak di masa depan yang menjadi hal yang mampu membuat Raisa merasa malu-malu...


"Ayo! Aku ingin lihat, apa yang sedang teman-teman lakukan dan apa yang mereka buat di dapur...?" Ujar Raisa yang merasa penasaran.


"Kau tidak boleh memasuki dapur! Teman-teman yang lain memintaku datang ke sini untuk mencegah itu!" Ucap Rumi


"Mereka menyuruhmu melarangku melihat kegiatan mereka?" Tanya Raisa


"Benar, turuti saja mereka." Jawab Rumi


Raisa dan Rumi pun beranjak kembali masuk ke dalam vila...


Saat masuk, di dalam vila... Rumi meminta Raisa untuk duduk diam saja di sofa ruang berkumpul. Rumi pun menemani Raisa duduk diam di sana untuk memastikan Raisa tidak menghampiri atau bahkan mengintip menuju ke dapur sekali pun!


.


__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2