
Malam harinya.
Usai makan malam, teman-teman Raisa kembali bersiap-siap karena hendak pergi kembali ke dunia asal mereka yang berada di dimensi lain.
"Aku kira kalian semua akan menunda perginya sampai besok. Apa kalian yakin ingin pergi sekarang?" tanya Raisa
"Ya. Kami semua tetap pergi hari ini. Kami pergi sekarang karena tidak ingin pergi terlalu malam," jawab Morgan
"Kau mengantar kami saja. Aku yang akan buka portal sihir teleportasinya," ucap Aqila
"Kak Raisa, lain kali kita harus bertemu lagi, ya. Tidak peduli di sini atau di Desa Daun," ujar Monica
"Baiklah," kata Raisa
Aqila pun menggunakan kemampuannya untuk membuka portal sihir teleportasi. Lingkaran hitam muncul dan terbuka sebagai jalan pintas menuju Desa Daun yang berada di dimensi lain.
"Kami semua pergi, Raisa!"
"Sampai jumpa lagi!"
Raisa tersenyum.
Rumi meraih pipi mulus Raisa dengan satu tangannya. Rumi pun membelai lembut pipi mulus nan putih gadis cantik di hadapannya.
"Selalu berkabar lewat ular sihirku, ya, dan jaga dirimu," pesan Rumi
"Kau ... dan kalian semua juga. Jaga diri baik-baik," balas Raisa
Sudah tidak banyak yang perlu dikatakan lagi sebagai salam perpisahan karena keduanya sudah saling percaya pada satu sama lain.
Raisa pun menyentuh tangan Rumi yang berada di pipinya. Raisa ingin merasakan sentuhan lembut nan hangat dari lelaki tampan tercintanya sebelum berpisah dengannya.
Merasa sudah cukup, Raisa melepaskan tangan Rumi. Tangan Rumi pun beralih membelai lembut rambut halus milik Raisa. Sebenarnya, Rumi sangat ingin mencium gadis yang dicintainya itu. Namun, Rumi sudah berjanji untuk bisa berusaha lebih menahan dirinya.
Satu per satu dari mereka pun memasuki lingkaran hitam untuk melintasi portal sihir teleportasi menuju ke dimensi lain tempat mereka semua berasal.
"Aku pergi, ya." Kini giliran Rumi yang harus masuk ke dalam lingkaran hitam tersebut.
Raisa pun mengangguk kecil sambil tersenyum lembut.
"Hati-hati," pesan Raisa sebelum akhirnya sosok Rumi menghilang setelah memasuki portal sihir teleportasi.
Setelah semua temannya pergi dan lingkaran hitam tertutup, Raisa pun ikut membuka portal sihir teleportasi untuk pulang menuju ke rumah orangtuanya.
•••
Setelah menjadi kontroversial karena klarifikasi tentang hubungannya dengan Rumi, Raisa menjadi semakin terkenal.
Banyak job yang datang. Tawaran membintangi film pendek atau sinetron pun membanjiri jadwal yang diatur oleh Nilam. Silih berganti, Raisa memerankan perannya dalam berakting dengan baik pada film pendek atau sinetron yang berbeda-beda.
Di tengah kesibukannya, Raisa masih menyempatkan bertukar kabar dengan teman-temannya di dimensi lain dengan menggunakan ular sihir pemberian dari Rumi di waktu senggangnya.
Raisa menjadi sangat sibuk.
Seperti kali ini, Raisa menerima tawaran untuk membintagi sebuah drama kolosal Indonesia.
Bermain peran dalam drama kolosal adalah salah satu impian Raisa sejak lama. Namun, pada drama kolosal kali ini, Raisa kembali bertemu Lina yang memulai debutnya di dunia akting.
Karena sudah saling kenal, meski pun pernah mendapat perlakuan kurang menyenangkan, di lokasi syuting Raisa menjadi akrab dengan Lina. Meski pun begitu, baik Raisa atau Lina tidak pernah mengungkit tentang kemampuan sihir sama sekali seolah telah benar-benar mengubur ingatan itu dan melupakannya begitu saja. Lina pun bersikap sangat baik pada Raisa yang menjadi seniornya.
"Aku senang, deh, bisa ketemu Kak Raisa lagi dan main drama bareng," ungkap Lina
"Kamu udah terlalu sering bicara seperti itu," kata Raisa karena sudah sering mendengar ucapan yang sama dari mulut Lina sejak drama dimulai seminggu yang lalu.
"Ayo, siap-siap. Setelah ini giliran kita," sambung Raisa
Raisa dan Lina pun mulai bersiap kembali untuk segera memulai suatu adegan baru.
Namun, terdengar keributan di antara para kru syuting. Raisa dan Lina pun menghampiri para kru tersebut.
"Ada apa ini?" tanya Lina
"Raisa, Lina, maaf, ya. Kalian berdua pasti capek karena udah nunggu lama. Untuk adegan ini persiapannya emang lama, tapi syuting adegannya malah terus ditunda."
"Jadi, apa masalahnya?" tanya Raisa
"Adegan ini harusnya pakai pemain pengganti, tapi pemain penggantinya masih gak lengkap."
__ADS_1
"Kalau begitu, ambil adegan yang sorotan saya dan Kak Raisa aja dulu. Adegan pemain penggantinya baru ambil setelahnya atau terakhir," ujar Lina mencoba memberi saran.
"Adegan sorotan kalian berdua dan adegan pemain psnggantinya emang adegan syuting terakhir hari ini, tapi pemain prngganti yang datang cuma 1. Padahal satu orang lainnya udah janji bakal datang dan terus dihubungi dari tadi, tapi sampai syuting mau berakhir masih belum datang juga."
"Gimana dong, Kak Raisa? Syutingnya jadi ditunda terus," kata Lina
"Udah gak ada waktu nunda syutingnya lagi."
"Kalau begitu, biar satu orang pemain penggantinya mainin peran Lina. Saya akan main tanpa pemain pengganti," ujar Raisa
"Kamu yakin, Raisa? Ini bakal lebih sulit dari syuting sinetron biasa. Kostum kamu mungkin bakal bikin kamu kesulitan bergerak, tapi gerakan yang diambil harus terlihat intens. Karena ini drama kolosal."
"Saya akan berusaha," kata Raisa
"Ini adegan terakhir hari ini, kan? Pasti yang lain juga udah lelah nunggu dari pagi, jadi lebih baik cepat diselesaikan dan kita semua bisa pulang dan istirahat," sambung Raisa mencoba membujuk para kru.
"Oke, deh. Kita coba dulu. Kalau emang gak memungkinkan, terpaksa adegan pemain penggantinya diambil lain hari. Pertama kita ambil sorotan Raisa dan Lina dulu. Setelah itu baru adegan Raisa dan pemain pengganti Lina."
Setelah berdiskusi, akhirnya mereka memutuskan satu pemain pengganti itu akan memerankan sebagai pengganti Lina untuk adegan aksi dan Raisa akan memainkan adegan aksi itu sendiri tanpa pemain pengganti atau stundman/ stund woman.
"Kak Raisa, yakin, nih? Ini beresiko, lho?" tanya Lina
"Aku yakin. Kan, kamu juga tahu kalau aku bisa," jawab Raisa sambil mengangguk kecil.
"Iya. Kan, Kak Raisa hebat," kata Lina sambil tersenyum.
Setelah adegan sorotan antara Raisa dan Lina diambil. Kini giliran adegan aksi antara Raisa dan pemain pengganti.
Saat rekaman mulai diambil, Raisa dan pemain pengganti bertarung dengan hebat. Adegan dan gerakannya luas biasa, hasilnya pun bagus dan memuaskan. Seolah sempurna dan terlihat seperti sungguhan.
"Sorot ke Raisa lebih banyak. Coba close up wajahnya. Kalau penonton tahu adegan aksi Raisa mainkan sendiri, drama kita pasti jadi populer." Sang Sutradara benar-benar tertarik pada sosok Raisa sebagai artis profesional. Ternyata rumor baik tentang artis yang membintangi dramanya itu tidak dibuat-buat. Di matanya, Raisa sungguh hebat.
Kamera-man pun menuruti arahan sang sutradara yang memintanya untuk lebih memperbanyak mengambil sorotan wajah Raisa dan men-close up-nya.
"Raisa, benar-benar hebat, ya. Selain gerakan bertarungnya yang terlihat seperti sungguhan, dia masih bisa mengatur ekspresi dengan baik. Perpaduan yang bagus antara gerakan dan ekspresi. Dia gak tetkecoh sama sekali. Penghayatannya keren banget, seolah mengalami kejadiannya langsung."
"Saya gak salah pilih orang untuk membintangi drama ini." Sang sutradara membanggakan diri karena memilih orang yang tepat seperti Raisa.
"Cut! Kerja bagus, semuanya."
Melihat Raisa telah menyelesaikan adegan, Lina yang sudah mengganti kostumnya dengan pakaian pribadi pun menghampiri Raisa sambil memberikan botol air mineral padanya.
"Kak Raisa, pasti lelah. Ini minum dulu," kata Lina
"Terima kasih, Lina," ucap Raisa yang menerima botol air dari tangan Lina.
"Aku mau duduk sebentar," sambung Raisa
Mendengar itu, sang sutradara langsung menghampiri Raisa sambil menarik kursi untuknya.
"Ini kursinya, duduklah."
"Apa gak masalah kalau seperti ini, Pak Anto?" tanya Raisa yang merasa tak enak dengan perlakuan istimewa dari Pak Anto selaku sutradara.
Raisa takut para kru atau artis lainnya merasa tidak adil atau bahkan cemburu.
"Gak apa. Emang siapa yang bakal marah? Selain Lina, artis lain rata-rata udah pada pulang. Para kru, semuanya juga tahu kamu pasti lelah usai main adegan aksi tanpa peran pengganti."
"Kalau begitu, terima kasih." Raisa pun tidak sungkan lagi untuk duduk di kursi yang diambilkan oleh sutradara untuknya.
"Raisa, gak ada yang terluka, kan? Kamu baik-baik aja?"
"Gak ada luka, saya baik-baik aja. Ini karena peran pengganti yang main adegan bertarung sama saya tadi profesional dan bisa diajak kerja sama dengan baik," jawab Raisa
"Bagus, kalau begitu. Saya tinggal dulu untuk atur para kru dan lainnya juga."
"Silakan, Pak Anto," kata Raisa
"Kak Raisa, hebat banget! Menurut aku, bukan karena pemain penggantinya yang mudah diajak kerja sama, tapi Kak Raisa yang bisa mengikuri dan mengimbangi gerakan pemakin penggantinya. Tadi itu keren banget! Kalau aku, meski bisa bela diri juga belum tentu bisa kayak gitu," ujar Lina memberi pujian pada Raisa.
"Terima kasih. Menurut aku, kamu cuma perlu banyakin latihan, nanti juga bisa lakuin kayak aku tadi. Semangat terus, ya," ucap Raisa
"Omong-omong, kamu belum pulang?" tanya Raisa
"Aku sengaja mau ngobrol dulu sebentar sama Kak Raisa," jawab Lina
Lina pun menarik kursi lain untuk duduk agar lebih nyaman mengobrol dengan Raisa.
__ADS_1
"Mau bicara tentang apa?" tanya Raisa
"Aku mau bilang maaf dan terima kasih," ungkap Lina
"Aku minta maaf karena sebelumnya pernah berbuat salah dan jahat sama Kak Raisa. Aku benar-benar udah menyesalinya. Dan, terima kasih. Berkat Kak Raisa, hubunganku dan keluargaku sekarang jadi lebih baik. Bukan cuma sama Luna, tapi sama Mama Papa juga," sambung Lina
"Maaf kamu, kan, udah pernah disampaikan ke aku. Aku juga gak mempermasalahkan hal yang udah berlalu kok. Lalu, jangan berterima kasih sama aku. Kalau soal hubungan dengan keluarga kamu, kayaknya Luna lebih berperan banyak dari pada aku. Luna yang udah menyadarkan kamu kalau orangtua kalian juga sayang sama kamu," ucap Raisa
"Gak. Kak Raisa juga ikut berperan saat menyadarkan aku. Kalau cuma Luna yang bicara, mungkin aku cuma terus membalas ucapannya dengan kata-kataku yang kasar dan menyakiti dia. Saat itu Kak Raisa juga udah bantu aku untuk menyadari semuanya," ujar Lina
"Aku harap Kak Raisa gak benci sama aku karena perbuatan aku sebelumnya. Aku mau jadi akrab sama Kak Raisa," sambung Lina
"Kan, sekarang kita emang udah akrab. Kamu terlalu banyak berpikir, Lina. Itu hal yang udah berlalu. Kamu gak perlu jadi sungkan seperti ini," kata Raisa sambil tersenyum.
Raisa pun bangkit berdiri.
"Udah, ya. Barusan aku udah mulai pesan taksi online untuk pulang karena hari ini Maura dan Nilam pulang duluan. Kamu juga pulang, gih. Nanti keburu larut malam. Aku mau ganti baju dulu," ucap Raisa
"Iya, Kak Raisa. Aku pulang duluan, ya," kata Lina
"Hati-hati," pesan Raisa
Raisa dan Lina pun saling memisahkan diri karena hendak pulang. Namun, sebelum itu Raisa masih harus mengganti kostumnya dengan pakaian pribadinya.
Sepertinya kini Lina telah benar-benar berubah menjadi baik. Selain mengatakan maaf dan terima kasih, Lina tidak mengungkit tentang rahasia Raisa. Lina bahkan terlihat tulus ingin menjadi akrab dengan Raisa.
Usai menyelesaikan syuting hari ini, Raisa langsung pulang ke rumah orangtuanya.
Raisa yang telah diberi kunci duplikat untuk bebas ke luar masuk rumah tanpa harus menunggu orang di rumah membukakan pintu untuknya pun langsung membuka kunci rumahnya agar bisa segera masuk.
Raisa sudah bergerak sepelan mungkin agar tidak membangunkan orang di rumah. Tapi, mungkin suaranya di malam hari tetap mengganggu. Ibu Vani dari dalam kamarnya ke luar menemui Raisa yang baru saja pulang.
"Raisa, kamu udah pulang, Nak?" tanya Bu Vani
"Iya, Bu. Baru sampai. Ibu masih belum tidur? Aku ganggu tidur Ibu, ya?" tanya balik Raisa usai menjawab.
"Enggak kok. Kamu lelah, ya? Ibu mau bicara dulu sebentar sama kamu," ujar Bu Vani
Bu Vani pun duduk di sofa dan Raisa ikut duduk di samping Sang Ibu.
"Mau bicara apa, Bu?" tanya Raisa
"Sekarang anak Ibu udah jadi terkenal dan semakin sibuk. Apa kamu gak lelah ... pulang malan terus kayak gini, Sayang?" balik tanya Bu Vani
"Mau bagaimana lagi ... ini emang pekerjaan Raisa, aku menikmatinya kok selama ini. Aku suka menjalani yang sepeeti ini, Bu. Ibu gak usah khawatir. Aku tetap bisa jaga diri dan kesehatan kok," jawab Raisa
"Ibu percaya kok sama kamu. Tapi kalau terus seperti ini, gimana dengan kehidupan sehari-hari kamu yang biasa? Sekarang udah ketemu jodoh yang tepat belum?" tanya Bu Vani lagi.
"Soal itu, aku tahu Ibu emang khawatir. Tapi, emang belum ketemu jodohnya aja. Aku masih mau kerja dan menjalani semua apa adanya," jawab Raisa
"Begitu, ya. Tapi sampai kapan, Sayang? Ibu tahu tentang kamu dan Rumi dari gosip, lho. Kamu udah ungkap kalau kalian berdua saling suka ke publik. Jadi, kamu mau bagaimana sama masa depan kamu?" tanya Bu Vani untuk ke sekian kalinya.
Raisa memang tahu ia tidak akan bisa menghindar dari topik ini selamanya. Raisa pun menghela nafas berat. Ia menatap serius ke arah Bu Vani.
"Jujur aja, ini sulit. Gak mudah untuk aku membuang Rumi dari hati dan pikiran aku, Bu. Aku benar-benar suka bahkan udah mencintai dia. Rasanya gak mungkin dan gak bisa kalau bukan Rumi orangnya. Aku gak mau orang lain lagi. Bagaimana ini, Bu? Aku benar-benar lemah dan gak berdaya soal cinta," ungkap Raisa yang akhirnya mencurahkan semua isi hatinya.
Raisa pun berhambur memeluk Bu Vani dan menangis tanpa suara dalam pelukan terhangat itu. Bu Vani yang ikut merasa bingung pun hanya bisa membalas pelukan putrinya dan mengusap lembut punggung Raisa. Bu Vani juga tidak bisa berbuat apa-apa saat ini untuk anak gadisnya itu.
"Ya udah, gak apa. Nanti juga ada jalannya," kata Bu Vani
Raisa pun melepaskan pelukannya dengan Bu Vani dan menghapus jejak air matanya.
"Maaf, ya, Bu. Mungkin aku lelah karena pulang malam, bicaraku jadi gak karuan. Kalau begitu, aku masuk ke kamar, ya," ujar Raisa sambil tersenyum kecil seolah ingin melupakan apa yang sudah ia bahas dengan Bu Vani.
"Ya udah, kamu istirahat saja. Jangan lupa basuh muka dulu sebelum tidur," pesan Bu Vani
Raisa mengangguk. Ia pun bangkit berdiri dan beranjak masuk ke dalam kamarnya.
Bu Vani menghela nafas panjang setelah tahu permasalahan hati anak gadisnya itu.
.
•
Bersambung ...
__ADS_1