Bertemu Dan Jatuh Cinta

Bertemu Dan Jatuh Cinta
55 - Kembali ke Vila.


__ADS_3

•••


Gadis yang sempat Raisa selamatkan ternyata sosok yang mengenal balas budi dan baik hati. Ia mempersilahkan Raisa dan semua temannya makan di restoran milik keluarganya secara bebas dan gratis. Padahal orang yang bersama Raisa tidaklah sedikit juga apalagi makanan yang mereka makan. Setelah selesai makan, Raisa hendak membayar setidaknya setengah dari jumlah biaya makanan yang mereka makan. Tapi, gadis yang diselamatkan itu menolak dengan tegas. Beralasan dengan nyawanya yang sudah ditolong dan diselamatkan oleh Raisa, ia membalas hutang nyawa itu dengan kebaikannya menraktir Raisa bersama teman-temannya makan di restoran keluarganya. Walaupun Raisa merasa tak enak hati... Namun, gadis tersebut bersih kukuh mengatakan balasannya ini tak sebanding dengan apa yang telah Raisa lakukan untuk menyelamatkan nyawanya. Sikapnya yang bersikeras membuat Raisa mau tak mau menerima kebaikannya, menraktir biaya makannya dengan teman-temannya.


Kini, Raisa dan teman-temannya telah kembali pulang ke vila. Saat ini malam hari telah tiba. Semua sedang bersantai di ruang kumpul. Semua terlihat sedang dalam altivitasnya masing-masing. Ada yang menonton TV, asik mengobrol, bermain permainan, sedangkan Raisa kembali fokus pada semua pelajarannya dan semua buku-buku miliknya.


"Hari ini menyenangkan, ya?" Ujar Amy


"Benar. Tidak menyangka berlibur seperti ini mengasikkan juga, biasanya kita hanya disibukkan dengan tugas." Ucap Wanda


"Dan, paling menyenangkan saat bisa makan gratis dengan bebas!" Seru Chilla


"Kau ini, di dalam pikiranmu hanya makan dan makanan saja! Dasar, gendut!" Cibir Ian


"Tapi, gadis yang aku selamatkan tadi seperti pernah melihatnya. Aku merasa seperti pernah bertemu dengannya sebelumnya." Ucap Raisa


"Tadi, dia juga memberitaukan namanya, kan? Katanya, namanya adalah Luna. Apa kau pernah bertemu dia sebelumnya?" Ujar Aqila


"Entahlah, aku tidak begitu ingat. Seperti iya, tapi, seperti bukan dia. Maksudku, sikapnya sedikit berbeda." Kata Raisa


"Terlepas dari kau pernah atau tidaknya bertemu dengannya, hari ini kita beruntung sekali bisa makan gratis." Ucap Dennis


"Benar. Semua berkat dirimu, Raisa! Sepertinya kau memang orang yang selalu beruntung atau pembawa keberuntungan." Puji Marcel


"Kau menilainya berlebihan, Marcel. Itu hanya kebetulan saja. Aku sudah menyelamatkannya dan dia hanya membalasku, itu saja!" Sangkal Raisa


"Kurasa, apa yang dikatakan, Marcel, itu benar! Sebelumnya, kau pernah menyelamatkan desa kami... Dan aaat kau berada di dunia kami, saat kita makan bersama juga pernah mendapat makan gratis dan potongan harga. Itu semua berkat dirimu! Dirimu diliputi keberuntungan, Raisa!" Ungkap Billy


"Ah, tidak! Peranku bukan sebagai penyelamat, tapi, aku hanya nembantu kalian, orang-orang di Desa Daun. Tanpa kehadiranku di sana pun, kalian bersama yang lainnya akan berusaha menyelamatkan desa kalian. Aku hanya kebetulan lewat dan singgah sebentar." Jelas Raisa


"Justru karena itu, kau yang lewat dan singgah juga membantu kami, desa kami jadi terselamatkan, sama seperti yang terjadi pada gadis yang bernama Luna itu. Kaulah penyelamat, kau pembawa keberuntungan!" Ucap Billy


"Tapi, aku tidak begitu percaya pada keberuntungan." Kata Raisa


"Tapi, semua di dunia tidak ada yang kebetulan!" Keukeuh Billy


"Cih, kalian orang-orang yang merepotkan! Semua itu adalah takdir! Itu juga bagian dari takdirmu, Raisa." Ucap Devan


"Benar juga! Ini adalah takdir baru dari sosok identitasku yang lain. Hei, Devan! Kukira orang angkuh sepertimu tidak percaya pada yang namanya takdir." Ujar Raisa


"Entahlah... Tapi, kalau bukan takdir, lalu apa lagi!?" Kata Devan


"Benar-benar cocok! Raisa, si gadis dengan takdir penuh keberuntungan. Itulah sebutan atau julukan yang tepat untukmu." Kata Morgan


Setelah merasa cukup dengan pemahamannya dalam belajar kali ini, Raisa pun merapikan kembali buku-bukunya. Memasukkan semua buku pelajarannya ke dalam tas miliknya. Ia pun bisa menikmati waktu santainya bersama yang lainnya.


"Raisa, apa tidak apa kau membawa kami untuk berlibur, memandu kami pada liburan kali ini padahal kau sedang sibuk belajar untuk mempersiapkan diri untuk ujianmu yang akan datang?" Tanya Aqila


"Tidak apa. Kalian tau aku hanya mempersiapkan diri... Ujianku masih lama, jadi masih banyak waktu untukku mempersiapkannya. Aku memang butuh suasana belajar yang baru karena merasa bosan jika hanya terus di rumah. Aku sangat senang kalian datang... Aku sangat menikmati waktu berlibur kali ini!" Ungkap Raisa menjawab.


"Tadi pagi kau sempat terjatuh saat latihan, tapi, kau terus mengajak kami pergi berlibur dan bermain, kau sempat masuk menceburkan diri ke air, dan kau masih harus belajar. Apa semua itu tidak apa?" Tanya Sanari dengan cemas.


"Tidak masalah. Itu sudah lewat... Aku memang berkata diriku lemah, tapi, aku tau jelas batasanku. Itu semua hal yang umum dilakukan, jadi sejauh ini aku baik-baik saja. Tak perlu khawatir. Bahkan aku sudah sempat beristirahat tadi, kan?" Ucap Raisa


Raisa diam-diam menatap Rumi. Ia merasa tak enak jika terus mengungkit hal ini karena pasti Rumi terus merasa bersalah karena Raisa terjatuh saat berlatih dengannya dan emosinya lah yang menyebabkan insiden yang Raisa alami. Padahal bukan Raisa yang pertama kali mengungkitnya, tapi, tetap saja dirinya merasa tak enak hati. Walau memang yang lain mengungkit hal itu karena khawatir pada dirinya...


"Kau bilang, saat istirahat kau bermimpi indah. Mimpi seperti apa?" Tanya Amy


"Hal yang menyenangkan, pokoknya mimpi indah." Jawab Raisa


"Jadi, kau tidak berniat untuk mengungkapkannya?" Tanya Wanda


Raisa menggelengkan kepalanya kecil...


"Toh, itu hanya mimpi, hanya bunga tidur. Walau memang terasa indah, bahkan aku berharap ingin bermimpi indah serupa itu lagi." Ucap Raisa sambil tersenyum tipis.


"Mimpimu tidak bisa disepelekan. Awalnya juga kami hanya orang-orang di dalam mimpimu. Dan takdir membuat mimpimu jadi kenyataan dan mempertemukan kita. Bisa jadi, mimpimu jadi kenyataan lagi." Ujar Morgan

__ADS_1


"Kurasa itu takkan terjadi. Mimpi ini berbeda saat aku memimpikan kalian dengan segala firasatku. Bisa dibilang ini hal yang mustahil, itu hanya mimpi biasa." Kata Raisa


"Walau memang aku menginginkan mimpi serupa itu lagi. Tapi, itu hanya harapan belaka yang takkan jadi nyata. Sama semunya seperti mimpi." Gumam pelan Raisa


Raisa menunduk lesu. Dirinya hanya berangan-angan belaka!


Saat Raisa beristirahat siang tadi, dirinya bermimpi. Mimpi indah yang menyenangkan hatinya...


Dalam mimpinya, Rumi menemani di sampingnya bahkan mengecup lembut pipinya walau hanya sekejap sebelum pergi.


Raisa sangat bahagia walau kejadian itu hanya mimpinya. Tapi, mimpi itu terasa begitu nyata. Sehingga dirinya berharap ingin memimpikan hal yang serupa. Namun, lagi-lagi dirinya harus menghadapi kenyataan bahwa semua itu adalah hal yang mustahil!


Raisa tak tau bahwa mimpi itu benar adalah kenyataan yang benar-benar terjadi dan dialaminya...


Rumi menoleh pada Raisa yang tertunduk diam... Ingin sekali ia mengatakan jika itu bukanlah mimpi. Jika memang hal yang dimaksud adalah dirinya yang mengecup pipi Raisa. Ia tak bisa mengatakan yang sejujurnya karena takut Raisa akan tersinggung dan lebih menghindarinya lebih jauh lagi.


Raisa berkata itu adalah mimpi indah, itu sudah cukup membuat Rumi senang. Raisa bahkan mengatakan ingin bermimpi hal yang serupa lagi. Jika memang begitu, dirinya akan mengabulkannya. Tidak apa jika Raisa akan menganggap itu adalah mimpi lagi...


"Besok kalian ingin diam di vila saja atau ingin mengunjungi tempat lain? Berapa lama kalian akan berlibur di sini?" Tanya Raisa


"3 sampai 5 hari saja. Terserah kau saja yang membuat keputusan, kami ikut kau saja." Jawab Devan


"Baiklah! Besok aku akan membawa kalian ke suatu tempat. Dan sehari sebelum kepulangan kalian, kita akan mengadakan makan bersama di vila ini. Kita akan memanggang daging!" Ungkap Raisa


"Yeay, makan daging! Aku jadi tidak sabar menantikannya." Kata Chilla


"Sudah hampir larut. Apa kalian mau kubuatkan sesuatu sebelum pergi tidur? Seperti minuman, mungkin?" Ujar Raisa bertanya.


"Kau sudah ingin tidur, Raisa?" Tanya Dennis


"Sepertinya begitu. Sebelum tidur malam biasanya aku akan meminum susu. Jadi, aku bertanya, apa kalian mau sekalian kubuatkan sesuatu?" Kata Raisa


Raisa pun pergi ke dapur dengan beberapa pesanan temannya yang akan dibuatnya. Tak butuh waktu lama, Raisa kembali dengan segala pesanan teman-temannya.


"Aku tidak menemani kalian lebih lama lagi ya, aku akan masuk ke dalam kamarku." Ujar Raisa sambil memegang segelas susu putihnya.


Raisa yang masih belum melangkah jauh pergi kembali menoleh karena panggilan seseorang...


"Raisa!~" Serunya. Saat berbalik, ternyata Rumi lah yang menyerukan namanya.


"Hmm, ya?" Balas Raisa yang merespon.


"Semoga kau kembali bermimpi indah. Selamat malam dan selamat beristirahat..." Ucap Rumi


Raisa sedikit terkejut dengan apa yang disampaikan Rumi padanya.


"Ah, ya... Selamat malam juga." Kata Raisa membalas.


Raisa pun kembali melangkahkan kakinya menuju kamar tidurnya.


...'Apa maksud perkataan Rumi? Kenapa dia mengungkit tentang mimpi indah? Apa dia tau bahwa mimpiku berkaitan dengannya? Tapi, bagaimana bisa? Ah, itu tidak mungkin!' Batin Raisa...


...


Semua kecuali Raisa masih berada dalam ruang kumpul bersama...


"Aku mau ke toilet sebentar." Kata Rumi yang langsung beranjak pergi dari tempatnya.


Rumi melangkahkan kakinya menuju toilet. Namun, ia tak benar-benar pergi ke sana. Ia berhenti di suatu sudut ruangan yang tak dapat dilihat siapapun. Setelah dirasa aman setelah melihat sekeliling, Rumi pun melancarkan aksinya.


Rumi mengeluarkan sihirnya. Vila yang ia inapi hanya ditempati oleh orang-orang yang mengetahui kemampuan ini. Jadi tak masalah jika ia mengeluarkan sihirnya di sana.


Beberapa ekor ular muncul entah dari mana dari balik pakaiannya. Ular adalah sihir yang sangat khas dengan kemampuannya. Dan ular-ular itu bergerak saling merapat dan bersatu kemudian menjelma menjadi sosok yang Rumi yang lain alias palsu. Sekarang Rumi seperti mempunyai seorang kembaran yang sangat mirip menyerupai ditinya. Itu adalah dirinya yang lain, sihirnya!


Setelah sosok Rumi dari jelmaan ular itu sempurna. Keduanya menempuh jalan yang berbeda... Rumi yang asli beranjak pergi ke arah lain, sedangkan Rumi jelmaan ular atau yang palsu kembali ke arah ruang kumpul tempat teman-temannya berada. Tujuannya ke toilet hanyalah alasan untuk melancarkan aksinya.


'Raisa, aku akan mengabulkan permintaanmu. Harapan dan mimpimu akan menjadi kenyataan.' Batin Rumi yang asli.

__ADS_1


"Rumi, ayo! Kita ke kamar. Tidur dan istirahat." Ajak Morgan


Dilihatnya yang lain akan kembali ke kamar tidurnya masing-masing untuk beristirahat karena sudah larut malam.


"Baiklah..." Kata Rumi yang palsu.


---


Kini, Rumi yang asli sudah berada di dalam kamar tidur yang ditempati Raisa. Ia mengeluarkan sihir untuk memunculkan ular kecil dari bagian tubuhnya. Membuat ular kecil itu masuk ke dalam kamar Raisa melalui celah bawah pintu kamar dan membuka kunci kamar dari dalam. Setelah itu pun, ia berhasil masuk...


Rumi mendekati Raisa yang terlelap di atas ranjang kasurnya yang empuk. Ia melihat sebuah gelas yang sebelumnya berisi susu putih yang Raisa telah minum habis.


Rumi meraih gelas tersebut. Mengangkatnya dan menenggak tetes terakhir susu itu tepat pada tempat Raisa menempelkan bibirnya. Setelah itu, Rumi mengembalikan gelas itu pada tempatnya semula.


"Manis...!" Gumam Rumi ambigu.


Entah yang dimaksud manis adalah tetes akhir susu itu atau tempat ia menempelkan bibirnya yang sama dengan tempat Raisa menempelkan bibirnya yang terasa manis. Perilakunya sangat aneh jika saja ada orang yang melihatnya.


"Raisa, yang tadi siang itu bukan mimpi. Dan sekarang aku akan mengabulkan harapanmu yang menginginkan mimpi indah lainnya menjadi nyata." Ujar pelan Rumi


Rumi pun menyibakkan selimut yang Raisa pakai dan ikut merebahkan dirinya di samping Raisa.


"Aku senang kau telah menganggap indah kebersamaan kita berdua, Raisa." Bisik Rumi


Cup!


Rumi mengecup singkat kening Raisa. Tangannya meraih tubuh Raisa, merengkuhnya. Rumi pun memejamkan matanya, tertidur sambil terus memeluk tubuh Raisa.


Di tengah malamnya, Raisa merasa sangat nyaman dan hangat sampai membuatnya aneh sendiri. Perlahan Raisa membuka matanya dan mengerjapkannya beberapa kali.


Dilihatnya seseorang berada tepat di hadapannya. Tertidur tepat di samping posisi tidurnya. Meringkuk, memeluk erat tubuhnya. Raisa terkejut!


"Rumi!" Pekiknya menggumam.


Raisa tang terus merasa berat pada matanya merasa apa yang dilihatnya adalah sesuatu yang mustahil, tidak mungkin terjadi seperti ini!


...'Apa aku masih berada dalam mimpiku? Apa maksud mimpi indah ini? Atau aku bermimpi dalam mimpiku?' Batin Raisa...


"Aku bermimpi indah lagi! Aku menyukainya! Aku menyukaimu, Rumi..." Ucap Raisa


Raisa pun menutup kembali matanya dan langsung terlelap lagi. Apa yang dilihatnya, ia hanya menganggap semua itu adalah bagian dari mimpi indahnya...


•••


Pagi hari menjelang...


Sinar matahari mulai memaksa masuk melalui celah jendela dan menembus kain gorden...


Cahaya yang masih minim itu berhasil menggusik salah satu indan yang tertidur dalam posisi memeluk seseorang di sampingnya.


'Sudah pagi! Aku harus segera pergi dari sini!' Batinnya


"Selamat pagi, Raisa. Semoga harimu bisa lebih indah dari malammu dan hari sebelumnya. Aku pergi dulu... Kita akan bertemu lagi nanti!" Ucapnya, Rumi yang telah terbangun lebih dulu dari Raisa.


Rumi pun bangkit. Menatap Raisa dan mengelus pelan rambut halusnya. Lalu, pergi dari sana sesegera mungkin. Kali ini, Rumi memilih jendela sebagai jalan keluarnya...


Tak menunggu waktu lama, Raisa pun membuka matanya dan terbangun.


"Semalam aku bermimpi indah lagi!" Riang Raisa seraya tersenyum bahagia.


.



Bersambung...


¤:[Kutipan Author]

__ADS_1


"Author kembali! Semoga masih bisa terus menghibur kalian semua dengan cerita novel ini dan semoga masih pada ingat dan baca cerita ini. Selanjutnya akan terus update 3 hari/ episode. Semoga tidak ada lagi halangan yang membuat author jadi hiatus..."


__ADS_2