Bertemu Dan Jatuh Cinta

Bertemu Dan Jatuh Cinta
[Season 2] 6 - Selamat Ulang Tahun!


__ADS_3

Begitu sampai di rumah, Raisa langsung masuk ke dalam kamarnya dan merebahkan tubuhnya di kasur untuk beristirahat.


"Hahh~ Gak biasanya aku langsung mengantuk kayak gini," gumam Raisa


..."Oh, iya. Rumi, minta aku kabarin dia kalau aku sudah sampai rumah," batin Raisa...


Raisa langsung mengambil ponselnya dan mengetik pesan untuk dikirim ke ponsel Rumi.


---


Daffa memberikan kamar tamu untuk Rumi yang menginap.


Rumi sudah berada di dalam kamar dan telah merapikan barang miliknya di kamar tersebut.


Tringg!


Ponsel pemberian dari Raisa berbunyi. Rumi pun langsung mengeceknya dan membuka pesan yang masuk.


From: Raisa.


Ini aku, Raisa.


Rumi, aku sudah sampai di rumah. Aku ingin langsung istirahat. Kau juga istirahatlah lebih awal. Selamat malam dan sampai jumpa besok.


Rumi langsung mengetik pesan balasan.


^^^To: Raisa.^^^


^^^Syukurlah. Selamat malam dan selamat beristirahat, Raisa. Sampai jumpa besok.^^^


Tidak bisa tidur meski sudah memejamkan mata, Rumi pun membuka ponsel. Karena itu adalah ponsel lama Raisa, isi ponsel sebelumnya pun masih ada dan utuh.


Rumi membuka album foto dan melihat semua foto yang tersimpan. Raisa jarang foto dirinya sendiri, tapi ada lumayan banyak foto Raisa bersama Rumi dan teman-teman lainnya. Rumi juga membuka deretan lagu hasil dari rekaman suara Raisa dan mendengarkannya.


Sambil merebahkan tubuhnya di atas kasur, Rumi mendengarkan rekaman lagu suara Raisa hingga tertidur. Suara merdu Raisa yang hanya sebuah rekaman seperti lagu penghantar tidur baginya.


...


Di tengah malam, Raisa terbangun karena alarm buatannya berbunyi. Jam menunjukkan pukul 00.02 WIB tengah malam.


Raisa pun mengotak-atik ponselnya seraya tersenyum.


..."Sepertinya dia masih tertidur pulas. Aku juga lanjut tidur saja. Supaya besok bisa cepat bertemu dengannya," batin Raisa...


Karena merasa masih mengantuk, Raisa pun kembali memejamkan matanya dan melanjutkan tidurnya.


---


Bangun tidur di pagi hari, Rumi langsung pergi mandi. Ia langsung bersiap-siap agar bisa cepat pergi untuk bertemu dengan Raisa. Setelah rapi, Rumi mengecek ponsel.


Ada satu pesan masuk yang tentunya berasal dari Raisa karena gadis cantik itu adalah satu-satunya teman berkomunikasinya dengan ponsel tersebut. Mengetahui adanya pesan masuk dari Raisa, Rumi pun membuka dan membaca pesan tersebut.


Rumi terkejut dengan isi pesan tersebut. Saat dilihat pesan masuk di pukul 00.05 WIB tengah malam.


Setelah membaca pesan tersebut, Rumi langsung menghubungi Raisa dengan panggilan telepon.


"Halo, Raisa. Apa aku mengganggumu?"


"Halo, Rumi. Tidak kok, aku sudah bangun tidur sejak tadi. Pagi-pagi kau sudah meneleponku ... ada apa?"

__ADS_1


"Kenapa kau mengirimiku pesan di tengah malam?"


"Kau sudah membacanya, rupanya. Tentu saja untuk memberimu ucapan selamat. Selamat ulang tahun, Rumi! Berbahagialah selalu, aku mencintaimu. Hanya itu yang bisa kuucapkan padamu."


"Aku sudah membaca pesan darimu, tidak perlu kau ucap ulang lagi. Kenapa kau mengirimiku ucapan di tengah malam?"


"Aku hanya ingin menjadi orang yang pertama memberimu ucapan selamat di hari ulang tahunmu. Mengucapkannya memang bisa dilakukan di pagi hari atau saat kita bertemu nanti, tapi kebiasaan di sini adalah mengucapkan selamat ulang tahun di tengah malam begitu detik pertama pergantian hari untuk orang yang dianggap spesial supaya terkesan lebih romantis. Meski di sini hanya aku yang tahu hari ulang tahunmu dan memberimu ucapan, aku juga ingin melakukannya karena seperti itulah kau bagiku. Apa aku mengganggu malammu karena pesan yang kukirim?"


"Tidak sama sekali. Aku hanya tidak mengerti kenapa kau mengirimiku pesan seperti itu di tengah malam. Namun, aku merasa sangat senang, apa lagi saat mengetahui alasannya. Saat pesanmu datang, aku masih tertidur. Maaf, aku baru membacanya saat di pagi hari."


"Tidak apa. Aku memang sudah menduganya, makanya aku hanya mengirim pesan alih-alih meneleponmu di tegah malam agar tidak mengganggu tidurmu. Aku hanya ingin melakukannya untukmu dan kau sudah membacanya. Itu yang terpenting dan itu sudah cukup. Sekali lagi ... selamat ulang tahun, Rumi!"


"Terima kasih, Raisa. Aku sangat senang saat kau menganggapku spesial. Aku jadi tidak sabar untuk bertemu denganmu nanti."


"Aku juga sama. Kalau begitu, sampai jumpa nanti! Dan satu lagi, kau memang selalu spesial bagiku."


"Kau juga sangatlah spesial bagiku dan aku juga mencintaimu. Sampai jumpa nanti!"


Sambungan telepon pun terputus!


Rumi langsung ke luarc dari kamar begitu mengakhiri panggilan telepon dengan Raisa. Ia pun bertemu dengan Daffa.


"Udah rapi aja. Mau pergi? Gak mau sarapan dulu?" tanya Daffa


"Tidak perlu. Daffa, apa kau perlu bantuanku untuk melakukan sesuatu?" tanya balik Rumi usai menjawab.


"Enggak ada, sih," jawab Daffa


"Kalau begitu, aku pergi dulu ... " ujar Rumi berpamitan singkat dan langsung bergegas pergi ke luar dari rumah Daffa.


"Pasti mau ketemuan sama Raisa. Gak sabaran banget," gumam Daffa


Seperti sebelumnya, Raisa menggunakan masker dan kacamata. Saat saling bertatapan dengan Rumi, Raisa pun melambaikan tangan.


Raisa menghampiri Rumi dan menurunkan maskernya.


"Halo, Rumi! Selamat ulang tahun! Ini untukmu." Raisa memberikan setangkai bunga mawar merah yang sebelumnya disembunyikan di balik punggunggnya pada Rumi.


"Terima kasih. Padahal aku belum pernah memberimu bunga sebelumnya," ucap Rumi


"Kan, ini hari spesialmu. Jadi, tidak apa kalau aku yang memberimu bunga. Lagi pun, hanya setangkai saja," ujar Raisa


Raisa memperhatikan penampilan Rumi yang berbeda. Biasanya Rumi hanya mengenakan setelan kemeja dan celana panjang. Namun, kali ini ia bahkan memakai jas untuk atasannya.


"Tumben penampilanmu berbeda?" tanya Raisa


"Karena hari ini ulang tahunku dan aku akan jalan denganmu. Jadi, aku ingin tampil berbeda," jawab Rumi


"Padahal seperti biasa saja kau sudah tampan," gumam pelan Raisa


"Apa?" tanya Rumi karena tidak mendengar Raisa bicara apa.


"Tidak. Maaf, aku tidak sempat menyiapkan kado untukmu," kata Raisa


"Tidak apa. Kau tahu secara mendadak, jadi wajar saja kalau tidak sempat menyiapkannya. Lagi pula, bertemu denganmu yang senantiasa terlihat cantik saja sudah cukup. Aku seperti mendapat hadiah setiap kali pertemuan kita," ucap Rumi


"Satu lagi! Kau pasti belum makan, jadi aku menyiapkan sarapan untukmu. Ini hanya nasi goreng biasa buatanku. Makanlah," ujar Raisa seraya menyerahkan bingkisan berisi kotak makanan dan botol air minum pada Rumi.


"Masakan buatanmu tentu adalah rasa yang paling kusuka dan kurindu. Terima kasih," ucap Rumi

__ADS_1


Keduanya pun duduk bersama. Raisa menemani Rumi makan sarapan buatannya hingga habis.


"Tapi, dari mana kau tahu kalau aku belum sarapan?" tanya Rumi


"Kita terburu-buru bertemu seperti ini, aku menduga kau pasti melewatkan sarapanmu. Jadi, kubuatkan saja sarapan dan membawanya untukmu," jawab Raisa


"Lalu, apa kau juga belum sarapan sepertiku? Kalau begitu, kita makan bersama saja nasi gorengnya," ujar Rumi


"Tidak, itu kubuatkan untukmu. Tadi aku sudah makan bersamaan saat membuatkanmu nasi goreng ini," kata Raisa


"Tapi, masa aku makan sendiri? Ayo kita makan bersama. Biar kusuapi, buka mulutmu ... " Rumi menyendok sesuap nasi goreng dan menyodorkannya pada Raisa.


"Tapi, nanti kau kekurangan." Raisa hendak menolak suapan nasi dari Rumi.


"Tidak akan." Namun, Rumi bersikeras ingin menyuapi Raisa.


Akhirnya Raisa menurut membuka mulutnya dan menerima suapan nasi dari Rumi.


"Seperti ini, kan, lebih baik. Kita makan berdua," kata Rumi


"Hmm. Terima kasih," ucap Raisa


Usai sarapan, Raisa pun membawa Rumi pergi.


"Kita mau ke mana?" tanya Rumi


"Ke mana lagi, tentu saja jalan-jalan," jawab Raisa


Raisa menarik Rumi masuk ke dalam mall.


"Kau tidak perlu membelikan pakaian untukku. Jangan hamburkan uangmu," tolak Rumi saat Raisa sedang memilihkan pakaian untuk Rumi.


"Bukan menghamburkan uang, tapi hadiah untuk ulang tahunmu. Lagi pula, aku akan beli pakaian untukku juga kok," ucap Raisa


"Pilihlah pakaian yang berwarna sama supaya pakaian kita terlihat serasi," sambung Raisa berbisik sambil tersenyum.


"Baiklah." Akhirnya Rumi hanya bisa menuruti ucapan Raisa.


Raisa merasa senang karena bisa membujuk Rumi. Keduanya pun berbelanja bersama. Selain pakaian, mereka berdua pun membeli aksesori seperti topi, kacamata, dan jam tangan.


Alih-alih membeli barang couple ... karena keduanya bukan lagi couple, Raisa hanya menyarankan memilih barang dengan warna yang sama. Jadi, meski bukan couple, keduanya tetap terlihat serasi.


Setelah berbelanja, keduanya masuk ke dalam arena time zone untuk bermain.


Usai bermain, Raisa melihat ada photobox tak jauh dari sana.


"Rumi, kita ke sana dulu." Raisa langsung menarik Rumi masuk ke dalam photobox.


"Untuk apa kita masuk ke dalam kotak kecil ini?" tanya Rumi


"Ayo kita berfoto." Raisa sangat antusias mengajak Rumi berfoto.


Raisa menyuruh Rumi untuk bergaya. Namun, gayanya kaku dan ekspresinya tetap datar. Raisa jadi sering tertawa.


.



Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2