Bertemu Dan Jatuh Cinta

Bertemu Dan Jatuh Cinta
[Season 2] 38 - Memanah Sambil Berkuda.


__ADS_3

Raisa berulang kali membantu teman-temannya yang masih kesulitan berlatih menunggang kuda. Namun, ia juga berulang kali melirik lapangan latihan memanah. Mungkin dalam benaknya, ia ingin segera berlatih memanah.


"Raisa, kamu bukan pelatih sungguhan. Kamu gak perlu terus membantu kami berlatih. Kamu lakukan aja hal yang kamu mau," ucap Nilam


"Gak apa kok. Selain memang mau membantu, kan, bakal seru kalau kita bisa jadi mahir sama-sama," kata Raisa


"Tapi, dari tadi kamu terus lihat ke arah lapangan memanah. Kamu pasti mau coba berlatih memanah, kan?" tanya Maura


"Terlihat jelas sekali, ya?" Raisa yang malu niat hatinya ketahuan hanya bisa terkekeh pelan.


"Kalau kamu emang mau coba berlatih memanah, ya udah sana. Kamu bukan pelatih sungguhan, jadi kamu gak perlu repot-repot ikut melatih kami. Kami bisa berlatih sama pelatih di sini," ujar Nilam


"Ya. Kami pasti berlatih dengan baik dan segera menyusul kamu di lapangan memanah," kata Maura


"Kau ikut denganku ke lapangan memanah saja, Raisa. Ayo!" Sandra langsung menarik lengan Raisa untuk membawanya menuju ke lapangan memanah.


Raisa pun meninggalkan beberapa temannya yang masih berlatih berkuda dan beralih ke lapangan memanah. Kuda yang ditunggangi sebelumnya pun ditinggalkan di padang rumput di sana untuk makan sambil mengikatnya ke tiang-tiang yang memang sudah tersedia.


"Teman-temanmu sudah menyuruhmu untuk melakukan hal yang kau mau, maka lakukan saja dan ikuti kata mereka. Kau jangan malah membuat mereka merasa segan denganmu dan seolah merasa telah memaksa menahanmu di sana. Mereka juga berharap kau bisa bersenang-senang di sini," ucap Sandra


"Baiklah. Kau benar juga," kata Raisa


"Oh, ya, kali ini kau lebih cepat mempelajari cara berkuda dari pada saat pertama kali, ya, Sandra. Kau sudah mahir sekarang," sambung Raisa


"Saat pertama kali itu aku sempat merasa agak trauma setelah ada insiden kuda yang kutunggangi terkejut dengar ular saat kita berkeliling desa sambil menunggang kuda dan berakhir dengan aku yang harus lompat dari atas punggung kuda. Sekarang tidak ada insiden seperti itu lagi, jadi aku bisa lebih cepat berlatih dan menguasai cara berkuda. Masih belum bisa dikatakan mahir juga," tutur Sandra


"Sekarang, ayo kita coba cara memanah," sambung Sandra


Raisa mengangguk dengan antusias. Saat itu, Rumi ikut menghampiri Raisa di lapangan memanah.


"Raisa, sekarang kau ingin berlatih memanah?" tanya Rumi


"Ya. Aku sudah tak sabar ingin mencobanya," jawab Raisa


"Neng Raisa, mau coba latihan memanah? Pilih busurnya dulu, Neng. Mau yang kayu atau yang besi?" tanya Pak Wisnu


"Yang lebih ringan aja. Mungkin yang kayu," jawab Raisa yang langsung meraih busur berbahan kayu yang telah dibawa oleh Pak Wisnu.


"Beratnya gak jauh beda kok, Neng. Buat pemula emang kami sediakan yang paling ringan. Tapi, yang paling ringan pun dibuat yang paling kokoh supaya gak timbul kerusakan," ucap Pak Wisnu


Raisa mengangguk-anggukkan kepalanya tanda mengerti.


Di sana, selain dirinya, Sandra dan Rumi, juga sudah ada Sanari, Amon, Aqila, Morgan, Devan, dan Marcel.


"Pantas saja kau menarikku ke sini, Sandra. Ternyata, pacarmu sudah lebih dulu ada di sini," bisik Raisa


"Oh, iya, aku lupa. Hal ini masih belum terungkap," bisik Raisa yang keceplosan.


"Kau sudah tahu, ya, Raisa? Memang benar kata Ian ... tidak ada hal yang bisa disembunyikan darimu," sahut Sandra ikut berbisik.


Sandra memang sudah berpacaran dengan Marcel dan hubungan mereka masih belum diungkapkan. Namun, Raisa telah lebih dulu mengetahuinya dengan mudah. Berhadapan dengan kemampuan sihir yang Raisa miliki memang tidak bisa ada yang disembunyikan alias semua hal akan terungkap.


Setelah berbisik-bisik rumpi dengan Sandra, Raisa langsung beralih pada mode serius untuk berlatih memanah.


Dengan anak panah yang sudah disediakan, Raisa menarik busurnya beserta anak panah yang telah berada di dalam genggamannya.


Syuuuhh~


Jleb!


Dalam sekali coba, Raisa mampu mengenai tepat di tengah sasaran.


"Kami juga sudah mencobanya. Ini lebih mudah dari pada berkuda karena kita sudah sering membidik sasaran menggunakan belati," ucap Devan


"Ternyata, semuanya udah jago karena udah mahir membidik pakai belati, ya. Kalau begitu, tahap memanah selanjutnya mungkin bakal lebih susah," ujar Pak Wisnu


Pak Wisnu pun memimpin jalan untuk beralih ke sasaran berikutnya. Jika sebelumnya sasaran memanah adalah papan target yang berada dalam kategori mudah, sasaran selanjutnya adalah kendi.


Yang membuat memanah menjadi sulit adalah ketika memanah tidak hanya menancapkan anak panah pada sasaran, tapi harus menembus sasaran. Ini adalah tahap berlatih memanah selanjutnya.


Tahap ini juga telah dibagi menjadi 4 tahapan sasaran. Yaitu, kendi yang kosong, kendi berisi air, kendi berisi pasir, dan kendi berisi tanah.


Semakin berat dan padat sasaran yang harus ditembus, maka akan semakin sulit dan berkurang tingkat keberhasilan memanah hingga menembus dan menghancurkan sasaran.


"Sasaran kali ini bukan papan, tapi kendi ... ada yang kosong, berisi air, pasir, dan tanah. Kalian harus memanah menembus kendi hingga hancur," ucap Pak Wisnu


"Kali ini pun juga akan mudah," kata Morgan dengan penuh percaya diri.


Morgan pun menjadi orang yang pertama kali mencoba. Semua kendi yang menjadi sasaran berhasil dihancurkan oleh Morgan yang memanah hingga menembusnya, kecuali satu sasaran terakhir. Yaitu, kendi berisi tanah. Anak panah Morgan hanya berhasil menancap pada kendi berisi tanah itu.


"Sedari dulu kau hanya mudah bicara, tapi fokusmu kurang karena terlalu meremehkan. Sasaran itu juga sama seperti musuh. Kalau kau terlalu meremehkan musuh, maka hasilnya tidak akan terlalu baik," ucap Aqila

__ADS_1


Raisa akan menjadi yang kedua mencoba. Ia pun menarik busur beserta anak panahnya.


"Selain fokus, kita juga harus menambah kekuatan," gumam Raisa


Raisa memanah dengan cepat satu per satu keempat sasaran.


PRANG


PRANG


PRANG


PRANG


Keempat kendi yang menjadi sasaran berhasil dihancurkan. Selain kendi yang kosong, kendi yang telah terisi, isinya langsung berserakan.


"Ternyata emang jago. Bagaimana kalau yang jadi sasarannya gak diam di tempat?"


"Aku mau coba," kata Raisa


Kali ini Raisa dihadapkan dengan sasaran yang bergoyang dan berputar. Bergerak ke kanan, ke kiri dan ke atas, ke bawah.


Dengan mengarahkan fokus dan kekuatannya, kali ini pun Raisa berhasil memanah hingga tepat mengenai sasaran.


"Berhasil. Aku bisa," girang Raisa


"Neng Raisa, mau coba yang lain lagi?" tanya Pak Wisnu


"Ya. Mau dong," jawab Raisa


Raisa pun bersiap untuk mencoba tantangan berikutnya. Saat ia hendak beranjak, ia melihat Rumi sedang merekamnya dengan ponsel yang ia berikan pada lelaki itu.


"Rumi, kau sedang apa? Kau merekam aku?" tanya Raisa


"Ya, aku ingin mencobanya. Aku ingin merekam video tentangmu untuk kulihat saat sedang rindu," jawab Rumi


"Sejak kapan kau mulai merekam?" tanya Raisa


"Sejak awal kau mulai latihan memanah," jawab Rumi


"Apa video yang kau dapat terlihat bagus?" tanya Raisa


"Tentu saja. Videonya terlihat indah karena kau yang mengisinya," jawab Rumi


Rumi mengangguk. Saat Raisa berlalu pergi, Rumi terus mengikutinya sambil memegangi ponsel untuk merekamnya.


Raisa terus mencoba tantangan berikutnya dalam latihan memanah. Sampai akhirnya, Raisa mencoba pelatihan yang terakhir.


"Sepertinya saya sudah mencoba sampai tantangan yang terakhir," kata Raisa


"Sebenarnya masih ada yang terakhir, tapi jarang ada orang yang berhasil di tahap terakhir ini," ucap Pak Wisnu


"Coba saya tebak ... apa itu adalah kami harus memanah sambil menunggang kuda? Itu juga termasuk latihan untuk berburu, kan?" tanya Raisa


"Itu benar," jawab Pak Wisnu


"Meski begitu, saya tetap mau coba. Biar saya ambil Putri dulu," ujar Raisa


Raisa pun beralih ke padang rumput tempat para kuda yang beristirahat untuk makan. Di sana, Raisa menghampiri Putri, kuda yang ditunggangi sebelumnya.


"Halo, Putri. Apa kau sudah puas makan? Sudah siap beraksi bersamaku lagi?" Raisa mengajak kudanya, Putri, bicara.


Putri, kuda yang memang sudah akrab dengan Raisa pun seolah menyahuti dengan ringkikan suara khas kuda. Kuda itu juga manja dengan mengosok-gosokkan kepalanya pada tubuh Raisa.


"Kuanggap sikap manjamu ini sebagai tanda setuju untuk kembali beraksi denganku. Ayo, kita pindah ke tempat latihan berburu."


Raisa pun menunggangi kuda tersebut untuk segera pindah tempat.


"Raisa, kamu mau ke mana lagi?" tanya Maura


"Aku mau berlatih memanah sambil menunggang kuda. Latihan berburu," jawab Raisa


"Aku pergi dulu, ya," sambung Raisa yang beranjak pergi sambil menunggang kuda.


"Kita ikut Raisa aja, yuk," ajak Nilam


"Kan, latihan berkuda di sini belum selesai," kata Maura


"Latihan berkudanya udah dulu, kita juga gak mungkin langsung jago berkuda. Mending kita rekam latihannya Raisa biar bisa kita pakai untuk konten baru di youtube. Supaya kontennya gak selalu cover lagu dan lebih bervariasi," ucap Nilam


"Oke, deh. Aku juga udah capek, nih." Maura pun akhirnya setuju untuk berpindah tempat bersama Nilam demi menyaksikan dan merekam video saat Raisa berlatih.

__ADS_1


Raisa pun sudah bersiap dengan kudanya untuk berlatih memanah sambil menunggang kuda alias latihan berburu.


Mendengar dan melihat Raisa akan menjadi orang yang pertama mencoba latihan yang cukup sulit kali ini, semua pun berbondong-bondong berpindah tempat untuk ikut menyaksikannya seperti Maura dan Nilam.


"Neng Raisa, udah berhasil di setiap latihan dan tantangan yang ada. Kalau Neng Raisa berhasil lagi di tahap paling akhir ini, tempat pelatihan kami akan kasih hadiah. Neng Raisa boleh pilih satu set busur dan anak panah yang ada di sini. Terserah mau pilih yang mana ... itu gratis sebagai hadiah untuk Neng Raisa nantinya," ujar Pak Wisnu


"Saya gak mengharapkan hadiah apa pun, tapi saya tetap akan mencoba yang terbaik sampai akhir," ucap Raisa


"Walau pun gagal di percobaan pertama, akan diberi satu kesempatan lagi untuk mengulang. Hanya ada satu kesempatan kalau gagal. Semoga berhasil," kata Pak Wisnu


"Sebagai panduan ... Neng Raisa harus memanah sasaran yang ada di batang pohon, yang digantung di ranting pohon atau yang tersembunyi di bawah pohon atau semak-semak. Rutenya cukup mengelilingi lapangan ini. Gak harus selalu mengenai tepat sasaran, tapi akan ada poin yang dihitung dengan menghitung jumlah panah yang kena sasaran. Jika memenuhi poin lulus, tetap dianggap lulus meski gak semuanya mengenai sasaran," sambung Pak Wisnu


Raisa mengangguk mengerti.


"Saya udah mengerti. Saya akan langsung mulai sekarang," kata Raisa


"Kanu udah siapin handicam-nya, kan, Maura?" tanya Nilam yang berniat merekam video saat Raisa berlatih berburu.


"Udah dong. Untung aja kita gak pernah lupa dan selalu bawa handicam selama sama-sama Raisa," jawab Maura


"Putri, bekerja samalah denganku. Kau lihat lapangan yang luas di hadapanmu ini, kan? Kau cukup mengelilinginya dengan tetap mengatur keseimbanganmu. Ayo, kita takhlukkan lapangan latihan berburu ini bersama-sama." Lagi-lagi Raisa mengajak kudanya bicara.


Entah karena memiliki kemampuan sihir suci yang nembuatnya jadi bisa dekat dan bicara dengan hewan apa pun atau apa ... sepertinya setiap diajak bicara, si Putri seolah mengerti dan patuh dengan apa yang dikatakan oleh Raisa.


"Siapin kameranya san mulai rekam sekarang," kata Nilam


"Oke ... siap," patuh Maura mengaktifkan mode rekam handicam milinknya.


Hiyaah~


Raisa pun memacu kudanya untuk berlari di kecepatan rata-rata yang tidak terlalu cepat atau pun lambat.


Di atas kuda, setelah melewati garis permulaan Raisa langsung melepas tali kendali kudanya dan mengatir keseimbangannya untuk beralih menggunakan busur dan anak panah untuk memanah sasaran yang sudah disediakan di sekeliling lapangan tersebut.


Syuuuhh~


Jleb ...


Jleb!


Sasaran pertama, kedua ... Raisa berhasil mengenai tepat pada posisi tengah sasaran. Dan ia terus melanjutkannya dan melakukannya dengan baik.


Saat harus jalan berbelok, Raisa kembali mengatur tali kendali kuda dan mengendalikan laju dan cara berjalan kudanya dengan baik. Gerakan tangannya sangat cepat antara mengatur kendali kuda dengan saat ia harus beralih untuk memanah sasaran.


Dengan tetap tenang, fokus, mengatur kecepatan saat memanah, mengendalikan laju kuda, dan tetap menjaga keseimbangan saat berada di atas kuda ... Raisa akhirnya tiba di garis awal yang juga merupakan garis akhir. Raisa pun menghentikan laju kudanya.


"Sudah selesai, tapi sepertinya tembakan anak panahku ada yang meleset," kata Raisa


"Bisa menunggang kuda sambil memanah sampai ke garis finish aja udah terbilang hebat, Neng ... karena pelatihan ini memang sulit. Para pelatih di sini bakal periksa dan hitung berapa banyak sasaran yang berhasil Neng tembak pakai anak panah," ucap Pak Wisnu


Berkoordinasi dengan para pelatih yang dikerjakan di sana, Pak Wisnu menyuruh para pelatih untuk menghitung poin dan menjadi juri untuk Raisa yang mengikuti pelatihan berburu di sana.


"Kami udah menghitungnya. Dari semua sasaran yang ada, Neng Raisa berhasil mengenai podisi tengah tepat sasaran sebanyak 47 dari 50 sasaran. 3 lainnya juga mengenai sasaran, tapi gak pada posisi tengah tepat sasaran. Yang artinya cuma 3 yang meleset dan terhitung lulus," ungkap Kang Arif, seorang pelatih di sana.


"Hebat, Raisa!" sorak Chilla yang menonton aksi Raisa sambil memakan camilan.


"3 yang meleset itu pasti saat aku harus berbelok. Sayang sekali ... padahal sudah hampir semuanya tepat sasaran," ujar Raisa


"Itu udah amat bagus, Neng. Poin yang diperlukan untuk lulus latihan ini, yaitu 40 mengenai sasaran. Neng Raisa, emang hebat! Dan tetap dapat hadiahnya," kata Pak Wisnu


"Ya, baiklah. Segini pun cukup. Saya juga sudah merasa lelah terus berlatih sejak tadi," ucap Raisa


Rumi pun menghampiri Raisa.


"Turunlah, Raisa. Kau harus istirahat," kata Rumi


Raisa mengangguk dan beranjak turun dari atas punggung kuda.


"Kerja bagus, Putri. Kau kuda yang baik," puji Raisa yang lagi-lagi mengajak kuda bicara.


"Udah dapat semua gambarnya? Hasil rekamannya bagus gak?" tanya Nilam


"Semuanya udah direkam. Kamu bisa lihat sendiri hasilnya," jawab Maura


"Bagus. Ini bisa dipakai buat highlight di instastory buat bociran konten baru di channel youtube Raisa," kata Nilam


"Siapa dulu dong perekamnya ... " puji Maura membanggakan diri sendiri.


.


__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2