Bertemu Dan Jatuh Cinta

Bertemu Dan Jatuh Cinta
[Season 2] 17 - Bukan Mimpi.


__ADS_3

"Sang Dewa!"


Melihat Sang Dewa muncul dan ke luar dari persembunyiannya, Raisa dan Rumi saling mendekat dan menggenggam tangan satu sama lain bermaksud untuk saling melindungi satu sama lain.


Di sana termasuk sepi hingga Sang Dewa langsung melihat ada 6 orang yang berada di sana. Saat melihat Rumi, Sang Dewa langsung tersenyum menyeringai.


"Tumbalku! Ternyata, kau datang sendiri menyerahkan dirimu padaku. Aku akan datang menghampirimu untuk menjenputmu atau kau bisa datang sendiri padaku. Kemarilah ...."


Rumi merasa sangat tidak sudi disebut sebagai tumbal. Ia pun hendak melontarkan kemarahannya. Namun, niatnya berbicara sudah didahului dengan Raisa yang bicara sambil meledak-ledak.


"Siapa juga yang kau sebut sebagai tumbalmu!? Rumi, takkan pergi ke mana pun dan akan tetap di sini. Takkan kubiarkan kau mengambilnya dari sisiku. Dasar, Iblis!" teriak Raisa penuh amarah.


Sang Dewa yang hanya fokus pada Rumi sebagai target tumbalnya, tidak menghiraukan yang lain. Hingga ia tak menyadari keberadaan Raisa yang ada di sana bahkan sangat dekat dengan sosok incarannya.


Senyum Sang Dewa pun memudar dan digantikan dengan keterkejutan dan kembali mengeluarkan senyum kecut.


"Kau ... gadis 4 tahun lalu itu! Ternyata, kau masih hidup? Hebat sekali!"


"Ya, aku masih hidup. Takdir begitu kejam padamu dan lebih memihak padaku. Sudah kubilang, takkan kubiarkan Rumi menjadi tumbalmu! Enyahlah kau dari sini!" teriak Raisa lebih keras dari sebelumnya.


Setelah berlalu 4 tahun, amarah Raisa kembali meledak karena Sang Dewa.


Raisa bisa menerima jika kemampuan sihir miliknya menghilang karena dirampas, tapi ia takkan bisa terima jika Rumi ... orang yang dicintainya terluka atau direnggut dari sisinya.


"Rupanya, ini Sang Dewa yang membuatnya kehilangan seluruh kemampuan sihir. Berani sekali dia berkata-kata seperti itu di hadapan seseorang yang telah merampas seluruh kemampuan sihir miliknya," batin Amon


Sang Dewa yang berdiri di atas bukit langsung turun ke bawah dengan satu langkah kakinya.


Devan, Ian, dan Chilla pun satu per satu berdiri di depan Raisa dan Rumi untuk melindungi dan menghalanginya keduanya yang telah menjadi sasaran target yang diincar Sang Dewa. Sedangkan, Amon tetap berdiri di dekat Rumi dan Raisa.


"Gadis sombong! Kau masih saja berani bicara omong kosong di hadapanku! Kau masih tidak sadar dengan posisimu, ya? Kau masih berani berteriak dan menunjukkan kemarahan dan ketidak-sukaanmu padaku setelah kurampas seluruh kemampuan sihirmu!? Sadarlah, kau tidak punya apa-apa lagi dan sudah tidak berdaya! Kau yang seperti ini hanya bagaikan semut yang mudah untuk kupijak sampai mati!"


"Jangan mendekat! Atau kami akam menyerang!" teriak Devan memperingatkan.


"Kalian pun sama saja! Hanya seperti sampah yang mengganggu pandangan! Minggir!!"


Sang Dewa melangkah maju dengan santai.


Melihat itu, Devan memggunakan jurus sihir pengendali bayangan miliknya untuk menahan pergerakan Sang Dewa supaya tidak bisa lebih mendekat.


Namun, dengan mudahnya Sang Dewa terbebas dari jeratan sihir pengendali bayangan milik Devan dan terus berjalan mendekat.


"Kau pikir sihir semacam itu akan mampu menghentikan aku!? Sudah kubilang ... MINGGIR!!"


Saat pertama kali bertemu dengan Raisa, gadis itu juga pernah dengan mudah terbebas dari jeratan sihir pengendali bayangan milik Devan. Kemampuan sihir yang digunakan Sang Dewa untuk terbebas dari jeratan sihir pengendali bayangan aslinya pun milik Raisa. Jadi, Devan pun tidak merasa heran lagi.


"Kemampuan sihir itu memang merepotkan," batin Devan


Sang Dewa menggunakan kemampuan sihirnya untuk menyingkirkan tiga orang yang menghalanginya dengan menggerakkan tanah yang dipijak Devan, Ian, dan Chilla agar ketiganya menyingkir sejauh-jauhnya.


Kemampuan sihir yang kini dimiliki Sang Dewa memang tidak bisa digunakan untuk membahayakan dan melukai orang. Namun, jika hanya untuk membuat orang menyingkir itu masih bisa dan mudah dilakukan.


"Amon, lindungilah Rumi. Jangan sampai terjadi sesuatu padanya atau semuanya akan menjadi gawat," ucap Raisa berpesan.


"Raisa, kau jangan berbuat nekat ... " pesan Rumi


"Setelah 4 tahun, dia pasti ingin kembali berurusan denganku. Tidak apa jika aku kehilangan seluruh kemampuan sihir, tapi jangan sampai dia juga merenggut dirimu dari sisiku. Takkan kubiarkan itu terjadi," ucap Raisa

__ADS_1


Sang Dewa pun menggerakkan tanah di bawah kaki Raisa agar gadis itu mendekat dengan sendirinya ke arahnya.


Genggaman tangan Raisa dan Rumi pun terlepas begitu saja.


"Kau membawa pedang, rupanya. Kalau begini, akan semakin mudah untuk membunuhmu. Ah, tidak! Kau akan mati dengan tanganmu sendiri!"


"Raisa!" Rumi memekik kuat dan hendak berlarian ke arah Raisa dan Sang Dewa.


Amon pun menghalangi dan menahan Rumi yang hendak pergi.


"Apa-apaan ini? Ada apa denganmu, Amon? Jangan menghalangiku, aku ingin menghampiri Raisa!" teriak Rumi


"Itu sangat berbahaya untukmu! Tetaplah di sini," kata Amon


"Kau tidak lihat!? Raisa-lah yang sedang dalam bahaya sekarang!" Rumi masih berusaha untuk pergi. Namun, Amon menahannya dengan sekuat tenaga.


"Kau tidak ingat? Dia tidak bisa menyakiti Raisa! Kemampuannya tidak akan mempan atau berpengaruh pada Raisa. Kau tenang sajalah," ujar Amon


Sang Dewa menggunakan kemampuan sihir pengendali darah untuk mengendalikan tubuh Raisa untuk melukai diri gadis itu sendiri dengan menggunakan pedang yang dibawanya.


"Kali ini, kau akan membunuh dirimu sendiri tepat di hadapanku!"


Dengan kendali Sang Dewa, Raisa memegang pedang miliknya ke arah dirinya sendiri dan siap menancapkan pedang tersebut ke arah jantungnya sendiri.


Raisa terlihat berusaha melepaskan dirinya dari pengaruh sihir pengendali darah yang digunakan Sang Dewa padanya. Namun, sebenarnya Raisa hanya sedang menahan rasa sakit dari pengaruh sihir pengendali darah yang menguasai dirinya. Karena ia tahu dan merasa percaya diri bahwa ia takkan terluka dengan ulah Sang Dewa.


Saat mata pedang sudah hampir menembus dada Raisa, gerakan Raisa karena pengaruh sihir pengendali darah yang digunakan Sang Dewa pun berhenti. Raisa pun bisa kembali mengendalikan gerakannya sendiri tanpa terpengaruh sihir Sang Dewa.


"Bagaimana mungkin!? Ini mustahil!!"


"Tidak ada yang mustahil! Kaulah yang lemah," ucap Raisa


Semua yang melihat dan sempat merasa tegang pun bisa kembali merasa lega. Namun, mereka masih tidak bisa merasa tenang.


Dapat serangan dari Raisa, tebtu saja Sang Dewa tidak tinggal diam. Sang Dewa membalas serangan Raisa. Meski harus menyerang dengan tanpa menggunakan kemampuan sihir, Sang Dewa tetap melawan dengan cara seperti pertarungan biasa.


"Katakan padaku ... kenapa kemampuan sihir ini sangat tidak berguna!?"


"Karena sejak awal, niatmu menggunakan kemampuan sihir itu sudah salah!" jawab Raisa


"Biar pun dengan tanpa kemampuan sihir, aku masih bisa membunuhmu dengan kedua tanganku ini! Karena kau hanyalah manusia lemah yang ada di hadapanku ... Sang Dewa!!"


Sang Dewa yang marah pun menyerang balas ke arah Raisa dengan kekuatan penuh dan tanpa ampun.


"Apakah kita harus membantu Raisa?" tanya Chilla


"Sepertinya tidak perlu. Raisa terlihat bisa menanganinya dan tidak merasa kesulitan. Kalau kita ikut campur, mungkin hanya akan memecah fokusnya dan mengganggunya," jawab Devan


"Kalau begitu, kita lindungi Rumi saja seperti yang sudah ditugaskan paling utama. Kalau Raisa terlihat kesulitan, baru kita maju untuk membantunya," ujar Ian


Saat itu Aqila dan Morgan datang menghampiri untuk bergabung dengan mereka semua.


"Sang Dewa, ada di sini!" kata Morgan


"Dan, Raisa sedang melawannya seorang diri. Yang lain hanya melindungi Rumi," ucap Aqila


BUGH!

__ADS_1


AKH~~


Raisa terkena pukulan keras Sang Dewa hingga terseret mundur dan berakhir berlutut di atas tanah sambil memegangi pedang miliknya.


"Sudah kubilang ... kau hanyalah manusia lemah! Percuma saja kau membawa pedang, itu tidak akan membantumu!"


Melihat Raisa seperti itu, Rumi langsung berlarian ke arahnya.


Aqila dan Ian pun mendekati Raisa untuk mengobatinya dengan sihir medis. Sedangkan yang lain ... Morgan, Amon, Devan, dan Chilla pun maju menyerang Sang Dewa menggantikan Raisa.


"Raisa, bagaimana ini?" tanya Rumi dengan cemas.


"Kami akan memulihkan Raisa," ujar Ian


"Rumi, kau tenang saja ... " kata Aqila


Raisa terlihat kesakitan sambil memegangi bagian tubuhnya yang terkena pukulan Sang Dewa.


..."Padahal hanya terkena satu pukulan saja. Kenapa rasanya aku sudah hampir kehilangan kesadaran?" batin Raisa...


Rumi yang merasa geram hendak pergi untuk ikut melawan Sang Dewa membalaskan perbuatannya yang membuat Raisa terluka lagi. Namun, Raisa meraih tangan Rumi untuk menahan kepergiannya.


"Tetaplah bersamaku di sini, jangan pergi ... " lirih Raisa


"Baiklah," patuh Rumi


Raisa pun akhirnya pingsan tak sadarkan diri.


"Raisa, sadarlah! Jangan buat aku khawatir ... " mohon Rumi


"Lukanya tidak parah, tapi kesadarannya terus menurun," ucap Aqila


"Tapi, kami masih punya cara untuk membuatnya sadar. Tenangkan dirimu dulu, Rumi," kata Ian


Di bawah alam sadarnya, Raisa kembali berada di dalam ruang hampa yang gelap dan sepi seperti dalam mimpinya.


"Mimpi lagi!?"


"Aku tidak punya waktu untuk bermimpi! Aku harus kembali untuk mengakhiri perbuatan Sang Dewa Iblis itu! Kembalikan kesadaranku! Kumohon ... "


Raisa berteriak keras dalam ruang hampa tersebut. Suaranya hanya menggema dan tidak ada siapa pun yang menyahuti dirinya.


"Ini bukanlah mimpi. Raisa, anggap saja kau sedang berada di alam bawah sadarmu."


"Siapa yang bicara itu? Ke luarlah dan tunjukkan padaku cara untuk bisa kembali sadar!"


Berbeda dari cahaya api biru kecil yang sebelumnya ditemuinya di dalam mimpi, kini api merah besar perlahan sedang mendekat ke arah Raisa.


"Phoenix ... Helio, apa itu kau?"


"Tuanku ... Raisa."


"Bagaimana mungkin!? Harusnya kau ikut lenyap bersama saat aku kehilangan seluruh kemampuan sihir. Sudah kuduga, ini pasti mimpi! Aku ingin cepat sadar dan ke luar dari sini!"


.


__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2