Bertemu Dan Jatuh Cinta

Bertemu Dan Jatuh Cinta
50 - Kesalah Pahaman Yang Bermula.


__ADS_3

Rumi terus menyerang Raisa dengan tatapan tajamnya yang sulit diartikan. Sedangkan, Raisa terus menghindari serangan dengan tatapan hampa seperti pasrah...


Raisa tau jika Rumi sedang berusaha melampiaskan rasa kesalnya, walaupun ia tak tau apa penyebab rasa kesal Rumi itu. Apa dirinya membuat Rumi kesal padanya? Apa kesalahan yang telah ia lakukan?


...'Lakukanlah jika ini membuatmu merasa lega. Seranglah aku, jika bisa membuatmu melampiaskan kekesalanmu. Tak peduli jika sampai aku terluka... Yang penting kau mencapai kepuasanmu~ Aku rela!' Batin Raisa...


"Apa yang kau lakukan!? Balik seranglah aku, Raisa!" Pinta Rumi


"Maaf, Rumi... Maaf, jika aku tidak menyadari perilakuku yang telah membuatmu merasa kesal. Terlebih lagi, maaf! Aku tidak bisa membalas menyerangmu. Karena aku tidak bisa melukai kalian yang berharga bagiku, terutama kau. Lampiaskan emosi dan rasa kesalmu! Tidak peduli bahkan jika sampai terluka, aku tidak akan menyalahkanmu. Lakukanlah apa saja yang membuatmu merasa puas dan lega~ Aku rela!" Lirih Raisa dengan tatapan sendu, seperti pasrah menerima apa yang akan terjadi.


DEG!


Mendengar perkataan Raisa yang begitu lirih, membuat hati Rumi seakan teriris sembilu... Hingga membuatnya tersadar akan apa yang telah diperbuatnya. Rasa kesal dan sesak yang memenuhi dadanya saat melihat kedekatan Raisa dan Dennis saat keduanya fokus dalam pelajaran yang diajarkan pada Raisa, telah membuatnya salah bertidak. Dirinya telah salah berbuat semaunya karena dibutakan oleh rasa cemburu yang dirinya sendiri tidak tau jika telah merasa seperti itu...


'Apa yang telah kulakukan!? Aku merasa aneh saat melihat Raisa dekat dengan Dennis... Dan ketidak-sukaanku saat melihat kedekatan mereka bersama, malah membuatku menyerang Raisa! Sebenarnya apa yang terjadi padaku? Kenapa diriku seperti kehilangan akal?!' Batin Rumi


Tidak ada yang tau apa yang Raisa katakan saat Rumi memintanya untuk membalas serangannya. Raisa berucap dengan sangat pelan sampai tak ada yang mampu mendengarnya selain lawannya itu sendiri, Rumi.


Yang jelas, perkataan Raisa membuat pertarungan di antara keduanya menjadi semakin tidak stabil...


Rumi yang telah tersadar akan apa yang sedang diperbuatnya membuatnya menjadi tidak fokus sampai gerakannya tak menentu arah. Raisa yang menjadi lawannya pun hanya hanya mampu terus menatapnya. Raisa menyadari... Rumi sudah mulai tersadar dan perasaan kesalnya perlahan berkurang sampai benar-benar hilang. Namun, gerakannya malah hilang kendali karena berusaha menyadarkan dirinya sendiri.


"Aku menerima apapun yang kau perbuat..." Ujar Raisa pelan.


Raisa tersenyum tipis meyakinkan Rumi jika dirinya baik-baik saja menerima apapun yang Rumi perbuat. Itu membuat Rumi benar-benar tersadar!


Namun, karena pikirannya yang kembali sadar... Rumi malah kehilangan kendali pada gerakannya. Hingga tak sadar serangannya sampai mengenai Raisa.


BUGG...


BRUK~


Raisa masih berusaha untuk menghindar. Namun, tak berhasil... Kali ini serangan Rumi berhasil mengenainya. Tepat pada pipi di sudut bibirnya!


Raisa yang berusaha menghindari serangan itu. Namun, gagal! Itu membuatnya kehilangan keseimbangan tubuhnya... Membuatnya terjatuh~


UGH~


Raisa terjatuh dalam posisi tertidur terlentang. Saat terjatuh, kedua matanya tertutup. Ia meringis merasakan sakit pada kepala belakangnya yang menyentuh tanah dengan cukup keras!


Raisa tak langsung bangkit. Ia terus merasakan sakit pada tubuhnya akibat terjatuh dari posisi berdiri. Ia memilih untuk merilekskan tubuhnya sebelum bangkit beranjak dari posisinya terjatuh sekarang.


Saat itu, Rumi tercengang! Ia telah melukai Raisa... Membuatnya sampai terjatuh. Ia benar-benar sudah tersadar dari aksi gilanya. Ia menyesal telah berbuat seperti ini... Ia tak mengerti, mengapa rasa kesalnya sampai mendorongnya untuk berbuat seperti ini?


Rumi berjongkok di hadapan Raisa yang terjatuh. Mengulurkan tangannya pada Raisa yang belum membuka matanya yang terpejam kesakitan...


"Raisa, apa kau baik-baik saja? Maafkan aku! Kau tidak apa?" Tanya Rumi yang khawatir.


"Ini tidak seberapa... Aku baik-baik saja! Kau tidak perlu minta maaf, kau tak bersalah." Jawab Raisa tanpa melihat Rumi karena matanya masih terpejam.


Dan, Raisa langsung membuka matanya... Bahkan matanya terbelalak saat merasakan sesuatu menyentuh bahunya.


Rumi menunduk penuh sesal, membenamkan wajahnya pada bahu Raisa dalam posisinya yang terjatuh. Rumi merutuki dirinya sendiri karena telah menyebabkan Raisa merasakan sakit walau tidak sampai mengakibatkan luka berdarah...


"Rumi, kau... Kenapa?" Tanya Raisa, bingung.


"Aku minta maaf... Aku sungguh menyesal, Raisa! Entah kenapa, rasa kesalku saat melihat kedekatanmu dengan Dennis yang mengajarimu tadi malah membuatku bertindak seperti kehilangan akal. Bahkan, aku sampai membuatmu terluka. Aku juga tidak mengerti, kenapa aku jadi seperti ini?" Ucap Rumi yang berbisik pada telinga Raisa saat dirinya membenamkan wajahnya pada bahu Raisa.


Blush~


Ucapan yang Rumi lontarkan membuat pipi Raisa merona merah... Raisa membekap mulutnya, tak menyangka!


...'Apa yang dikatakannya? Rumi... Dia cemburu?!' Batin Raisa saat menyadari fakta baru yang mengejutkan....


"Apa yang kau katakan, Rumi? Kau tidak perlu merasa bersalah... Aku tidak terluka. Aku tidak berdarah... Lihatlah! Aku sungguh baik-baik saja. Sangat baik!" Ujar Raisa sambil memaksakan diri untuk bangun.


Raisa pun bangkit... Membuat Rumi mau tak mau menjauhkan posisi tubuhnya yang membenamkan wajahnya pada bahu Raisa sebelumnya.


Tanpa disadarinya, teman yang lain telah mengerubungi dirinya dan Rumi.


"Kau tidak apa, Raisa?" Tanya Sanari

__ADS_1


"Kau baik-baik saja?" Tanya Aqila


"Apa ada yang terluka? Hiik~" Tanya Amy yang sudah hampir menangis karena khawatir.


"Hei, teman-teman... Aku baik-baik saja! Tidak ada luka. Walaupun memang sedikit sakit karena terjatuh. Tapi, itu hal yang wajar, bukan?" Ucap Raisa


"Kau hebat, Raisa! Selain yang terakhir tadi itu, kau tidak terkena serangan Rumi yang sangat cepat bertubi-tubi itu. Kau bisa menghindari serangannya yang sangat gesit itu. Keren sekali!" Kagum Billy


"Tapi, kau hanya menghindar tanpa membalas menyerang." Kata Devan


"Haha! Aku memang tidak tega menyerang balik. Lagipula, kalian lihat dan sadar, kan? Serangan Rumi begitu cepat, tanpa ada celah untukku membalas serangannya. Aku hanya mampu menghindarinya." Ujar Raisa


"Kau mengagumkan sekali, Raisa!" Puji Wanda


"Hei, Sandra! Kau sudah lihat kehebatan Raisa, bukan? Apa kau masih bersikeras ingin menunggu saatnya untuk bertarung dengannya?" Tanya Chilla pada Sandra.


"Gerakan Rumi memang sangat cepat... Tapi, kemampuan Raisa yang hanya mampu menghindar itu masih belum cukup untuk mengalahkanku! Aku yakin pasti bisa menang darinya! Tentunya, kami masih harus membuktikan diri masing-masing." Jawab Sandra dengan percaya diri.


"Percaya diri itu, bagus! Tapi, aku tidak akan mengalah denganmu pada saatnya tiba lho, Sandra..." Kata Raisa


"Tentu saja! Pada saatnya nanti, balaslah seranganku. Tujuanku memang ingin mengetahui langsung kemampuanmu dengan melawanmu langsung. Jadi, kau tidak boleh menahan diri." Ujar Sandra


"Hei, Raisa! Ternyata kau juga punya jiwa berkompetisi dan tidak mau mengalah juga ya... Perempuan memang mengerikan!" Ucap Ian


"Kau berlebihan, Ian! Maksudku hanya agar Sandra tidak terus menerus penasaran dengan kemampuanku. Aku akan benar-benar menunjukkan padanya, agar dia tidak lagi terus mendesakku untuk melawannya dalam pertarungan lain." Ungkap Raisa


"Jadi, itu yang sebenarnya kau rencanakan, Raisa? Itu bagus! Kau ingin membungkam Sandra sekaligus menunjukkan kemampuanmu di hadapannya. Itu cukup efektif!" Ucap Dennis


"Tentu saja! Baiklah... Kalian teruskanlah latihannya. Aku akan membuatkan kalian minuman penyegar." Ujar Raisa


Raisa pun berbalik. Beranjak masuk ke dalam vila untuk membuatkan minuman untuk yang lain semuanya...


"Raisa, kau pasti masih sakit akibat terjatuh. Kau tidak usah repot mempedulikan kami." Kata Marcel


"Aku tidak apa-apa. Tak perlu khawatir. Aku memang mau membuat yang segar-segar untuk kalian selepas berlatih nanti. Tunggu saja aku..." Ucap Raisa dari kejauhan.


"Aku akan membasuh wajahku di dalam sekalian mau membantunya. Kalian lanjutkanlah berlatihnya..." Ujar Rumi yang melangkah pergi.


.


.


.


Dari belakang, terlihat Raisa yang sedang disibukkan dengan gelas-gelas kaca...


Kali ini, Raisa hanya menyiapkan segelas sirup jeruk nan menyegarkan untuk masing-masing satu temannya yang sedang berlatih. Tak terkecuali juga untuk dirinya sendiri.


Menuangkan sirup ke dalam setiap gelas, menambahkan air juga es batu ke dalamnya, lalu mengaduknya hingga tercampur rata dengan menggunakan sebuah sendok...


Saat itu juga, ada seseorang yang menyerukan namanya. Dari suaranya, Raisa hafal betul siapa dia. Seorang lelaki yang tadi menyusulnya. Dia tak lain adalah Rumi!


"Raisa...?!" Panggilnya dengan lembut.


"Ya, ada apa?" Balas Raisa tanpa menoleh berbalik menatap lawan bicaranya.


Dirinya yang tengah sibuk menyiapkan minuman, dapat dan mempunyai alasan untuk tidak menatap si lawan bicaranya. Padahal dirinya memang enggan agar tidak lagi terbawa suasana dan tergoyahkan lagi.


"Untuk tadi, aku benar-benar menyesal dan minta maaf. Aku juga tidak tau kenapa bisa berbuat begitu." Ucapnya


"Sudahlah, Rumi... Toh, aku juga tidak terluka, aku baik-baik saja. Kau tidak perlu sampai merasa bersalah seperti ini." Ujar Raisa


"Tapi, Raisa, kenapa kau sampai berbuat seperti tadi? Dan tatapanmu tadi, apa maksud semua itu?" Tanya Rumi


"Aku tidak mengerti... Kenapa kau menanyakan itu? Aku yang berbuat seperti itu, bahkan kata-kataku tadi, aku tulus... Karena kaulah temanku! Tidak ada maksud apapun." Jawab Raisa


"Tapi, tatapanmu, kata-katamu tadi, seperti kau rela melakukan apa saja yang bisa membuatku senang dan tenang. Itu sangat berarti untukku..." Ujar Rumi


"Kau terlalu menanggapinya dengan berlebihan. Kalian semua memang berharga untukku. Selain denganmu pun, aku memperlakukan yang lain dengan sama." Kata Raisa


"Raisa, kenapa kau tidak menatapku yang bicara denganmu?" Tanya Rumi

__ADS_1


"Aku akan mengantarkan minuman ini pada yang lain." Raisa yang tak mampu menjawab Rumi pun mengalihkan pembicaraan.


Saat Raisa hendak membawa nampan berisi gelas-gelas miniman pergi, Rumi menarik tangan Raisa sebelum menyentuh nampan itu...


Dan, tangan Rumi yang lain menggapai dan menyentuh pipi pada wajah Raisa.


Sett~


CUP!


Rumi menarik Raisa untuk menghadapnya. Satu tangannya digunakan untuk menarik pergelangan tangan Raisa dan tangan lainnya ditaruhnya di pipi Raisa...


Dan, saat itu juga, Rumi mencium bibir Raisa dengan penuh kelembutan walau dengan sedikit paksaan~


Cukup lama bibir keduanya saling bertautan. Rumi hanya menempelkan bibirnya pada milik Raisa. Namun, itu sudah cukup membuat Raisa kembali terlena.


Mata Raisa terbelalak sempurna! Ia tak menyangka bahwa Rumi akan seberani ini... Ia pikir pembicaraannya dengan Rumi semalam akan membuat lelaki itu menahan diri akan perbuatan yang melibatkan perasaan.


Ternyata, tidak! Begitu rupanya... Menyadari Rumi yang bahkan sampai merasa cemburu melihat kedekatannya dengan Dennis untuk hal yang sepele, itu berarti Rumi mulai mempunyai perasaan lebih untuknya. Suatu perasaan telah tumbuh di hati Rumi untuk dirinya!


Raisa memang merasa senang. Tapi, ia tak bisa terus membiarkan ini... Ia tak bisa membiarkan Rumi mencintainya! Kenyataan bahwa mereka takkan bisa bersama, jika sudah terlanjur cinta akan sulit dipisahkan. Ia harus tega meski harus menyakiti perasaan Rumi dan tentunya juga menghancurkan hatinya...


Mata Raisa memanas saat mengumpulkan nyali untuk menolak Rumi. Ini sungguh sulit saat perasaannya saat ini bertolak belakang dengan apa yang harus dilakukannya!


Raisa pun mendorong dada Rumi dengan kedua tangannya sepenuh tenaga. Itu pun hanya membuat Rumi mundur beberapa langkah saja...


DEG!


Tes...


Tepat saat Raisa melepas ciuman Rumi dengan mendorongnya, air mata Raisa meluncur jatuh dengan bebas mengalir di pipinya. Buru-buru, Raisa menghapus air matanya itu...


"Aku minta maaf, Raisa. Aku sudah melukaimu sebelumnya. Apa kini aku juga melukai perasaanmu dengan tindakanku?" Tanya Rumi


Rumi terkejut saat melihat Raisa mengeluarkan air mata. Bahkan, matanya pun memerah! Sebelumnya, ia pernah mencium Raisa. Namun, masih mendapat respon baik dari gadis di hadapannya itu. Tapi, kali ini Raisa sampai menangis... Rumi pun merasa bingung.


'Raisa, menangis?! Apa aku menyinggung perasaannya? Apa aku melukai perasaannya juga? Aku tidak tau jika akan seperti ini... Seharusnya aku tudak bertindak gegabah!' Batin Rumi


...'Oh, tidak! Rumi, sudah salah paham... Apa aku melukai perasaannya? Apa aku terlalu menolaknya? Tolong, jangan membenciku karena ini.' Batin Raisa...


"Tidak! Bukan begitu, Rumi... Tadi, mataku hanya perih karena kemasukan debu! Aku hanya merasa ini kurang pantas... Maaf, aku sudah kasar terhadapmu." Ucap Raisa


"Aku yang seharusnya minta maaf karena sudah seenaknya menciummu. Aku terlalu gegabah telah mengganggap kau tidak keberatan. Maafkan aku..." Ujar Rumi


"Itu memang salah. Tapi, kau tidak salah sepenuhnya. Mengingat akulah yang lebih dulu memberimu harapan..." Timpal Raisa dengan suaranya yang memelan di akhir kalimatnya.


Raisa menunduk lesu. Tak berani menatap Rumi...


...'Kau benar-benar bodoh, Raisa! Kau tau akhirnya akan seperti ini. Kau yang terlalu berani telah memberikan harapan palsu pada seorang lelaki polos lembut yang tidak bersalah... Aku mengutukmu!' Batin Raisa mengutuk dirinya sendiri....


Melihat Rumi yang diam saja. Membuat Raisa bingung dan merasa bersalah...


"Kali ini, aku yang bersalah. Mohon, maafkan aku..." Kata Raisa dengan suara lirih yang bergetar.


...'Aku tak mau membiarkan Rumi jatuh cinta padaku, tapi, juga tak mau dia sampai membenciku karena kelakuanku. Aku ini benar-benar egois!' Batin Raisa...


"Lupakanlah saja. Sini, biar kubantu bawakan nampan yang lain." Ucap Rumi


Begitu banyak teman, minuman tak hanya satu gelas saja. Dan, itu tak cukup hanya satu nampan untuk membawanya. Rumi pun ikut membantu Raisa membawakan nampan lain bersamanya.


.



Bersambung...


[¤: Kutipan Author]


"Bersiap-siaplah! Setelah ini, di episode-episode selanjutnya... Kalian akan disuguhi cerita yang membuat gemas, tak sabar, dan geregetan! Akan dibuat demikian demi pengembangan cerita. Mohon untuk tetap menyimak dan memakluminya.


Semoga semua terhibur!~"

__ADS_1


__ADS_2