Bertemu Dan Jatuh Cinta

Bertemu Dan Jatuh Cinta
121 - Waktu Bebas.


__ADS_3

Setelah dari rumah keluarga Raina, Raisa tidak langsung kembali pulang ke rumah kedua orangtuanya. Raisa beranjak mengunjungi suatu kafe karena harus memenuhi janji dengan kedua sahabatnya, Maura dan Nilam.


Saat masuk ke dalam kafe, Raisa mencari keberadaan dua sahabatnya dengan menyapu seluruh ruang pada kafe tersebut. Nampaklah dua gadis sebaya dengannya yang melambai ke arahnya, Raisa pun membalas lambaian tangan mereka dan menghampiri keduanya.


"Halo, Raisa! Akhirnya, ketemu pagi!" Sapa Nilam


"Apa kabar, Raisa?" Tanya Maura


"Hhh~ Hai, Maura, Nilam! Aku baik nih... Kalian berdua juga, apa kabarnya?" Ujar Raisa yang membalas sapaan dan menjawab pertanyaan dari kedua sahabatnya setelah duduk di salah satu kursi yang tersedia di sana.


"Kami juga baik kok!" Serempak Maura dan Nilam bersamaan.


"Aku agak gak nyangka sih kalau kita bakal ketemu lagi secepat ini. Emang kalian sudah selesai liburan?" Ujar Raisa


"Liburan aku kali ini singkat aja kok. Aku juga mikirnya ini terlalu cepat kita ketemu lagi. Cuma si Maura nih, bawel banget mau ketemuan. Gak ganggu kamu kan?" Ujar Nilam


"Aku kangen ketemu kalian, tahu!" Kata Maura


"Gak sampai ganggu kok, aku juga rindu sama kalian berdua." Kata Raisa sambil tersenyum lembut.


"Aku ngajak kalian ketemu di sini buat ngomongin ini... Ingat rekaman yang aku ambil diam-diam waktu kamu nyanyi sendirian di halaman belakang sekolah, Raisa? Aku udah coba pos videonya ke aplikasi khusus video pendek, ke instagram juga. Responnya lumayan bagus lho! Gimana kalau kita realisasikan rencana bikin youtube yang isinya Raisa lagi cover lagu?" Ungkap Maura


"Aku juga lagi mikirin tentang ini sih, tapi apa bakal sukses? Aku agak ragu... Kamu sebar videonya lewat aplikasi punya kamu yang sudah punya banyak viewers dan followers-nya lan? Kalau kita mulai dari awal lagi untuk bikin youtube apa bakal banyak yang nonton dan direspon banyak orang?" Bimbang Raisa


"Kamu jangan pesimis dulu dong, Raisa. Namanya juga kita baru mau coba, semua orang juga mulai dari nol alias dari yang paling bawah." Ucap Nilam


"Kalau kita semua sudah setuju, masalah rekaman videonya nanti gimana? Dari satu video ke video berikutnya harus berjarak berapa lama? Terus gimana sama masalah alat rekam dan setting lokasi juga lainnya?" Tanya Raisa


"Masalah setting alat dan lokasinya, biar aku dan Nilam yang atur nanti. Kamu cuma perlu stand by buat direkam." Jawab Maura


"Itu masalahnya. Ke depannya kayaknya aku bakal berencana bepergian ke tempat jauh. Kalau misalnya videonya belum ada pas waktu pos video berikutnya gimana?" Ujar Raisa


"Ini soal kamu yang bakal sering liburan ke tempat pacar kamu, Rumi itu ya?" Tanya Nilam


"Hmm, iya. Kami sudah janji bakal saling berkunjung, dia juga bakal sering kirim tiket keberangkatan buat aku ke sana. Bukan maksudnya aku lebih pilih dia karena pacarku, tapi aku yang malah gak bisa pilih antara kalian dan dia." Jawab Raisa


"Kami gak permasalahin hubungan asmara kamu kok, kalau kamu mau pergi pun gak apa. Tapi, kita pasti bisa atur waktu antara rekamannya sama kepergian kamu. Kita baru aja mau coba, masa udah batal? Sayang banget kan, padahal semua rencana udah ada di dalam kepala. Ayolah, Raisa! Kita coba dulu ya...? Pasti bisa dan selalu ada jalan ke luarnya!" Ujar Maura


"Kalau kamu udah sesemangat dan seyakin ini sih, aku cuma bisa ikutin aja. Aku juga sebenarnya mau kok! Semoga kita bisa saling atur waktu sesuai kata kamu deh..." Ucap Raisa


"Yeay! Kalau begitu, udah sepakat ya?!" Kata Maura


"Iya. Kalau begitu, mau mulai dari kapan? Harus rekam videonya dulu, kan?" Ujar Raisa


"Mulai sekarang juga!" Semangat Maura


"Sekarang?! Tapi, banyak yang harus kita tentuin dulu kan?" Tanya Raisa


"Lebih cepat lebih baik, kan? Makanya, Maura ajak kita ngumpul sekarang. Kamu bisa kan, Raisa? Atau kamu ada urusan lain?" Ujar Nilam


"Bisa kok, aku gak ada rencana lain kok. Tapi, gak apa nih aku gak buat perencanaan apa pun?" Kata Raisa


"Gak apa. Semuanya emang dadakan. Kamu cuma perlu ikut aja." Ucap Maura


Memulai dengan perencanaan serba mendadak, semua pun memulai persiapan. Dengan alat rekam sederhana berupa sebuah handicam, rekaman video cover lagu dengan Raisa sebagai penyanyinya pun dilakukan!


•••


Setelah urusan di dunianya terselesaikan, Raisa pun pergi mengunjungi teman-temannya di Desa Daun pada dimensi dunia yang berbeda.


Setibanya menginjakkan kaki di Desa Daun, Raisa melihat tempat sekelilingnya yang sepi.


"Sudah sampai! Sebaiknya aku melakukan apa? Sulit sekali rasanya tidak bisa langsung menghubungi teman-teman..." Gumam Raisa


"Aku langsung ke rumahku saja deh! Aku harus menghafal jalan di desa ini, harusnya sih benar rumahku ke arah sini..." Kata Raisa yang langsung beranjak menuju ke rumahnya di Desa Daun dengan menyeret tas koper bawaannya.


Dengan meraba jalan sesuai ingatannya, Raisa terus berjalan mencari keberadaan rumahnya sendiri...


"Sepertinya benar, ini jalannya... Ah, itu rumah Rumi! Rumahku, tiga rumah setelahnya!" Ujar Raisa


..."Rumah Rumi sepertinya tidak ada orangnya. Biarlah kedatanganku kali ini menjadi kejutan!" Batin Raisa...


Raisa pun terus melewati rumah Rumi hingga sampai di rumahnya sendiri. Raisa mengeluarkan kunci rumahnya dan membuka pintu rumahnya tersebut. Setelah berhasil membuka kunci pintu rumahnya, Raisa bergegas masuk menuju kamar tidurnya setelah menutup kembali pintu utama rumahnya dan membuka salah satu jendela rumahnya agar ada hawa dari luar yang masuk ke dalam rumahnya yang ditinggal cukup lama.


Raisa langsung membenahi barang bawaannya di rumahnya. Mulai dari menaruh pakaian yang dibawanya ke dalam lemari, dan terus melakukan hal lainnya lagi...


...


"Aku memang ingat menaruh benda itu di suatu tempat di rumah, tapi letak pastinya di mana ya? Aku harus segera mencarinya!" Gumamnya


"Aku merindukannya... Alangkah baiknya kalau dia ada di sini." Batinnya sambil memandang ke suatu arah.


"Itu kan rumah Raisa! Ada sesuatu di rumahnya!" Pekiknya


Seseorang berlarian ke suatu tempat yang adalah rumah seorang yang dikenalnya. Rumah itu sedang ditinggalkan, tapi ada tanda kehadiran di dalamnya. Sesuatu yang dinilai mencurigakan!


"Ada jendela yang terbuka! Ada suara dari dalam!" Batinnya hendak memastikan sesuatu.


Seseorang yang hendak mencari sesuatu di rumahnya melihat hal mencurigakan yang mungkin terjadi di rumah lain yang sedang ditinggalkan. Dikatakannya rumah itu adalah rumah Raisa! Seseorang tersebut yang letak rumahnya berdekatan dengan rumah Raisa tak lain dan tak bukan adalah Rumi! Rumi sedang berada di depan rumah Raisa untuk mencari tahu...


Dengan penuh rasa waspada dan sangat hati-hati, Rumi memegang dan memutar knop pintu. Hendak membuka pintu rumah Raisa...


"Tidak terkunci!" Batin Rumi

__ADS_1


"Itu suara pintu yang mau dibuka!" Pelan Raisa dari dalam kamar tidurnya.


"Jangan-jangan ada perampok!" Batin Raisa dan Rumi bersamaan.


Rumi pun berhasil masuk ke dalam rumah sedangkan Raisa sedang berhati-hati dan meningkatkan kewaspadaannya dari balik pintu di dalam kamar tidurnya...


"Kondisinya masih sama seperti saat ditinggalkan..." Batin Rumi yang memerhatikan kondisi isi rumah Raisa.


Pintu pertama setelah pintu utama rumah adalah pintu kamar tidur dan Rumi mendekatinya hendak memeriksa ke dalam sana. Sedangkan Raisa yang berada di dalam kamar sedang bersiap siaga!


Ceklekk~


Rumi memutar knop pintu hendak membuka pintu kamar tersebut...


"Pintunya terbuka!" Batin Raisa dan Rumi bersamaan.


..."Sudah kuduga, dia akan membuka pintu kamar ini!" Batin Raisa...


Kriiettt~


Rumi membuka pintu kamar tersebut perlahan, tapi pasti... Sedangkan Raisa berada di balik pintu kamar tersebut.


Dan secara mengejutkan......


"Siapa-!?!"


Raisa dan Rumi sama-sama bergerak untuk menghadang... Yang dikira penjahat, malah saling menghadapi satu sama lain.


Keduanya bergerak saling menyerang! Namun, karena tenaga yang dikeluarkan lebih besar dari pihak Rumi, Raisa terhuyung ke belakang~


Dan terjadilah!


Raisa terjatuh~


Dan Rumi menindih tubuh Raisa seolah menangkap penjahat di atasnya!


UKH!


UGH~


"Ah, Rumi! Ini aku!" Pekik Raisa yang lebih dulu menyadari seseorang yang masuk ke dalam rumah sampai ke kamarnya itu.


"Kau... Raisa!" Seru Rumi yang terkejut.


Bukannya beralih, dalam posisi itu Rumi malah memeluk tubuh Raisa yang berada di bawahnya... Rumi menyusupkan kedua tangannya ke balik punggung Raisa dan mendekapnya dengan sangat erat! Menumpahkan rasa rindu berat di dada~


"Rumi, tolong lepaskan! Kau membuatku kesulitan..." Pinta Raisa yang sebenarnya menjadi sulit bernafas karena pelukan Rumi yang terlalu erat.


Menyadari dan mendengan suara dengan nada memohon itu membuat Rumi sadar! Dan segera bangkit dari posisinya yang berada di atas tubuh Raisa...


Raisa pun menerima bantuan uluran tangan Rumi untuk bangkit...


"Hhh~ Tidak apa. Terima kasih sudah membantuku." Ucap Raisa


Berhasil bangkit, Raisa merapikan kembali pakaiannya yang agak berantakan. Lalu, Raisa beralih untuk duduk di tepi ranjang kasurnya.


"Biarkan aku duduk dulu sebentar." Kata Raisa


"Apa kau baik-baik saja? Apa ada yang terluka? Maafkan aku, Raisa... Aku tidak tahu kalau itu kau yang sudah datang." Ujar Rumi


"Tidak apa, hanya sakit sedikit saja akibat jatuh tadi. Aku baru saja sampai dan langsung ke rumah. Karena tidak tahu yang lain di mana, aku berpikir untuk ke rumah untuk menyimpan barang bawaanku. Wajar kalau kau tidak tahu dan salah sangka. Kau pasti mengira aku adalah penyusup yang masuk ke sini ya? Sebaliknya, aku juga tadi mengira kau yang menyusup masuk ke rumahku. Lucu sekali!" Ungkap Raisa


"Benar. Aku kira ada orang lain yang masuk ke sini saat hendak ke rumahku. Maafkan kebodohanku ini, Raisa." Kata Rumi


"Sudahlah, aku tidak apa. Berarti kau melihat ke arah rumahku saat hendak ke rumahmu? Kau pasti punya urusan di rumahmu ya?" Ujar Raisa


"Oh, iya! Hampir saja aku melupakannya kalau kau tidak bertanya. Aku harus mencari sesuatu di rumahku!" Ucap Rumi


"Sepertinya itu sesuatu yang penting. Kau selesaikan saja dulu urusanmu. Mungkin hari ini aku masih belum bisa berkumpul dengan yang lain, karena masih harus beres-beres di rumah. Katakan saja pada yang lain bahwa aku ada di rumah jika mereka ada yang mencariku. Kau pergilah mengurus sesuatu yang penting itu. Titip saja salamku buat yang lain." Ucap Raisa


"Baiklah, kalau begitu aku pergi dulu ya, Raisa. Maaf untuk yang tadi. Sampai jumpa lagi! Aku mencintaimu!" Kata Rumi


"Hehehe, ya. Aku juga mencintaimu!" Gumam Raisa sambil terkekeh setelah Rumi pergi.


•••


Keesokan harinya...


Setelah kemarin berkata kemungkinan tidak bisa berkumpul bersama yang lainnya, seharian penuh Raisa berada di rumah. Bahkan tidak ada yang mencarinya ke rumahnya, agak disayangkan karena berada dalam kesendirian yang sepi. Tapi, itu tidak terus berlanjut...


Di pagi hari yang baru, Raisa langsung bersiap untuk bertemu dengan teman-temannya. Selesai bersiap, sudah terdengar ada suara ketukan di pintu utama rumahnya. Setelah memastikan kesiapannya sekali lagi, Raisa pun bergegas menuju pintu utama.


Setelah membuka pintu, tampaklah seorang Rumi yang menunggunya ke luar dari rumah...


"Selamat pagi, Raisa!" Sapa Rumi dengan hangat.


"Pagi juga, Rumi!" Balas Raisa dengan lembut.


"Sudah selalu merepotkanmu untuk menjemputku di pagi hari saat aku di sini. Harusnya aku saja yang menghampiri ke rumahmu karena jalan ke luarku dari sini pasti melewati rumahmu." Ucap Raisa


"Aku tidak mungkin membiarkan seorang gadis cantik yang menjemputku memulai hari baru, ini sudah seperti tugasku sebagai seorang lelaki." Jelas Rumi


..."Dia ingin bersikap gentle-man, rupanya!" Batin Raisa yang lalu tersenyum manis....

__ADS_1


"Ayo, jalan, Raisa!" Ajak Rumi


Raisa mengangguk. Setelah menutup dan mengunci pintu rumahnya, Raisa ikut jalan bersama Rumi menemui teman yang lain untuk berkumpul.


"Bagaimana urusan soal mencari sesuatu di rumahmu kemarin? Sepertinya itu sangat penting? Apa sudah terselesaikan?" Tanya Raisa


"Itu aku sudah menemukannya kemarin dan langsung kuberikan pada Tuan Rafka untuk memeriksa apa barang itu. Aku tidak tahu apa itu, tapi sepertinya memang penting. Pertama kali aku nenemukannya saat misi sebelumnya bersama timku, sepertinya itu akan berkaitan dengan misi selanjutnya." Jawab Rumi


"Oh, begitu. Semoga semuanya lancar dan baik-baik saja. Dan kau juga selalu sukses dalam misi kalian!" Kata Raisa


"Oh ya, Raisa. Aku sudah memberi tahu teman-teman bahwa kau sudah datang. Mereka tampak senang mengetahui kau datang. Sepertinya mereka ada yang mempersiapkan sesuatu untukmu hari ini." Ujar Rumi


"Benarkah?" Tanya Raisa


"Mungkin saja." Kata Rumi


Belum sampai ke suatu tempat, teman yang lainnya sudah menunggu Raisa dan di persimpangan jalan.


"Sudah kuduga, mereka berdua akan jalan bersama." Kata Morgan


"Raisa! Ternyata benar, kau sudah datang!" Seru Amy yang langsung berlari memeluk Raisa.


"Hai, Amy! Apa kabarmu?" Sapa Raisa sambil membalas pelukan dari Amy.


"Aku baik-baik saja, tapi sangat merindukanmu. Karena tidak bisa mengatakan salam perpisahan padamu saat pergi, aku hanya akan selalu memelukmu saat bertemu kembali!" Ucap Amy


"Aku senang kau memberikanku kehangatan yang lebih. Terima kasih, Amy." Kata Raisa


"Jangan cemburu, Rumi! Itu hanya Amy... Untunglah, aku sudah memeluknya saat bertemu pertama kali kemarin. Kali ini, aku yang lebih dulu memeluknya dari pada siapa pun!" Batin Rumi


"Hehe... Bagaimana kabarmu, Raisa?" Tanya Amy setelah melepaskan pelukannya dari Raisa.


"Aku baik! Makanya, aku sanggup datang ke sini menemui kalian." Jawab Raisa


"Halo, semuanya! Apa kabar kalian semua?" Sapa Raisa


"Kami baik selalu, Raisa!"


"Bagaimana dengan urusanmu, Raisa? Kau sudah memutuskan akan melanjutkan pendidikan atau langsung bekerja di sana?" Tanya Dennis


"Keluargaku sepakat akan memberiku setahun untuk waktu bebasku sebelum menentukan hal itu. Lagi pula, waktu masuk perkuliahan lebih bebas dari pada sekolah umum yang dilakukan sebelumnya. Tapi, tanpa sepengetahuan keluargaku aku sedang mencoba melakukan sesuatu dengan kedua sahabatku yang mungkin bisa menghasilkan uang ke depannya seperti pekerjaan sampingan." Ungkap Raisa


"Apa itu? Kau tidak memberi tahuku tentang itu sebelumnya..." Tanya Rumi


"Kau tidak bertanya... Itu masih permulaan, aku akan memberi tahu saat sudah sedikit membuahkan hasil." Jawab Raisa


"Sudah bertanya pun, kau tidak berniat memberi tahu." Kata Ian


"Hehe... Aku hanya tidak ingin seperti memamerkan sesuatu kalau ternyata nantinya tidak ada hasilnya." Ucap Raisa


"Karena kita semua ada di sini dan kami semua pun sedang bebas dari misi, rencananya aku ingin mengajak kalian menginap di salah satu vila keluargaku. Kalau kalian memang berminat, kapan kita akan pergi?" Ujar Dennis


"Apa kita akan memancing ikan raksasa untuk lagi?" Tanya Chilla


"Tujuan kita bukan ke vila yang itu, tapi ini tetap akan menyenangkan." Jawab Dennis


"Hoho, apa ada yang sedang kau rencanakan, Dennis?" Tanya Raisa


"Kalian akan tahu saat ada di sana." Kata Dennis


"Kau sedang merencakan kejutan ya?" Tanya Sandra


Dennis hanya tersenyum tanpa menjawab pertanyaan dari Sandra.


Setelah disepakati dan semua setuju untuk ikut rencana Dennis, semua pun mempersiapkan segala sesuatunya untuk menginap. Sore harinya mereka semua berangkat dengan menaiki kereta listrik menuju vila keluarga Dennis yang dimaksud.


Mereka semua tiba di vila sebelum larut malam...


"Tempat ini juga adalah salah satu vila keluargamu ya, Dennis?" Tanya Morgan


"Iya. Malam ini kita semua istirahat saja dulu. Besok pagi baru mulai aktivitas yang aku rencanakan." Ujar Dennis


"Wah, jadi orang kaya memang berbeda!" Kata Ian


"Berbeda denganku, keluarga Dennis pasti punya lebih banyak vila. Malam ini kita menginap di vila? Apa tidak apa? Aku tahu, sebelum ini kalian juga pernah menginap di wilayah vila milik keluarga Dennis, tapi saat itu kalian hanya mendirikan tenda untuk nenginap. Kali ini berbeda... Ini bukan keistimewaan untukku kan? Aku tidak enak jadinya kalau begitu." Ujar Raisa


"Aku merencanakan penginapan ini memang berkaitan dengan ucapanmu, Raisa. Tapi, ini tentu bukan keistimewaan untukmu karena yang lain juga ikut menginap. Kau tidak perlu berpikir berlebihan... Pilih saja kamar untuk kalian masing-masing, lalu istirahatlah karena sudah malam. Camilan juga sudah tersedia di dalam kamar yang sudah dipersiapkan untuk dipilih." Jelas Dennis


"Yeay, aku tidak perlu khawatir kelaparan sebelum tidur malam ini!" Kata Chilla


Setelah Dennis berkata seperti itu, nereka semua memilih kamar ubtuk di tempati perkelompok. Anggota kamar sama seperti saat menginap di vila keluarga milik Raisa. Namun, kali ini Raisa dikelompokkan untuk menempati kamar yang sama dengan Aqila dan Chilla.


"Kali ini, aku menempati kamar yang sama dengan kalian. Aku senang sekali! Tidak apa kan? Sebelumnya belum pernah benar-benar terjadi yang seperti ini kan?" Ujar Raisa


"Kau berpikir apa sih selama ini, Raisa? Kau sangat sungkan dengan kami! Tentu saja, tidak apa... Kita semua kan teman yang tidak membedakan." Ucap Aqila


"Benar, semua teman sama saja. Makanlah camilan atau istirahatlah lebih awal." Kata Chilla


Setelah merapikan barang bawaan di dalam kamar, semua pun beristirahat. Entah itu makan camilan sebelum tidur atau langsung menuju ke alam mimpi...


.


__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2