
Setelah mendengar kabar buruk tentang sang istri yang telah diculik, sebenarnya Rumi tidak bisa tenang dan terus merasa cemas dan panik. Jika saja Devan tidak menahannya, mungkin pria itu sudah akan berlarian tak tentu arah demi untuk mencari dan ingin menyelamatkan sang istri tercinta. Namun, benar ... ia butuh rencana.
"Kasus serupa dengan ini sudah pernah terjadi sebelumnya dan aku akan menceritakannya pada kalian semua. Dulu, saat masih berstatus lajang, istriku, Hani juga pernah diculik oleh Sang Dewa. Pelakunya pun sama, dia dikenal sebagai Dewa Naga bernama Arion. Awalnya asik iparku, Hellen yang diculik untuk dimanfaatkan dan diambil kekuatan mata sucinya. Lalu, aku, Hani, Sierra, Aiden, dan Rafka pergi untuk menyelamatkan Hellen," ungkap Tuan Nathan
"Namun, di perjalanan saat ingin menyelamatkan Hellen, giliran Hani yang diculik. Dewa Naga Arion ingin mempersunting Hani menjadi istri agar bisa punya banyak keturanan garis keturunan Dewa. Karena keluarga istriku adalah salah satu dari keturunan keluarga bangsawan Dewa-Dewi. Sedangkan kekuatan mata suci Hellen yang diambil ingin dimanfaatkan untuk menghancurkan bumi dengan membangkitkan kekuatan tersembunyi mata suci tersebut. Dewa Naga Arion ingin dunia ciptaannya menjadi satu-satunya dunia yang sempurna," sambung Tuan Nathan
"Apa hubungannya cerita masa lalu ini dengan penculikan Raisa sekarang?" tanya Morgan
"Makanya, dengarkan dulu saat aku belum selesai bicara. Ini berhubungan dengan tujuan Dewa Naga Arion menculik Raisa. Mungkin tujuannya sama seperti dulu. Jika dulu dia mengincar perempuan dari keturunan keluarga istriku yang disebut dengan Putri Suci karena merasa keturunan keluarga bangsawan Dewa-Dewi-lah yang cocok menjadi istri dan meneruskan keturunannya, maka mungkin dia ingin memanfaatkan Raisa yang merupakan reinkarnasi dari jiwa Sang Dewi untuk tujuan yang sama seperti dulu," jelas Tuan Nathan
"Yaitu, menjadikan Raisa sebagai istri untuk meneruskan keturunannya dan menggunakan kekuatan Raisa untuk menghancurkan bumi," sambung Tuan Nathan
"Tapi, kan, Raisa sudah menikan dengan Rumi?" tanya Chilla yang merasa bingung.
"Kita tidak tahu pemikiran Sang Dewa yang licik. Bisa saja dia tidak peduli dengan status Raisa yang sudah menikah dan punya suami karena menganggap itu tidak ada hubungannya dengan tujuannya. Karena jika Sang Dewa sudah menginginkan suatu tujuan, dia akan berusaha mewujudkan tujuan itu dengan segala cara," jawab Tuan Nathan
"Lalu, apa rencana kita untuk menyelamatkan Raisa? Bagaimana pengalaman Ayah dulu? Kita bisa mengikuti cara Ayah menyelamatkan ibu dulu, kan? Bagaimana cara Ayah menemukan lokasi dunia ciptaan Sang Dewa? Bagaimana cara Ayah mengalahkan Sang Dewa?" tanya Morgan
"Dulu rencana yang dibuat bukan diutamakan untuk menyelamatkan Hani atau Hellen, melainkan mencegah Dewa Naga Arion untuk menghancurkan bumi. Untuk menemukan lokasi dunia ciptaan Sang Dewa itu sangat sulit. Banyak dimensi dunia yang serupa yang mengecoh kami. Saat itu kami mengandalkan sihir pelacak dari kemampuan makhluk 2 dimensi yang diciptakan Aiden. Pintu masuk dunia itu ternyata ada di bawah mata air yang terdapat pantulan cahaya bulan di gunung suci. Karena sebenarnya dunia itu adalah dunia ilusi yang berada di balik bulan yang bernama Negeri Rembulan," ungkap Tuan Nathan
"Tak ada strategi apa pun untuk mengalahkan Dewa Naga Arion itu. Dulu, kami hanya bertarung habis-habisan," sambung Tuan Nathan
"Ah, ayolah ... bahkan informasi dari pengalaman Ayah pun tidak berguna!" seru Morgan
Tuan Nathan meringis kesal karena perkataan sang putra ada benarnya.
Sedari tadi Rumi hanya diam. Pikirannya melayang tak tentu arah karena sibuk tertuju pada sang istri. Bahkan pria itu tidak memiliki tenaga untuk bicara saking merasa cemasnya. Bukan berarti tidak bertenaga sama sekali. Hanya saja Rumi ingin mengumpulkan dan mengerahkan tenaganya untuk bertarung demi menyelamatkan sang istri tercinta nanti.
Monica pun hanya terdiam. Gadis itu terus tertunduk dalam rasa sesal karena merasa bersalah. Ia merasa tidak berhak untuk ikut bicara saat masalah terjadi karena dirinya. Ia terus merutuki dan menyalahkan dirinya sendiri.
"Kau memang benar, Morgan. Tapi, setidaknya kalian bisa tahu lokasi pintu masuk ke dunia ilusi Sang Dewa. Kalian hanya bisa mengandalkan kemampuan kalian sendiri karena kami tidak bisa ikut membantu karena harus melindungi bumi kita bersama jika saja Sang Dewa masih berupaya untuk menghancurkan dunia tempat tinggal kita ini," ujar Tuan Nathan
"Jika pintu masuk ke dunia ilusi Sang Dewa ada di bawah mata air yang berada di gunung suci, apa itu artinya kami harus menyelam masuk ke dalam air?" tanya Aqila
"Benar. Ini memang terdengar tidak masuk akal, tapi saat kalian masuk ke dalam mata air teruslah ikuti cahaya bulan yang memantul di bawah mata air tersebut maka kalian akan tiba di dunia ilusi Sang Dewa. Namun, jika dunia yang kalian hanyalah tiruan dari sekian banyaknya dunia ilusi Sang Dewa, maka caranya sama. Kalian harus mencari pantulan cahaya bulan di suatu perairan dan masuk ke dalamnya mengikuti pantulan cahaya bulan yang ada. Pintu masuk memang ada di bawah permukaan air, tapi saat cahaya bulan yang kalian ikuti di bawah air itu menghilang kalian akan langsung masuk ke dunia ilusi Sang Dewa. Di sana hanya dunia yang sama seperti di sini, jadi bukan berarti itu adalah seperti kerajaan di bawah laut," jelas Tuan Nathan
"Jika harus mengikuti pantulan cahaya bulan, bukankah itu artinya kita harus pergi saat malam hari? Apa kami tidak bisa pergi sekarang?" tanya Devan
"Aku sudah menduga akan ada yang bertanya seperti ini. Saat pergi dalam misi penyelamatan dulu, kami memang pergi saat malam hari, tapi tidak perlu menunggu hingga malam tiba pun kalian bisa pergi setelah ini. Gunakan kemampuan mata suci untuk melihat pantulan cahaya bulan saat siang hari," jawab Tuan Nathan
"Kalau begitu, bawa aku saja. Maksudku, aku akan ikut. Aku bisa menggunakan kemampuan mata suci milikku untuk membantu," ujar Monica
"Kau tidak boleh ikut. Bukan aku bermaksud ingin melarangmu, Monica. Tapi, bisa saja Sang Dewa masih mengincarmu jika tidak berhasil memanfaatkan Raisa pada tujuannya ini. Aturan dalam misi penyelamatan adalah tidak boleh menambah korban baru. Kuharap kau bisa mengerti," ucap Ian yang sebenarnya maksudnya memang adalah melarang Monica untuk ikut karena khawatir pacarnya itu akan celaka.
"Itu benar, Monica. Tetaplah di sini. Selain dirimu, Kakak-mu ini juga punya kemampuan mata suci seperti ibu. Meski aku jarang menggunakan kemampuan mata suci saat dalam misi, bukan berarti aku tidak bisa menggunakannya sama sekali. Kau tidak perlu khawatir dan tenang saja karena Raisa pasti akan selamat. Kami yang akan menyelamatkannya," ujar Morgan
"Benar. Monica, kau tetap di Desa Daun. Ian, kau bisa menggunakan sihir pada makhluk 2 dimensi ciptaanmu untuk melacak keberadaan sisa tenaga sihir Raisa yang masih terasa meski samar-samar. Kutahu kalian semua pasti bisa mengenali dan mengetahui tenaga sihir milik Raisa meski tidak sedang bersama dengannya. Jika kalian merasakan Raisa menggunakan tenaga sihirnya, maka kau bisa langsung membuka portal sihir teleportasi untuk pergi ke tempat Raisa berada, Aqila. Morgan, saat seperti ini gunakanlah kemampuan mata suci milikmu dengan baik," ucap Tuan Nathan
"Lalu, Rumi ... kau tidak perlu terlalu mengkhawatirkan istrimu. Sang Dewa tidak akan langsung memaksa menikahi Raisa karena dia akan memerlukan mencari waktu yang suci dan tepat untuk melangsungkan pernikahan. Lebih tidak mungkin lagi jika Sang Dewa melukai Raisa karena dia tidak mungkin menyakiti orang yang berharga baginya. Namun, dulu Sang Dewa pernah menaruh sihir ilusi pengendali pada jantung hati Hani untuk menyerang kami yang berusaha menyelamatkannya dan mungkin juga akan terjadi pada Raisa, jadi berhati-hatilah. Kalian semua tidak boleh bertindak gegabah atau tergesa-gesa dan tetaplah berkerja sama dengan baik," sambung Tuan Nathan
__ADS_1
"Dan, satu lagi ... informasi ini mungkin tidak terlalu berguna, tapi aku tetap akan beri tahu agar kalian bisa berjaga-jaga. Sang Dewa Naga Arion ini memiliki dua mata yang buta dan di dunianya pun dia hanya tinggal bersama satu makhluk bernyawa yaitu pelayan setianya dan menjadi bertiga dengan adanya Raisa juga di sana karena selain mereka semua penduduk atau pekerja di sana adalah boneka sihir menyerupai manusia yang dikendalikan dengan sihir Sang Dewa. Meski begitu, baik Sang Dewa, pelayan setianya, atau semua boneka sihir menyerupai manusia itu sangatlah kuat dan hebat. Kalian semua tidak boleh meremehkan kekuatan lawan," lanjut Tuan Nathan
Monica kembali terdiam. Meski dilarang, gadis itu masih merasa harus ikut dalam misi penyelamatan Raisa. Ia tidak bisa diam saja saat musibah Raisa yang diculik terjadi karena dirinya. Ia merasa harus melakukan sesuatu untuk menebus kesalahannya.
"Karena kalian berenam baru kembali, kalian boleh istirahat lebih dulu. Namun, jika ingin bergegas, sebelum pergi persiapkanlah segala sesuatu yang dibutuhkan dengan baik. Kalian harus membawa banyak alat sihir atau banyak makanan karena kalau kalian tidak langsung menemukan atau tiba di dunia ilusi Sang Dewa yang tepat, perjalanan ini akan memakan waktu selama berhari-hari lamanya sama seperti saat kami yang pergi di masa lalu. Selalu waspada karena akan banyak rintangan dan jebakan di dunia ilusi dan berhati-hatilah," ucap Tuan Nathan
"Kalau begitu, kami akan langsung bersiap-siap untuk pergi, Ayah. Permisi," ujar Morgan
"Aku juga mau pulang dulu, Ayah," kata Monica
"Pulanglah ke rumah, tapi jika kau pergi, Ayah bisa langsung menyadarinya. Jadi, jangan pergi ke mana-mana lagi," ucap Tuan Nathan
Monica mengangguk pelan tanda mengerti. Setelah Morgan dan yang lain beranjak ke luar dari ruangan tersebut, giliran gadis itulah yang pergi dari ruang kerja sang ayah.
Morgan dan yang lain bergegas pulang ke rumah masing-masing untuk mempersiapkan lebih banyak senjata dan alat sihir sebelum pergi dalam misi penyelamatan Raisa.
Saat di perjalanan pulang ke rumah barunya bersama Aqila setelah menikah, Morgan bertemu dengan sang ibu secara kebetulan karena rumah barunya berdekatan dengan rumah orangtuanya.
"Ibu mertua ... " sapa Aqila
"Aqila, kau pulanglah dulu dan bersiap-siap. Aku ingin bicara dengan Ibu," ucap Morgan
"Baiklah. Aku juga akan mengemas barang persiapan untukmu. Aku tinggal dulu. Ibu mertua, aku permisi dulu," kata Aqila yang lalu beranjak pergi menuju ke rumahnya.
"Morgan, Ibu sudah dengar ceritanya dari Monica dan Ayah semalam. Hati-hatilah saat pergi menyelamatkan Raisa nanti," ucap Bibi Hani berpesan.
"Aku mengerti, Ibu. Aku bersyukur dulu Ayah berhasil menyelamatkan Ibu. Karena setelah itu aku dan Monica ada di sini sekarang," ujar Morgan
Morgan pun mengangguk tanda mengerti.
"Lalu, di mana adikmu, Monica?" tanya Bibi Hani
"Mungkin masih ada di kantor Ayah atau sedang sedang di perjalanan pulang," jawab Morgan
Sambil mengobrol dengan sang ibu, satu per satu yang lain datang berkumpul dengannya di sana. Termasuk sang istri dan sang adik yang juga muncul di sana.
"Kalian semua, cepat sekali bersiapnya? Sudah siap mau pergi sekarang?" tanya Morgan
"Ya. Bagaimana denganmu, Morgan? Apa kau sudah selesai siap?" tanya Chilla
"Aku yang menyiapkan barang milik Morgan," kata Aqila menyahut sambil memberikan barang yang telah disiapkan olehnya untuk sang suami.
"Kakak, apa aku sungguh tidak bisa ikut?" tanya Monica
"Tetaplah di desa, Monica. Pulanglah ke rumah bersama Ibu," jawab Morgan
Rumi yang sedari tadi hanya diam seolah sedang memendam sesuatu pun berjalan mendekat ke arah Monica.
Yang lain langsung panik. Mengira Rumi akan memarahi Monica. Dan saat Rumi mengangkat dan mengulurkan tangannya yang lain mengira pria itu akan memukul gadis adik Morgan itu.
__ADS_1
Namun, rupanya tangan Rumi terulur untuk menyentuh kepala Monica, lalu beralih memegang bahu gadis itu.
"Monica, menurutlah dengan Kakak-mu. Pulanglah. Tidak perlu khawatir karena Raisa pasti baik-baik saja dan kami akan menyelamatkannya. Aku tidak menyalahkanmu karena kau memang tidak bersalah. Raisa juga pasti berpikiran yang sama. Itu sebabnya dia bersedia untuk pergi demi melindungimu. Itulah yang diinginkan Raisa, yaitu memberi perlindungan untukmu. Karena itu berlindunglah dengan tetap di sini," ucap Rumi
Monica yang juga mengira akan dimarahi oleh Rumi, hanya bisa pasrah dan tertunduk diam. Namun, saat Rumi malah berusaha menenangkannya dan memberikan pengertian untuknya serta tidak menyalahkannya, Monica yang masih tertunduk langsung menangis.
"Maafkan aku, Kak. Sungguh. Aku minta maaf," sesal Monica
"Jangan menangis dan tenangkan dirimu, Monica. Kau tidak bersalah dan tidak perlu minta maaf," kata Rumi
"Terima kasih, Kak Rumi," ucap Monica
"Hmm ... sekarang lebih baik kau pulang dan istirahat dengan baik supaya saat Raisa kembali nanti, kau bisa langsung menemuinya tanpa membuatnya khawatir," ujar Rumi
"Itu benar, Monica. Raisa sudah berusaha melindungimu, jadi kau jangan sampai membuatnya merasa khawatir saat dia kembali nanti," kata Ian
Monica pun mengangguk pelan dengan patuh.
"Kakak ... kalian semua, hati-hati, ya. Kalian semua harus kembali dengan selamat bersama kak Raisa juga," pesan Monica
"Itu pasti," kata Aqila
"Kalau begitu, kami pergi dulu," ujar Morgan
Bibi Hani yang masih berada di sana pun mendekati anak gadisnya. Lalu, putranya bersama sang istri dan teman lainnya pun bergegas pergi untuk memulai misi penyelamatan Raisa.
Setelah ke luar dari gerbang Desa Daun, Ian langsung membuat lukisan 2 ekor burung raksasa dan dengan kemampuan sihir miliknya, lelaki itu membuat lukisan 2 dimensi itu menjadi hidup.
Ian, Devan, dan Chilla menaiki seekor burung raksasa 2 dimensi. Sedangkan Rumi, Morgan, dan Aqila menaiki seekor burung raksasa 2 dimensi lainnya. Lalu, mereka pun terbang bersama menuju gunung suci yang terdapat mata air tempat pintu masuk ke dunia ilusi Sang Dewa.
"Rumi, terima kasih karena kau tidak menyalahkan dan memberikan pengertian pada Monica agar dia tidak ikut dengan kita pada misi penyelamatan ini. Sebenarnya, aku sungguh merasa khawatir dengannya dan maaf karena sempat mengira kau akan memukulnya," ucap Ian
"Ian, kau memang pacar Monica, tapi aku kakaknya. Harusnya kata-katamu tadi aku yang mengucapkannya," ujar Morgan
"Kalian berdua memang mengkhawatirkan adik dan pacar kalian. Namun, aku juga mengkhawatirkan istriku," kata Rumi
"Karena kau dari tadi hanya diam, kau jadi baru bisa berkata kau mengkhawatirkan istrimu. Padahal saat tadi kau memberi pengertian pada Monica, kau terlihat seolah sangat tenang dan biasa saja," ucap Chilla
"Meski terlihat tenang dan biasa saja, aku hanya menyembunyikan bahwa aku mengkhawatirkan Raisa. Tentu saja, karena aku adalah suaminya," ujar Rumi
"Kami bisa mengerti perasaanmu, Rumi," kata Aqila
"Terima kasih karena kalian semua bersedia ikut dan membantuku untuk pergi menyelamatkan Raisa," ucap Rumi
"Kau anggap kami semua ini apa? Tentu saja, kami bersedia membantu. Karena baik itu kau atau Raisa, kalian berdua sama-sama teman kami," ujar Devan
Memang. Mereka semua adalah teman yang setia. Susah senang selalu bersama. Sama seperti saat ini.
.
__ADS_1
•
Bersambung.