Bertemu Dan Jatuh Cinta

Bertemu Dan Jatuh Cinta
[Season 2] 109 - Pura-Pura.


__ADS_3

Keesokan harinya.


Di pagi hari, Raisa terbangun masih dalam posisi yang sama seperti yang diingatnya semalam. Wanita itu membelakangi posisi Rumi yang terus memeluk pinggangnya.


Menyadari sang suami masih setia memeluknya dari belakang, Raisa pun mengusap pelan tangan Rumi yang berada di depan pinggangnya.


..."Sekali lagi, maaf, ya, Sayang ... karena aku mengerjaimu seperti ini," batin Raisa...


Raisa merasa ada pergerakan dari Rumi, mungkin karena pria itu merasakan sentuhan Raisa di tangannya dan merasa terusik. Menyadari Rumi yang terbangun dari tidurnya, Raisa pun menghentikan gerakan tangannya dan meletakkan tangannya itu agak jauh dari tangan Rumi yang masih melingkar pada pinggangnya. Sontak saja, Raisa langsung memejamkan matanya lagi meski Rumi tidak mungkin bisa melihatnya.


"Sayang, kau masih tidur, ya?" gumam Rumi yang mengira Raisa masih tidur padahal tidak.


Rumi kembali mengeratkan pelukannya pada pinggang Raisa. Saat itu Raisa pura-pura merasa terusik karena pergerakan dari Rumi dan terbangun dari tidurnya, padahal nyatanya adalah sebaliknya. Wanita itu pun bergerak pelan.


"Raisa, kau sudah bangun?" tanya Rumi


Bukannya jawaban hangat atau sahutan lembut yang diterimanya.


"Apa-apaan ini? Lepaskan aku," ketus Raisa yang lalu membebaskan diri dari tangan Rumi yang memeluk pinggangnya.


Raisa pun bangkit dari tidurnya. Rumi hanya bisa diam tidak tahu harus berbuat apa saat ini.


"Aku ingin mandi lebih dulu. Jangan ikuti aku," kata Raisa


Raisa pun berlalu begitu saja. Rumi hanya menurut dan diam. Ia merasa harus patuh agar istrinya tidak semakin marah padanya.


Raisa melenggang pergi menuju ke dalam kamar mandi yang berada di dalam kamar tersebut dan meninggalkan Rumi yang terdiam di atas ranjang.


Di dalam kamar mandi, Raisa merenggangkan otot-ototnya. Tubuhnya terasa pegal karena harus tidur dalam posisi yang sama selama semalaman, wanita itu tidak bisa bergerak sama sekali karena suaminya yang memeluk tubuhnya dengan sangat erat tanpa berniat melepaskannya.


"Tubuhku pegal semua. Rumi benar-benar memelukku semalaman," gumam Raisa


Usai mandi, Raisa langsung beranjak ke luar dari kamar mandi. Dan ada Rumi yang sudah menunggunya di depan pintu kamar mandi. Begitu bersitatap dengan sang suami, Raisa langsung mengalihkan pandangannya ke sembarang arah. Wanita itu masih melancarkan aksinya yang sedang pura-pura marah.


"Aku akan mandi dulu. Setelah itu kita harus bicara berdua," kata Rumi


Raisa hanya diam membisu. Rumi pun melangkah masuk ke dalam kamar mandi yang ada di dalam kamar tersebut dengan langkah lesu.


..."Aduh ... semoga gak dosa, deh. Sabar, ya, Suamiku sayang. Aku hanya pura-pura sampai siang nanti kok. Maaf, ya," batin Raisa yang lagi-lagi terkekeh tanpa suara....


Raisa pun beralih untuk mengenakan pakaian karena saat ini dirinya masih hanya dibaluti handuk kimono yang melapisi tubuh polosnya. Tak lupa, ia juga menyiapkan pakaian untuk sang suami dan menunggu sampai suaminya ke luar dari kamar mandi.


Tak butuh waktu lama, Rumi pun ke luar dari kamar mandi. Dilihatnya, Raisa sedang duduk di tepi ranjang yang sudah rapi dengan pakaiannya dan selalu tampak cantik. Namun, begitu melihatnya ke luar dari kamar mandi, istrinya itu langsung bangkit berdiri.


"Aku sudah menyiapkan pakaianmu di atas kasur. Aku ke luar dulu melihat apa ada yang perlu kubantu di kediaman ini," ucap Raisa yang kemudian berlalu begitu saja ke luar dari kamar tersebut dan meninggalkan Rumi seoramg diri lagi.


Rumi menghela nafas panjang. Namun, detik berikutnya ia tersenyum kecil.


"Ternyata, istriku tidak lupa menyiapkan pakaian untukku. Raisa tidak benar-benar mengabaikan dan melupakan aku," gumam Rumi yang terbesit rasa senang di hatinya meski rasa sedih lebih dominan dari pada itu karena sikap diam sang istri.


"Apa Raisa marah karena aku melarangnya membantuku semalam? Itu sebabnya dia mengatakan ingin membantu sesuatu di kediaman ini seolah sedang menyindirku. Tapi, bukankah semalam itu kami sudah baik-baik saja?" batin Rumi yang masih berpikir keras tentang alasan sang istri yang tampak marah padanya. Meski begitu, ia tetap menemukan jalan buntu saat memikirkan diamnya sang istri.


Raisa pun hanya pasrah menerima keadaan sementara itu. Lalu, pria itu beralih untuk mengenakan pakaian yang telah disiapkan oleh Raisa untuknya.


 


Setelah berpakaian rapi, Rumi pun ke luar dari kamarnya dan segera mencari keberadaan Raisa di dalam kediaman sang ayah.


Saat dicari, ternyata Raisa ada di dapur bersama Raina dan Nona Rina. Wanita 3R itu sedang memasak untuk sarapan bersama di sana.


Ketiganya memasak sambil bersenda gurau bersama. Rumi yang melihatnya jadi segan untuk mengganggu. Lalu, suami Raisa itu pun memilih untuk berlalu pergi dari sana.


"Sepertinya tadi ada Rumi datang ke dapur, tapi sekarang dia pergi lagi," ujar Nona Rina


"Biarkan saja dia. Mungkin dia hanya tidak ingin mengganggu kita yang sedang memasak," kata Raisa


"Raisa, apa kamu lagi berantem sama Rumi?" tanya Raina


"Enggak kok, Kak," jawab Raisa sambil tersenyum kecil.


Di dalam hatinya, Raisa tertawa. Karena sebenarnya ia sedang pura-pura marah pada suaminya itu.


Beralih dari dapur, Rumi ingin mencari aktivitas agar tidak terlalu memikirkan marahnya sang istri. Dilihatnya, Ayahnya, Tuan Rommy dan kakaknya, Logan sedang mengobrol bersama kedua mertuanya, Bu Vani dan Pak Hilman. Tak ingin mengganggu keseriusan mereka berbicara, akhirnya Rumi memilih untuk bergabung bersama Raihan, Arka, dan Farah yang sedang bermain bersama.


"Halo, semuanya. Sedang main, ya? Aku ikut bergabung di sini, ya," ujar Rumi


"Uncle Rumi ... ayo, sini," ajak Farah yang merasa senang dengan kedatangan Rumi di sana.

__ADS_1


Rumi pun duduk bersama di sana.


"Tumben gak kelihatan bareng sama Kak Raisa, Kak?" tanya Raihan


"Raisa sedang masak di dapur bersama Kak Raina dan Rina. Aku hanya tidak ingin mengganggu," jawab Rumi


"Ya. Kalau para perempuan lagi asik, jangan sesekali mengganggu mereka. Yang ada nanti kamu malah kena marah," ujar Arka


"Uncle Rumi kok kelihatan kayak lagi sedih ... kenapa? Habis dimarahi Onty Icha, ya?" tanya Farah dengan polosnya, namun mampu menusuk diri Rumi.


"Ih, Farah jangan sok tahu, deh ... " kata Raihan


"Habisnya, muka Uncle Rumi kayak lagi sedih gitu. Mirip sama muka Papi yang habis kena marah sama Mami," ujar Farah


"Farah, jangan bilang gitu dong. Kan, Papi jadi malu. Buka aib aja, nih ... " kata Arka


"Uncle Rumi, jangan sedih. Kita main aja," hibur Farah


Rumi pun hanya tersenyum tipis. Ia pun mulai ikut bermain bersama Farah, Arka, dan Raihan.


"Semuanya, makanan sudah siap! Ayo, kita sarapan bersama!" teriak Nona Rina mengumumkan.


"Nah, makanan udah siap, tuh ... ayo, kita makan. Kalau gak makan, nanti Mami marah. Papi juga udah lapar, nih," ujar Arka


"Pasti sekarang perut Kak Arka udah meronta-ronta minta diisi," ledek Raihan


"Ya. Ayo, kita sarapan bareng, Uncle Rumi ... " ajak Farah


"Ayo, Sayang ... " kata Rumi


Mereka berempat pun beranjak bersama nenuju ke meja makan. Raisa, Raina, dan Nona Rina sedang sibuk menghidangkan makanan di meja makan. Sedangkan yang lai sudah duduk menunggu di sana.


"Aku mau makannya duduk di dekat Onty Icha sama Uncle Rumi, ya ... boleh, kan?" tanya Farah


"Boleh, dong ... sini, Sayang," jawab Raisa yang langsung mengajak Farah duduk di dekatnya.


Rumi pun bergenggaman tangan dengan Farah dan menghampiri Raisa. Pasangan suami istri itu langsung membantu Farah untuk duduk di salah satu kursi yang berhadapan dengan meja makan. Posisi duduk Farah berada di tengah antara Raisa dan Rumi yang duduk di samping kanan dan kirinya.


"Farah, kok gak duduk dekat Mami Papi aja, Sayang?" tanya Raina


"Gak apa, Kak. Biar aja," kata Raisa


"Ya. Tidak masalah," sahut Rumi yang sebenarnya lebih senang jika berada paling dekat dengan Raisa, apa lagi saat istrinya itu sedang bersikap diam padanya.


Semua pun mulai sarapan bersama.


Raisa membantu mengambilkan makanan untuk Farah dan tak lupa juga untuk suaminya tercinta meski masih sedang pura-pura marah.


Rumi tersenyum senang karena meski mengira Raisa sedang marah padanya ternyata istrinya itu masih tetap peduli dan perhatian terhadap dirinya.


"Habiskan makannya, ya, Sayang ... " kata Raisa yang bermaksud bicara dengan Farah.


"Baiklah," patuh Rumi yang mengira Raisa bicara padanya dan langsung menyahut dengan gembira.


Sedangkan Farah hanya mengangguk kecil.


"Farah sangat dekat dengan kalian berdua, ya, Rumi, Raisa?" tanya Tuan Rommy


"Ya, Ayah. Aku baru pertama kali punya keponakan kandung, jadi aku cukup dekat dengan Farah dan juga jadi dekat dengan Rumi," jelas Raisa


"Sepertinya Farah mengidolakan Onty dan Uncle-nya," ungkap Raina


"Kalian berdua sudah punya ikatan dan kedekatan dengan anak-anak, jadi kapan kalian mau punya anak sendiri, Rumi, Raisa?" tanya Logan


Mendengar pertanyaan dari sang kakak ipar mampu membuat Raisa hampir tersedak. Sedangkan Rumi hanya tersenyum tipis.


"Punya anak sendiri, ya ... saat ini saja Raisa sedang marah padaku," batin Rumi


"Kami saja menikah belum lama, Kak. Aku, sih, ikut yang ditakdirkan pada kami saja, kapan bisa punya anak. Namun, sepertinya kami ingin menikmati waktu berdua dulu," jawab Raisa


"Gak terburu-buru dalam hal punya anak emang bagus untuk lebih dulu melatih kematangan kalian untuk menjadi orangtua, tapi jangan terlalu menunda juga," ucap Bu Vani


"Ya. Apa lagi sepertinya Ayah kalian udah sangat menantikan rasanya punya cucu," ujar Pak Hilman yang saat mengatakan kata Ayah yang merujuk pada Tuan Rommy


"Benar. Apa lagi kakakmu itu tudak berniat untuk menikah dan punya keluarga," sahut Tuan Rommy


"Jangan memaksa aku, Ayah. Aku lebih ingin menemukan jodohku dengan sendirinya," kata Logan

__ADS_1


"Mana bisa menemukan jodoh begitu saja tanpa usaha untuk mencari? Memangnya dunia ini cerita dongeng?" tanya Nona Rina dengan maksud menyindir.


"Kau juga sama, Rina. Jadi, kau diam saja," kata Logan


"Kalau aku memang dari dulu memutuskan untuk tidak ingin menikah," ujar Rina


"Kau tidak ingin menikah karena ditinggal cinta pertamamu menikah dengan perempuan lain, kan?" tanya Logan yang kini berbalik menyindir Nona Rina.


"Berisik!" bentak Nona Rina


Semua tertawa pelan melihat pertengkaran antara Nona Rina dan Logan.


Raisa tahu, cinta pertama Nona Rina yang meninggalkannya untuk menikah dengan perempuan lain maksudnya adalah Paman Elvano dan Bibi Sierra.


Saat itu, Paman Elvano adalah lelaki tampan yang masih lajang ketika menyelamatkan Nona Rina dan membuatnya jatuh cinta pada pandangan pertama. Namun, cinta pertamanya itu ditakdirkan untuk menikah dengan perempuan lain, yaitu Bibi Sierra.


Mulai saat itulah harapan Nona Rina menjadi pupus begitu saja. Meski begitu, Nona Rina masih suka terobsesi dengan Aqila dan berharap anak perempuan dari Paman Elvano dan Bibi Sierra bisa mempunyai hubungan serius dengan Rumi agar hubungan antara dirinya dan Paman Elvano dan Bibi Sierra tetap terjalin erat. Namun, lagi-lagi kenyataan berkata lain saat akhirnya Rumi malah berjodoh dengan Raisa. Hingga akhirnya Nona Rina hanya bisa menerima jalan takdir. Apa lagi Nona Rina mengetahui sendiri kalau Raisa adalah perempuan yang baik dan hebat.


"Jangan bertengkar seperti itu. Banyak yang bilang, dua orang yang sering bertengkar malah akan jadi jodoh pada akhirnya," ucap Rumi


"TIDAK AKAN!" seru Nona Rina dan Logan secara serempak.


"Logan, Rina, jaga sikap kalian berdua!" tegur Tuan Rommy


"Baik, Ayah // Tuan. Maaf ... " kata Logan dan Nona Rina secara bersamaan lagi.


"Kompak banget," gumam pelan Raihan dan Arka secara bersamaan.


Semua pun melanjutkan sarapan bersama dengan lebih tenang.


Usai sarapan dan membereskan semua peralatan makan, Raisa ditarik untuk bermain bersama oleh Farah. Padahal niatnya Rumi ingin membicarakan tentang kemungkinan kesalah-pahaman yang terjadi. Namun, pada akhirnya Rumi hanya bisa ikut bermain bersama.


Padahal Rumi ingin segera meluruskan masalah saat ini dan mengakhiri perang dingin dengan Raisa. Namun, pria itu hanya bisa ekstra bersabar dan menahan diri dari rasa penasaran atas alasan istrinya yang marah.


Bermain hingga siang hari, Farah mulai menunjukkan tanda-tanda mengantuk. Namun, lagi-lagi gadis kecil itu menahan Raisa untuk tetap bersamanya.


"Farah, udah mengantuk, tuh ... mending tidur aja," kata Raihan


Farah hanya mengangguk pelan sambil menutupi mulutnya yang terbuka karena menguap akibat mengantuk.


"Onty Icha, baca dongeng buat aku, ya ... " pinta Farah


"Farah, udah besar masih suka minta dibacain dongeng?" tanya Raisa


Farah mengangguk kecil.


"Sebenarnya bukan baca dongengnya yang penting, aku juga udah tahu semua cerita dongeng itu. Tapi, aku suka diusap kepalanya sampai benar-benar tidur," jelas Farah


"Oke, deh ... ayo, tapi nanti Onty usap kepalanya sambil nyanyi aja, ya," kata Raisa


"Oke, Onty!" seru Farah setuju.


"Uncle Rumi boleh ikut tidak?" tanya Rumi


"Boleh, dong, Uncle ... ayo," jawab Farah


Meski tidak bisa segera bicara empat mata dengan Raisa, setidaknya Rumi ingin terus bersama dan dekat dengan istrinya itu.


"Farah, bobok sama Mami Papi aja, yuk ... " ajak Raina yang tidak enak karena merasa terus merepotkan Raisa dan Rumi.


"Farah, jangan manja sama Onty Icha dan Uncle Rumi, dong. Kan, ada Papi Mami," kata Arka


"Gak apa, Kak. Sesekali aja kok. Aku juga udah lama gak pernah kelon Farah lagi setelah umurnya 5 tahun," ucap Raisa


Raina dan Arka hanya bisa diam untuk menuruti keinginan putri kesayangannya. Raisa dan Rumi pun membawa Farah masuk ke dalam kamarnya, sedangkan kedua orangtua gadis kecil itu memunggu di luar.


Farah langsung merebahkan dirinya sendiri dan memejamkan kedua matanya. Raisa dan Rumi pun ikut merebahkan diri di samping kanan dan kiri tubuh Farah.


Raisa langsung menyanyikan lagu penghantar tidur sambil satu tangannya membelai rambut dan kepala Farah dengan sangat lembut hingga gadis kecil itu terlelap.


Rumi juga tidak hanya diam mendengarkan Raisa bernyanyi. Tangannya mencoba menggenggam tangan Raisa yang menganggur. Namun, sang istri terus menepis tangannya itu.


.



Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2