Bertemu Dan Jatuh Cinta

Bertemu Dan Jatuh Cinta
52 - Keraguan Raisa.


__ADS_3

Rumi mengecup pelan pipi Raisa.


"Aku tidak bisa berlama-lama. Maaf, harus meninggalkanmu. Aku pergi, Raisa..." Pamit Rumi berbisik.


Rumi pun bangkit dan berlalu pergi keluar dari kamar yang Raisa tempati.


•••


Raisa tak mengingkari ucapannya, ia terbangun saat waktunya makan siang. Ia pun turut mempersiapkan hidangan untuk makan siang bersama dengan para gadis lainnya.


Wajah Raisa pun sudah kembali bersemangat lebih dari sebelumnya...


.


.


.


Setelah makan siang, Raisa akan menepati janjinya untuk membawa semua temannya untuk bermain.


Raisa pun sedang bersiap-siap untuk mengajak mereka semua pergi. Berlibur ria!


Rencananya, Raisa akan membawa mereka semua ke taman wahana bermain yang letaknya di Ibukota. Dan setelah itu mereka akan bersantai di pantai...


"Raisa, kita liburan seperti ini... Kenapa tidak mengajak keluargamu pergi bersama? Paling tidak, ajaklah adikmu." Ujar Chilla


"Benar, lebih ramai lebih seru!" Kata Wanda


"Sebenarnya, selain aku yang belum siap mengenalkan kalian pada keluargaku... Mereka tidak bisa liburan saat ini. Mereka sedang sibuk, terutama adikku. Sebenarnya, di duniaku ini tidak sedang mendapati hari libur akhir-akhir ini seperti di dunia kalian. Semua sibuk seperti hari biasa... Ayahku tetap bekerja, Keponakanku belum lama ini masuk sekolah pendidikan sejak dini, jadi kakakku pun sibuk mengantar dan mengawasinya. Dan, adikku juga sama sepertiku sedang mempersiapkan diri untuk ujian akhir tingkat dekolah Dasar." Ungkap Raisa


"Sekolah Dasar? Apa itu? Apa bedanya denganmu, Raisa?" Tanya Amy


"Berbeda dengan dunia kalian, yang hanya belajar di akademi dalam beberapa tahun saja. Lalu, sudah bisa langsung praktik seperti kerja lapangan walau diawasi oleh guru ketua tim. Di sini, tingkat sekolah dibedakan menjadi 3. Yaitu, Sekolah Dasar dalam jangka pendidikan selama 6 tahun, Sekolah Menengah Pertama dan Sekolah Menengah Akhir yang masing-masing jangka waktu pendidikannya selama 3 tahun. Semua jadi 12 tahun pendidikan, itu yang utama saja. Setelah itu ada yang langsung bekerja atau ada juga yang memilih menempuh pendidikan tingkat lanjut yang disebut kuliah. Paling singkat masanya selama 4 tahun, mendapat gelar Sarjana dan dapat sedikit memudahkan dalam mencari kerja. Lalu, juga ada gelar Master, dan Doktor. Bidang yang dipelajari pun berbeda-beda serta akan mendapat pekerjaan yang berbeda-beda pula. Kalau aku, sedang sekolah pendidikan utama tingkat akhir. Yaitu, Sekolah Menengah Akhir..." Jelas Raisa


"Namun, karena sekolahku sedang ada proses pembangunan akibat kejadian waktu lalu itu, kami jadi diliburkan sampai waktu yang tidak ditentukan. Aku jadi bisa menemani kalian liburan di sini..." Tambah Raisa


"Lalu, apa kau akan menempuh pendidikan tingkat lanjut, Raisa?" Tanya Dennis


"Entahlah... Kalau ada diberikan kesempatan sih, aku mau saja. Aku ingin membahagiakan orangtuaku dengan memiliki pekerjaan yang bagus, jadi mungkin aku akan kuliah. Tapi, belakangan ini aku jadi bimbang. Karena bersama kalian aku merasa senang... Aku jadi ingin setelah lulus sekolah kali ini nanti, aku mau sering-sering liburan berkunjung ke dunia kalian saja. Masalah bekerja di sini mungkin aku ingin membuka usaha kecil-kecilan dan menghasillan uang dari sana untuk membahagiakan orangtuaku. Tidak tau yang mana yang akan kupilih, untuk saat ini aku sedang tak mau memikirkannya. Semakin kupikirkan, semakin aku merasa bingung. Untuk sekarang aku lebih memilih menjalani keseharianku seperti biasa saja dulu. Fokus belajar untuk ujian, nanti baru dipikirkan lagi." Jawab Raisa


"Kedua pilihanmu itu memang bagus. Sama-sama baik untukmu... Hakmu untuk memilih yang kau mau. Tapi, aku lebih ingin kau memilih yang kedua. Aku tidak mau kita yang baru saling kenal sudah akan berpisah suatu saat nanti. Kami tak ingin kau meninggalkan dan melupakan pertemanan kita. Aku berharap demikian." Ujar Rumi


"Hei, walaupun aku memilih untuk melanjutkan dan disibukkan dengan kuliah, aku takkan pernah melupakan kalian semua. Aku juga akan cari kesempatan untuk sering-sering berkunjung ke dunia kalian. Atau, bahkan aku akan mengambil cuti kuliah untuk mengunjungi kalian di sana. Tapi, itu masih belum terjadi... Itu masih lama! Jadi, aku hanya ingin menikmati waktuku untuk saat ini sekarang." Ucap Raisa


...'Tentu saja, aku tak bisa melupakanmu sampai kapan pun itu, Rumi. Baik sekarang ataupun nanti. Hati dan pikiranku takkan pernah lepas dari mengingatmu.' Batin Raisa...


"Dunia kita berbeda, sudah tentu jadwal libur pun berbeda. Tapi, untungnya sekolahmu sedang diliburkan... Kalau tidak, akan sangat merepotkan menunggumu sekolah saat kami memilih berlibur ke sini!" Kata Devan

__ADS_1


"Benar juga! Jadi, kemana kau akan membawa kita pergi berlibur saat ini? Katamu, kau akan mengajak kami bermain..." Ujar Morgan


"Itu dia! Rencananya aku ingin membawa kalian pergi ke taman bermain wahana. Sekarang tinggal pikirkan, bagaimana caranya aku membawa kalian ke sana? Sepertinya harus menyewa kendaraan, karena lokasinya yang memang jauh dari sini." Jawab Raisa


"Kenapa tidak menggunakan sihir teleportasimu, seperti biasa. Itu akan lebih mudah!" Saran Billy


"Aku ragu. Sepertinya tidak bisa begitu." Kata Raisa


"Memangnya kenapa?" Tanya Ian


"Aku menggunakan sihir teleportasi untuk membuka portal itu untuk pergi ke tempat yang sudah pernah kukunjungi sebelumnya, sementara sihirku ini baru muncul beberapa tahun terakhir ini. Sedangkan, waktu terakhir aku pergi ke taman wahana bermain itu saat aku masih kecil. Sepertinya memang tidak bisa membuka portal sihir teleportasi ke sana. Tempat yang akan kita pergi ke sana aku sudah sangat lama tidak pernah ke sana. Takutnya, aku malah mengacau dengan sihirku. Bagaimana kalau kita malah tersasar?" Ungkap Raisa menjawab.


"Raisa, kau yang lebih tau duniamu dan kemampuanmu. Sebelumnya, kau bahkan bisa membuka portal ke dunia kami yang kau belum pernah pergi ke sana sama sekali. Aku yakin, kali ini kau pasti bisa!" Ucap Aqila


"Benar! Walaupun akan menguras tenagamu, akan lebih baik daripada menguras isi dompetmu. Kau sudah sangat direpotkan dengan kedatangan kami. Menraktir kami makan, memberi kami tempat untuk menginap... Walaupun vila ini ditanggung oleh keluargamu, bukankah itu malah menguras lebih banyak pendapatan yang seharusnya keluargamu dapatkan? Kami mengandalkanmu, Raisa!" Ujar Sanari


Raisa nampak berpikir...


"Benar juga... Aku bahkan belum pernah pergi ke dunia kalian sama sekali sebelumnya, namun bisa mengantar kalian pulang. Tapi, aku memimpikan tentang kalian dan dunia kalian beberapa tahun ini setelah sihirku muncul. Mungkin itu alasannya aku bisa membuka portal menuju ke sana. Apa aku juga bisa membuka portal menuju tempat yang belum pernah kutuju saat sesudah sihirku muncul?" Bimbang Raisa ragu-ragu.


"Aku mengerti! Jadi, kau merasa tidak bisa pergi ke tempat yang pernah kau tuju di saat jauh sebelum sihirmu muncul? Kau menduga hanya bisa menggunakan sihir portal teleportasi untuk pergi ke tempat-tempat yang pernah kau tuju setelah sihirmu muncul saja?" Tanya Devan


"Benar begitu!" Sahut Raisa


"Coba kau pikirkan! Tanyakan pada dirimu sendiri... Mana yang lebih memungkinkan? Berhasil mengunjungi tempat yang belum pernah kau kunjungi dengan sihir portal teleportasi hanya karena pernah mempimpikannya setelah sihirmu muncul, atau tidak bisa mengunjungi suatu tempat yang pernah kau kunjungi dengan sihir portal teleportasi hanya karena belum pernah ke sana setelah sihirmu muncul? Bukankah keduanya sama saja? Ini hanya masalah keberuntunganmu... Kau saja bisa beruntung pergi ke tempat yang belum kau kunjungi dengan sihirmu, masa kau tidak memiliki keberuntungan juga pergi ke tempat yang pernah kau kunjungi dengan sihirmu?" Devan yang mencoba memberi perumpamaan pada Raisa.


"Tapi, saat pertama kali aku berhasil membuka portal ke dunia kalian adalah saat aku membantu Paman Elvano untuk kembali pulang karena penentuan tujuan sihir teleportasi Paman sedang rusak. Paman Elvano-lah yang menentukan akan ke mana dengan meminjam sihirku dan sihirku pun mengingat tujuan itu, jadi aku bisa mengantar kalian pulang setelahnya. Aku bisa menggunakan sihir portal teleportasi karena sihirku yang nengingat tempat mana saja yang pernah kukunjungi. Tentunya, itu karena sihirku telah muncul..." Ucap Raisa


"Ya, aku lupa menjelaskan tentang ini." Kata Raisa


*Padahal yang lupa bukan Raisa melainkan Authornya tang lupa. Hehe...


"Sihirmu ada dalam dirimu. Kau mengingat semua kenangan itu dalam benak pada dirimu. Itu cukup! Kau tinggal menggunakan sihirmu bersamaan dengan mengingat kenangan tentang tempat itu. Bukankah itu mudah?" Ujar Devan


"Tapi, kenangan tentang tempat itu sudah sangat lama. Aku hampir tak mengingatnya lagi. Aku benar-benar takut mengacau dengan sihirku..." Kata Raisa yang masih merasa ragu.


"Hei, kau hanya tinggal mencobanya! Jangan menjadikan segala kemungkinan itu menjadi sulit! Kau sangat merepotkan!" Geram Devan


Raisa sedikit tersentak dengan Devan yang geram pada dirinya. Kekesalan Devan sangat jelas dalam ucapannya. Namun, Raisa tetap saja ragu. Takut dirinya tidak bisa melakukan seperti yang dikatakan Devan...


Raisa pun terdiam dalam lamunan karena keraguannya. Namun, ia segera tersadar saat merasakan tepukan pada bahunya. Dan saat ia menoleh, ia mendapati Rumi sedang tersenyum padanya.


"Devan sudah berkata sebegitunya karena dia percaya padamu kalau kau bisa melakukannya. Kami semua pun yakin bahwa kau bisa... Kau hanya perlu menepis segala keraguanmu dan yakin pada dirimu sendiri. Kami semua mengandalkanmu, Raisa! Kau pasti bisa! Kau hanya perlu yakin." Ucap Rumi meyakinkan.


Raisa pun tersenyum hangat...


Ia ternyata lupa! Bahwa ia mempunyai teman-teman yang selalu ada dan percaya pada dirinya. Ia tak boleh mengecewakan semuanya yang telah mengandalkan dirinya. Ia tak boleh mengacaukan liburan mereka semua di dunianya sendiri...

__ADS_1


Benar! Dirinya hanya perlu yakin~


"Baiklah, akan kucoba! Tak mau mengacaukan liburan kalian di sini, aku harus bisa... Hanya perlu yakin!" Gumam Raisa


Semua pun tersenyum ke arahnya...


Raisa pun memejamkan kedua matanya... Mengingat semua kenangan tentang tempat yang akan ia kunjungi bersama teman-temannya itu.


Raisa pun mulai mengaktifkan sihirnya! Mengeluarkan sihir teleportasi...


Sebuah lingkaran hitam kecil pun muncul! Perlahan lingkaran itu menjadi besar dan terbuka seperti sebuah lubang! Lubang misterius yang menuju ke suatu tempat~


"Aku mengandalkan ingatanku yang samar untuk membuka portal ini. Tapi, tidak yakin portal ini akan muncul di tempat sepi pada tempat yang akan kita kunjungi. Jika, ada orang yang melihat kita tiba-tiba muncul nanti, tinggal hapus ingatan mereka dengan sihir ilusi. Cepat, masuklah!" Ucap Raisa


"Kupikir liburan kita akan gagal karena keraguanmu, Raisa." Kata Sandra


"Tenang saja. Aku yakin tujuan kali ini pun akan tepat!" Kata Rumi


Satu persatu dari mereka pun memasuki portal teleportasi tersebut. Setelah semuanya masuk, Raisa pun melangkah masuk ke dalam sebagai orang terakhir...


Raisa melihat sekeliling~


Tempat itu sepi!


"Ternyata sepi! Jalanlah lebih dulu, Raisa. Coba kau lihat! Benar bukan tempat ini yang kau maksud?" Ujar Billy


"Benar, ini tempatnya! Berjalan sedikit lagi, kita akan menemukan loket tempat pembelian tiket." Girang Raisa


Sebenarnya Raisa tidak tau di sudut manakah ia mendarat setelah membuka portal ke tempat tersebut. Tapi, itu tidaklah penting! Yang penting, tujuan telah tepat dan tidak ada orang yang melihat...


"Masih harus membeli tiket? Kukira kita bisa langsung menaiki wahana." Kata Morgan


"Tidak bisa begitu, kita masih harus membeli tiket. Tenang saja, aku mengantongi lembaran kertas promosi. Kita akan mendapat potongan harga, apalagi kita masuk dengan banyak jumlah anggota." Ucap Raisa


Setelah masuk, mereka semua dimanjakan dengan banyak wahana seru dan asik untuk dimainkan...


Awalnya, mereka menaiki wahana secara bersamaan. Namun, akhirnya ada perbedaan pendapat dalam menaiki wahana selanjutnya. Mereka pun mulai berpencar dan berjanji akan bertemu di titik semula.


Banyak wahana yang telah dimainkan, wahana mana lagi selanjutnya? Raisa kebingungan...


Yang membuat Raisa bingung adalah karena dirinya bersama Rumi untuk memilih wahana selanjutnya. Ia tak bisa merasa tenang jika berada di dekat lelaki itu. Walaupun ia tak hanya berdua saja... Ada Sanari, Amy, Sandra, Dennis, dan Marcel juga bersama Raisa dan Rumi.


Raisa terus gelisah jika bersama Rumi... Ia takut perasaannya akan goyah lagi. Terus seperti itu.


.


__ADS_1


Bersambung...


Maaf jika episode kali ini kurang maksimal. Kondisi Author sedang kurang memungkinkan. Migrain kambuh... Mohon pengertiannya.


__ADS_2