
Mereka semua pun kembali ke tempat sebelumnya, tempat yang lain menahan lima orang terpengaruh sihir pengendali pikiran dengan sihir penyegel.
Dengan si pelaku bersama Raisa yang membawanya.
•••
Raisa bersama lainnya pun datang mengejutkan mereka yang menunggu dengan cemas. Mereka lebih terkejut saat melihat satu orang asing yang datang bersama Raisa yang membawanya. Tapi, mereka dapat menduga bahwa dialah si pelaku yang jahat! Namun, mereka merasa lega saat mengetahui Raisa bersama lainnya berhasil menghadapi dan mengakhiri keributan yang terjadi...
"Mereka kembali!" Kata Billy yang lebih dulu melihat kedatangan Raisa dan yang lain...
"Kau baik-baik saja?" Tanya Amy yang sudah sangat cemas nampak menahan air matanya~
"Melihatnya yang datang dengan selamat, sepertinya berhasil!" Ujar Chilla yang juga sibuk memakan camilan keripik kentang kesukaannya yang tak bisa jauh darinya...
"Dan, siapa orang asing itu? Apa dia pelakunya?" Tanya Wanda melihat si pelaku di belakang Raisa yang telah terbelenggu.
"Ya, aku sudah menangkapnya. Dia telah mengaku salah dan menyerahkan diri. Dia sudah bertobat... Jadi, kalian tenanglah saja." Ungkap Raisa
Awalnya mereka semua merasa geram hendak meluapkan amarahnya dengan menghakimi si pelaku yang sudah membuat Raisa kesulitan. Tapi, mendengar Raisa yang sudah berkata seperti itu, mereka mengurungkan niatnya. Mereka lebih menghargai keputusan Raisa atas kebaikan hatinya...
"Tapi, bagaimana dengan kelima orang ini?" Tanya Marcel
"Sepertinya mereka masih terpengaruh sihir walau sudah lebih tenang..." Kata Dennis
"Bagus jika mereka sudah lebih tenang dari sebelumnya. Ian, bisakah kau menghilangkan pengaruh sihir pengendali pikiran pada mereka berlima? Kau kan mewarisi bakat dari Bibi Irene!" Ujar Morgan
"Aku? Kenapa tidak meminta pelakunya saja melepas pengaruh sihirnya dari mereka berlima?" Heran Ian kebingungan.
"Aku sudah memblokir kemampuannya bersama dengan tenaga sihirnya. Dia tidak bisa menggunakan sihirnya untuk menghilangkan pengaruh itu sekarang. Aku juga tidak tau mengapa, tapi dia sudah berkata tidak bisa. Mungkin karena sihir yang memengaruhi pikiran mereka berlima sangat kuat srbelumnya karena si pelaku dikuasai kebencian dan dendam. Dan karena kemampuannya sudah kusegel, pengaruh sihir yang kuat itu masih melekati kelima orang ini. Bisakah kau membantu melepas pengaruh sihir itu dari mereka berlima, Ian?" Ucap Raisa
"Baiklah, akan kucoba..." Kata Ian
Ian pun memfokuskan pikirannya pada kelima orang yang terpengaruh sihir pengendali pikiran. Ia memejamkan matanya sejenak untuk lebih memfokuskan dirinya... Saat kembali membuka matanya, ia pun merapalkan mantra sihir pengendali pikiran yang ia kuasai yang diwariskan oleh Sang Ibu.
Keringat nampak mulai berkucuran membasahi dahi Ian, menandakan ia begitu keras berusaha menghilangkan pengaruh sihir pengendali pikiran pada lima orang di hadapannya...
Lalu, dengan ekspresinya yang sedikit kecewa, Ian menghentikan usaha sihirnya.
"Maafkan aku. Sihirku gagal melepas pengaruh sihir pengendali pikiran yang melekat pada mereka berlima. Aku juga tak tau mengapa... Selain sihirnya memang kuat, jenis sihir itu sendiri ternyata berbeda dengan sihir Ibu yang diwariskan padaku. Aku sulit untuk memecah sihir itu dan akhirnya sihirku pun gagal." Ungkap Ian
"Tidak apa. Aku yang terlalu memaksamu, kau tak perlu minta maaf. Justru aku meminta maaf karena telah merepotkanmu dengan menguras usaha dan tenaga sihirmu untuk melepas sihir yang memengaruhi mereka. Kau sudah berusaha, maaf telah membuatmu membuang tenagamu." Ucap Raisa seraya menepuk pundak Ian sebagai permintaan maaf dan kembali menyemangatinya.
"Lalu, bagaimana nasib mereka berlima? Kau tidak mungkin memblokir tenaga mereka dan lalu membunuh mereka agar tidak lepas kendali, bukan?" Tanya Morgan
"Tentu saja, tidak!" Jawab Raisa dengan cepat.
"Hei, kau! Kau yang telah berulah, kau pasti punya suatu cara, kan? Jangan lepas tanggung jawab begitu saja! Jangan hanya pasrah diam saja, usahalah lepaskan oengaruh sihirmu bagaimana pun caranya!" Kesal Billy yang memarahi si pelaku.
Si pelaku yang telah dibelenggu oleh Raisa pun mengarahkan pandangannya, menatap lemah ke arah Billy yang memprotesi dirinya...
"Aku sudah menyerah dan mengaku salah. Temanmu sudah menyegel kemampuan dan tenaga sihirku demi kebaikan semuanya. Dan aku sudah mengatakan padanya, jika aku tak bisa lagi sama sekali mengeluarkan sedikit pun usaha kemampuan sihirku termasuk menghilangkan pengaruh sihirku pada mereka berlima. Aku sama sekali tak berdaya sekarang..." Jelas si pelaku berucap lemah.
"Bagaimana ini?" Panik Sanari
__ADS_1
"Ck! Hei, kau yang memutuskan untuk jadi seperti ini. Kau pasti punya solusi tersendiri, kan? Lakukanlah seperti rencanamu!" Ujar Devan
"Apa maksudmu, Devan? Meminta bantuan Ian sudah gagal. Apa maksudmu punya caranya sendiri? Apa dia bisa melepas pengaruh sihir itu sendiri, begitu maksudmu?" Heran Morgan bertanya maksud ucapan Devan.
"Ya. Tentu saja, maksudku begitu. Dari awal, sihirnya termasuk mampu segalanya. Dia hebat, kita semua saja terheran saat pertama kali melihat kemampuannya! Dia memang terlalu berbelit-belit... Merepotkan saja!" Ucap Devan yang menebaknya.
"Apa benar yang dibilang, Devan? Kau bisa mengatasinya sendiri? Kalau begitu, kenapa tidak kau saja yang lakukan dari awal?!" Tanya Morgan
"Benar, kau bisa melakukannya?" Tanya Ian
Raisa memperlihatkan tawa kudanya. Tak enak hati dengan semuanya.
"Aku sungguh minta maaf padamu yang sudah bersusah demiku, Ian. Kalian berdua juga jangan kesal padaku begitu dong... Aku sudah bertarung dalam waktu yang lama sebelumnya, setidaknya aku memerlukan sedikit waktu untuk memulihkan sedikit tenagaku yang telah banyak terkuras. Maaf, mengecewakan kalian semua..." Jujur Raisa
*Kalian berdua yang dimaksud Raisa adalah Morgan dan Devan.
"Kau sungguh bisa melakukannya? Melepas pengaruh sihir pengendali pikiran itu?" Tanya Aqila
"Kurasa, aku harus mencobanya..." Kata Raisa
Raisa pun nampak mempersiapkan dirinya dengan fokus dan serius...
"Kalian yang menggunakan sihir penyegel pada pergerakan mereka, lepaskan saja... Mereka berlima juga sudah terlihat jauh lebih tenang dari pada sebelumnya." Pinta Raisa
"Kau yakin? Bagaimana kalau mereka mengamuk lagi?" Tanya Marcel
"Kurasa, tidak akan. Lagi pula mereka ada dalam jangkauan kita semua saat ini." Kata Raisa
"Pakai kembali tudung jubah kalian! Aku minta tolong, jangan sampai mereka melihat rupa kalian. Bagaimana pun kalian semua bukan orang dari dunia ini..." Pinta Raisa memohon.
Mereka yang datang dari dunia lain di dimensi yang berbeda pun kembali memakai tudung dari jubah mereka. Menutupi keberadaan wajah mereka semua...
Dan seperti kata Raisa, sihir penyegel pun dilepas dari mereka berlima yang terpengaruh sihir pengendali pikiran. Mereka yang masih terpengaruh sihir pengendali pikiran, sorotan matanya nampak masih berapi-api, dadanya nampak naik turun menahan amarah. Diri mereka terlihat masih diliputi emosi, namun sudah tidak ada yang menggerakkan pikiran mereka untuk melakukan hal-hal seperti pergerakan yang memberontak atau pun menyerang~
Raisa dengan langkah cepatnya pun menghampiri satu persatu kelima orang yang terpengaruh sihir pengendali pikiran tersebut~ Menyentuh tepat di titik tengah dahi mereka berlima dan mengatur mereka berlima dalam posisi yang melingkar, juga membuat mereka berlima saling bergenggaman tangan...
Lalu, Raisa pun memejamkan matanya demi memfokuskan diri serta pikirannya. Kemudian, kedua tangan Raisa bergerak menggenggam dua tangan terakhir dari kelima orang yang tersisa yang tidak saling bergenggaman tangan...
Dengan itu, Raisa menyalurkan sihir murninya dari inti sihirnya pada kelima orang tersebut dari kedua tangannya.
Dari dahi kelima orang tersebut yang telah disentuh Raisa sebelumnya pun memancarkan sinar putih yang bercahaya dan dari cahaya yang bersinar itu muncul simbol dari inti kekuatan sihir Raisa, yaitu Bunga Teratai Putih~
Lambang Bunga Teratai Putih pada dahi kelima orang itu pun terus bersinar~
Dan, Raisa pun menggumamkan sesuatu untuk menyadarkan mereka berlima dari pengaruh sihir pengendali pikiran si pelaku sebelumnya...
"Kalian akan terbebas dari pengaruh sihir yang telah mengendalikan pikiran kalian... Sadarlah~" Guman Raisa, pelan dengan memasukkan sihir murni ke dalam setiap kata-katanya.
UKH!
Mata kelima orang itu terpejam erat lalu mereka membuka matanya kembali...
"Aduh..."
__ADS_1
"Kepalaku, sakit!"
"Kenapa pusing sekali?!"
Saat kelimanya tersadar dengan membuka mata mereka, mereka pun terkejut bukan main. Dan tubuh mereka pun bergetar ketakutan...
"Apa kalian sudah tersadar dari apa yang kalian lakukan sebelumnya?" Tanya Raisa
"Iya... Apa yang kami lakukan sebelumnya bukan atas kehendak kami, tubuh kami tak bisa kami kontrol sendiri. Pikiran kami yang membuat kami melakukan itu semua, tapi kami juga tidak tau kenapa dan apa sebabnya... Mohon, jangan sakiti kami semua. Kami mohon ampun!" Ucap salah seorang dari kelima orang tersebut. Mereka semua menunduk ketakutan.
"Tidak! Aku- Kami semua tidak ada maksud seperti itu... Pikiran kalian semua tadi terpengaruh dengan sihir pengendali pikiran. Dan pelaku sihir itu sudah tertangkap dan telah kubekuk. Kami bermaksud menyelamatkan kalian dan takkan menyakiti kalian." Jelas Raisa
Mereka berlima pun memberanikan diri mengangkat pandangannya dan nenatap Raisa yang berada tepat di depan mereka. Lalu, mereka berlima malah bersujud di hadapan Raisa di bawah kakinya...
"Terima kasih! Terima kasih banyak karena sudah menyelamatkan kami semua... Kami benar-benar minta maaf atas perbuatan kami yang tak terkontrol sebelumnya."
"Terima kasih dan mohon maaf..."
"Eh, tidak-tidak! Tidak perlu sampai seperti ini... Kalian bangkitlah. Apa kalian tidak apa-apa? Apa ada dari kalian yang terluka atau merasa sakit? Katakan saja... Dan kalian tidak perlu sungkan sampai seperti ini." Ucap Raisa
Raisa sempat bingung harus bagaimana... Ia tak menyangka mereka berlima akan bereaksi seperti ini melakukan sujud di hadapannya. Ia pun kikuk sendiri. Tak pernah diperlakukan seperti ini sebelumnya seumur hidupnya. Ia jadi merasa tak enak sendiri.
Mereka berlima pun perlahan bangkit dan menatap Raisa.
Salah seorang dari mereka pun memberanikan untuk berdiri dan berjalan mendekati Raisa.
"Uhm... Anu, dari pada mengkhawatirkan kami yang telah melakukan kegaduhan sebelumnya. Khawatirkanlah diri Anda yang terluka. Dilihat dari lukanya, itu sudah lama karena darahnya sudah mengering. Biar saya melihatnya, saya adalah Dokter. Sepertinya, tadi saya yang melukai Anda menggunakan pisau bedah yang saya bawa. Maafkan saya, saya akan memeriksanya sebagai gantinya." Ucapnya, seorang wanita.
"Ah, lukaku ini... Ini bukan masalah besar, saya bisa mengatasinya sendiri." Kata Raisa
Raisa pun melakukan sihir medis penyembuhan pada dirinya sendiri. Dan kedua luka di tubuhnya pun pulih tanpa ada bekas sedikit pun. Raisa bahkan menghilangkan darahnya yang membekas pada pakaiannya.
Raisa menggunakan sihir air yang ia siramkan pada noda darah pada pakaiannya. Tanpa melepaskan sihirnya, setelah cukup lama pakaian yang melekat di dirinya direndamkan air sihir, ia pun mengangkat air itu dari pakaiannya. Noda darah pada pakaiannya pun terangkat bersamaan dengan sihir air itu diangkat. Lalu, ia membuang air bekas rendaman darahnya itu ke tanah. Kini, pakaiannya pun kembali bersih ke warna semula, yaitu putih, tanpa noda sedikit pun. Sihirnya bekerja seperti sistem kerja mesin cuci!
"Lihatlah, lukaku sudah sembuh sepenuhnya. Bahkan noda bekas darah pada pakaianku pun sudah hilang. Bu Dokter, tak perlu cemas. Kutau, yang sebelumnya kalian lakukan itu bukan atas kemauan kalian sendiri, kalian tak bersalah. Sekarang, kalian bisa mengatakan, adakah luka atau rasa sakit pada diri kalian? Saya akan bantu menyembuhkannya seperti menyembuhkan diriku sendiri tadi. Dijamin takkan menyisakan sakit lagi dan sembuh sepenuhnya. Saya hanya mau membantu kalian sekali lagi. Terimalah niat baik tulus saya. Kalian tidak perlu sungkan..." Ujar Raisa
Kelima orang itu pun mulai mengutarakan keluhan atas pertarungan sebelumnya. Akibat sihir yang mengendalikan pikiran mereka saja sudah membawa pengaruh pada diri mereka. Terlebih lagi saat mereka dipaksa melakukan sihir juga padahal tak mempunyai kemampuan itu. Dan banyak dari serangan mereka pun yang ikut melukai diri sendiri atau pun saling melukai kelima orang tersebut. Dan, Raisa pun mencoba membantu menangani yang mereka keluhkan. Baik itu luka atau hanya rasa sakit yang mereka derita. Raisa mencoba untuk menyembuhkannya.
"Bu Dokter, tak perlu khawatir... Saya takkan membuka praktik sihir medis seperti ini di lain waktu. Ini hanya sebatas karena peristiwa genting seperti tadi terjadi. Jadi, saya takkan jadi penghalang yang bisa menutup usaha Bu Dokter atau usaha medis seperti Rumah Sakit lainnya. Saya takkan muncul bila peristiwa seperti ini tak terjadi. Dan, semoga peristiwa seperti ini takkan terjadi lagi lain kali. Jadi, Anda bisa tenang..." Jelas Raisa berusaha mencairkan suasana canggung dan tegang saat ini dengan sedikit gurauan belakanya.
"Kami benar-benar mengucapkan terima kasih banyak! Kalianlah penyelamat hidup kami... Bagaimana kami bisa berterima kasih dan siapakah Anda sekalian semua ini?"
"Kalian tak perlu berterima kasih sampai seperti itu. Satu ucapan terima kasih yang tulus dari kalian pun sudah cukup. Mereka yang berjubah hitam di belakangku hanyalah orang-orang pelintas ruang dan dimensi, mereka datang membantuku... Dan, saya... Sebut saja, Putri Burung Teratai Putih! Saya juga hanya melintas sebentar. Jadi, tak perlu pedulikan kami. Kalian hanya cukup menjalani kehidupan yang baik dan damai seperti biasanya. Itulah yang benar-benar kami semua inginkan." Jujur Raisa
"Terima kasih kalian semua... Terima kasih banyak, Putri Burung Teratai Putih!"
"Baiklah, kalian semua bisa pergi. Pulanglah... Keluarga dan kerabat kalian pasti sudah menunggu dengan cemas sedari tadi." Ujar Raisa
Setelah semua selesai, kelima orang tersebut pun pergi. Membubarkan diri dari sana. Dan, Raisa bersama yang lainnya dan dengan si pelaku pun juga pergi dari sana. Mencari lokasi yang lebih tersembunyi untuk setidaknya sedikit berbincang-bincang dengan leluasa.
.
•
__ADS_1
Bersambung...