
Di pagi hari, Raisa sudah bersiap untuk berangkat bekerja.
"Bu, aku berangkat dulu, ya!" teriak Raisa berpamitan hendak pergi.
"Ya. Hati-hati, Nak!" sahut Bu Vani yang berteriak dari arah dapur.
Saat hendak melangkah ke luar rumah, tas yang dibawa Raisa bergerak dari dalam. Itu adalah pergerakan dari ular sihir pemberian dari Rumi.
Untuk melakukan komunikasi antar dimensi dunia yang berbeda memang masih memerlukan bantuan ular sihir milik Rumi. Jadi, Raisa tidak pernah lupa untuk terus menyimpannya di dalam tas yang selalu dibawanya ke mana pun ia pergi.
Dihubungi dari dimensi lain, Raisa pun mengurungkan niatnya untuk ke luar dari rumah dan lebih dulu mengeluarkan ular sihir dari dalam tas miliknya
"Aku ... Raisa, ada apa, Rumi?"
"Raisa, kami berencana untuk berkunjung ke duniamu."
"Sekarang juga? Boleh saja. Aku masih ada di rumah. Kau bisa meminta Aqila memakai koordinat di halaman belakang rumahku untuk tujuan pembukaan portal sihir menuju ke sini."
"Baiklah. Kami semua akan datang. Jangan terkejut karena kami datang dalam jumlah banyak."
"Tidak apa, silakan saja. Kalian semua disambut di sini sebagai tamu kehormatanku."
"Senang mendengarnya. Akan kuputus komunikasinya. Kami akan segera datang ke tempatmu."
"Dimengerti."
Raisa yang mengurungkan niat untuk ke luar rumah dan berbalik arah untuk beranjak ke arah halaman belakang rumahnya. Raisa lebih dulu menuju ke dapur yang menghubungkan pada halaman belakang rumahnya.
"Raisa, bukannya kamu mau berangkat kerja? Apa ada barang kamu yang tertinggal di dapur?" tanya Bu Vani
"Iya, Bu. Tapi, teman-temanku dari dimensi lain mau datang, jadi aku mau tunggu mereka dulu di halaman belakang," jelas Raisa
Raisa pun ke luar dari pintu belakang rumahnya menuju ke halaman belakang rumahnya.
Tak butuh waktu lama saat menunggu, lingkaran hitam dari portal sihir muncul dan terbuka di halaman belakang rumah Raisa.
Raisa pun langsung menyambut kedatangan teman-temannya di sana.
"Halo, semuanya. Selamat datang," sapa Raisa
"Hai, Raisa!"
"Oh ... Amon, Sanari, bahkan sampai Monica juga datang! Maaf, kalau rumahku terlalu kecil untuk menampung kalian semua di sini," ujar Raisa
"Tidak apa, Raisa. Kami yang seharusnya minta maaf karena datang beramai-ramai dan jadi merepotkanmu," ucap Aqila
"Tidak masalah," kata Raisa
"Kan, sudah kukatakan sebelumnya ... kami akan datang dalam jumlah banyak," ungkap Rumi
Raisa hanya mengangguk sambil tersenyum.
Raisa pun menatap ke arah Ian.
"Ian, ternyata kau sudah lebih berani mengungkapkan hubunganmu pada orang lain, ya. Bagus sekali," ucap Raisa sambil sesekali melirik ke arah Monica, adik Morgan. Yang sekarang sedang menjalin hubungan dengan Ian.
"Sudah kuduga ... kau pasti sudah tahu lebih dulu," kata Ian sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal karena merasa malu.
"Monica, katakan dengan jujur ... siapa yang lebih dulu mengajakmu datang liburan ke sini? Kakakmu, Morgan atau Ian?" tanya Raisa
"Itu ... di hari yang sama Kak Ian lebih dulu mengajakku pergi, lalu setelahnya baru Kak Morgan. Kakak hanya memberitahu padaku bahwa kita akan pergi, bukannya mengajakku," ungkap Monica
"Masih lebih baik Ian dari pada Morgan, rupanya ... " Raisa melirik sinis ks arah Morgan.
__ADS_1
"Tentu saja." Ian berbangga diri.
"Hei, aku tidak seperti itu!" Morgan merasa tidak terima dibilang tidak lebih baik untuk adik kandungnya sendiri.
Raisa terkekeh kecil.
"Monica, ini kali pertama kita bertemu, ya. Padahal sudah lama aku tinggal di Desa Daun, tapi kita malah bertemu saat kau datang berkunjung ke sini. Maaf karena aku belum pernah berkunjung ke rumahmu dan Morgan," ucap Raisa
"Tidak apa. Kakak memang selalu dan lebih sering menghabiskan waktu bersama teman-temannya di luar rumah," kata Monica
Monica melangkah mendekat ke arah Raisa dan menggenggam kedua tangannya.
"Kak Raisa, ini memang kali pertama kita bertemu, tapi aku sangat berharap bisa dekat denganmu. Aku sudah banyak mendengar tentangmu dan mengagumimu. Kau sudah banyak berjasa untuk desa kami, menggantikan peran ayah untuk melindungi desa, juga melindungi Kak Morgan dan semua temannya. Kau sangat hebat," ungkap Monica
"Terima kasih atas pujianmu. Tidak bisa dibilang berjasa juga karena aku hanya membantu dan jangan bilang aku menggantikan peran ayahmu. Kalau ayahmu dengar, dia pasti akan merasa tersinggung, lalu melindungi teman-teman adalah tugasku. Tolong jangan terlalu dilebih-lebihkan," ucap Raisa
Raisa langsung bergerak memeluk Monica yang menurutnya menggemaskan. Sudah lama Raisa ingin bertemu dengannya dan kesempatan itu baru datang sekarang.
"Coba saja kalau aku punya adik perempuan seperti dirimu. Aku hanya punya adik lelaki yang sifatnya sering membuatku merasa kesal karena mirip seperti Morgan," ujar Raisa
"Kak Raisa, punya adik lelaki?" tanya Monica
"Ya. Tapi, kalau sekarang dia masih sekolah," jawab Raisa
"Sekolah, maksudnya belajar di akademi?" tanya Monica lagi.
"Ya. Semacam itulah, tapi kami di sini tidak mempelajari ilmu sihir. Makanya, disebut sekolah," jelas Raisa
"Sudah, jangan terlalu lama memeluk adikku yang manis ini. Apa kau tidak lihat sudah ada dua lelaki yang kau buat kesal?" Morgan beranjak menarik Monica dari pelukan Raisa.
Dua lelaki yang dimaksud Morgan adalah Ian, pacar Monica yang Raisa peluk. Lalu, Rumi, pacar Raisa sendiri yang tidak bisa mendapat pelukan seperti Monica.
Raisa hanya terkekeh kecil.
"Kenapa jadi aku yang disalahkan?" Ian merespon sama seperti Morgan yang tidak ingin disalahkan.
"Tentu saja. Kalau bukan kau sebagai pacarnya, lalu siapa lagi!?" Raisa mendelik ke arah Ian.
"Kan, sekarang kau sudah bertemu dengan Monica. Kau saja yang menceritakan tentang dirimu padanya," ucap Morgan
"Tidak. Itu akan jadi tugas salah satu dari kalian berdua," kata Raisa
"Katanya kau mau jadi lebih dekat dengan adikku. Bilang saja kau yang malas bercerita," ujar Morgan
"Ian, kuserahkan padamu untuk menceritakan diriku pada Monica secara lengkap seperti yang sudah pernah kuceritakan padamu. Kau bisa memanfaatkan waktu bercerita tentangku agar bisa lebih dekat dengan Monica, pacarmu." Raisa menggunakan sihir transmisi suara untuk bicara dengan Ian tanpa sepengetahuan yang lainnya.
"Dimengerti. Hmm ... terima kasih atas saranmu," balas Ian
Raisa memang malas mengulang cerita yang sudah pernah ia ceritakan pada siapa pun itu. Raisa pun memanfaatkan Ian untuk bercerita dengan alasan demi kedekatan hubungannya dengan Monica. Sekali tembak, dua burung langsung kena.
Ian juga mengerti sifat Raisa yang malas mengulang cerita, tapi ia tidak keberatan dimanfaatkan jika untuk menjadi lebih dekat dengan pacarnya. Ia juga tidak mengajukan protes atau apa pun itu dan malah berterima kasih pada Raisa karena sudah memikirkan cara untuk lebih dekat dengan Monica walau harus bercerita panjang lebar tentang gadis itu.
"Sudah ... nanti biar aku saja yang bercerita tentang Raisa dengan Monica," ucap Ian
"Yeay! Aku menantikannya," kata Monica
Meski sebenarnya Monica merasa senang menantikan cerita tentang Raisa, Ian pun ikut merasa senang. Karena baginya itu adalah perasaan senang pacar cantiknya menantikan waktu berduaan dengannya.
"Omong-omong ... Raisa, kau sudah rapi seperti ini ... mau pergi ke mana?" tanya Chilla
"Sebenarnya aku ingin berangkat bekerja," jawab Raisa
"Apa kami sudah menyia-nyiakan waktu pentingmu?" tanya Sanari
__ADS_1
"Tidak kok. Aku masih punya banyak waktu sebelum bekerja," jawab Raisa
"Tapi, setelah ini aku benar-benar harus pergi bekerja. Kalian ingin kuantar ke vila atau-"
"Apa kami boleh ikut kau saat bekerja?" tanya Amy
"Ya. Kudengar ada juga artis yang boleh membawa teman ke lokasi kerja," ujar Billy
"Sebelumnya, Rumi juga pernah ikut kau bekerja melakukan pemotretan model, kan?" tanya Wanda
"Sebenarnya aku memang ingin ke tempat pemotretan. Apa kalian yakin ingin ikut?" tanya balik Raisa usai menjawab.
"Ya. Kalau memang boleh," jawab Sandra
"Kalau kalian diceritakan oleh Rumi, kalian juga pasti tahu bahwa Rumi juga ikut pemotretan denganku. Fotografer di sana tidak bisa diam saja jika melihat sesuatu yang indah. Kalian mungkin merasa risih atau direpotkan," ujar Raisa
"Tidak apa. Bagus kalau aku ikut pemotretan denganmu juga," kata Chilla
"Sesuatu yang indah? Jika begitu, kau mengakui bahwa Rumi itu tampan, ya, Raisa?" tanya Marcel
"Tentu saja. Kalau dia tidak tampan, aku tidak akan menyukainya. Aku ini tipe seperti Chilla yang melihat wajah lebih dulu," ungkap Raisa
"Wah ... kau mengakuinya terang-terangan sekali," ucap Dennis
"Lebih baik jika berkata jujur," kata Raisa
"Raisa memang satu frekuensi denganku," kata Chilla
"Aku bersyukur jika Raisa menyukaiku," ucap Rumi
Saat itu Bu Vani ke luar dari arah dapur.
"Teman-teman Raisa sudah datang."
"Selamat pagi, Bibi."
Bu Vani tersenyum.
"Ini ada sedikit camilan untuk kalian," kata Bu Vani
Camilan pemberian Bu Vani langsung disambut gembira dan diambil olah Chilla.
"Terima kasih, Bibi."
"Ibu, aku berangkat kerja dulu," ucap Raisa
"Kalau kamu kerja, teman-teman kamu gimana?" tanya Bu Vani
"Mereka mau ikut, jadi kami akan pergi naik busway,"jawab Raisa
"Ya sudah. Hati-hati, ya," pesan Bu Vani
Raisa mengangguk.
"Bibi, kami semua pergi dulu, ya," pamit Rumi
Raisa dan semua temannya pun beranjak pergi bersama-sama.
"Ternyata, Raisa dan Rumi memang saling menyukai," batin Bu Vani yang mendengar percakapan sebelumnya.
.
•
__ADS_1
Bersambung ...