
Pada akhirnya, Raisa benar-benar hanya duduk di kejauhan untuk melihat mereka berlatih.
Latihan saat ini memiliki sesi. Sesi pertama, Guru Kevin meminta Morgan dan Aqila saling menghadapi satu sama lain. Latihan ini dilakukan untuk menilai berapa besar kemampuan yang dimiliki masing-masing.
Saat Guru Kevin melatih cara bertarung Morgan dan Aqila, Rumi sementara istirahat sejenak. Duduk bersama Raisa menyaksikan pelatihan di depan mata mereka.
Raisa duduk di kejauhan sambil membuka buku pelajaran sekolahnya ia ia tak lupa membawanya saat pergi berlibur di dunia itu. Ia terlihat fokus saat membaca deretan tulisan pada buku pelajarannya, sesekali ia memperhatikan ke depan menyaksikan latihan Morgan dan Aqila yang masih berlangsung.
Raisa menyaksikan cara bertarung Morgan dan Aqila. Kemampuan mereka berdua meningkat pesat dari saat pertama kali ia melihat kemampuan mereka lewat mimpi. Mereka menjadi lebih hebat seiring berjalannya waktu. Raisa pergi menjelajah dimensi ke dunia itu untuk berlibur, ia juga ingin berlatih kemampuan. Namun, ia tak melupakan tugasnya sebagai pelajar walau sedang berlibur di sana. Ia tetap belajar saat punya kesempatan waktu luang.
"Raisa, kamu masih menyempatkan belajar di sini? Apa mau kubantu ajarkan?" Tanya Rumi yang berada di sampingnya.
"Tidak perlu. Yang kupelajari ini tentang pemahaman dan menghafal. Aku masih bisa menguasai sendiri. Terima kasih atas niat baikmu, Rumi." Ucap Raisa
"Baiklah." Kata Rumi
"Sudah cukup, Morgan, Aqila. Beristirahatlah dulu." Titah Guru Kevin
"Baik, Guru!" Serempak Morgan dan Aqila.
"Rumi, sekarang giliranmu!" Seru Guru Kevin memanggil Rumi
Rumi pun bangkit dari duduknya dan menghampiri Gurunya, Tuan Kevin.
Morgan dan Aqila pun menepi dari tempat mereka.
"Bagaimana kondisimu? Apa kau sudah siap berlatih sekarang?" Tanya Guru Kevin
"Siap, Guru! Aku baik-baik saja." Jawab Rumi
"Raisa, ke marilah!" Seru Guru Kevin memanggil Raisa
Raisa terkesiap.
"Aku? Ah, baiklah." Ujar Raisa
Raisa pun memasukkan buku pelajarannya ke dalam tas ransel yang ia bawa. Ia meninggalkan tas ranselnya di tanah lapang tersebut. Ia pun bangkit dari duduknya dan menghampiri Tuan Kevin yang memanggilnya.
"Anda memanggilku, Tuan?" Tanya Raisa
"Ya. Bantu aku untuk menjadi pasangan bertarungnya Rumi. Mulai saat kau ikut waktu kami berkumpul, kau juga akan ikut berlatih bersama kami. Aku akan melatihmu. Aku akan jadi Gurumu. Mulai saat kau ikut berlatih seperti sekarang, panggil aku Guru." Ucap Guru Kevin
"Aku boleh ikut berlatih bersama!? Terima kasih! Mohon bantuanmu untuk melatihku, Guru Kevin." Ujar Raisa
Saking senangnya, Raisa membungkukkan badannya untuk menunjukkan rasa hormatnya pada seorang yang menjadi guru barunya untuk berlatih kemampuan sihir.
"Sekarang, bagaimana caraku melatihmu sedangkan jenis sihirmu berbeda dengan yang ada di dunia kami?" Tanya Guru Kevin seraya berpikir.
"Tidak apa, tak perlu bingung. Cara kerja sihirku sama seperti penguasaan perubahan dasar pada sifat alami tenaga sihir di dunia ini. Anda pasti mengetahui tentang itu. Anda cukup mengarahkanku seperti semua teori itu saja. Aku akan mengerti semua yang Anda maksud." Ungkap Raisa
"Kau benar juga. Kita bisa coba cara itu." Kata Guru
"Kalau begitu, kita mulai latihannya. Kau dan Rumi saling kenghadapi satu sama lain, kali ini aku yang akan mengarahkan seperti apa pertarungannya. Aku ingin lihat seperti apa kemampuan kalian, terutama kau, Raisa." Ujar Guru Kevin
"Aku melawan Rumi begitu, Guru?" Tanya Raisa
"Ya, seperti Morgan dan Aqila tadi. Tenang saja, aku yang mengarahkan cara bertarung kalian. Takkan ada yang sampai terluka." Jawab Guru Kevin
"B-baiklah." Patuh Raisa
Bukan itu masalahnya. Raisa tidak takut akan terluka. Terluka wajar saja jika dalam bertarung walau hanya sedang berlatih. Tapi, ia sulit untuk melawan Rumi atau mungkin tidak bisa. Membayangkan untuk melawan lelaki pujaan hatinya saja tidak pernah! Apa lagi jika tubuhnya harus melakukan pergerakan sungguhan untuk melawan lelaki yang berada di hadapannya kini, ia tidak bisa!
__ADS_1
..."Bagaimana ini!?! Aku takkan mungkin mampu melawan Rumi. Aku tak ingin membuatnya terluka. Bagaimana jika nanti aku melakukan kesalahan saat melawannya?" Batin Raisa...
Kini, Raisa dan Rumi sudah saling berhadap-hadapan untuk berlatih melakukan serangan masing-masing dengan Guru Kevin yang mengarahkan pertarungan mereka berdua.
"Apa saja elemen sihir yang kau kuasai, Raisa?" Tanya Guru Kevin sebelum mulai mengarahkan pertarungan.
"Aku menguasai setiap elemen, Guru." Jawab Raisa
"Tenyata memang benar begitu! Baiklah. Kalau begitu, kau dulu yang menyerang, Rumi!" Kata Guru Kevin
"Baik, Guru!" Patuh Rumi
Raisa dan Rumi saling menatap. Keduanya mulai serius saat sedang berlatih.
"Kali ini aku akan serius, Raisa. Kau jangan hanya mengalah dan menghindari seranganku. Fokuslah dan balas seranganku!" Ucap Rumi
"Tentu saja! Di depan Guru pertama yang melatihku, aku pun tidak akan mengalah begitu saja. Akan kuperlihatkan kemampuanku. Jadi, aku pun akan serius!" Sahut Raisa
"Baguslah! Sebelumnya aku pernah membuatmu terluka dan terjatuh. Kali ini aku takkan melakukannya lagi walau aku akan lebih serius." Ujar Rumi
"Saat itu aku tidak terluka melainkan hanya terjatuh dan merasa sedikit sakit. Saat itu aku yang merasa seperti itu, kali ini maafkan aku jika aku yang membuatmu merasa seperti itu. Walau jika memang begitu, kukatakan lebih dulu, aku tidak sengaja melakukannya." Ucap Raisa
"Mulai! Rumi, seranglah lawanmu dengan apa pun kemampuanmu!" Intruksi Guru Kevin memulai latihan antara Rumi dan Raisa.
Rumi pun memulai! Menyerang Raisa dengan sihir elemen petir!
Serangan pertama yang mengarah pada Raisa, ia menghindarinya. Namun, gerakan serangan itu menyerupai ular yang menjadi ciri khas Rumi, yaitu penyihir ular! Serangan petir itu akan terus mencari dan menyerang lawannya sampai tepat mengenai sasaran. Hanya memberi dua pilihan bagi lawan. Menerima atau menyerang balik! Raisa sendiri yang harus memutuskannya!
Raisa yang menyaksikan serangan itu tidak lenyap meski ia sudah menghindar pun tidak kehilangan cara untuk mengatasinya. Melihat serangan petir itu terus mrngincarnya, Raisa pun memilih menerima serangan dari Rumi itu! Namun, Raisa tidak hanya menerima serangan berpetir itu begitu saja, ia punya taktik bertarung sendiri dengan kemampuan sihir yang dimilikinya.
Raisa pun mengulurkan tangannya untuk menerima serangan petir yang masih saja mengincar dirinya. Raisa mengacungkan dua jari, yaitu jari telunjuk dan jari tengahnya untuk menerima serangan petir. Saat menerima serangan petir itu dengan kedua jari tangannya, tangannya yang menerima serangan petir itu bergerak memutar lalu mengarahkan sihir petir itu dan membuangnya ke sembarang arah namun tidak sampai membahayakan area itu.
Semua yang menyaksikan itu terkejut! Mereka mengira, Raisa akan menerima serangan petir itu begitu saja. Tapi, ternyata Raisa mengontrol dan menhendalikannya lalu membuang petir itu. Serangan petir itu diarahkan dan dibuang ke arah batu besar. Batu besar itu sampai mengalami keretakkan dan hancur pada bagian paling atas.
Rumi pun kembali menyerang Raisa. Kali ini, ia mengeluarkan senjata belati miliknya dari tas pinggangnya dan melemparkannya ke arah Raisa. Namun, belum sampai melukai tubuh Raisa, belati itu terjatuh ke tanah. Setelah terhatuh, tiba-tiba belati itu melayang di udara dan mengarah balik menyerang pemiliknya. Belati itu menyerang ke arah Rumi! Inilah kesempatan Raisa menyerang balik!
"Belati itu Raisa yang mengendalikannya!" Ungkap Aqila yang menyadari hal itu.
"Rumi, apa kau lupa!?! Raisa bisa mengendalikan senjata!" Teriak Morgan
"Oh, kalian menyadarinya ya? Ini kelalaianmu yang memberiku kesempatan menyerangmu balik, Rumi!" Ujar Raisa
Saat belati itu kembali mengarah pada Rumi, ia menghalaunya dengan sihir elemen angin. Rumi mengeluarkan pusaran angin dari hembusan mulutnya untuk melempar belati itu menjauh dari dirinya. Akibat sihir pusaran angin milik Rumi, belati itu kembali terpental. Raisa pun membuang belati itu ke arah aman yang tidak akan melukai orang. Tak hanya itu, pusaran angin dari sihir Rumi masih terus menyerang Raisa. Raisa pun memanfaatkan pusaran angin itu untuk menerbangkan tubuhnya ke udara. Tubuh Raisa pun kembali perlahan turun ke tanah saat sihir pusaran angin itu telah berakhir. Saat Raisa lengah dan baru menapakkan kaki di tanah, Rumi sudah melilit tubuhnya dengan sihir yang mampu membuat tangan Rumi menjadi panjang dengan elastis. Raisa pun dibuat tak berkutik oleh Rumi!
Raisa pun berpikir cara untuk melepaskan diri dari jeratan Rumi. Tapi, itu perlu untuk melukai diri lawan. Raisa tak mampu berbuat seperti itu pada Rumi.
"Aku menyerah!" Lontar Raisa dengan pasrah.
Rumi pun menyeret tubuh Raisa yang berada dalam jeratannya, lalu melepaskan tubuh Raisa di dekatnya.
"Kenapa kau tidak melawan dan melepas jeratanku? Kuyakin itu mudah bagimu." Heran Rumi
"Dengan melukai dirimu? Sudah pasti, aku tak bisa melakukannya." Ujar Raisa
"Guru, aku mengaku kalah!" Ungkap Raisa
"Ah, payah! Kukira aku akan melihat pertarungan sengit antara kalian berdua." Ucap Morgan
"Kenapa kau begitu mudah menyerah, Raisa?" Tanya Aqila
"Untuk melepaskan jeratan Rumi, aku harus melakukan sesuatu untuk membuatnya terluka. Walau Rumi dengan mudah melepas bagian tubuhnya menjadi ular sihir miliknya lalu kembali beregenerasi dan rasa sakitnya hanya sebentar dan sedikit, aku yang tak mudah untuk melukainya. Aku tidak akan sanggup melukai orang-orang yang berharga bagiku." Jelas Raisa
__ADS_1
"Tapi, aku masih belum mengetahui sejauh mana kemampuanmu, Raisa. Untuk itu aku sendiri yang akan mengujimu." Ucap Guru Kevin
"Guru, maksudmu Raisa harus berhadapan denganmu? Yang benar saja? Kau adalah senior tingkat 3!" Ujar Aqila
"Semua murid akademi sihir sudah sering melewati ujian praktek sihir, yaitu sebanyak 3 kali. Sebelum itu pun ada percobaan ujian dan latihan. Semua guru termasuk aku tau seberapa jauh kemampuan setiap murid, tapi tidak dengan Raisa. Jadi, aku harus lebih dulu mengetahui kemampuannya sebelum melatihnya bersama kalian." Jelas Guru Kevin
"Cara pelatihan dengan melakukan pengujian langsung. Aku anggap ini sebagai tantangan dari Anda, Guru! Aku bersedia!" Siap Raisa
"Aku suka semangatmu, Raisa! Aku jadi tidak sabar mengetahui kemampuanmu. Menurut yang dibicarakan, kau memiliki kemampuan yang hebat. Aku takkan ragu padamu, lho." Ujar Guru Kevin
"Aku sedikit ragu Raisa akan kalah dari Guru Kevin. Mungkin Guru Kevin yang akan dibuat kelelahan sampai kehabisan tenaga sihir oleh Raisa." Ungkap Morgan berpendapat.
"Orang-orang itu terlalu berlebihan menganggapku hebat. Kemampuanku masih memiliki banyak kekurangan. Lewat latihan pengujian kali ini, aku mohon bantuan Guru untuk menemukan kelemahanku dan membantuku memperbaikinya." Ucap Raisa
"Tadi kau sangat bersemangat, sekarang kau merendah. Apa ini taktikmu mengalahkan lawan ya, Raisa? Dengan menurunkan sifat kewaspadaan lawan terhadapmu?" Ujar Guru Kevin
"Guru, memang pandai menilai. Dalam kata-kataku memang terkadang menyiratkan sesuatu." Sahut Raisa
"Aku percaya padamu, Raisa!" Dukung Rumi
Raisa dan Guru Kevin pun melakukan posisi siap menyerang dan saling berhadapan. Sepasang mata mereka berdua tidak lepas dari pandangan lawan. Terlihat fokus dan serius.
"Sepertinya tipemu adalah menunggu sampai lawan menyerang ya, Raisa? Kalau begitu, aku yang lebih dulu menyerang!" Ucap Guru Kevin
Guru Kevin pun mulai melakukan serangan pada Raisa. Ia mengeluarkan sihir semburan api naga melalui mulutnya. Lalu, Raisa pun mengatasi sihir elemen api itu dengan sihir elemen air yang mana langsung memadamkan kobaran api yang menyerangnya.
Tak kehabisan akal dengan itu, Guru Kevin kembali melakukan serangan dengan sihir elemen lain yang dikuasainya. Yaitu, sihir petir! Mendapat serangan yang sama seperti yang dilakukan Rumi, Raisa pun melakukan hal yang sama sebagai langkah pencegahan.
"Guru, apa kau tidak belajar dari Rumi tadi? Petir tidak berpengaruh pada Raisa!" Sontak Morgan berteriak.
"Diam kau, Morgan!" Sahut Guru Kevin membalas teriakan salah satu murid binaannya.
"Jangan ganggu konsentrasi Guru Kevin, Morgan!" Omel Aqila
"Kalau Guru memang hebat konsentrasinya takkan mudah terpecah dong!?!" Geram Morgan
Di sana, Rumi hanya diam menyaksikan aksi antara guru pembimbingnya dengan Raisa, gadis yang selalu memukau dan menatik perhatiannya...
Pertarungan sebagai cara pelatihan ini pun berlangsung lama. Membuat tenaga sihir Guru Kevin terus terkuras, tapi Raisa masih terlihat tak tergoyahkan!
Sebagai langkah akhir, tak bisa menggoyahkan Raisa dengan serangan jarak jauh, Guru Kevin melakukan serangan dari jarak dekat. Melalukan perkelahian langsung dengan Raisa. Guru Kevin terus mencecar Raisa dengan gerakan pukulannya, namun Raisa dengan gesit menghindar dari serangan Guru Kevin. Gerakan Guru Kevin terbilang cepat, tapi Raisa masih bisa memperkirakan gerakannya dan menghadang serangannya. Tak hanya itu, Raisa juga melakukan serangan balik yang mengarah pada titik vital Guru Kevin. Walau tidak berniat samoai benar-benar mengenai Gurunya berlatih, itu cukup untuk membuat Guru Kevin seperti terpukul untuk mundur.
Dalam pertarungan percobaan ini, nafas Guru Kevin sudah sampai terlihat terengah-engah melawan murid barunya. Sedangkan, Raisa hanya terlihat menghela nafas saja...
Guru Kevin akan mencoba melakukan serangan terakhir. Guru Kevin pun melangkah maju dengan cepat melakukan serangan sihir bola perisai angin yang diarahkan pada Raisa. Melihat Guru Kevin melakukan serangan pamungkasnya, Raisa langsung melakukan sihir yang akan menghadang serangan itu. Kali ini, Raisa menggunakan sihir elemen tanah. Raisa membangun dinding pembatas yang tebal, kuat, dan kokoh untuk menghadang sihir pamungkas milik Guru Kevin. Saat sihir pamungkas Guru Kevin mengenai dinding penghalau milik Raisa, dinding itu mengalami keretakkan dan perlahan hancur.
Raisa tau serangan ini sangat kuat dan nyaris mematikan, maka dari itu ia meredam serangan milik gurunya dengan sihir dinding tanah miliknya. Walau begitu, serangan gutunya masih bersisa untuk mengenainya. Saat itulah Raisa baru menghadangnya langsung dengan membatalkan sihir yang masih mengincarnya itu.
"Guru, aku menyerah. Ini sudah cukup." Ucap Raisa
"Kau tidak menyerah. Tapi, kau memerhatikan kondisiku yang terus melemah." Ujar Guru Kevin
"Aku hanya berpikir latihan pengujian ini cukup dan tidak perlu sampai berlarut-larut." Kata Raisa
"Kau berkata begitu, sebenarnya kau hanya tidak mau membuat tenaga sihir Guru sampai habis terkuras seoenuhnya karena latihan pengujian ini. Kau memedulikan keadaan Guru Kevin." Ungkap Rumi
"Sebenarnya seberapa banyak tenaga sihir yang kau miliki, Raisa?" Tanya Guru Kevin
"Raisa pernah mengatakan padaku, dia pun tidak tau pasti. Tapi dia bilang sendiri kemungkinan dia memiliki tenaga sihir yang tidak terbatas." Jawab Rumi menggantikan Raisa.
"Pantas saja!" Kata Guru Kevin
__ADS_1
Bersambung...