
Resepsi dan pesta pernikahan dilaksanakan hingga malam hari. Raisa dan Rumi beberapa kali berganti busana. Raisa beberapa kali berganti gaun dan Rumi beberapa kali berganti setelan jas dengan warna yang berbeda-beda.
Pesta diadakan hingga pukul 10 malam. Setelah itu semua tamu membubarkan diri. Tamu yang datang dari jauh alias dari dunia yang berbeda langsung menginap di vila karena masih akan menghadiri pesta kedua yang diadakan di esok hari. Namun, para orangtua seperti Tuan Rommy, Tuan Garry, Tuan Johan, Logan, Nona Rina, Bibi Sierra, dan Paman Elvano langsung kembali pergi ke dunianya.
Raisa dan Rumi pun beristirahat di kamar utama vila. Kini keduanya sudah bisa tidur di dalam satu kamar yang sama. Nikmatnya telah menikah. Tidak lagi harus tidur di kamar yang terpisah seperti dulu.
Sementara Rumi sedang membersihkan diri di dalam kamar mandi yang ada di dalam kamar tersebut, Raisa pun membersihkan make-up yang menghias wajahnya sepanjang hari ini.
Di tahap akhir, Raisa membersihkan wajahnya menggunakan pembersih yang memberikan sensasi sejuk pada wajahnya.
"Akhirnya bisa bebas dari make-up juga. Baru kali ini aku pakai full make-up seharian. Rasanya lumayan risih juga karena gak biasa," gumam Raisa
Saat itu Raisa dikejutkan dengan suara pintu kamar mandi yang terbuka. Gadis cantik itu menoleh ke arah kamar mandi yang memunculkan sosok lelaki tampan yang baru saja selesai membersihkan dirinya. Lelaki yang kini telah berstatus sebagai suami sahnya itu tampak segar setelah mandi.
Rumi ke luar dari kamar mandi sudah dengan menggunakan piyama tidur dan handuk kecil yang ia pegang untuk mengeringkan rambutnya yang basah.
Raisa menatap Rumi yang haru selesai mandi dengan canggung. Tidak biasanya ia berada dalam satu kamar dengan orang lain, apa lagi dengan seorang lelaki. Namun, lelaki berwajah tampan yang mampu memikat hatinya itu kini adalah suaminya sendiri.
"Rumi, kau sudah selesai mandi?" tanya Raisa sekadar basa-basi untuk menghilangkan suasana canggung di dalam kamar bersama suaminya tersebut.
"Sudah, baru saja. Ada apa denganmu, Raisa? Kenapa wajahmu terlihat seperti sedang takut seperti itu?" tanya balik Rumi usai menjawab pertanyaan sang istri tercinta.
"Tidak. Aku hanya agak terkejut saja," jawab Raisa
"Aku baru saja selesai menghapus riasan wajah. Aku ingin segera mandi juga," sambung Raisa
Raisa pun buru-buru bangkit berdiri dari posisi duduknya. Rasanya ia ingin segera berlari masuk ke dalam kamar mandi. Namun, ia lupa sedang memakai gaun yang berbobot. Kalau saja Raisa tidak ingat untuk segera menahan dan mengatur keseimbangan tubuhnya, gadis cantik itu pasti sudah tersungkur jatuh ke lantai.
..."Untung saja gak jatuh. Hampir saja aku mempermalukan diri sendiri di hadapan suami," batin Raisa...
Sambil memegangi gaun panjangnya yang cukup berat itu, Raisa berjalan perlahan menuju ke kamar mandi. Ia tidak bisa berlari seperti keinginannya.
Merasa sulit membawa dirinya sendiri dengan gaun berbobot yang melekat pada tubuhnya itu, Raisa pun menghentikan langkahnya sebelum benar-benar memasuki kamar mandi.
Setengah berbalik, Raisa melirik ke arah Rumi yang berada di belakangnya.
"Rumi ... " panggilnya pelan.
"Ya. Ada apa, Sayang?" tanya Rumi menyahuti panggilan dari istri tercinta.
"Bisa kau bantu aku? Sebelum menghapus riasan wajah tadi, aku sudah mencoba melepas gaun ini, tapi aku kesulitan menurunkan resletingnya. Aku butuh bantuanmu," ujar Raisa meminta bantuan sang suami.
"Hanya itu saja? Kukira apa ... dengan senang hati aku akan membantumu," kata Rumi
Rumi pun berjalan mendekati Raisa. Berada di belakang tubuh sang istri, Rumi memperhatikan sosok belakang istrinya yang sudah tampak cantik di matanya.
Pertama, Rumi membantu sang istri menyingkap rambat panjangnya yang telah terurai di bagian depan tubuhnya. Saat itu terlihat jelas nan nyata kulit putih mulus pada pundak dan leher Raisa.
Rumi menelan ludahnya dengan kasar dan berusaha keras menahan diri. Ia pun membantu menurunkan resleting gaun yang berada di balik punggung Raisa hingga terbuka sepenuhnya *resletingnya. Terpampanglah di depan matanya punggung putih mulus milik Raisa yang sangat nerawat dirinya hingga tampak sempurna.
"Sudah belum, Rumi?" tanya Raisa
Raisa bergidik ngeri. Bulu kuduknya berhasil berdiri tegak saat merasakan tangan Rumi menyentuh kulit bagian belakang tubuhnya itu. Dirinya merinding saat pertama kali merasa sentuhan hangat tangan Rumi pada kulit punggungnya.
Rumi menyandarkan kepalanya dan menempelkan sebelah pipinya pada punggung mulus milik Raisa.
"Sayang, mandinya jangan terlalu lama, ya ... " pinta Rumi
Raisa memejamkan kedua matanya saat merasakan bibir Rumi mengecup pelan punggungnya. Gadis cantik itu, memegang erat gaun bagian depan yang masih melekat pada tubuhnya agar tidak merosot ke bawah.
Saat dirasa Rumi telah menjauh dari belakang tubuhnya, Raisa langsung berlarian kecil menuju ke kamar mandi dan masuk ke dalamnya.
"Aku mandi dulu. Terima kssih sudah membantuku, Sayang," ucap Raisa dari dalam kamar mandi.
Rumi tersenyum kecil melihat tingkah istri kecilnya yang kabur darinya itu. Lelaki itu mendengus pelan. Ia berusaha menenangkan dirinya serta pikirannya yang sudah menjelajah entah ke mana hanya dengan melihat punggung indah milik istri tercintanya.
Rumi pun memilih duduk di tepi ranjang untuk melanjutkan mengeringkan rambutnya yang basah setelah mandi tadi.
Rumi menunggu hingga Raisa ke luar dari kamar mandi seorang diri di dalam kamar tersebut.
Setelah selesai mandi, Raisa ke luar dari kamar mandi secara perlahan. Dilihatnya, Rumi sudah merebahkan tubuhnya di atas ranjang dengan membelakangi posisi kamar mandi. Raisa terkejut saat suaminya itu menggerakkan tubuhnya saat berbaring karena ia pikir Rumi sudah benar-benar tertidur.
"Raisa, kenapa kau berjalan ke luar dari kamar mandi sambil mengendap-endap seperti itu?" tanya Rumi dalam posisi tidur telentang.
"Tidak. Kupikir kau sudah tidur. Aku hanya tidak ingin mengganggumu yang merasa lelah setelah seharian menerima tamu," jawab Raisa
"Tidak kok. Aku masih belum tidur. Aku masih menunggumu. Sini, Sayang ... " ujar Rumi yang memanggil Raisa untuk ikut berbaring bersamanya sambil menepuk-nepuk bantal kosong di sampingnya.
__ADS_1
Raisa pun memenuhi panggilan Rumi dan menghampirinya dengan menahan rasa gugup. Gadis cantik itu tidak tahu apa yang akan terjadi padanya di malam pengantin pertamanya bersama Rumi yang kini berstatus sebagai suaminya.
Malam ini, Raisa dan Rumi memakai piyama tidur dengan warna yang senada, yaitu biru malam.
Raisa melangkah menaiki ranjang dan berbaring tepat di samping Rumi. Keduanya berbaring sambil saling berhadapan satu sama lain.
Rumi tersenyum ke arah istri cantiknya dan Raisa membalas senyuman suami tampannya.
Tangan Raisa terulur menyentuh rambut Rumi.
"Rambutmu sudah kering, rupanya ... " kata Raisa
"Rambutmu juga. Kalau aku sudah selesai mengeringkannya tadi," ujar Rumi yang bergerak membelai lembut rambut halus milik sang istri.
"Mudah saja mengeringkan rambutku," ungkap Raisa
"Maksudmu dengan menggunakan sihir?" tanya Rumi
"Ya. Terkadang aku menggunakan kemampuan sihirku untuk mempermudah keseharianku. Seperti mengeringkan rambut kali ini aku menggunakan elemen sihir udara agar lebih cepat kering, jadi lebih cepat juga aku untuk tidur," jelas Raisa
"Ya, kau pasti merasa lelah. Kalau begitu, tidurlah. Pejamkan matamu," kata Rumi
Raisa jadi merasa tidak enak hati langsung membahas soal tidur saat di malam pertama. Ia mengira Rumi marah padanya karena dirinya seolah tidak ingin melayani suami dengan baik.
"Maaf. Bukan maksudku ingin meninggalkanmu tidur lebih dulu," kata Raisa
"Tidak apa. Malam ini kita istirahat saja. Tidurlah ... aku pun akan tidur setelah melihatmu tertidur," ucap Rumi
"Kau ... sungguh?" tanya Raisa
Rumi mengangguk pelan.
"Tidurlah, Sayang. Besok kita masih harus mengadakan pesta lagi," kata Rumi
Rumi terus membelai lembut rambut halus milik Raisa seolah hendak menina-bobokan istrinya.
Raisa melihat ke dalam kedua mata Rumi yang terasa teduh baginya. Ia tidak menemukan kekecewaan terpancar dari sepasang mata suaminya meski dirinya tidak harus menjalankan kewajibannya sebagai seorang istri malam itu juga. Mungkin Rumi pun merasa lelah sama seperti dirinya dan juga ingin segera tidur dan beristirahat.
Terus merasakan sentuhan lembut pada rambutnya, Raisa merasa kantuk sungguhan mendera dirinya. Ia mengerjapkan matanya berkali-kali karena mengantuk.
"Kalau begitu, selamat malam dan selamat tidur, Sayang. Sampai besok, Suamiku ... " ujar Raisa yang lalu memejamkan kedua matanya.
"Aku juga ... cinta padamu," sahut Raisa sebelum akhirnya nafasnya menderu secara teratur menandakan dirinya telah terlelap dalam tidur malamnya.
Rumi tersenyum tipis melihat wajah polos sang istri yang meski tertidur tetap terlihat cantik.
Bagi lelaki tampan itu, bisa tidur bersama perempuan yang dicintainya di dalam kamar yang sama sudah membuatnya merasa senang. Ia tidak ingin Raisa terburu-buru memenuhi kewajiban sebagai seorang istri.
Menikmati waktu berdua seperti tidur bersama malam ini pun sudah cukup membahagiakan baginya. Hal-hal penting lainnya masih bisa dilakukan perlahan-lahan. Yang penting kini Rumi dan Raisa sudah tidak lagi bisa terpisahkan. Karena keduanya telah bersatu dalam ikatan pernikahan yang sah dan suci.
Setelah memastikan Raisa benar-benar tertidur, barulah Rumi memejamkan matanya untuk segera tidur. Berharap malam ini keduanya kembali bertemu dalam mimpi yang indah.
Dan malam itu, Raisa dan Rumi tidak melakukan apa pun selain sekadar hanya tidur bersama.
•••
Keesokan harinya.
Di pagi hari, Raisa terbangun dari tidurnya. Ia mengerjapkan berulang kali kedua matanya dan merasakan sesuatu yang melingkar di pinggangnya..
Raisa baru tersadar akan memori di hari sebelumnya. Ia baru ingat bahwa saat ini dirinya telah resmi menjadi seorang istri dari lelaki tampan yang berstatus sebagai suami sahnya yang bernama Rumi Ryan. Dan kini ia sedang tidur dengan posisi membelakangi sang suami juga sesuatu yang melingkar di pinggangnya adalah tangan kokoh dari Rumi, suami tercintanya.
Raisa bergerak perlahan untuk mengubah posisi tidurnya menjadi telentang. Meski pun ia terus bergerak, Rumi terus tertidur dan memejamkan kedua matanya.
"Rumi terus tertidur. Mungkin suamiku ini lelah. Apa lagi dia harus menungguku sampai tertidur baru mau tidur. Dasar ... " batin Raisa
Raisa memerhatikan wajah lelaki yang baru sehari menjadi suaminya itu dari samping. Hanya satu kata yang mampu melukiskannya, "tampan". Namun, ada beberapa kata untuk mengungkap perasaannya setelah melihat wajah itu, yaitu, suka, sayang, cinta, dan kagum. Lengkungan indah menghiasi bibir cantiknya ketika dirinya asik memandangi wajah tampan di sampingnya itu.
Raisa menatap wajah Rumi dalam diam. Lelaki tampan di sampingnya itu telah membuatnya tak bisa berkutik bahkan saat seperti ini. Tubuh gadis cantik yang telah menyandang status sebagai seorang istri itu membeku hanya dengan menatap wajah tampan suaminya dari jarak sedekat itu.
Raisa berusaha menyingkirkan tangan Rumi yang melingkar pada pinggangnya. Namun, saat ia mengangkat tangan kokoh itu dan berusaha memindahkan posisinya, tangan itu malah bergerak mempererat rengkuhannya bahkan menarik pinggang sang istri untuk masuk ke dalam dekapannya. Bahkan posisi Raisa yang mulanya telentang kini jadi berhadapan dengan Rumi.
Raisa terkesiap. Dengan gerakan suaminya yang seperti itu saja sudah mampu membuat jantungnya berdebar kencang hingga hampir terlepas dari tempatnya. Berada di dalam dekapan Rumi, Raisa langsung membatasi tubuhnya dengan tubuh sang suami dengan kedua tangannya yang menahan dada Rumi.
Dalam posisi itu, jarak keduanya sangat dekat meski Raisa berusaha membuat batas. Tubuhnya seperti dihimpit. Nafas Rumi bisa sangat jelas dirasakan olehnya menderu perlahan menyentuh kulit mulusnya. Saat ia mendongakkan kepalanya, wajahnya sangat dekat dengan wajah milik Rumi. Nafasnya tercekat saat nelihat Rumi mulai membuka matanya sambil beberapa kali mengerjapkannya perlahan.
"Selamat pagi, Sayang ... " sapa Rumi sambil menyunggingkan senyuman pertamanya di hari itu.
__ADS_1
"Selamat pagi ... " balas Raisa
"Kenapa mau melepas pelukanku? Kau tidak suka kalau aku memelukmu sambil tidur?" tanya Rumi
"Bukan seperti itu. Aku hanya ingin bangun, tapi malah ikut membangunkanmu. Aku mengganggu tidurmu, ya? Maaf," ujar Raisa
"Kenapa tidak sekalian membangunkan aku saja?" tanya Rumi lagi.
"Aku hanya ingin membiarkanmu tidur lebih lama karena kupikir kau butuh itu," jawab Raisa
"Jangan lakukan itu lagi. Mulai sekarang aku akan sedih jika tidak melihat wajahmu saat aku bangun dari tidur," ucap Rumi
"Baiklah, aku mengerti. Terima kasih sudah memperingatkan aku," kata Raisa
"Terima kasih kembali karena sudah mau mendengarkan permintaanku, Sayang ... " balas Rumi
Rumi pun kembali bergerak untuk mendapatkan morning kiss dari sang istri. Namun, saat bibirnya sudah hampir menyentuh bibir milik Raisa, ada suara ketukan pintu dari luar kamar tersebut. Hingga Raisa menjauhkan wajahnya dari wajah sang suami bahkan menutupi bibir Rumi menggunakan kedua tangannya.
"Raisa, kamu sama suami kamu udah bangun belum?" Suara teriakan wanita paruh baya yang ternyata adalah Ibunya terdengar dari luar kamar tersebut.
"Iya, Bu. Kami berdua sudah bangun!" teriak Raisa menjawab dari dalam kamar.
"Ayo, jangan mentang-mentang pengantin baru malah malas-malasan dan bangun siang! Bangun, mandi ... jangan lupa kalian masih ada pesta hari ini. Itu juru riasnya udah sampai dan nunggu kalian di luar!" teriak Bu Vani
"Iya, Bu. Raisa langsung mandi, nih. 15 menit lagi juru riasnya tolong disuruh masuk aja ke dalam!" teriak Raisa menyahuti.
"Jangan lama-lama! Kasihan orang udah nungguin!" teriak Bu Vani
"Siap, Ibuku!" teriak Raisa
Setelah dirasa sang ibu benar-benar telah pergi, Raisa pun kembaki beralih pada sang suami yang masih menunggu ciuman darinya. Raisa terkekeh pelan. Tanpa melepas kedua tangannya yang menutupi bibir milik Rumi, Raisa langsung bergegas bangkit dari tidurnya dan bergerak turun dari ranjang.
"Waktunya hanya 15 menit. Aku harus segera madi dan cepat bersiap-siap," kata Raisa
"Kenapa tadi kau tidak meminta waktu selama 30 menit saja?" tanya Rumi yang ikut bangkit dari tidurnya dan duduk di atas ranjang sambil menunjukkan wajah murungnya.
"Kasihan orang yang sudah menunggu, Sayang ... " jawab Raisa
"Kau juga mandilah pakai kamar mandi lainnya di vila ini karena aku harus memakai kamar mandi di dalam kamar ini supaya bisa cepat selesai," sambung Raisa
"Baiklah," patuh Rumi masih dengan wajah murungnya.
Raisa menggelengkan kepalanya. Dengan gerak cepat, ia mendekati Rumi yang duduk di atas ranjang dan mengecup pipinya sekilas, lalu kembali berdiri lagi.
"Untuk saat ini cukup segitu dulu. Kalau masih ingin ciuman yang lebih kau harus menunggu dan mandi dulu," ucap Raisa
"Aku mandi dulu, ya, Suamiku. Aku mencintaimu," sambung Raisa sambil bergegas menuju ke kamar mandi dan masuk ke dalamnya.
Rumi menjadi sedikit linglung setelah mendapat kecupan pipi dari sang istri. Ia pun memegangi pipinya yang dikecup oleh Raisa tadi. Lalu, tersenyum dengan perasaan senang.
"Dasar ... aku akan menunggu untuk mendapat ciuman lebih darimu, Istriku. Aku juga mencintaimu," gumam Rumi
Rumi merapikan sedikit penampilannya sebelum ke luar dari kamar untuk mencari kamar mandi lain untuk membersihkan diri.
Ke luar dari dalam kamar, Rumi langsung berpapasan dengan Morgan dan Aqila yang menginap di vila yang sama.
"Rumi, kenapa kau ke luar kamar masih memakai pakaian tidur? Kau diusir ke luar oleh istrimu?" tanya Morgan
"Tidak. Raisa sedang mandi dan aku juga harus segera mandi. Aku pinjam kamar mandi di kamar kalian, ya," ujar Rumi
"Kenapa tidak mandi bersama saja?" tanya Morgan lagi.
Morgan langsung mendapat pukulan dari Aqila yang sedari tadi berada di sampingnya.
"Jangan asal bicara yang macam-macam," kata Aqila memperingati suaminya.
"Silakan saja kau pakai kamar mandi di kamar kami, Rumi. Kamarnya juga sudah kosong kok," sambung Aqila bicara pada Rumi.
"Baiklah, Aqila. Terima kasih," ucap Rumi
"Tidak perlu sungkan," kata Aqila
Rumi pun beranjak menuju ke dalam kamar yang digunakan Aqila dan Morgan untuk menggunakan kamar mandi yang berada di dalamnya.
Jika sebelum ini Aqila dan Morgan selalu memakai kamar terpisah dan selalu mengelompokkan diri dengan masing-masing gadis dan lelaki lainnya untuk mendapat kamar. Kini keduanya memakai satu kamar yang sama karena telah menikah dan menjadi pasangan suami istri.
.
__ADS_1
•
Bersambung.