Bertemu Dan Jatuh Cinta

Bertemu Dan Jatuh Cinta
151 - Bintang Hatiku.


__ADS_3

Aqila, Morgan, Rumi, dan Raisa sama-sama terkejut saat melihat kedatangan guru yang dimaksud Andrew. Guru yang menjadi pelatihnya adalah seorang ahli sihir anjing peliharaan dari Desa Daun, Tuan Mario!


Tuan Mario membawa kedua anjing peliharaannya yang juga melengkapi formasi ahli sihirnya, Mako dan Milo.


Maksudnya Tuan Mario biasa menggunakan sihirnya bersama kedua anjingnya. Mako dan Milo juga bisa menggunakan sihir hewan peliharaan sebagai pendampjng Tuan Mario.


"Halo, semuanya! Oh, kau itu Raisa, ya. Aku sudah banyak mendengar tentangmu, tapi sepertinya ini pertemuan pertama kita," sapa Tuan Mario


"Benar, ini pertama kali kita bertemu. Senang bertemu denganmu, Paman Mario," ucap Raisa


"Kau meminta orang dari Desa Daun lagi untuk menjadi gurumu saat berlatih?" tanya Rumi


"Ya, aku baru membeli seekor anjing untuk berlatih bersamaku agar bisa jadi seperti anjing milik Guru Mario," jawab Andrew


"Tidak kusangka kau bisa punya waktu untuk melatih seorang murid, Paman Mario?" heran Aqila bertanya.


"Mau bagaimana lagi. Aku butuh uang tambahan untuk segera melamar dan menikahi tunanganku," jawab Tuan Mario


"Pak Frans, tolong bawa anjing itu ke sini," pinta Andrew


Dikira, Andrew hanya seorang diri di halaman hotel yang luas itu, ternyata masih ada seorang yang memerhatikan sekaligus menjaganya dari jauh.


"Pak Frans, itu asisten baru yang diatur Ayahmu, ya?" tanya Morgan


"Ya. Dia asisten baru untukku. Dia andal seperti mendiang Pak Yama," jawab Andrew


"Tuan Muda, ini anjingnya," jata Pak Frans sambil menyerahkan kandang hewan berukuran sedang.


Pak Frans adalah asisten pribadi Andrew yang menggantikan Pak Yama yang meninggal ketika insiden penculikan terjadi di Desa Daun. Itulah kejadian buruk yang pernah Andrew alami.


"Terima kasih," ucap Andrew


"Ini anjingku yang kuberi nama Noel," kata Andrew


"Andrew, sebagai gurumu. Aku harus memberi tahu padamu, tidak semua anjing bisa menjadi pendamping ahli sihir yang juga bisa melakukan sihir. Anjing-anjingku ini adalah anjing khusus yang telah ada dari keluarga besarku sejak zaman dulu. Anjing seperti milikku termasuk keturunan khusus turun-temurun," ungkap Tuan Mario


"Aku tahu, tapi setidaknya latihlah Noel agar bisa menjadi anjing penjaga yang baik dan bisa melindungi majikannya. Tunjukkan juga teknik-teknik dasar tanpa sihir yang anjing-anjingmu miliki," ujar Andrew


"Baiklah. Terserah apa kata Tuan Muda saja," pasrah Tuan Mario


Latihan pun dimulai dengan melatih anjing peliharaan Andrew yang bernama Noel. Noel berlatih bersama Mako dan Milo, anjing-anjing milik Tuan Mario. Ketiga anjing itu lebih dulu melakukan pendekatan agar bisa akrab, lalu mereka pun berlatih hal dasar dari yang paling mudah.


"Biar mereka menjadi lebih akrab dengan melakukan pendekatan, setelah itu biar mereka berlatih sendiri satu sama lain. Mako dan Milo itu anjing-anjing ahli sihir yang sudah sangat terlatih, percayakan saja Noel pada mereka berdua. Lalu, kau, Andrew! Berlatihlah dengan Guru! Jangan hanya mau anjingmu saja yang jadi hebat, kau juga harus kuat! Nanti kau masih harus berlatih tentang kerja sama dengan anjingmu dan menjalin keterikatan antara majikan dan peliharaan. Sebelum itu, berlatihlah denganku dan tunjukan apa saha yang sudah bisa kau lakukan dengan kemampuanmu itu," tutur Tuan Mario


"Hahh ... baiklah," patuh Andrew dengan kata Tuan Mario dan berlatih dengan gurunya walau terlihat agak malas.


"Katanya, ini pelatihan untukmu agar menjadi kuat!? Ayo, jangan jadi pemalas! Jadilah rajin seperti Noel! Jangan mau kalah dari anjingmu!" tegas Tuan Mario


"Ah, aku malas sekali! Menyebalkan! Raisa, katanya kau gadis yang hebat? Ayo, ikut berlatih bersamaku juga! Aku juga ingin lihat kemampuanmu," ujar Andrew yang ingin mengalihkan dirinya dari pelatihan.


"Eh, aku!? Kenapa aku harus menurutimu? Andrew, jangan menyeretku untuk menjadi pengalihanmu. Katanya, kau mau buktikan jika kau bukan orang yang lemah dan akan menjadi lebih kuat? Maka, tunjukkanlah dulu kemampuanmu hari ini. Tuan Mario, juga telah datang untuk menjadi gurumu. Berlatihlah dulu yang serius dengannya. Aku berjanji, besok aku akan ikut berlatih bersamamu. Kau juga bisa melihat kemampuanku besok," tutur Raisa


"Baiklah, kau benar. Tapi, kau harus menepati janjimu besok," kata Andrew


"Tentu saja! Aku sudah sering nenepati janji yang seperti ini," ucap Raisa


"Baiklah! Guru Mario, ayo! Mulai latihannya lagi," ujar Andrew


"Semangat," kata Raisa


"Kau bisa membuatnya menurut padamu, Raisa?" tanya Aqila


"Tidak juga. Itu hanya tentang keinginan dan usaha pencapaiannya," jawab Raisa


"Sepertinya ini akan jadi lebih mudah seperti kata Raisa. Hari ini Andrew hanya fokus pada latihannya bersama Paman Mario," ucap Morgan


"Benar. Kita hanya perlu terus berada di dekatnya untuk melindunginya," kata Rumi


Selama pelatihan Andrew, mereka berempat hanya menganggur. Saling mengobrol bersama kekasih masing-masing. Aqila dengan Morgan. Raisa dengan Rumi~


Saling berdekatan untuk mengobrol ala pasangan kekasih, membuat Paman Mario merasa iri dan teringat akan tunangannya yang sedang diperjuangkannya.


"Kedua pasangan muda itu membuatku iri dan ingat pada Nova saja! Kalau tidak sedang melatih seorang Tuan Muda di sini, aku pasti sedang berduaan bersama Nova. Tapi, aku harus melakukan ini untuk mengumpulkan kekurangan uang agar bisa segera menikah," gumam Tuan Mario


"Guru Mario, ke mana perhatianmu itu? Lihat aku! Apa aku sudah benar melakukannya?" protes Andrew bertanya saat latihannya masih terus berlangsung.


"Ya, sudah benar, tapi masih kurang menggunakan tenaga. Ke luarkan tenagamu lebih banyak lagi! Harus baik-baik berlatih dengan benar! Jangan malas, terus lanjutkan latihan sampai kau bisa," jawab Tuan Mario memberi pelatihan dengan gencar-gencarnya.


Tuan Mario melakukan pengalihan dengan melatih murid dengan ketat agar pikirannya tidak hanya tentang tunangannya atau soal pernikahan. Namun, ia seolah sedang balas dendam pada muridnya yang sudah menyita waktunya karena tidak bisa bermesraan bersama tunangannya selama pelatihan.


Waktu berselang, latihan pun dihentikan sementara untuk istirahat sejenak.


"Sungguh melelahkan! Guru Mario, melatihku dengan keras! Dan para pengawalku malah sibuk berpacaran," dumel Andrew


"Kenapa kau berpikir begitu? Kami juga terus memerhatikan pola latihanmu. Menurutku, usahamu sudah cukup bagus! Dulu kau juga pernah mendapat sedikit latihan dari Morgan tentang dasar cara bertarung. Dengan tekad yang kau miliki sekarang, kau pasti bisa cepat jadi lebih kuat. Asalkan terus berlatih dengan semangat, kerahkan segala usaha, tekad, dan tenagamu. Maka, pencapaianmu pasti akan terlihat," ujar Raisa


"Begitu, ya?" gumam Andrew


"Tentu saja," kata Raisa


"Istirahatlah dengan baik dan makanlah untuk mengisi ulang tenagamu," ucap Aqila


"Baiklah, ayo! Kita makan bersama! Ini juga sudah waktunya jam makan siang," ujar Andrew


Dengan ajakan Andrew, mereka semua pun makan siang bersama di jam istirahat ini.


"Oh, ya! Malam nanti aku akan melakukan pelatihan bermalam di alam terbuka, jadi ikutlah denganku berkemah di halaman hotel ini. Kita akan mendirikan tenda di sini," ucap Andrew


"Kami diminta untuk menjadi pengawalmu, tentu saja kami akan terus berada di dekatmu di mana pun kau berada," kata Rumi


"Yang benar saja! Kau mengosongkan seisi hotel hanya untuk berkemah dan mendirikan tenda di halamannya? Kau ini terlalu tidak ada kerjaan atau hanya bisa menghabiskan uang?! Kalau menginap di hotel, bermalam saja di kamar! Kalau ingin berkemah, lakukanlah di alam terbuka sungguhan agar kau mendapat pengalaman sungguhan," heran Morgan tak habis pikir.


"Terserah aku, dong! Ingin melakukan apa dan di mana saja," kata Andrew


"Ini hanya hobi aneh dari seorang Tuan Muda. Kau tidak ada hak untuk protes saat dalam misi," ucap Aqila


"Dan, Raisa! Jangan lupa untuk menepati janjimu besok," ujar Andrew


"Aku selalu ingat itu, tenang saja," kata Raisa


"Waktu makan, makan saja yang benar! Setelah ini masih harus melanjutkan sesi latihan," ucap Tuan Mario


"Baiklah. Aku mengerti," patuh Andrew


"Nanti malam aku tidak perlu ikut berkemah juga, kan? Lalu, karena besok kau ingin berlatih dengan Raisa, apa besok aku boleh tidak datang?" tanya Tuan Mario


"Kau hanya perlu melatihku, jadi nanti malam kau tidak perlu ikut. Dan besok kuperbolehkan kau tidak datang. Aku akan tetap membayar penuh upahmu walau kau tidak datang seharian besok. Aku ini sangat baik hati," jawab Andrew


"Ya, terima kasih. Walau kau baik hati, aku tidak akan melonggarkan latihanmu! Jadi, siapkan dirimu setelah ini," ucap Tuan Mario


"Ya, aku tahu ... " kata Andrew


Setelah istirahat makan siang, Andrew pun lanjut berlatih bersama Tuan Mario.


Malam harinya.

__ADS_1


Tenda sudah didirikan dan api unggun telah dinyalakan~


Rencana perkemahan tetap dijalankan.


"Sepertinya Andrew sangat kelelahan setelah berlatih. Dia langsung tertidur begitu selesai makan malam," ucap Morgan


"Ya, dia pasti lelah. Dia begitu keras berlatih setelah disemangati oleh Raisa. Sepertinya dia benar-benar ingin menunjukkan kemampuannya dan ingin mendapat pengakuan dari kita," ujar Rumi


"Sudah malam, aku juga ingin segera tidur. Ayo, kita masuk ke dalam tenda," kata Aqila mengajak Raisa untuk tidur bersama di dalam tenda yang sudah disiapkan untuk keduanya.


"Kau tidur duluan saja, Aqila. Aku masih ingin di sini sebentar lagi," kata Raisa


"Baiklah, aku masuk, ya ... " kata Aqila


Raisa mengangguk.


Rumi mengobrol dengan Morgan dan selalu melirik le arah Raisa~


"Aku akan masuk ke dalam tenda untuk tidur. Jangan terlalu lama jika ingin tetap berada di sini," ucap Morgan seolah mengerti situasi.


Morgan pun meninggalkan Rumi berdua dengan Raisa.


Setelah Morgan masuk ke dalam tenda, Rumi pun menghampiri Raisa yang terduduk di bawah pohon sambil bersandar pada batang besar nan kokohnya itu~


Rumi pun duduk di sebelah Raisa dan menemaninya.


"Raisa, kau masih belum ingin tidur?" tanya Rumi


Raisa mengangguk kecil.


"Ya, aku masih ingin di sini sebentar lagi." jawab Raisa


Rumi beralih merebahkan kepalanya di atas paha Raisa. Ia ingin menatap wajah Raisa dengan jelas dari bawah karena gadisnya itu terlalu fokus melihat ke arah langit~


"Apa kau sedang memikirkan sesuatu, Raisa?" tanya Rumi


"Tidak. Aku hanya ingin memandang langit sambil menikmati udara malam," jawab Raisa


"Jangan terlalu lama karena di sini dingin," kata Rumi


Raisa mengangguk sambil tersenyum menatap Rumi. Tangannya mengusap kepala Rumi dengan lembut dan matanya kembali memandang langit malam~


"Raisa, nyanyikanlah sebuah lagu untukku. Katanya, kau pandai dalam hal ini," pinta Rumi


"Aku tidak pandai, hanya kujadikan hobi saja. Kalau kau ingin dengar aku bernyanyi, kau tidak boleh protes atau memotong saat aku sedang bernyanyi," ucap Raisa


"Baiklah. Aku hanya ingin mendengar suaramu saat kau bernyanyi," patuh Rumi


"Baiklah. Aku akan mulai bernyanyi," kata Raisa


Rumi mengangguk.


Kali ini Raisa pun menatap Rumi yang asik menikmati pangkuannya di keheningan malam~


Senja kini berganti malam


Menutup hari yang lelah


.


.


"Aku tidak suka lagu ini karena terdengar sedih. Bisakah kau ganti nyanyi lagu lain?" tanya Rumi


"Sst~ Kau sudah berjanji hanya akan mendengar aku bernyanyi. Aku akan lanjutkan laguku, jadi dengarkan saja," ucap Raisa lalu melanjutkan nyanyiannya sambil terus mengusap lembut kepala Rumi.


Pernah kita lalui semua


Jerit tangis, canda tawa


Kini hanya untaian kata


Hanya itulah yang aku punya


Tidurlah, selamat malam


Lupakan sajalah aku


Mimpilah dalam tidurmu


Bersama bintang


Sesungguhnya aku tak bisa


Jalani waktu tanpamu


Perpisahan bukanlah duka


Meski harus menyisakan luka


Tidurlah, selamat malam


Lupakan sajalah aku


Mimpilah dalam tidurmu


Bersama bintang


Ha-a-a-a-a ...


Tidurlah, selamat malam


Lupakan sajalah aku


Mimpilah dalam tidurmu


Bersama bintang


Lupakan diriku


Lupakan aku


Mimpilah dalam tidurmu


Bersama bintang~


Rumi terpaksa terus mendengarkan. Mendengar suara merdu Raisa yang bernyanyi lagu sedih sambil menikmati usapan lembut pada kepalanya membuatnya tanpa sadar memejamkan mata dan perlahan kehilangan sadarnya lalu tertidur~


"Mimpilah dengan indah jauh di langit bersama bintang. Karena kau adalah Bintang Hatiku," bisik Raisa sambil mendekatkan wajahnya pada Rumi dan berakhir mengecup kilas kening Rumi.


Tatapan Raisa seolah berubah sendu saat kembali menatap langit~


Ia tidak tega membangunkan Rumi saat kekasihnya itu tertidur lelap. Jadi, Raisa pun mulai memejamkan matanya dan tertidur begitu saja.


Masih dalam posisi Raisa memangku Rumi sambil terduduk bersandar di pohon, keduanya pun terlelap di bawah langit malam hanya dengan perlindungan dedaunan pohon yang rindang.

__ADS_1


•••


Keesokan harinya.


Rumi terusik dengan sinar matahari yang mulai menerangi bumi. Ia pun mulai membuka matanya dan terbangun.


Hal yang pertama dilihatnya adalah wajah damai Raisa yang tidur masih dalam keadaan memangkunya.


"Sepertinya semalam aku mendengar suara Raisa membisikkan sesuatu," gumam Rumi


"Tapi, kenapa semalam kau menyanyikan lagu yang terdengar sedih akan perpisahan, Raisa? Suaramu sangat lirih seolah sedang mengalami perpisahan itu," batin Rumi


Rumi pun bangkit terduduk dengan masih terus menatapi wajah Raisa yang lembut~


Raisa menggeliat dan perlahan mulai membuka matanya.


"Selamat pagi, Raisa!" sambut Rumi dengan senyuman terhangatnya.


"Pagi~ Sepertinya kita berdua tertidur di sini semalaman," ujar Raisa


Aqila datang menghampiri keduanya.


"Kalian berdua tidur di sini semalaman, Raisa, Rumi?" tanya Aqila


"Ya, sepertinya kami ketiduran semalam," jawab Rumi


Saat Raisa hendak bangkit berdiri, ia merasakan kebas di kedua kakinya sampai sangat sulit untuk digerakkan.


Raisa pun meringis~


"Kau kenapa, Raisa?" tanya Rumi


"Sepertinya aku kesulitan untuk bergerak dan bangun, kakiku kebas," jawab Raisa sambil menahan rasa aneh pada kedua kakinya.


"Itu pasti karena semalam kau memangku aku selama tidur," kata Rumi


"Kau tidur di pangkuan Raisa sepanjang malam?" tanya Aqila tidak menyangka.


Tidak menjawab, Rumi malah bergerak menggendong tubuh Raisa (ala bride style).


"Tidak bisa begini. Kau masih butuh istirahat sebentar lagi sambil memulihkan rasa pada kedua kakimu sejenak," ucap Rumi


"Tidak perlu. Ini akan pulih dengan cepat. Harusnya kau membantuku berdiri saja, bukannya menggendongku seperti ini," kata Raisa


"Benar, kata Rumi. Kau masih harus istirahat sebentar lagi, Raisa. Ayo, bawa Raisa masuk ke dalam tenda," ujar Aqila


Rumi pun membawa Raisa masuk ke dalam tenda seperti kata Aqila. Raisa pun tidak bisa menolak lagi dan hanya diam saja.


Morgan yang melihat Rumi menggendong Raisa masuk ke dalam tenda pun merasa bingung~


"Raisa, kenapa?" tanya Morgan


"Sepertinya kakinya kram, dia butuh istirahat sedikit lebih lama," jawab Aqila


Rumi merebahkan tubuh Raisa di dalam tenda. Lalu, Aqila masuk untuk membantu memulihkan kaki Raisa.


"Biar kubantu pijat kakimu, ya. Kau jadi seperti ini, kan, gara-gara aku," ujar Rumi


"Tidak usah. Aku tidak apa," tolak Raisa


"Raisa, biar aku yang membantunya. Kau temuilah Abdrew lebih dulu bersama Morgan," ucap Aqila


"Baiklah. Kutinggal, ya, Raisa, Aqila ... " kata Rumi lalu beranjak pergi.


"Kau pergi saja bersama Morgan dan Rumi, biar aku istirahat sendiri di sini. Nanti kakiku juga pulih sendiri," ucap Raisa


"Tidak bisa. Kalau tidak segera ditangani, bisa-bisa kakimu semakin terasa sakit karena otot-ototnya terlalu lama tegang. Tidak apa, sesama teman memang harus membantu dalam hal seperti ini," ujar Aqila yang mulai memegang kaki Raisa untuk memulihkannya di sisinya.


Aqila mulai memijat pelan kedua kaki Raisa sambil menyalurkan sedikit tenaga agar otot-otot kaki Raisa kembalj melemas dan pulih dengan cepat..l


"Sudah, hanya sebentar, kan. Setelah ini baru kakimu akan segara pulih kembali. Sambil menunggu kakimu bisa bergerak bebas seperti semula, kau istirahatlah sebentar lagi di sini," tutur Aqila


"Baiklah. Terima kasih," ucap Raisa


"Aku ke luar, ya ... " kata Aqila


Raisa mengangguk pelan.


Aqila pun berlalu ke luar dari tenda~


"Bagaimana dengan Raisa?" tanya Morgan saat Aqila menghampirinya dan Rumi.


"Dia akan segera pulih, sudah kusuruh istirahat sebentar lagi di dalam tenda," hawab Aqila


"Terima kasih," kata Rumi


"Tidak perlu sungkan. Walau Raisa adalah pacarmu, tapi dia juga temanku," ucap Aqila


"Kenapa hanya kalian bertiga? Aqila, di mana Raisa?" tanya Andrew yang baru saja ke luar dari tendanya dan hanya melihat tiga pengawalnya.


"Raisa, masih sedang istirahat di dalam tenda. Kakinya sakit, tapi dia akan segera pulih dan datang ke sini," jawab Aqila


"Huh! Bilang saja dia ingin mangkir dari janjinya," dumel Andrew


"Sebagai ganti Raisa yang tidak bisa berlatih denganmu. Bagaimana jika aku saja yang berlatih bersamamu? Lagi pula, tidak peduli siapa orangnya, yang penting kau tetap bisa berlatih, kan?" ujar Rumi menawarkan dirinya sebagai ganti teman berlatih Andrew.


"Tidak! Aku tetap mau Raisa yang menemaniku berlatih! Dia harus menepati janjinya," kata Andrew


"Sudahlah. Bagaimana kalau kita sarapan dulu saja untuk mengawali hari dan pemasok tenaga?" ujar Morgan bertanya.


"Ya, baiklah. Kuharap Raisa bisa segera menyusul setelah kita selesai sarapan nanti," jawab Andrew


Mereka pun beranjak untuk sarapan bersama tanpa kehadiran Raisa.


"Kenapa Raisa belum juga muncul? Apa harus kusuruh orang memeriksanya?" tanya Andrew saat berkumpul usai sarapan.


"Kau peduli juga dengannya, rupanya. Tapi, kurasa tidak perlu, dia hanya butuh istirahat sedikit lebih lama," ucap Aqila


"Aku tidak terlalu peduli, aku hanya ingin segera menagih janjinya. Lagi pula, sebenarnya sehebat apa sih dia? Sepertinya hanya seorang gadis lemah yang hanya karena kakinya sedikit sakit, lalu dengan mudahnya mengingkari janji. Terdengar seperti gadis manja," ujar Andrew


"Kau hanya tidak tahu dan belum mengenalnya. Bagiku, dia gadis yang spesial," kata Rumi


"Kau berkata begitu karena dia pacarmu. Kau dibutakan oleh cinta," sangkal Andrew


"Apa yang dikatakan Rumi itu benar! Awalnya pendapatku tentangnya juga sama sepertimu, tapi setelahnya mengenalnya cukup lama sedikit saja, pandanganmu akan diubah sepenuhnya langsung olehnya. Walau terlihat seperti gadis lemah, ternyata dia itu gadis yang kuat dan selalu bersedia mengorbankan dirinya untuk menyelamatkan teman-temannya. Kemampuannya hebat! Kelima eleman inti sihir dikuasai olehnya, yaitu api, petir, udara, air, dan tanah. Selain itu dia juga menguasai sihir khusus lainnya seperti sihir medis, dan masih banyak lagi," ungkap Morgan


"Apa benar dia sehebat itu? Sama sekali tidak terlihat seperti itu! Jika memang benar, apa dia adalah Dewi Penyelamat dari dimensi asing seperti yang terdengar pada rumor yang tersebar luas itu?" ujar Andrew penasaran dan bertanya-tanya.


"Kau juga mendengar rumor tentangnya? Benar, itu adalah sosok Raisa yang sebenarnya yang belum kau ketahui," ujar Aqila mengungkap kebenarannya.


.



Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2