
"Bicaramu ini ada-ada saja. Untung aku tetap suka padamu." Kata Raisa
"Kalau begitu, aku adalah orang yang sangat beruntung karena bisa disukai olehmu. Katakan padaku, apa yang kau sukai dariku?" Ujar Rumi
"Akan kukatakan dengan jujur! Aku menyukai parasmu, kau tampan membuatku suka! Seperti kata pepatah, Dari wajah turun ke hati!" Jujur Raisa
[Interupsi Author: "Yang benar itu dari mata turun ke hati, Raisa! Tapi, Raisa dan Rumi bisa saling jatuh cinta juga karena pernah bicara dari mata ke mata alias saling menatap. Jadi, tidak sepenuhnya salah juga sih... Ok, SKIP! LANJOOT~"]
Rumi terdiam menatap ke hampaan udara...
"Kenapa kau jadi diam? Apa kau terkejut setelah mendengarku bicara? Apa kau kecewa setelah tahu alasan kusuka padamu hanya karena wajahmu? Apa kau tak sangka perasaanku ternyata terlalu remeh? Itu semua tidak salah juga sih..." Oceh Raisa
"Tidak!" Sahut Rumi bersuara pelan.
"Kau bilang apa? Aku tidak dengar..." Ujar Raisa
"Aku tidak berpikir seperti yang kau katakan tadi. Aku malah bersyukur... Ternyata, wajahku sudah sangat berguna sampai bisa membuatmu menyukaiku. Kalau begitu, aku sungguh orang yang sangat beruntung karena memiliki tak hanya paras yang tampan, tapi juga bisa mendapat seorang gadis cantik yang menyukaiku karena satu poin ini. Aku harus banyak-banyak mengucap terima kasih pada Tuhan karena memberiku wajah seindah ini dan telah mempertemukanmu padaku. Tak hanya sangat beruntung, aku juga sangat bahagia!" Ucap Rumi yang lalu tersenyum senang.
..."Tak semua lelaki diberkahi dengan wajah yang tampan. Kau malah dengan mudahnya bicara seperti itu, seperti kau sendiri menganggap remeh wajahmu yang tampan. Juga, seolah kau tidak seberuntung itu mendapat orang sepertiku yang menyukaimu karena aku bisa saja berbalik meninggalkanmu setelah ini." Batin Raisa...
Raisa pun ikut tersenyum. Namun, di balik senyumnya itu tersimpan perasaan miris yang seolah teriris. Terasa begitu menyakitkan!
"Kau sangat percaya diri karena wajahmu yang tampan itu, ternyata." Kata Raisa
"Tentu saja! Ada kau yang menyukaiku berkat wajah ini. Aku sangat percaya diri untuk bisa selalu bahagia ke depannya, juga seolah rintangan hidup apa pun sanggup kulewati karena kebahagiaan ini." Ungkap Rumi
Awalnya, Raisa mengira Rumi akan sedih dan kecewa setelah tahu Raisa menyukainya hanya karena menilai dari wajahnya. Raisa pikir, Rumi akan mulai menganggap remeh perasaannya pada lelaki itu. Tapi, ini justru sebaliknya! Rumi malah sangat bersyukur...
Raisa tak menyangka reaksi Rumi akan sepositif ini. Yang Raisa pikir, Rumi akan kecewa dan mulai menyerah dengan hubungan yang telah terjalin ini sehingga tak akan sulit lagi jika Raisa berpikir ingin menyudahi hubungan mereka berdua nanti. Tapi, hubungan ini sudah terlanjur terjalin dengan sangat erat hingga sulit untuk diakhiri.
..."Memang aku pun percaya kalau kau akan selalu sanggup melewati semua rintangan hidup hingga yang tersulit. Tapi, apa kau akan sanggup saat aku berkata untuk menyudahi hubungan kita ini? Bukan itu, tapi apakah kita berdua akan sanggup? Terlebih lagi, apa aku sendiri sanggup melakukannya?" Batin Raisa merasa dilema....
"Kau benar bahwa kau sangat beruntung karena wajah tampanmu itu. Kalau tidak, di antara banyaknya lelaki berparas tampan lainnya, aku tak mungkin menyukaimu jika wajahmu tidak setampan ini." Ucap Raisa
"Memangnya, di matamu ada lelaki tampan mana lagi selain aku?" Tanya Rumi
"Ada, banyak sekali! Misalnya, seorang artis lelaki tampan yang kuidolakan, itu pun tak hanya satu atau dua orang saja. Tak hanya itu kok, tapi... Lelaki mana pun yang kuanggap tampan di mataku, hanya ada satu lelaki tampan saja yang mampu menarik perhatianku sampai akhir. Seolah hanya satu lelaki ini saja yang ingin selalu kutatap hingga akhir, yaitu kau. Karena dari banyaknya lelaki tampan yang kusukai, aku tetap hanya paling menyukaimu seorang. Tak hanya suka, aku juga sangat mencintaimu! Yang lainnya hanya sebatas enak dipandang oleh mata, tapi tak ada yang bisa masuk ke dalam hatiku selain dirimu. Hanya ada dirimu seorang untukku yang selalu tersimpan di hatiku, Rumi!" Jelas Raisa
"Benarkah? Apa hal lainnya yang kau sukai dariku sampai membuatmu cinta padaku?" Tanya Rumi
"Sifatmu! Menurutku, sangat lucu! Walau sekarang juga sering membuatku kesal, tapi aku selalu tidak tega dan tidak sanggup marah padamu. Juga, senyumanmu... Yang terkadang masih terasa canggung, juga terkadang terasa lembut dan hangat sampai menyentuh ke dalam hati. Menurutku, itu juga lucu! Membuatku tertarik dan terus memikirkanmu sampai menyukaimu dan akhirnya mencintaimu." Ungkap Raisa
"Sifatku yang mana yang menurutmu lucu?" Tanya Rumi
"Semuanya! Kalau kujelaskan satu persatu takkan pernah ada habisnya... Pokoknya, perubahan yang merupakan peningkatan yang baik yang terjadi pada dirimu itulah yang membuatku suka padamu sampai akhirnya jadi sangat mencintaimu. Apa semua jawaban dariku ini sudah cukup membuatmu merasa puas, wahai tuan tampan yang kucintai?" Ujar Raisa
"Baiklah, itu cukup! Semua jawaban darimu sudah membuatku sangat bahagia... Semuanya, sudah jelas bagiku sekarang." Kata Rumi
Raisa mengobrol dengan Rumi sambil menyuapi kuda pilihannya dengan wortel. Tanpa sadar, sudah banyak wortel yang telah dihabiskan Si Putri.
"Wah, kau tukang makan yang cepat, Putri! Kurasa itu sudah cukup untukmu. Kalau kau madih ingin makan, makanlah rumputnya. Oke?" Ujar Raisa mengajak bicara kuda pilihannya, Si Putri.
Kiikkk~
Seolah mengerti dan mengiyakan, kuda coklat itu mengeluarkan suara dan menggesekkan kepalanya pada Raisa...
"Kuda pintar! Kau mengerti ucapanku, rupanya!" Kata Raisa
"Kurasa sudah cukup juga untukmu. Makanlah rumputnya seperti Putri." Ucap Rumi
Walau tak menyahut, kuda putih pilihan Rumi itu langsung beralih menguyah rumput segar yang sudah disiapkan bersama dengan Si Putri. Ellena, sungguh sangat penurut!
"Sekarang, aku pun bisa istirahat!" Gumam Raisa
Seolah mengerti situasi, Si Putri dan Ellena sama-sama mendekati Raisa dan Rumi untuk saling mendekatkan mereka berdua dengan cara mendorong punggung tubuh kedua orang itu menggunakan kepala mereka. Untung saja, Rumi dengan sigapnya menangkap tubuh Raisa agar tidak terjatuh karena dorongan kuda tersebut. Raisa pun tak mampu menahan dorongan kuda itu sampai meletakkan kedua tangannya pada dada Rumi. Sekarang tampaklah kedua orang ini seperti sepasang kekasih yang sedang berpelukan.
"Ada apa dengan kalian? Kenapa mendorong kami? Dasar, kuda-kuda nakal!" Oceh Raisa
__ADS_1
"Jangan memarahi mereka. Mungkin mereka mengerti kalau kita juga butuh istirahat." Ucap Rumi
"Bisa jadi mereka melakukannya karena tahu kita juga butuh hal seperti ini, yaitu saling berpelukan. Mereka itu kuda-kuda yang pintar dan pengertian!" Bisik Rumi
"Sedang apa kalian di sana?" Tanya Morgan yang tiba-tiba datang mendekat dengan semua teman yang lain juga.
Mengetahui yang lain datang menghampiri, Raisa pun langsung bergerak menjauh dari Rumi...
"Kuda-kuda itu mendorong kami. Aku hanya membantu agar Raisa tidak terjatuh." Jawab Rumi atas pertanyaan dari Morgan.
"Kalian sudah beristirahat juga, ternyata. Apa latihannya sudah selesai?" Ujar Raisa
"Kami juga butuh istirahat, tahu! Berlatih berkuda itu melelahkan!" Kata Ian
Mereka semua pun turun dari punggung kuda masing-masing untuk istirahat bersama. Semua pengurus pun mengatur ulang dan menambahkan bahan pakan untuk makanan semua kuda yang disewa untuk latihan hari ini.
"Kami semua masih sangat terheran... Bagaimana bisa kuda pilihan kalian berdua mudah sekali diajak latihan, Raisa, Rumi?" Tanya Marcel
"Entahlah, tapi Si Putri bisa sangat mengerti maksud juga ucapanku. Itu saja. Aku malah heran, ada kuda yang mau dipilih oleh Rumi yang sosoknya memiliki keistimewaan seperti ular pada dirinya. Kau tidak menakuti atau mengancam Ellena kan, Rumi?" Ujar Raisa
"Tentu, tidak! Kuda putih itu hanya sangat penurut dan mengikutiku. Itu saja!" Kata Rumi
"Aku justru heran. Kuda pilihanmu itu terlihat sangat bersahabat denganmu seolah kau adalah pemiliknya sejak lama. Apa karena dia bisa merasakan keistimewaan dari dirimu, Raisa?" Tanya Aqila
"Mungkin saja. Dia bisa merasakan niat murni dari diriku yang ingin menjadi dekat dengannya. Mungkin dia bisa menangkap maksud yang terpancar dari dalam diriku ini." Jawab Raisa
*Keistimewaan yang dimaksud adalah kemampuan sihir.
**Niat murni yang dimaksud Raisa adalah sihir kemurnian yang dimilikinya.
Mereka berbicara menggunakan kata dengan maksud tersembunyi karena ada kemungkinan orang lain mendengar obrolan mereka supaya jika ada yang mendengar nanti tidak sampai mendengar kata larangan yaitu yang menyangkut tentang kemampuan sihir...
Pak Wisnu dan pengurus yang lainnya pun datang membawa bahan pakan tambahan untuk semua kuda lainnya yang baru saja istirahat dari latihan.
"Semua makanan kuda sudah disiapkan, ada juga banyak wortel kalau kalian ada yang mau memberi makan kuda sendiri secara langsung. Kalian bisa istirahat di sini juga..." Ucap Pak Wisnu
"Latihan berkudanya sampai di sini saja, Pak? Apa kami gak bisa berkeliling desa sambil menaiki kuda juga? Saya ingin melakukan yang seperti itu..." Tanya Raisa
"Kau masih belum puas setelah bisa memacu kudamu seperti tadi, Raisa?" Tanya Billy
"Masih belum cukup. Aku masih ingin bermain dengan menunggang kuda lagi!" Jawab Raisa
"Kau sudah sangat menantikan hal seperti ini ya, Raisa? Kau terlihat sangat senang dan menikmatinya..." Ujar Dennis
"Tentu saja! Sudah kubilang, ini adalah keinginanku sejak masih kecil dulu." Kata Raisa
Semuanya terlihat lelah setelah berlatih berkuda, kecuali Dennis yang tersenyum melihat antusias Raisa yang sangat menikmati waktu berlatih berkuda saat ini. Melihat itu, muncul kembali rasa kewaspadaan dari sosok Rumi walau tidak sampai memperlihatkannya langsung...
Setelah istirahat beberapa saat, semua pun kembali bersiap untuk berkeliling desa dengan menunggang kuda. Semua kuda pun ikut bersiap untuk segera ditunggangi kembali. Untuk berkeliling desa kali ini ada tiga orang pengurus yang ikut untuk mengawal selama berada di perjalanan.
"Kau juga ikut kan, Amy? Naik kuda bersama aku saja." Tawar Raisa
"Maaf, kali ini aku tidak ikut denganmu, Raisa. Aku takut kau membawaku lari dengan kudamu seperti kau tadi menungganginya dengan cepat." Tolak Amy
"Itu takkan kulakukan. Kau tenang saja, aku kan sudah berjanji akan menunggang dengan santai karena telah dilarang membawa kuda berlari kencang oleh Pak Wisnu tadi." Ucap Raisa
"Ya, pokoknya semuanya harus menunggang dengan tenang dan santai supaya gak mengganggu ketenangan warga desa di sini ya." Ujar Pak Wisnu yang akan ikut menjadi pengawal perjalanan berkeliling desa kali ini.
"Maaf, untuk kali ini saja, Raisa. Aku masih takut saat mengingat aksi berkudamu tadi. Aku akan ikut dengan Wanda saja." Kata Amy
"Kalau aku jadi kau juga tidak akan mau ikut dengan Rumi atau pun Raisa saat masih teringat aksi berkuda mereka berdua tadi. Lebih baik dengan Dennis yang memang pembawaannya pun sangat tenang." Ucap Marcel
"Kalau kau, Chilla? Ingin ikut denganku tidak?" Tanya Raisa
"Tidak, aku dengan Aqila saja. Jika teringat aksi berkudamu tadi, aku tidak ingin sampai membakar kaloriku." Jawab Chilla menolak.
"Kau ini aneh, Chilla! Orang lain ingin membakar kalori untuk diet, tapi kau malah kebalikannya. Dasar, gendut!" Kata Ian
__ADS_1
"Yah, padahal aku ingin sekali merasakan membawa orang lain berkuda bersama denganku. Sangat disayangkan, padahal aku sudah berjanji tidak akan membawa kuda berlari kencang." Sesal Raisa
"Kalau aku malah ingin mengajakmu berkuda berdua denganku, Raisa." Ucap Rumi
"Huh, tidak mau! Aku ingin diri sendiri yang mengendali kuda, bukan dibawa menunggang kuda dengan orang lain." Tolak Raisa
"Eh, kau langsung ditolak, Rumi! Sayang sekali... Ini seperti penolakan dari pernyataan cinta saja." Ucap Chilla
Biasanya saat ditolak Raisa, Rumi akan langsung bersedih. Mendapat penolakan apa pun itu... Tapi, kali ini tidak! Karena berbeda dengan penolakan yang lain atau walau ajakannya kali ini ditolak, Rumi tahu bahwa Raisa takkan pernah menolak perasaan cinta darinya karena saat ini pun mereka berdua telah menjalin hubungan cinta kasih yang disebutkan itu...
Lagi-lagi, Chilla menyinggung perihal cinta antara Raisa dan Rumi. Tentu saja, ini yang selalu membuat Raisa merasa canggung.
"Sudahlah, ayo! Kita pergi berkeliling desa saja!" Kata Raisa
"Ya, ayo! Semuanya udah siap kan? Kita berangkat sekarang!" Ujar Pak Wisnu
Rombongan barisan penunggang kuda pun mulai berjalan ke luar dari area perternakan kuda tersebut. Dengan Pak Wisnu yang berkuda mengawal di depan barisan, dan dua orang pengurus lainnya yang mengawal di tengah barisan juga di barisan terakhir.
.........
Selama perjalanan menunggang kuda berkeliling desa, awalnya semua berjalan dengan lancar dan tenang. Sesekali ada yang menyapa Pak Wisnu yang terkenal sebagai pewaris atau pemilik perternakan kuda di desa tersebut, ada pun juga yang mengenal Raisa sebagai anggota pemilik salah satu vila di desa tersebut. Karena walau desa tersebut bukan kampung halaman asli orangtuanya, Raisa tetaplah dikenal karena sering menginap di vila milik keluarga besarnya di desa tersebut sejak kecil.
"Kang Wisnu, lagi jadi pengawal ya?" Sapa seorang warga yang menyapa.
"Iya, Bu. Ada rombongan temannya Neng Raisa nih yang datang berlatih berkuda." Jawab Pak Wisnu membalas sapaan warga desa.
"Itu yang naik sama kuda coklat teh si Neng Raisa? Udah besar tambah geulis aja, Neng." Katanya
"Iya, Bu. Terima kasih." Sahut Raisa
Namun, sudah lebih dari setengah perjalanan berkeliling desa, ada keramaian berkerumun di tengah jalan sampai akses jalan desa tertutup sepenuhnya dan sulit untuk dilewati apa lagi untuk rombongan barisan penunggang kuda.
"Di depan ramai-ramai begitu, ada apa ya, Kang?" Tanya Raisa yang berada di barisan tengah rombongan penunggang.
"Gak tahu juga, Neng." Jawab salah satu pengurus yang mengawal perjalanan.
"Kalau begini, kita gak bisa lewat. Gimana dong?" Ujar Raisa
"Mungkin kita gak jadi keliling lebih dari ini dan harus putar balik." Katanya
"Paman Wisnu bilang, kita putar kembali ke peternakan saja. Jalan di depan tidak bisa dilalui, sudah tertutup total!" Ucap Marcel yang menunggang kuda bersama Dennis di barisan depan.
"Yah, sayang sekali, tapi mau bagaimana lagi..." Kata Raisa yang hendak memutar balik arah laju kudanya.
Baru saja Raisa menarik tali kendali kudanya untuk berbelok, kuda lainnya yang berada di barisan depan mengeluarkan suara keras mengikik sampai memekik di telinga.
"Apa yang terjadi? Kuda siapa yang berteriak keras tadi?" Tanya Raisa
"Keramaian di depan menimbulkan keributan. Semuanya cepat mundur dan berbalik!" Ucap Pak Wisnu di barisan depan.
Semua pengunggang kuda pun dengan cepat bergerak mundur dan berbalik arah sesuai kata ketua rombongan, yaitu Pak Wisnu. Semuanya pun diminta untuk kembali ke arah peternakan. Namun, salah satu kuda yang berteriak keras tadi masih terus mengamuk berlompatan panik sampai melengking berdiri dengan kedua kaki belakangnya. Melihat itu, Raisa pun menghentikan laju kudanya.
"Neng Raisa, kenapa berhenti?" Tanya Pak Wisnu
"Kalau kita semua pergi kembali ke peternakan, lalu bagaimana dengan satu kuda yang mengamuk itu, Pak?" Ujar Raisa merasa khawatir.
"Saya udah minta para warga yang ada untuk bantu menenangkan kudanya. Senentara, kita semua kembali dulu dari pada kuda yang lain ikut merasa panik dan mengamuk juga." Ucap Pak Wisnu
"Gak bisa, Pak. Kuda yang mengamuk itu membawa teman saya di atasnya." Kata Raisa yang bergerak turun dari atas punggung kuda.
"Neng Raisa, mau ke mana?" Tanya Pak Wisnu
"Saya gak bisa diam aja, saya mau bantu teman saya dan kudanya." Jawab Raisa
"Jangan, Neng. Bisa bahaya!" Larang Pak Wisnu
.
__ADS_1
•
Bersambung...