Bertemu Dan Jatuh Cinta

Bertemu Dan Jatuh Cinta
[Season 2] 26 - Kompensasi.


__ADS_3

Setelah melewati hari-hari yang menegangkan dan bahagia bersama, kini sudah waktunya Raisa untuk kembali ke dunianya.


Di pagi hari, Rumi sudah datang menghampiri rumah Raisa.


Rumi pun mengetuk pintu rumah Raisa.


Tok-tok-tok!


"Raisa ... ini aku," ujar Rumi dari luar rumah.


Kriiett~~


Pintu rumah pun dibuka dari dalam. Raisa, sang pemilik rumah pun menampakkan diri dari balik pintu.


"Oh, kau sudah datang, ya, Rumi." Raisa menyambut kedatangan Rumi dengan senyuman manis.


Rumi mengangguk dengan ikut tersenyum.


"Kau sudah siap, ya?" tanya Rumi


"Sudah. Aku juga sudah sarapan," jawab Raisa


"Apa kau yakin tidak ingin mengundur kepulanganmu? Mungkin kau bisa pulang besok atau lusa?" tanya Rumi berniat membujuk Raisa agar lebih lama untuk tinggal di Desa Daun.


"Aku juga inginnya seperti itu. Tapi, sepertinya aku sudah melakukan semuanya yang harus kulakukan di sini, sementara ... ada banyak yang harus kulakukan juga di duniaku," jelas Raisa


Rumi memang tidak memperlihatkannya dengan jelas. Namun, Raisa tahu bahwa lelaki itu merasa sedih.


Raisa tersenyum kecil, lalu menyentuh salah satu pipi Rumi. Membuat lelaki itu terkejut. Rumi pun tersenyum, meski terpaksa.


"Kau sudah bisa lebih menunjukkan ekspresi di wajahmu, rupanya. Apa kau merasa sedih?" tanya Raisa


Rumi menggenggam tangan Raisa yang berada di pipinya. Ia memejamkan mata menikmati sentuhan yang membuatnya nyaman dan tidak ingin kehilangan. Ia pun mengecup telapak tangan serta punggung tangan Raisa dengan mesra.


"Kau ingin pergi ... tentu saja aku merasa sedih," jujur Rumi


"Aku pergi bukan berarti meninggalkanmu. Kan, aku sudah pernah berjanji," ucap Raisa


"Aku tahu ... " kata Rumi nyaris tidak terdengar karena suaranya yang lirih.


"Hei, jangan seperti ini. Melihatmu sangat sedih seperti seolah-olah aku ingin mati saja," ujar Raisa


"Sudah kubilang, jangan mengatakan 'mati' dengan mudah. Aku tidak suka dan lebih sedih mendengarnya," larang Rumi


"Habisnya ekspresimu seolah sedang berduka karena ditinggal seseorang yang sudah mati," ucap Raisa


"Maaf ... " Rumi kembali bersuara lirih.


Rumi pun langsung menunduk karena merasa bersalah dan sedih.


Raisa tersenyum kecil sambil menggeleng-gelengkan kepalanya pelan. Lalu, Raisa pun menarik pakaian bagian depan Rumi dan berjinjit.


CUP!


CHU~


Dua kecupan Raisa berikan pada pipi Rumi dan bergeser sedikit hingga mendarat di ujung bibir lelaki tampan yang sedang bersedih itu.

__ADS_1


Rumi langsung mengangkat pandangannya. Ia tak percaya dengan apa yang baru saja Raisa lakukan untuknya. Dilihatnya Raisa sedang tersenyum lembut.


"Dua kecupan itu sebagai kompensasi untukmu karena aku telah membuatmu merasa sedih. Tapi, hanya bisa sebatas itu saja," ucap Raisa dengan maksud Rumi tidak boleh menuntut hal yang lebih dari dirinya.


Rumi pun tersenyum senang.


"Meski kau pulang karena harus bekerja, kau harus ingat untuk istirahat yang cukup. Kau tidak boleh memaksakan diri dan jangan sampai kelelahan," pesan Rumi


"Ya ampun ... perubahanmu cepat sekali. Baru saja tadi kau sangat sedih seolah duniamu menjadi gelap karena dimarahi habis-habisan oleh orangtuamu, tapi sekarang kau malah menasehatiku seperti orangtuaku," ujar Raisa


"Kalau begini, apa kedepannya aku harus sering-sering memberimu kecupan agar suasana hatimu tidak mudah berubah dan tetap merasa senang?" sambung Raisa bergumam seorang diri. Namun, Rumi masih bisa mendengarnya.


Rumi pun menarik pinggang Raisa dan merengkuhnya. Raisa menaruh kedua tangannya pada dada Rumi.


"Aku hanya berpesan padamu. Tapi, kalau kau memang ingin ... kau boleh melakukannya sesuka hatimu. Aku akan dengan senang hati menerimanya. Aku akan tahu diri dan tidak akan memaksamu," ucap Rumi


Rumi pun bergerak memeluk tubuh Raisa dengan sangat erat. Raisa pun membalas pelukan Rumi dengan melingkarkan kedua tangannya pada leher lelaki di hadapannya itu.


Setelah apa yang terjadi di hari pertama turun salju di Desa Daun, Raisa dan Rumi memang menjadi lebih mesra. Meski begitu, mereka berdua hanya menjalin hubungan tanpa status.


"Jagalah dirimu baik-baik selalu, Raisa." Rumi berpesan lagi.


"Akan kuingat baik-baik semua pesan darimu," kata Raisa


Raisa pun melepaskan pelukan dari Rumi lebih dulu. Karena ia tahu, Rumi tidak akan melepasnya dengan cepat lebih dulu.


"Kau juga ... jaga dirimu baik-baik," pesan Raisa


Rumi mengangguk sambil tersenyum.


Raisa pun mengambil tas miliknya yang akan dibawanya pergi.


"Ya ... ayo," patuh Rumi


Raisa pun ke luar dari rumahnya dengan tidak lupa mengunci pintu rumah. Ia pun pergi bersama Rumi yang menemaninya.


Raisa dan Rumi pergi menemui teman-teman lainnya bersama-sama.


Setelah mengatakan akan kembali ke dunianya di hari sebelumnya, teman-teman yang lain berkumpul di tempat Raisa akan membuka portal sihir.


"Kau yakin mau pergi sekarang juga, Raisa?" tanya Chilla


"Ya. Aku harus pergi, kalau tidak pekerjaanku akan menumpuk," jawab Raisa


"Tapi, kau ada di sini tidak sampai genap seminggu," kata Aqila


"Aku hanya mendapat jatah hari libur selama seminggu. Jadi, mau tidak mau harus cepat kembali. Aku merencanakan kedatanganku kali ini secara mendadak karena kebetulan Rumi yang lebih dulu datang ke duniaku, jadi aku tidak bisa menjadwalkan hari libur lebih dari yang sudah dijadwalkan untukku. Lain kali aku akan tinggal lebih lama setelah menjadwalkan dan merencanakan liburanku di sini. Aku janji," ucap Raisa


"Kami tahu kau sudah jadi orang yang sibuk di sana karena pekerjaanmu. Tidak perlu berjanji jika itu malah jadi beban dan merepotkanmu," ujar Devan


"Ya. Datanglah kalau kau memang ada waktu luang," kata Ian


"Terima kasih karena sudah mau memaklumiku," ucap Raisa


Tidak semua temannya dapat hadir saat Raisa hendak pergi hari ini. Karena, Amy, Wanda, Sandra, Billy, Marcel, dan Dennis sedang lergi menjalankan misi yang memanggil mereka sebelumnya. Namun, Raisa tidak menyangka Amon juga ada di sana.


"Aku tidak menyangka kau juga akan ada di sini, Amon. Terima kasih," ucap Raisa

__ADS_1


"Aku terpaksa ikut datang," kata Amon yang masih enggan bicara banyak karena malu pernah bersikap buruk dengan tidak percaya pada Raisa sebelumnya. Namun, sepertinya ia akan membuat dirinya terbiasa dan lebih mempercayai Raisa.


"Sanari, maaf ... aku harus pergi saat kau baru kembali ke desa belum lama ini," ucap Raisa


"Tidak apa, Raisa. Aku juga tahu kau memiliki pekerjaan yang penting di duniamu," kata Sanari


"Tapi, jangan karena aku sudah kembali ke duniaku, kau juga cepat-cepat pergi dari desa dan kembali bekerja. Tinggallah sedikit lebih lama dan nikmati liburanmu," ujar Raisa


Sanari pun mengangguk cepat.


Memang waktu kembalinya Sanari di Desa Daun baru dua hari, tapi Raisa sudah ingin pergi kembali ke dunianya.


"Baiklah. Kalau begitu, aku pergi dulu, ya ... " ujar Raisa


"Apa perlu aku saja yang membuka portal sihirnya untukmu, Raisa?" tanya Aqila yang kini sudah bisa menggunakan sihir teleportasi.


"Tidak perlu, aku saja. Sebagai gantinya ... karena kau sudah menguasai sihir teleportasi, sering-seringlah datang berkunjung ke duniaku di sana. Aku tidak akan membatasi kedatangan kalian ke sana lagi. Datanglah sesuka hati jika kalian ingin," jawab Raisa


"Baiklah. Akan kuingat itu," kata Aqila


"Rumi, Raisa sudah akan pergi. Tapi, kenapa kau malah terlihat senang? Ada apa denganmu? Apa kau mendapat kesenangan sebelum Raisa hendak pergi?" Chilla banyak bertanya.


"Tidak ada apa-apa. Aku juga menyayangkan Raisa yang pergi hari ini," jawab Rumi tidak ingin memberitahu alasannya yang terlihat senang.


"Aku titip salam untuk yang lain, ya," pesan Raisa


Raisa terkekeh pelan. Lalu, Raisa pun menggunakan kemampuan sihirnya untuk membuka portal sihir teleportasi.


"Jaga dirimu, Raisa. Sampai jumpa lagi," kata Morgan


"Sampai jumpa lagi, semuanya ... " pamit Raisa


Raisa pun memasuki portal sihir teleportasi yang telah dibukanya. Keberadaannya hilang ditelan lingkaran hitam. Kemudian, lingkaran hitam itu pun menghilang setelahnya.


...


Raisa yang sudah tiba di dunianya pun langsung membuka dan mengaktifkan ponsel miliknya. Ia terlihat sedang menelepon seseorang.


"Halo, Raisa."


"Nilam, aku sudah kembali dari liburan. Apa aku harus langsung bekerja hari ini juga?"


"Kamu baru liburan selama lima hari, tapi udah pulang hari ini?"


"Kan, aku sudah bilang gak akan pergi terlalu lama."


"Kalau begitu, hari ini kamu istirahat aja dulu. Tapi, besok kamu udah harus memenuhi jadwal kerja yang udah kuatur untuk kamu."


"Oke. Kalau begitu, aku tutup teleponnya, ya. Sampai ketemu besok."


Tut!


Sambungan telepon terputus.


Raisa pun menyimpan kembali dan memasukkan ponsel ke dalam tas miliknya.


.

__ADS_1



Bersambung ...


__ADS_2