
Sang Dewa merasa marah dan merasa telah dibodohi saat menyaksikan sendiri bahwa ternyata Raisa tidak terpengaruh oleh sihir ilusi pengendali miliknya dan rupanya dirinya telah dipermainkan dan masuk perangkap. Dengan mudahnya, Sang Dewa membawa Raisa untuk menemui Rumi agar wanita itu bisa membunuh suaminya dengan tangannya sendiri karena mengira Raisa sudah berada dalam pengaruh sihir ilusi pengendali miliknya. Rupanya pilihan Sang Dewa malah membuat kedua insan itu bersatu dan bertemu kembali.
Sang Dewa merasa geram saat melihat Raisa dan Rumi saling berpelukan dengan erat dan mesra.
"Kau ... LANCANG! Rupanya, kau menipuku! Berani-beraninya kau mempermainkan aku, Dewi-ku?! Aku adalah Sang Dewa, calon suamimu. Kembalilah padaku sekarang juga jika kau ingin tetap aman!" teriak Sang Dewa yang marah.
Tak peduli dengan ocehan Sang Dewa, Raisa dan Rumi masih terus saling berpelukan. Namun, karena berusaha keras membebaskan diri dari pengaruh sihir ilusi pengendali milik Sang Dewa yang sangat kuat, Raisa harus merasakan akibat dari efek samping melepas paksa pengaruh sihir tersebut.
Tiba-tiba saja Raisa terbatuk-batuk dan memuntahkan darah segar yang ke luar dari mulutnya. Itu adalah efek samping dari melepas paksa pengaruh sihir ilusi milik Sang Dewa.
Rumi langsung merasa panik saat menyadari suhu tubuh samg istri yang sangat panas tinggi di saat suhu sekitar sedang dingin karena sedang bersalju. Ini juga efek samping lain saat Raisa melepas paksa pengaruh sihir ilusi pengendali milik Sang Dewa dari dirinya.
Saat Rumi melepaskan pelukannya dengan sang istri, pria itu merasa terkejut melihat darah yang mengalir ke luar dari mulut sang istri tercinta. Saat itu Raisa juga terlihat sangat lemas dan lemah.
"Raisa, ada apa denganmu, Sayang? Kenapa kau jadi seperti ini?" tanya Rumi
"Tidak apa. Ini hanya efek samping saat aku berusaha melepaskan diri secara paksa dari sihir ilusi pengendali milik Sang Dewa. Bukan masalah besar, aku bisa mengatasinya," ungkap Raisa
"Jangan bicara lagi. Kau terlihat sangat lemah sekarang," kata Rumi yang masih merengkuh pinggang Raisa meski telah melepaskan pelukannya karena khawatir sang istri terjatuh.
Raisa tersenyum saat melihat sang suami yang tampak khawatir dengannya. Wanita itu sungguh merindukan wajah tampan milik suaminya. Karena meski berwajah sama dengan Sang Dewa, tentu saja sang suami berbeda. Wajah Rumi terlihat penuh akan rasa cinta kasih, tidak seperti wajah Sang Dewa yang penuh dengan kelicikan.
"Itulah akibatnya jika kau mencoba menentang dan melawan denganku. Sekarang kembalilah padaku. Dewi-ku, kau hanya bisa jadi milikku. Ingatlah itu," ucap Sang Dewa
"Cepat kembalikan calon istriku padaku, dasar manusia rendahan!" teriak Sang Dewa pada Rumi.
"Selamanya, Raisa adalah istriku dan kami tidak akan pernah berpisah atau terpisah!" seru Rumi
"Kau benar, suamiku. Efek samping seperti ini tidak berarti apa-apa bagiku," kata Raisa
Dengan kemampuan sihir miliknya, Raisa pun mengeluarkan sihir bola ilusi pengendali milik Sang Dewa dari dalam jantung hatinya secara ajaib. Lalu, Raisa langsung membakar bola ilusi tersrbut dengan sihir api biru suci surgawi hingg lenyap tak bersisa.
Setelah itu, Raisa pun berdiri tegak dengan kedua kakinya sendiri tanpa bantuan dari sang suami dan mengelap bekas dari sisa darah yang ke luar dari mulutnya dengan menggunakan lengan pakaiannya.
"Sudah kubilang, kau tidak akan pernah bisa memaksa diriku!" seru Raisa yang bermaksud bicara pada Sang Dewa.
"Lancang sekali! Manusia sepertimu berani-beraninya menipu, mempermainkan, dan membodohiku setelah diberi kasih sayang dan kesempatan untuk menjadi istriku. Kehormatan yang kuberikan padamu menjadi sia-sia," ucap Sang Dewa
"Berisik! Sudah kubilang, aku sama sekali tidak merasa terhormat karena itu! Aku tidak akan pernah menikah denganmu! Dan suamiku selamanya hanya ada satu! Sampai kapan pun kau tidak akan pantas!" teriak Raisa
"Kuberikan kesempatan satu kali lagi, kembalilah padaku. Maka, aku akan memberikan padamu kehidupan yang paling istimewa dan sempurna di sisiku dengan menjadi istriku. Dan aku akan membebaskan manusia rendahan, mantan suami dan teman-temanmu yang sudah lancang menerobos dunia milikku ini," ujar Sang Dewa dengan penawaran terakhirnya.
"Diam! Aku tidak akan pernah terima ancaman murahan darimu itu!" seru Raisa
Bagi Sang Dewa yang diucapkan olehnya adalah penawaran terbaik. Namun, berbeda dengan Raisa. Bagi wanita itu, penawaran dari Sang Dewa adalah ancaman murahan kelas rendah yang sangat licik. Jelas sekali, Raisa tidak akan menerimanya.
Saat itu Rumi pun menggenggam tangan sang istei dengan sangat erat. Raisa tersenyum dan membalas genggaman tangan sang suami dengan sangat mesra. Sengaja membuat Sang Dewa murka dengan memamerkan cinta tulus dua manusia.
Rumi merasa sedikit lega karena suhu tubuh Raisa sudah kembali normal. Namun, pria itu belum bisa sepenuhnya merasa lega sebelum bisa membawa pulang istri cantiknya dari dunia ilusi milik Sang Dewa yang penuh dengan tipu daya itu.
"Kau tenang saja. Sampai kapan pun kami berdua tidak akan pernah berpisah. Kau tidak perlu repot-repot menguji kekuatan cinta antara kami berdua karena kami tidak akan pernah tergoyahkan," ucap Rumi
"Kalau begitu, jangan harap bisa dapat ampun dariku. Aku tidak akan pernah melepaskan kalian semua. Kalian semua akan musnah juga bumi tempat kalian tinggal!" seru Sang Dewa
__ADS_1
"Itu tak akan pernah terjadi!" teriak secara serempak. Itu adalah teman-teman Rumi dan Raisa yang ikut datang ke sana.
Morgan, Aqila, Chilla, Ian dan Devan datang bersamaan menemui Rumi dan Raisa. Semuanya pun berkumpul di satu tempat yang sama. Termasuk juga dengan Sang Naga Suci yang itu terbang menuju dan muncul di sana.
Sang Dewa langsung terperangah begitu saja.
"Sang Naga Suci!" pekik Sang Dewa yang merasa terkejut sekaligus merasa takjub dengan makhluk suci yang dilihat di depan matanya.
Sudah tidak tertolong lagi kewarasannya itu, Sang Dewa malah tertawa keras di saat situasi yang tidak menguntungkannya ini. Mungkin pria dewa itu juga merasa frustasi, tapi sudah sampai saat itu ia tak bisa lagi memilih untuk melangkah mundur atau merasa takut. Maka pilihannya adalah melawan dengan segala keberanian dan sepenuh kekuatannya.
"Kalian semua, terima kasih sudah mau datang," gumam pelan Raisa sambil tersenyum.
Meski pun yang lain tidak dapat mendengar suaranya yang mengucapkan terima kasih, bagi Raisa tidak masalah. Wanita itu pasti akan punya kesempatan lain untuk mengucapkan rasa terima kasihnya hingga perasaannya menjadi puas. Namun, saat ini ia hanya ingin mengungkap rasa syukurnya yang begitu besar.
"Rupanya kau memiliki Sang Naga Suci bersamamu, makanya kau jadi berani dan sombong! Tak hanya kau, aku juga memilikinya!" seru Sang Dewa
"River, ke luarlah!" Sang Dewa pun memanggil makhluk suci legendaris yang menjadi rekan roh di sepanjang hidupnya.
Saat itu juga ada seekor naga lain yang muncul. Itu adalah Naga Biru yang berbeda dengan Sang Naga Suci.
"Ya ampun, muncul lagi seekor naga raksasa!" seru Chilla
"Kalau kau merasa ingin bertarung dengan dibantu oleh para makhluk suci legendaris, maka aku akan mengabulkannya," ujar Raisa
"Helio, Veron, aku memanggil kalian berdua!" Raisa pun ikut memanggil makhluk suci legendaris lainnya, yaitu Sang Phoenix dan Sang Penguasa Sungai Suci Abadi.
"Kami memenuhi panggilanmu, Raisa!" seru Helio dan Veron yang muncul begitu saja.
Satu ekor naga melawan naga lain serta burung api dan serigala air. Sedangkan para manusia melawan seorang yang menyebut dirinya sebagai dewa.
"Para makhluk suci bertarung. Tiga lawan satu," gumam Ian
"Naga biru dari pihak Sang Dewa itu, siapa yang lebih kuat dengan Naga emas yang bersama Rumi?" tanya Morgan
"Kau tidak perlu merasa penasaran dengan itu dan khawatirkan saja dirimu yang bertarung saat ini. Namun, kalau kau mau tahu ... naga emas memiliki 4 jenis elemen sihir utama, tapi naga biru hanya memiliki 1 jenis elemen sihir," ungkap Raisa
Niran adalah Sang Naga Suci yang datang bersama Rumi. Makhluk suci legendaris satu ini memiliki 4 jenis elemen sihir utama, yaitu api, petir, air, dan udara. Serta 1 elemen sihir lanjutan, yaitu es. Sedangkan, River adalah Naga Biru yang menemani kehidupan karena telah saling memilih satu sama lain dengan Sang Dewa. Makhluk suci legendaris ini hanya memiliki 1 jenis elemen sihir utama dan satu elemen sihir lanjutan, yaitu air dan es. Yang meliliki jenis elemen siihir yang sama seperti Glyn Veron, Sang Penguasa Sungai Suci Abadi, yaitu air dan es. Sementara, Helio adalah Sang Phoenix hanya memiliki jenis elemen sihir api.
"Raisa, senang melihatmu baik-baik saja," ucap Aqila
"Aku yang lebih senang bisa melihat kalian lagi," balas Raisa
"Kurang ajar! Bisa-bisanya kalian malah mengobrol saat melawanku. Bersantai saat ada di hadapanku ... cari mati!" teriak Sang Dewa
"Mungkin memang karena kau bukanlah tandingan kami," kata Devan
"Kau Dewa bodoh yang berani ingin merebut istriku ... tak akan kuberi ampun!" seru Rumi
"Akulah yang harusnya bicara seperti itu! Dewi-ku hanya pantas bersanding denganku! Aku akan menghabisi kalian semua! Mati kalian!" teriak Sang Dewa
"Jangan membunuhnya, Rumi," pinta Raisa
"Aku tidak butuh ampun atau belas kasih darimu!" marah Sang Dewa
__ADS_1
Saat itu dengan cepat, Raisa bergerak maju untuk melumpuhkan pergerakan Sang Dewa hingga memojokkannya ke dinding tebing dengan cara mencekik leher pria dewa itu dengan sangat erat. Semua terkejut dengan gerakan Raisa bagai kilat itu. Sama seperti Sang Dewa yang tidak menduga jika nyawanya akan berada di tangan seseorang yang ia pilih sendiri untuk diperistri dengan cara licik yang bersifat memaksa dengan ancaman. Kini dirinyalah yang terancam.
River, si Naga Biru pun berhasil dibekuk oleh sesama makhluk suci legendaris dengan jenis elemen sihir air dan Es. Veron, Sang Penguasa Sungai Suci Abadi berhasil menundukkan River dengan menekan kepala naga itu ke tanah.
Sang Dewa seolah telah kalah dengan sangat telak. Semua pun hanya bisa diam menyaksikan Raisa yang akan mengakhiri semuanya.
"Raisa, apa maksudmu dengan melarangku membunuhnya? Padahal dia sudah berusaha memisahkan kita berdua?" tanya Rumi dari kejauhan.
Rumi sedikit merasa kecewa dengan sang istri yang melarangnya menghilangkan sosok yang berusaha memisahkannya dengan istrinya itu. Namun, pria itu juga rela membiarkan sang istri membalas dendam dengan sosok yang menculik istrinya itu.
"Dewi-ku pasti tidak rela aku dibunuh oleh mantan suamimu itu, kan? Atau kau sendiri yang ingin membunuhku?" tanya Sang Dewa
"Diamlah. Jangan samakan aku dan suamiku dengan dirimu. Lalu, aku tegaskan sekali lagi bahwa aku dan Rumi tidak akan berpisah. Jadi, jaga bicaramu selagi aku masih bicara baik-baik," ungkap Raisa
"Aku hanya tidak ingin kau dipenuhi dengan hawa merah mencekam dari darah akibat pembunuhan yang kau lakukan pada Sang Dewa payah ini. Jangan sampai kau ternodai, Rumi," sambung Raisa yang memberi penjelasan pada sang suami.
"Konyol sekali! Rupanya aku akan berakhir di tangan wanita yang ingin kunikahi," gumam Sang Dewa
"Sudah kuperingatkan padamu, jangan memaksa diriku. Namun, kau tidak mendengarnya. Maka, terimalah akhir dari dirimu ini," ujar Raisa
"Kau bilang, kejadian yang terjadi di masa lalu akan terulang kembali. Itu memang benar. Tapi, apakah kau tidak ingat yang terjadi dulu? Kau dikalahkan oleh sekelompok manusia yang menggagalkan rencana akan obsesimu. Itulah kenyataannya dan seperti itu jugalah yang kejadiannya terulang kembali sekarang. Terima saja kekalahanmu yang terulang ini," sambung Raisa
"Seperti itukah? Kalau begitu, bunuhlah aku! Aku bersedia mati jika memang Dewi-kulah yang mengakhiri hidupku!" seru Sang Dewa yang telah merasa putus asa di akhir rasa frustasinya.
"Sudah kubilang pula bahwa aku tidak sama denganmu. Bersenanglah karena aku tidak akan membunuhmu. Tapi, ingatkah kau bahwa gadis yang kau culik dulu yang bernama Hani yang pernah menghukummu dengan membuat matamu buta? Sama seperti dirinya, aku juga akan memberi hukuman yang menyakitkan padamu. Aku akan berbaik hati padamu," ucap Raisa
"Apa maksudmu dengan itu? Bilang saja kalau kau mau menyiksaku, jangan sok berdalih bahwa kau akan berbaik hati dengan tidak membunuhku," ujar Sang Dewa
"Yang kau anggap sebagai penyiksaan itu, bagiku adalah kesempatan yang kuberikan untukmu," kata Raisa
"Bukankah sebelum ini kau juga sempat memasukkan bola ilusi dari sihir pengendali ke dalam jantung hatiku? Maka, rasakanlah hal yang serupa, tapi berbeda dariku ini," sambung Raisa
Dengan kemampuan sihir miliknya, Raisa membuat semacam bola yang bersinar terang. Bentuknya sama seperti bola bulan abadi yang Raisa buat dan berikan pada keponakan perempuannya dan pada anak-anak Panti Asuhan Cahaya Kasih.
Lalu, Raisa pun memasukkan bola sihir tersebut ke dalam jantung hati Sang Dewa secara ajaib. Sang Dewa bernama Arion itu memejamkan kedua matanya dengan sangat erat karena reaksi dari benda sihir asing yang dimasukkan ke dalam tubuhnya secara paksa.
"Raisa, apa yang kau lakukan padanya? Apa kau serius ingin menyiksanya? Kalau begitu, kenapa tidak sekalian saja kau habisi dia?" tanya Morgan
"Karena bagi sebagian orang, menyiksa dengan penderitaan lebih memberikan pelajaran dari pada memberikan kematian dengan mudah," ungkap Chilla
"Perempuan yang biasanya selalu tenang memang sangat menyeramkan saat sedang marah," kata Ian
"Biarkan saja Raisa melakukan yang dia inginkan karena dia adalah korbannya di sini," ujar Devan
"Aku tidak akan membunuh atau menyiksanya. Aku hanya akan memberinya kesempatan dan pencerahan hidup," ucap Raisa
Sang Dewa mulai kehilangan kesadaran akibat dari efek samping kekuatan bola sihir yang dimasukkan ke dalam jantung hatinya oleh Raisa.
.
•
Bersambung.
__ADS_1