
Setelah bertemu dengan Guru Helen bersamaan setelah kembali dari menjalankan misi, untuk saat ini jadwal latihan sementara dibebaskan. Amy, Wabda, Sandra, dan Raisa pun pergi berpisah dari Guru Helen yang masih harus mengurus sesuatu di kediamannya.
Saat keempatnya berjalan bersama menuju tempat berkumpulnya mereka dengan teman yang lain, tiba-tiba tiga orang murid lelaki dari akademi sihir yang sama sekali tak Raisa kenali datang menghampiri mereka berempat.
"Halo, di antara kalian berempat ada yang bernama Raisa, kan?" Sapa salah satu di antaranya dan bertanya.
"Kalian bertiga mengenalku?" Tanya Raisa kebingungan dengan kedatangan mereka yang mencarinya.
"Ada apa kalian mencari Raisa?" Tanya Wanda
"Aku ingin bicara sebentar denganmu, Raisa. Bolehkah? Tidak! Bisakah kau meluangkan waktu?" Ujarnya
"Jika, ada yang mau dibicarakan tinggal bicara saja!" Ketus Sandra
"Baiklah." Kata Raisa
"Kalian bertiga duluan saja. Nanti, aku akan menyusul." Ucap Raisa pada Amy, Wanda, dan Sandra.
"Tapi-"
"Tidak apa. Setelah bicara dengannya aku juga ingin kembali ke rumah sebentar untuk mengambil sesuatu yang terlupa, aku tak mau menahan kalian terlalu lama jika bersamaku dan menunggu. Aku akan baik-baik saja dan akan segera menyusul kalian." Tutur Raisa
"Baiklah." Pasrah Any, Wanda, dan Sandra secara serempak.
"Ingat, untuk segera menyusul ke tempat yang sudah disepakati tadi ya, Raisa!" Pesan Amy
"Ya, baik!" Paham Raisa
Amy, Wanda, dan Sandra pun hanya bisa mengikuti kata Raisa. Mereka bertiga pun berlalu pergi menginggalkan Raisa untuk menuju suatu tempat lebih dahulu.
"Kami juga tidak akan mengganggu. Semangat!"
"Dia baik sekali... Kau pasti bisa!"
Setelah kedua lelaki berbisik pada seorang di antara mereka yang ingin bicara dengan Raisa, mereka berdua pun ikut pergi meninggalkan seorang temannya bersama Raisa. Seperti memberi kesempatan untuk mereka berdua...
Raisa tau situasi apa yang dihadapinya saat ini. Untuk itu, ia meminta ketiga gadis temannya itu untuk lebih dulu pergi meninggalkannya. Ia mengerti suasana hati sulit seorang lelaki di depannya. Ia masih saja bersikap terlalu baik pada orang yang bahkan tidak dikenalnya... Inilah salah satu kebaikan sekaligus kelemahan yang dimilikinya. Memang dasar, Raisa!
"Terima kasih karena sudah mengerti rasa canggungku dan maaf sudah menyita waktumu, Raisa." Ucapnya
"Aku sudah benar dalam menentukan, bukan? Katamu, kau mau bicara? Sebenarnya, ada apa?" Ujar Raisa
"Ehm... Perkenalkan, namaku, Levi! Aku tau kau adalah Raisa. Gadis yang banyak dubicarakan rumornya itu, aku pun sudah menyaksikan langsung kehebatanmu, aku melihatmu saat kau berduel dengan temanmu di aula akademi. Awalnya aku tidak percaya pada semua rumor yang mengatakan ada seorang gadis yang sangat hebat sepertimu, tapi aku terperangah dan terkagum saat menyaksikannya sendiri. Sebenarnya... Raisa, aku menyukaimu! Maukah kau berpacaran denganku dan menjalin hubungan denganku?" Ungkapnya, dari seorang lelaki bernama Levi, yang memberanikan diri dari segala rasa gugupnya.
..."Sudah kuduga dari situasinya akan jadi seperti ini!" Batin Raisa...
"Tapi, aku tidak mengenalmu. Maaf!" Kata Raisa menolak.
"Kita berdua bisa saling mengenal dulu setelah ini. Aku juga sudah memberitahu namaku, Levi, kan..." Ucap Levi
"Sekali lagi, maaf! Sebenarnya sudah ada orang lain yang kusukai..." Ujar Raisa memberi penolakan lagi.
"Ah, begitu ya? Setidaknya aku sudah mencoba memberanikan diri. Padahal aku baru pertama kali menyukai seseorang dan menyatakannya langsung. Tapi, tidak apa." Pasrah Levi
"Maaf ya. Namamu, Levi, kan? Kau pasti orang baik, kau juga tampan. Kau pasti bisa menemukan gadis lain selain diriku. Percayalah itu dan tetap semangat!" Ucap Raisa berusaha menghibur lelaki di depannya.
"Ya. Terima kasih atas kesempatan waktu yang kau berikan!" Kata Levi
"Kalau begini, seperti aku yang membuang waktu milikmu. Maafkan aku!" Ujar Raisa
"Tidak begitu kok. Kan aku yang minta bicara denganmu. Kalau begitu, aku mohon pergi. Permisi!" Ucap Levi yang kenudian berbalik dan berlalu pergi meninggalkan Raisa begitu saja.
Dilihat saat kedatangannya bersama dua orang temannya, lelaki bernama Levi itu sangat bersemangat walau berusaha menutupi kegugupannya. Tapi, setelah Raisa menolaknya, dia pergi dengan lesu dan raut wajah yang muram. Raisa merasa sedikit tak enak hati, tapi itu harus dilakukannya. Raisa tak ingin sampai memberikan harapan palsu pada orang lain seperti pada orang yang disukainya. Lihat saja, hubungannya dengan lelaki yang disukainya itu saja sudah sangat rumit padahal ia terus berusaha menghindari lelaki tersebut...
..."Sudah kuduga, menolaknya takkan mudah, tapi syukurlah dia bisa mengerti. Aku heran, kenapa dia mudah sekali menyatakan perasaannya begitu saja? Padahal sangat sulit sekali bagiku menyatakan perasaan pada orang yang kusukai... Ah, tidak! Dia pun pasti sulit dan sudah sangat memberanikan dirinya." Batin Raisa...
Seperti yang direncanakan, Raisa kembali pulang ke rumahnya terlebih dahulu untuk mengambil sesuatu yang dilupakannya, lalu baru menuju ke tempat berkumpul bersama semua temannya. Saat ia hendak menuju rumahnya, Raisa merasakan ada seseorang yang memperhatikannya dari jauh. Tapi, ia tak terlalu memedulikannya saat tak ada seorang pun yang dilihatnya. Ia pyn melanjutkan perjalanannya dengan berlalu begitu saja.
...
Setelah Raisa kembali dari mengambil sesuatu yang tertinggal di rumahnya, ia kembali menuju tempat berkumpul dengan semua temannya.
"Kau sudah kembali, Raisa?" Tanya Amy
"Sudah mengambil barang yang terlupa di rumahmu?" Tanya Sandra
"Ya, sudah." Jawab Raisa atas pertanyaan dua temannya dengan singkat.
"Kau juga baru datang lagi, Rumi? Habis dari mana?" Tanya Morgan saat melihat sosok Rumi yang juga baru muncul di sana.
"Kenapa wajahmu seperti ditekuk begitu, Rumi? Sedang merasa kesal dengan hal apa?" Tanya Ian
"Tidak apa-apa, bukan dari mana-mana juga." Jawab Rumi
"Sekarang, kita mau melakukan apa?" Tanya Marcel
"Karena tidak ada yang kita lakukan. Bagaimana kalau kita main saja?" Ujar Morgan memberi usul.
"Main kartu lagi?" Tanya Billy guna memperjelas
__ADS_1
"Kartu sihir? Kau suka sekali permainan ini ya, Morgan?" Tanya Dennis
"Ya, tentu saja! Ayo, kita main!" Kata Morgan
"Dasar, lelaki! Yang kalian tahu hanya main dan main saja!" Cibir Aqila
"Kalau para lelaki ingin main, aku pinjam para gadis ya. Aku ingin kalian menemaniku berbelanja." Ucap Raisa
"Belanja lagi, Raisa? Bukankah belum lama ini kau sudah belanja?" Tanya Chilla
"Saat itu, aku belanja ubtuk kebutuhan di rumah baruku di sini. Kali ini, aku ingin belanja untuk bekal buah tangan untuk keluarga dan orang-orang di duniaku. Karena besok atau lusa aku sudah harus pulang." Jelas Raisa
"Secepat itu kau sudah mau pulang, Raisa?" Tanya Rumi seperti tak ingin hal itu terjadi.
"Ya, mau bagaimana lagi. Aku berjanji dan hanya diberi waktu berlibur di sini selama seminggu dan sisa liburanku akan kuhabiskan di dunia asalku, waktuku yang tersisa di sini memang tinggal segitu adanya." Ungkap Raisa
"Para gadis suka sekali menghabiskan uang untuk berbelanja. Merepotkan sekali!" Ujar Devan
"Benar sekali! Jika para lelaki hobi bermain, para gadis hobi berbelanja." Kata Morgan
"Kau ingin belanja kan, Raisa? Kalau begitu, ayo! Kami para gadis akan menemanimu!" Ujar Wanda
"Ya, ayo!" Kata Raisa
Raisa bersama gadis lainnya pun melangkah perhi berlalu dari tempat itu menuju aktivitas belanja mereka. Melihat kepergian Raisa, Rumi terus menatapnya sambil memikirkan sesuatu...
"Kenapa kau terlihat tidak fokus, Rumi?" Tanya Morgan
"Tidak kok. Aku memang selalu seperti ini." Bantah Rumi
"Entahlah. Kurasa kau seperti sedang memikirkan sesuatu yang membuatmu bingung dan pusing." Kata Morgan
"Mungkin benar, aku sedang memikirkan sesuatu. Dan aku harus bertindak segera. Aku tak mau menunda lagi supaya aku pun tidak terus merasa gelisah." Batin Rumi
---
Saat berbelanja, para gadis terlihat sangat menikmatinya. Kali ini mereka tidak menemani Raisa berbelanja kebutuhan rumah harian dan tidak hanya berbelanja makanan, mereka juga membeli cendra mata.
"Raisa, obrolanmu dengan lelaki akademi si Levi itu berjalan lancar kan? Dia tidak sampai mempersulitmu kan?" Tanya Wanda
"Levi?! Murid akademi di kelas sebelah dulu itu?" Ujar Aqila yang terkejut.
"Tidak kok. Dia hanya penasaran setelah menonton saat aku berduel dengan Sandra hari itu dan ingin berkenalan denganku." Ungkap Raisa berdusta.
"Hanya itu? Kukira akan terjadi hal menakjubkan seperti dia menyatakan cinta padamu, Raisa. Ah, tidak seru!" Ucap Chilla
"Kenapa kau menebak sampai seperti itu, Chilla?" Tanya Sandra
"Aku juga sempat berpikir ke arah sana." Ujar Amy
"Aku juga." Sambar Wanda
"Iya, sih. Persangkaanmu ada benarnya juga, Chilla!" Kata Sandra
Chilla mengangguk cepat seolah dirinya sangat ahli dalam hal seperti ini. Tapi, ia memang seorang yang seperti itu dan tebakannya pun benar! Raisa pun sudah tak merasa heran lagi jika Chilla bisa menebaknya walau ia sudah berusaha menutupinya dengan kebohongan.
"Tidak juga sih." Pelan Raisa bergumam.
"Tidak juga sih, apanya? Tebakanku benar ya?!" Sambar Chilla yang mendengar Raisa bergumam.
"Bukan begitu, maksudku... Pokoknya tidak ya tidak!" Sangkal Raisa yang kembali fokus pada belanjaannya.
"Raisa, kau yang terkadang suka asik dengan benda milikmu yang bernama ponsel itu... Coba tunjukkan caranya padaku dong!" Ujar Sandra
"Oh, kau tertarik dengan berfoto ya, Sandra?!" Tanya Raisa
"Tidak kok, aku hanya ingin lihat bagaimana kau melakukannya dengan bensa dari duniamu itu." Sangkal Sandra
Raisa sebenarnya tau, Sandra suka menyangkal tentang ketertarikannya dengan sesuatu yang padahal ia suka. Tidak apa, Raisa akan menunjukkannya walau Sandra terus menyangkal. Ini bagus untuk mengalihkan topik tentangnya dan Levi yang dibicarakan tadi. Sebenarnya Sandra juga sama seperti dirinya yang suka menyangkal tentang rasa ketertarikan atau rasa sukanya pada sesuatu.
Raisa pun mengeluarkan ponsel miliknya dan menunjukkan cara berfoto dengan menggunakan benda miliknya itu. Raisa juga sedikit heran antara perbedaan dari dunianya dan dunia asing yang dikunjunginya itu. Padahal di dunia itu benda atau alat elektronik juga sudah sampai mempunyai komputer, televisi, laptop, atau pun benda yang bahkan lebih canggih lainnya, tapi masih belum mempunyai, menemukan atau mengembangkan ponsel. Ternyata antara kedua dunia beda dimensi itu memang memiliki perbedaan yang sangat jelas walau dalam beberapa hal terdapat hal yang sama...
Setelah menunjukkan ponselnya dan cara berfoto pada Sandra, Raisa pun mengajak mereka semua berfoto bersama. Berfoto dengan hanya para gadis!
"Mumpung sedang kutunjukkan, bagaimana kalau kita berfoto bersama? Ayo, mendekatlah! Foto para gadis pasti hasilnya bagus!" Ujar Raisa
Raisa, Aqila, Chilla, Amy, Wanda, dan Sandra pun mengatur posisi dengan baik supaya lengkap dan bagus saat tertangkap kamera ponsel. Dan mereka semua pun mulai asik berfoto saat di tengah-tengah aktivitas mereka sedang berbelanja...
Setelah selesai berbelanja dan Raisa menaruh semua belanjaannya di rumah, ia kembali berkumpul dengan semua temannya yang lain.
Mereka semua menghabiskan waktu bersama dengan menyenangkan...
Selama berkumpul, Raisa merasa Rumi terus memerhatikannya. Ia merasa Rumi terus menatapnya diam-diam dan itu cukup membuatnya risih, bukan karena tak suka melainkan ia malah merasa gugup karena terus diperhatikan seperti itu. Karena merasa begitu, selama berkumpul Raisa pun sebisa mungkin menghindari kontak mata langsung dengan Rumi atau membalas ucapan dari Rumi dengan singkat dan seperlunya atau secukupnya saja.
Setelah lama berkumpul dan menikmati waktu bersama-sama, hari pun mulai gelap, hari telah memasuki waktu malam. Saat seperti inilah semua harus saling membubarkan diri untuk kembali pulang ke rumah masing-masing.
"Semua, pulanglah dengan selamat ya!" Seru Amy saat berpamitan
"Rumi, kau pulanglah bersama Raisa. Rumah kalian kan berdekatan." Ucap Morgan
__ADS_1
"Baiklah." Patuh Rumi
"Eh?" Padahal Raisa sedang mencoba menghindar dari Rumi untuk saat ini.
"Ya, kalian pulanglah bersama. Hati-hati ya. Sampai bertemu besok!" Kata Aqila
Semua terus saling membubarkan diri...
"Ayo, pulang, Raisa!" Ajak Rumi
"Ya, ayo!" Kata Raisa yang berusaha untuk tetap tenang.
Raisa dan Rumi pun berjalan bersama untuk pulang....
Selama perjalanan pulang, mereka berdua hanya diam. Hening, tak saling berbicara satu sama lain.
"Raisa...!?" Seru Rumi memanggil nama Raisa dan tiba-tiba angkat bicara.
"Hmm... Ya, ada apa?" Sahut Raisa
"..." Diam Rumi, hening. Seperti sedang memikirkan sesuatu.
"Rumi, sebenarnya ada yang mau kau bicarakan padaku ya? Bicara saja. Kalau tidak, aku jadi tidak nyaman." Ujar Raisa
"Maaf sudah membuatmu merasa tidak nyaman." Kata Rumi
"Maksudku, bukan begitu juga. Kalau kau hanya diam padahal seperti ada yang ingun kau bicarakan, akan terasa canggung bagi kita berdua. Itu rasanya tidak nyaman, tidak enak!" Ucap Raisa
"Kalau begitu, maukah kau bicara berdua denganku, Raisa?" Tanya Rumi
"Ya. Tentu saja." Jawab Raisa
..."Bukannya sekarang sudah sedang bicara berdua ya?" Batin Raisa merasa bingung dengan tingkah Rumi saat ini....
...
Setelah berkata begitu dan mengajak Raisa bicara berdua, Rumi pun mengajak Raisa ke suatu tempat. Tempat yang tak jauh berada di belakang rumah Rumi sehingga dapat terlihat rumahnya dari sana. Di sana terdapat taman kecil dan keduanya, Raisa dan Rumi duduk di atas hamparan rumput hijau...
..."Ternyata, saat bilang mau bicara, dia mau mencari tempat yang enak untuk bicara berdua denganku ya..." Batin Raisa...
"Tempat ini cukup bagus, kita sudah berdua. Sekarang kau mau bicara apa?" Ujar Raisa
"Raisa..."
"Meong!" Suara hewan menggemaskan itu membuyarkan pikiran Rumi yang ingin bicara sesuatu pada Raisa.
"Kau dengar suara itu?" Tanya Raisa yang mendengar sesuatu.
"Ah, itu dia! Mika, datang!" Seru Rumi
Seekor binatang imut kecil muncul dari arah semak dan muncul di sana. Mika, namanya. Ia adalah kucing peliharaan Rumi!
Melihat itu, Raisa kegirangan! Ia suka sekali dengan kucing!
"Ah, lucunya!" Gemas Raisa saat memeluk kucing kecil itu di pangkuannya.
"Kau suka kucing, Raisa?" Tanya Rumi
"Sangat! Mereka semua sangat lucu, imut, dan menggemaskan! Aku awalnya terkejut saat tau kau memelihara satu kucing kecil seperti dia ini. Aku melihatnya dalam mimpi." Ungkap Raisa
"Awalnya, aku juga tidak menyangka akan memeliharanya." Kata Rumi
"Baiklah. Silakan bicara, apa yang mau kau bicarakan..." Ujar Raisa namun tetap asik bermain dengan kucing bernama Mika dan tak memerhatikan lawan bicaranya saat ini, yaitu Rumi, yang ada di sampingnya.
"Sebentar lagi, kau akan pulang ke duniamu. Bagaimana liburanmu selama kau di sini?" Ujar Rumi bertanya. Padahal sepertinya bukan itu yang ingin dibicarakannya.
"Sangat menyenangkan! Aku selalu menikmati waktu bersama kalian semua!" Jawab Raisa
"Kau mendapat misi pertamamu kemarin. Bagaimana rasanya menjalankannya saat pertama kali?" Tanya Rumi
"Aku juga menikmati waktu itu. Ternyata seru dan asik juga. Aku harap lain kali nanti aku bisa diikut sertakan dalam musi lain dan bisa dalam satu tim bersama yang lain juga, juga bersamamu. Aku sangat menantikannya!" Jelas Raisa
"Bukan ini hal yang mau kubicarakan! Tapi, kamu hanya asik dengan Mika. Padahal aku ingin serius menyampaikannya padamu, Raisa!" Batin Rumi
Setelah merasa cukup bermain dengan Raisa, Mika si kucing kecil itu akhirnya bangkit dan pergi dari pangkuan Raisa dan menghilang entah ke mana di balik rerumputan semak.
"Yah, dia pergi! Sebentar sekali bermain denganku. Padahal sepertinya dia cukup menyukaiku." Sesal Raisa menyayangkan kepergian kucing lucu itu...
"Terima kasih, kau sudah mau mengerti diriku, Mika!" Batin Rumi yang malah merasa senang dengan kepergian kucing peliharaannya karena dia bisa serius bicara dengan Raisa kali ini.
"Raisa, aku menyukaimu!" Kata Rumi
"Apa!?" Respon Raisa yang lambat.
..."Aku bukannya tidak dengar. Tapi, lagi-lagi hatiku belum siap untuk mendengarnya..." Batin Raisa...
"Aku menyukaimu, Raisa! Aku tau aku sudah pernah mengatakannya padamu. Tapi, aku tak tahan lagi dengan semua yang kurasakan ini! Aku suka padamu! Bukan sebagai teman, tapi lebih dari itu! Aku menyukaimu sebagai lawan jenisku, sebagai seorang lelaki kepada perempuan... Jadi, maukah kau menerima perasaanku ini dan menjalin hubungan yang lebih dari sekadar teman denganku?" Luap Rumi mengungkapkan segala perasaannya.
.
__ADS_1
•
Bersambung...