
Keesokan harinya.
Usai sarapan bersama di pagi hari, semuanya berkumpul bersama untuk sekadar berbincang-bincang kecil.
Dari arah dapur sehabis membersihkan peralatan bekas makan, Raisa datang dengan penuh semangat.
"Hari ini, kita semua akan bermain ke luar vila. Lalu, karena ini hari liburku ... Maura dan Nilam akan datang untuk bermain bersama kita semua. Kalian semua tidak keberatan, kan?" tanya Raisa
"Tentu, tidak. Suruh saja mereka berdua datang sekarang," jawab Morgan
"Semalam mereka berdua bertanya tentang keberadaan kita semua, kujawab kita menginap di vila keluargaku ini. Saat itu mereka berdua berkata ingin datang bergabung untuk bermain dan saat ini mereka berdua bilang sedang berada dalam perjalanan menuju ke sini," ucap Raisa
"Hari ini, kita akan bermain ke mana, Kak Raisa?" tanya Monica
"Hanya Monica, Sanari, dan Amon yang belum pernah mengunjungi tempat ini ... kita semua akan pergi ke tempat pelatihan berkuda. Sekarang di sana tidak hanya berlatih teknik berkuda saja, tapi juga bisa berlatih cara berburu dan memanah," ungkap Raisa
"Sepertinya akan seru," kata Amy
"Entahlah, mungkin juga tidak. Untuk cara berburu dan memanah mungkin kalian sudah bisa langsung menguasainya. Bukankah kalian sudah sering mengatasi hal seperti ini? Apa kita ke tempat lain saja? Mungkin ke kebun raya?" tanya Raisa
"Kalau sudah memutuskan ingin pergi ke suatu tempat, pergi saja dulu ke sana. Baru ke tempat yang lain. Sepertinya juga kau lebih ingin ke tempat yang pertama disebut," jawab Amon
"Kalau aku, sih, akan ikut ke mana pun kalian mau. Kalau kalian ingin ke kebun raya lebih dulu juga tidak apa. Ke sana juga akan seru," ujar Raisa
"Kita ke tempat pelatihan berkuda saja dulu. Sudah sangat lama saat pertama kali ke sana dan saat itu kami tidak terlalu bersungguh-sungguh berlatih cara berkuda. Kali ini kami akan lebih bersungguh-sungguh saat berlatih nanti. Kalau aku ... ingin bisa berkuda juga sepertimu," ucap Aqila
"Kami juga ingin bisa berkuda sepertimu, Raisa. Kau, sih, enak ... bisa langsung pandai berkuda sejak pertama kali berlatih," kata Wanda
"Aku juga sudah lama tidak mengunjungi tempat pelatihan berkuda. Mungkin aku juga harus berlatih dari awal lagi," ucap Raisa
"Baiklah, kalau begitu sudah diputuskan ... kita akan ke tempat pelatihan berkuda. Kalian semua bersiap-siaplah lebih dulu sambil menunggu Maura dan Nilam sampai ke sini. Tidak perlu terburu-buru ... santai saja karena mungkin mereka berdua masih lama sampainya," sambung Raisa
Semua pun menunggu kedatangan Maura dan Nilam sambil bersiap-siap untuk pergi.
"Akhirnya sampai juga."
"Raisa, kami berdua datang!"
Mendengar suara kedua temannya yang telah tiba, Raisa langsung menghampiri mereka berdua.
"Halo, semuanya!"
Maura dan Nilam menyapa semua teman Raisa.
"Selamat datang!"
"Maura, Nilam, kalian berdua sudah datang. Sulit gak menemukan tempat ini?" tanya Raisa seraya menyapa.
"Gak juga, sih. Tapi, ya kamu tahu sendiri, puncak bogor itu selalu aja macet, meski gak terlalu parah juga," jawab Nilam
"Aku gak pernah tahu kanu punya vila di puncak. Kamu gak pernah cerita," kata Maura
"Aku pernah cerita kok. Sewaktu kita masih sekolah, kan, aku juga pernah kasih kalian berdua oleh-oleh setelah dari sini. Saat itu sedang ujian kelulusan. Kamu mungkin lupa. Lagi pula, vila ini bukan punyaku, tapi punya keluarga besarku," ucap Raisa
"Kalau aku ingat kok kalau Raisa pernah cerita," ujar Nilam
"Berarti cuma aku doang dong yang lupa? Maaf, deh ... " kata Maura sambil menampilkan cengir kuda.
"Gak apa, itu gak penting. Kami semua rencananya mau langsung pergi main ke luar bersama setelah kalian berdua sampai. Tapi, kalian berdua pasti lelah, kan? Apa kalian berdua mau istirahat dulu?" tanya Raisa
"Kami berdua juga ikut pergi main sama kalian dong. Masa mau ditinggal gitu aja. Kan, niatnya emang mau liburan sambil main di sini," ujar Maura
"Iya, kami berdua juga mau ikut main bareng. Tadi udah istirahat selama di perjalanan. Malah udah gak sabar mau main," jawab Nilam atas pertanyaan Raisa sebelumnya.
"Ya sudah. Kalian berdua simpan barang-barang dulu di kamar," kata Raisa
Raisa pun mengantar Maura dan Nilam menuju ke kamar yang akan mereka berdua tempati saat berada di sana.
"Ini kamar kalian berdua," kata Raisa
__ADS_1
"Kami cuma berdua? Kalau kamu pakai kamar yang mana bareng siapa?" tanya Maura
"Aku pakai kamar utama di vila ini sendirian. Kalau kalian berdua merasa sepi berdua aja, aku bisa gabung sama kalian berdua di kamar ini kok," jawab Raisa
"Kalau teman-temanmu yang lain?" tanya Nilam
"Mereka semua dibagi ke dalam 4 kamar. Aqila, Chilla, Sanari, dan Monica. Amy, Wanda, dan Sandra. Dennis, Marcel, Billy, dan Amon. Lalu, Morgan, Rumi, Devan, dan Ian," ungkap Raisa
"Kalian berdua simpan barang-barang dulu, lalu siap-siap. Mungkin kalian berdua mau ganti baju ... terserah. Tempat tujuan kita adalah wisata olahraga. Jangan pakai baju yang terlalu ketat atau terlalu longgar. Aku tunggu di luar sama yang lain, ya," sambung Raisa yang langsung berlalu pergi meninggalkan Maura dan Nilam di dalam kamar mereka berdua.
"Aku belum sempat tanya wisata olahraga apa ... " gumam Nilam
"Nanti juga dikasih tahu. Yuk, langsung siap-siap aja biar pada gak nunggu lama," kata Maura
Maura dan Nilam hanya menaruh koper dan langsung bersiap-siap. Kemudian langsung menemui Raisa dan yang lainnya.
"Kami berdua udah siap," kata Maura
"Kita mau ke mana kali ini, Raisa?" tanya Nilam
"Raisa belum bilang pada kalian berdua, ya. Kita akan pergi ke tempat pelatihan berkuda. Katanya sekarang di sana juga ada pelatihan cara berburu dan memanah," ungkap Sandra membantu Raisa untuk menjawab.
"Kalian semua udah pernah ke sana sebelumnya?" tanya Maura
"Kami pernah sekali ke sana. Hanya Amon, Sanari, dan Monica, juga kalian berdua yang belum ke sana bersama kami. Aku suka kuda, makanya aku putuskan ingin ke sana lagi," jawab Raisa
Setelah itu, mereka semua pun menuju ke tempat pelatihan berkuda yang dimaksud. Semuanya berjalan kaki bersama karena tempat yang dituju kali ini terbilang dekat berada di desa yang sama.
"Kalian berdua pasti sebenarnya lelah, kan, Maura, Nilam? Ini ... makanlah camilanku untuk menambah tenaga sebelum kita sampai ke tempat pelatihan berduka," ujar Chilla yang menawarkan camilan miliknya dengan memberikannya pada Maura dan Nilam.
"Terima kasih." Maura dan Nilam menerima camilan pemberian dari Chilla.
"Camilanmu itu sudah bagaikan harta berhargamu. Tak kusangka kau mau berbagi camilan dengan orang lain, Chilla," ujar Ian
"Kau sudah berteman lama dengan Chilla, rupanya kau masih belum paham juga, Ian. Jika, Chilla sudah membagikan camilan miliknya pada orang lain itu artinya adalah maksud baiknya untuk berteman," ungkap Raisa
"Memang hanya sesama gadis sepertiku yang sangat memahami diriku," kata Chilla
"Itu bagus ... kalian berdua memutuskan untuk berlibur di sini. Sayangnya cuma dua hari. Apa gak bisa lebih lama?" tanya Raisa
"Waktu kami berdua yang kosong cuma dua hari. Setelah itu selain mengurus pekerjaan bareng kamu, kami berdua juga ada urusan yang lain-lain juga," jawab Nilam
"Kami berdua cuma bantu pekerjaan kamu. Kamu sendiri yang jadi artis harus bolak-balik Jakarta dan Puncak emangnya gak capek, Raisa?" tanya Maura
"Enggak kok. Pulang kerja aku langsung istirahat. Karena ada teman-temanku, urusan di vila mereka yang ambil alih, terkadang aku bantu sedikit. Biar aku jadi terbiasa. Nanti kalau dapat job yang lebih banyak dari sekarang ini, jadi aku udah lebih dulu terbiasa," jawab Raisa
Raisa memang bicara seperti itu. Namun, sebenarnya saat ada yang harus dilakukan di vila Raisa semualah yang menghandle dan mengerjakannya, justru teman-temannya yang hanya membantu. Raisa bicara seperti itu pasti supaya Maura dan Nilam tidak merasa khawatir pada teman kerja artisnya itu. Karena Raisa sudah memutuskan berkata seperti itu, yang lain pun hanya bisa diam membiarkannya.
"Sudah sampai. Cukup dekat dengan berjalan kaki dari vila, kan?" tanya Raisa
"Lumayan, seperti berkeliling desa aja. Untungnya ini belum terlalu siang dan udara di sini bagus, jadi tidak terasa melelahkan meski harus jalan kaki," jawab Maura
"Ayo, kita semua masuk," kata Raisa
Mereka semua pun masuk ke tempat pelatihan berkuda.
"Pak Wisnu," sapa Raisa pada pemilik tempat pelatihan berkuda tersebut.
"Neng Raisa, kali ini bawa lebih banyak teman, ya? Mau ikut pelatihan apa lebih dulu?" tanya Pak Wisnu, pemilik tempat pelatihan berkuda.
"Iya, cuma lebih banyak 5 orang dari kunjungan sebelumnya. Mungkin kami mau berkuda lebih dulu. Kami mau minta bantuan pelatih dari sini," jawab Raisa
"Oke, Neng. Kalau gitu, kita pilih kudanya dulu. Mau bergantian atau sekaligus bersama-sama?"
"Kalau saya mau lihat yang udah pro dulu," kata Nilam
"Kalau gitu, bergantian aja. Yang mau duluan, silakan pilih kudanya. Mungkin Neng Raisa bisa kasih contoh dulu," ujar Pak Wisnu
"Boleh aja. Saya mau pakai si Putri, ya, Pak," kata Raisa
__ADS_1
Putri adalah nama salah satu kuda di sana yang pernah Raisa tunggangi sebelumnya.
"Emangnya Raisa udah pro?" tanya Maura
"Kalau yang kau maksud adalah jago, ya. Jangan ragukan Raisa, dia langsung pandai berkuda sejak pertama berlatih di sini," jawab Marcel
Pak Wisnu pun mengantar siapa saja yang ingin lebih dulu memilih kuda dan menungganginya lebih dulu.
Yang berani maju untuk menunggang kuda pertama kali adalah Raisa, Rumi, dan Dennis.
"Katanya udah sangat lama sejak pertama kali ke sini ... emangnya gak apa kalau kalian bertiga langsung menunggang kuda tanpa didampingi pelatih lebih dulu?" tanya Nilam yang tampak khawatir.
"Gak apa. Kuda di sini sudah terlatih semua, kami juga akan berjaga-jaga di sekitar mereka bertiga. Mereka bertiga adalah yang lebih mahir dari pada yang lain sewaktu pertama kali ke sini, jadi akan sedikit memberi contoh," jawab Pak Wisnu
"Semangat, Raisa!" Maura malah bersorak memberi semangat.
Raisa mengangguk sambil tersenyum.
Saat Pak Wisnu memberi aba-aba, ketiga penunggang kuda ysng telah bersiap pun mengibas pelan tali pengendali kuda. Ketiga kuda yang ditunggangi pun mulai berjalan perlahan.
Sudah berkeliling lapangan berlatih 2 kali putaran, Raisa pun memacu kudanya untuk berlari lebih cepat. Melihat itu, Rumi ikut memacu kudanya untuk berlari bersama seperti yang Raisa lakukan. Saat itu, Dennis pun ikut memacu kudanya. Namun, kuda yang Dennis tunggangi tidak berlari secepat kuda Raisa dan Rumi. Dennis sengaja hanya mengikuti kuda Raisa dan Rumi di belakang.
Setelah melakukan beberapa putaran, mereka bertiga menghentikan kudanya bergiliran yang didahului oleh Raisa.
"Bagus, Putri. Ternyata kita masih bisa bekerja sama dengan baik seperti sebelumnya." Raisa bicara dan memberi pujian pada kudanya.
"Raisa, bagaimana caranu bisa berkuda dengan sangat baik seperti itu?" tanya Sanari
"Tentu ada caranya. Kita harus lebih dulu melakukan pendekatan dengan kuda yang sudah dipilih untuk saling mengenal dan memahami satu sama lain. Anggaplah kuda sebagai temanmu," jelas Raisa
"Bicara memang mudah. Kalau begitu, ajarilah kami cara berkuda juga," ujar Billy
"Kan, kau sudah pernah melihat caraku melakukannya saat kita berkunjung pertama kali ke sini. Tidak apa ... pilihlah dulu kuda yang akan kalian tunggangi, aku akan beri contoh melakukan pendekatan yang baik," ucap Raisa
Mereka pun beranjak untuk memilih kuda sebelum berlatih cara menunggang, termasuk Maura dan Nilam. Namun, ada yang enggan berlatih berkuda dan memilih untuk hanya sekadar menonton. Seperti Chilla yang memilih menonton sambil maksn camilan, Amon ysng hanya akan melihat Sanari berlatih dan ikut mendampingi dan menjaganya, dan Amy yang memilih untuk diajarkan oleh Dennis dengan kuda pilihan pacarnya itu.
Saat yang lain ke luar dari kandang dengan kuda pilihannya masing-masing, Raisa sedang sibuk memberi makan kudanya bersama dengan Rumi.
"Kalau kalian sudah memilih kuda masing-masing, lakukanlah pendekatan dengannya ... seperti membelai atau menyisiri rambut kuda, mengajaknya mengobrol, beri pujian tentang fisiknya yang bagus, dan memberinya makan dengan baik," jelas Raisa
Raisa memberi penjelasan sambil memberi contoh langsung dengan kudanya, Putri.
"Langkah selanjutnya, tuntunlah kuda kalian untuk jalan bersama. Pegang tali kendalinya, giringlah ia sambil berjalan bersamanya minimal sekali putaran lapangan," ucap Raisa
"Lalu, mulailah tunggangi kuda. Naiki kuda dengan hati-hati dan perlahan. Di atas punggung kuda juga harus melakukan pendekatan yang baik seperti sebelumnya tadi. Barulah kalian bisa berkeliling dengan menunggangi kuda. Mulailah dari jalan-jalan perlahan. Jika sudah merasa lebih berani dan dekat dengan kuda, kalian bisa mencoba untuk mempercepat laju kudanya," sambung Raisa
"Raisa, kau sudah seperti pelatih handal sungguhan saja. Itu sangat bagus," puji Rumi
Raisa mengucapkan terima kasih sambil tersenyum manis. Lalu, melanjutkan penjelasannya.
"Tebtu saja, ini tidak mudah. Kalian harus didampingi pelatih handal di sini untuk berlatih sesungguhnya. Penjelasan dariku hanya bermaksud agar kalian bisa memahami caranya dengan lebih mudah. Kuncinya adalah tali kendali yang kalian pegang untuk mengendalikan gerak kuda. Kalau masih belum merasa berani untuk memacu kuda dengan cepat, jangan sesekali kalian mengibas kuat tali kendalinya. Goyangkan saja dulu dengan perlahan untuk berjalan santai," ungkap Raisa
"Semua penjelasan Neng Raida emang udah benar. Kayaknya Neng Raisa punya bakat jadi pelatih berkuda," kata Pak Wisnu seraya memuji Raisa.
"Bisa aja, Pak Wisnu," sahut Raisa
Mereka pun mulai berlatih berkuda dari dasar seperti yang Raisa jelaskan sambil didampingi para pelatih di sana.
"Sanari pasti akan lebih mudah melakukannya karena aslinya pun dekat dengan binatang. Itu sama seperti Rumi, meski binatang yang dekat dengan kalian bukan kuda sekali pun. Sama sepertimu juga, Nilam. Kan, kau juga memiliki hewan peliharaan di rumah. Perlakukanlah kudamu sama dengan kucingmu," ujar Raisa
Hewan yang Nilam pelihara dan dekat dengannya adalah kucing. Sedangkan, Rumi adalah orang yang dekat dengan ular dan Sanari memiliki hewan gabungan monyet macan sebagai hewan sihirnya. Namun, Raisa tidak mungkin mengungkapkan itu di sana.
"Kalau Dennis, dia juga memiliki perternakan kuda untuk dilatih dan pernah berlatih di rumahnya sebelumnya. Itulah alasan dia mahir berkuda. Dia pasti bisa mengajari Amy dengan baik," ucap Raisa
"Dengarlah Raisa, Amy. Aku pasti bisa mengajarimu berlatih kuda meski harus dengan perlahan. Kau tidak perlu takut," kata Dennis
"Baiklah," patuh Amy mendengar pengajaran dari pacarnya dengan baik.
.
__ADS_1
•
Bersambung ...