Bertemu Dan Jatuh Cinta

Bertemu Dan Jatuh Cinta
[Season 2] 146 - Melaporkan Kabar Buruk.


__ADS_3

Monica sedang berusaha menahan tangisnya. Namun, Raisa malah tersenyum dengan tenang, lembut, dan hangat. Wanita itu pun langsung memeluk gadis yang kini tengah merasa gusar itu.


"Meski harus berada di dalam situasi berbahaya pun aku tidak takut, jadi kau tidak perlu merasa takut untukku dan jangan merasa khawatir atau panik. Harus ada yang tetap selamat di sini dan itu adalah kau, Monica. Tolong sampaikan ini pada Rumi ... maaf karena aku tidak bisa memberimu kejutan dengan baik," ucap Raisa


Monica tersadar bahwa ia harus segera mencari bantuan setelah ini, lalu gadis itu pun mengangguk dalam pelukan Raisa


Raisa seolah mengucapkan kata-kata perpisahan pada Monica dan berangsur melepas pelukannya pada gadis itu. Wanita cantik itu terus tersenyum dan tidak ada lagi tatapan tajam pada kedua matanya. Namun, saat wanita itu beralih menatap ke arah Sang Dewa tatapan yang tajam dan dingin kembali menyala di kedua matanya.


"Aku akan ikut denganmu, tapi sebagai gantinya ... jangan lukai Monica dan lepaskanlah dia. Kau harus berjanji begitu juga dengan para anak buahmu," ucap Raisa


"Pilihan yang tepat dan bagus. Ke marilah, Dewi-ku. Pergilah bersamaku. Tanpa perintah dariku, para anak buahku tidak akan melukai temanmu," kata Sang Dewa


Sang Dewa itu mengulurkan satu tangannya, menyuruh Raisa untuk datang padanya.


Raisa pun menerima uluran tangan Sang Dewa dan berjalan mendekat ke arah pria dewa itu, naik ke atas pijakan lempengan tanah yang mengapung di udara dengan sihir itu. Sang Dewa itu langsung merengkuh pinggang Raisa dengan mesra.


Raisa menatap ke arah Monica sambil tersenyum.


"Maaf, Monica. Kau harus melanjutkan wisata kuliner malammu sendirian," kata Raisa


Monica terkesiap, lagi-lagi gadis itu terlena dengan ketidak-berdayaan yang dirasakannya karena tidak bisa melakukan apa-apa. Ia menahan air mata dan isak tangisnya. Ketidak-berdayaannya sungguh telah mengguncang dirinya sehingga membuat dirinya sulit untuk bergerak bahkan bernafas sekali pun. Meski tahu harus apa, pikirannya seolah kosong seketika dan membuat tubuhnya mematung.


"Sudah cukup mengatakan salam perpisahannya. Sudah waktunya untuk kita pergi," ujar Sang Dewa


Lempengan tanah yang ditunggangi Sang Dewa dan Raisa perlahan mengapung semakin tinggi ke langit dan terbang dengan cepat. Seolah bergerak karena dikendalikan oleh pikiran.


Meninggalkan tanah Desa Daun, para bawahan Sang Dewa melemparkan serangan sihir dari jarak jauh ke arah Monica yang masih mematang diam sambil menatap kepergian Raisa yang secara tidak langsung dibawa paksa oleh Sang Dewa.


Memang membingungkan. Namun, Raisa bersedia pergi bersama Sang Dewa. Jadi, bisa dikatakan bahwa Raisa secara tidak langsung telah dibawa paksa oleh Sang Dewa yang telah lebih dulu mengajukan negosiasi ancaman. Jika Raisa tidak bersedia untuk ikut pergi dengannya, maka Monica yang akan dibawa pergi olehnya. Sungguh, Sang Dewa itu berpikiran sangat licik. Tentu saja, Raisa jadi tidak punya pilihan lain untuk ikut pergi dengannya karena wanita cantik itu tidak mau mengorbankan keselamatan orang lain.


Karena dilempari serangan sihir, secara naluriah Monica bergerak untuk menghindar demi menyelamatkan diri. Gadis itu berlari menghindari serangan. Namun, itu bagus! Karena serangan itu membuatnya bisa kembali bergerak cepat untuk segera meminta bantuan. Meski terkesan sudah terlambat, setidaknya harus ada yang melapor tentang penculikan Raisa agar bisa mengambil langkah penyelamatan secepatnya.


Namun, meski dihujani banyak serangan tidak ada satu pun serangan yang mengenai Monica. Gadis itu seolah lolos dengan sangat mudah dan sempurna.


"Ini tak sesuai dengan janjimu! Cepat suruh anak buahmu berhenti menyerang Monica!" seru Raisa


"Ada yang salah di sini. Aku tidak pernah mengatakan bahwa aku berjanji padamu begitu juga dengan para anak buahku. Lalu, aku tidak memberi perintah apa pun pada para anak buahku, sepertinya mereka bergerak sendiri melakukan serangan itu karena menganggap temanmu itu cukup mengganggu. Namun, aku tidak bisa melarang mereka melakukan sesuatu yang mereka anggap benar," jelas Sang Dewa


"Hal yang benar apanya?! Monica tidak mengganggu dan bukan penganggu, maka jangan mengganggunya! Hentikan serangan!" teriak Raisa


"Memangnya kau bisa apa, Dewi-ku? Kau sendirilah yang bersedia untuk ikut pergi denganku. Jangan bertindak atau berbuat macam-macam yang membuatku marah. Atau akibatnya akan lebih buruk dari sekadar menyerang satu orang saja," ujar Sang Dewa


Raisa pun akhirnya hanya bisa memilih untuk diam. Lagi-lagi, ia tidak punya pilihan lain.


"Tuan Arion, maafkan kami. Semua serangan yang kami lancarkan tidak dapat menghentikan manusia itu. Satu serangan pun tidak ada yang mengenaninya." Salah saru anak buah Sang Dewa mendekat ke arah lempengan tanah sihir untuk menyampaikan laporan.


"Tidak apa. Aku tahu penyebab Putri Suci tidak dapat terkena serangan, itu karena Dewi-ku sudah melindunginya. Biarkan saja dia," kata Sang Dewa

__ADS_1


Dengan cepat Sang Dewa dapat mengetahuinya. Sejak awal menggenggam tangan Monica, Raisa sudah memberi gadis itu lambang inti sihir pelindung bunga teratai putih. Meski Monica sedang berada dalam bahaya besar, gadis itu bisa selalu terlindungi hanya dengan Raisa yang tetap menatapnya dari jauh. Karena itu Raisa harus segera pergi bersama Sang Dewa agar bawahan pria dewa itu tidak lagi menyerang Monica dan Raisa harap gadis itu bisa selamat.


"Apa yang kau rencanakan, Dewi-ku? Kenapa kau melakukan hal seperti ini?" tanya Sang Dewa


"Apa aku tidak salah dengar? Harusnya aku yang bertanya seperti itu. Namun, ini karena aku percaya bahwa kau bukan orang baik. Apa kau tidak merasa puas hanya dengan aku ikut pergi denganmu? Kenapa kau masih saja hendak melukai Monica? Apa tidak bisa kita pergi saja dengan cepat dari sini? Kalau seperti itu, kau tidak akan merasa terganggu lagi dan aku tidak akan membantah dan akan menurut untuk ikut denganmu pergi dari sini. Bukankah itu sangat menguntungkan dirimu?" tanya balik Raisa


"Baiklah, seperti itu juga bagus. Ayo, lebih cepat lagi. Aku akan membawamu ke istana termegah yang kumiliki, Dewi-ku," kata Sang Dewa


Kali ini Sang Dewa tidak lagi hanya merengkuh pinggang Raisa, melainkan juga memeluk dan menyandarkan kepala wanita cantik itu pada dada miliknya. Namun, Raisa hanya bisa pasrah. Wanita itu sudah berkata akan menurut dan tidak akan membantah. Kata-katanya adalah janji.


Diam-diam air menitik ke luar dari mata Raisa saat wanita itu terpejam tak berdaya dan pasrah.


Monica merasa lega saat orang-orang bawahan Sang Dewa itu tidak lagi menyerang dirinya. Gadis itu pun berlari kencang untuk melaporkan kabar buruk saat ini.


"Aku harap ayah sedang tidak sibuk. Harus ada yang menyelamatkan kak Raisa," batin Monica


Monica pun berlarian mencari keberadaan sang ayah yang mungkin sedang sibuk mengurus penurunan jabatannya sebagai Pemimpin Desa dan menyiapkan keperluan untuk mengangkat Pemimpin Desa yang baru.


---


Rumi dan anggota tim lainnya telah berhasil menyelesaikan misi dan sedang beristirahat sebelum akhirnya memutuskan untuk kembali ke Desa Daun.


"Akhirnya misi kita selesai juga," kata Morgan


Lagi-lagi, Rumi mengeluarkan setangkai bunga mawar merah pemberian dari sang istri untuk dipandangi demi mengatasi rasa rindunya pada sang istri tercinta.


Namun, tiba-tiba saja Rumi meringis pelan karena jari tangannya terkena duri.


"Jari tanganku berdarah karena tertusuk duri bunga mawar merah," jawab Rumi


"Bunga mawar memang memiliki duri. Kau harus hati-hati saat menyentuh atau menggenggamnya," ucap Devan


"Namun, biasanya bunga mawar yang dipetik untuk diedarkan akan dihilangkan durinya lebih dulu. Lalu, bagaimana bisa kau tertusuk duri dari bunga milikmu itu, Rumi?" tanya Ian


"Entahlah. Tadinya juga bunga mawar merah ini sudah tidak ada durinya. Namun, sepertinya ada duri kecil yang baru tumbuh lagi karena sebelumnya aku selalu menaruhnya di dalam botol berisi air supaya bisa tetap bertahan hidup," jawab Rumi


"Di saat kau tertusuk dan berdarah biasanya akan ada perasaan akan firasat buruk," celetuk Chilla


"Semoga saja tidak terjadi apa-apa pada Raisa," kata Rumi


"Tadi aku hanya asal bicara. Apa kau benar-benar merasakan ada firasat buruk, Rumi?" tanya Chilla


"Sepertinya perasaanmu mulai jadi gelisah," ungkap Rumi


"Mungkin saja kau hanya tersugesti dengan ucapan Chilla. Jangan terlalu dihiraukan," ucap Devan


"Harusnya kau tidak bicara seperti itu tadi. Dasar, gendut ... " kata Ian

__ADS_1


"Kau tenang saja, Rumi. Aku yakin tidak akan ada yang terjadi pada Raisa. Istrimu itu pasti baik-baik saja," ujar Aqila


"Kau benar, Aqila. Jika sesuatu yang buruk atau bahaya terjadi, tanda sihir pelindung bunga teratai putih pemberian dari Raisa pasti muncul dengan sinar merah pada tiap telapak tangan kita. Namun, itu tidak terjadi jadi Raisa atau yang lain juga pasti baik-baik saja," ucap Morgan


"Ya, kuharap juga seperti itu. Semoga semua tetap baik-baik saja," kata Rumi yang bergumam pelan.


Mereka semua pun beranjak bersama untuk istirahat dan segera tidur agar bisa langsung kembali ke Desa Daun di keesokan harinya.


Rumi pun membaringkan tubuhnya sambil terus menggenggam setangkai bunga mawar merah pemberian sang istri di tangannya. Biasanya pria itu akan menyimpan setangkai bunga mawar merah pemberian sang istri terlebih dulu. Namun, kini ia malah membawanya tidur sambil seolah memeluk setangkai bunga mawar merah tersebut yang ia anggap seperti sedang memeluk sang istri tercinta.


---


Akhirnya Monica berhasil menerobos untuk menemui sang ayah yang sedang sibuk berhadapan dengan setumpuk berkas di atas meja kerjanya.


Tuan Nathan terkesiap saat mendapat kunjungan tak biasa dari putrinya sendiri.


Monica yang datang dengan terburu-buru masih sibuk mengatur nafasnya yang tersenggal-senggal.


"Ada apa denganmu, Monica? Tumben sekali kau menerobos untuk menemui Ayah dengan tergesa-gesa seperti itu. Tidak biasanya kau seperti ini," ujar Tuan Nathan yang bertanya pada putri semata wayangnya.


"Sepertinya kau juga sedang merasa gelisah. Tenangkan dulu dirimu. Apa ada sesuatu yang terjadi?" tanya Tuan Nathan saat menyadari raut wajah putrinya yang tidak beres.


"Ayah, ada sesuatu yang gawat terjadi pada kak Raisa. Dia dibawa pergi dengan paksa oleh sekelompok orang. Dia bersedia pergi tanpa perlawanan karena berusaha melindungiku agar orang itu tidak memilih untuk membawaku. Aku sungguh merasa bersalah dan menyesal karena tidak bisa berbuat apa-apa hanya karena merasa panik dan gentar dan kak Raisa yang menyuruhku untuk tetap diam saat itu terjadi," ungkap Monica yang baru bisa bicara saat nafasnya kembali normal. Gadis itu bicara sambil meneteskan air dari kelopak matanya.


"Begitu, rupanya. Pantas saja tadi Irene memberi laporan melalui sihir transmisi suara bahwa telah terdeteksi adanya tenaga sihir asing yang muncul di dalam desa. Tenaga sihir itu sangat kuat dan begitu samar di saat yang bersamaan hingga ia tidak dapat melacak lokasi tepatnya dari mana tenaga sihir itu berasal sampai akhirnya tenaga sihir itu hilang. Mungkin penyusup itu memiliki kemampuan sihir yang sangat hebat dan kuat," gumam Tuan Nathan


"Ayah, kita tidak bisa diam saja. Kita harus menyelamatkan kak Raisa. Ayo, pikirkan suatu cara!" seru Monica


"Ayah juga sudah mengerti, Monica. Kau tenang dulu. Di saat seperti ini kita malah harus tenang agar bisa menyusun rencana yang matang untuk menyelamatkan sandera tanpa gagal. Tidak boleh gegabah, takut malah sandera dilukai oleh pihak penculik atau tidak mampu menyelamatkan sandera malah kita juga terluka," ucap Tuan Nathan


"Ayah, benar. Dan sepertinya yang menculik kak Raisa memang bukan sembarang orang hingga kak Raisa bahkan menyuruhku untuk diam dan melarang melakukan perlawanan. Jika saja saat itu kami tidak sedang bersama, mungkin kak Raisa dengan mudahnya bisa meloloskan diri dari para penculik itu atau bahkan tidak akan bertemu dengan penculik karena akulah yang mengajak kak Raisa untuk jalan-jalan bersama. Aku hanya menjadi bebannya," ujar Monica


"Setidaknya kita harus mengetahui kekuatan musuh lebih dulu. Seberapa kuat dia? Seperti apa orangnya? Jika tidak hanya satu orang maka berapa jumlahnya? Dan mungkin juga mencoba menebak, apa tujuannya melakukan penculikan? Monica, apa kau bisa menceritakan secara rinci apa yag telah terjadi?" tanya Tuan Nathan


Monica mengangguk pelan. Gadis itu menelan ludahnya dengan susah payah karena rasa tegang yang masih kuat terasa.


Tuan Nathan pun menyiapkan diri serta pendengarannya untuk mendengar detail cerita dari sang putri. Mungkin pria itu memang terlihat tenang. Namun, itu hanyalah usahanya dan bukan perasaan aslinya. Sebenarnya ia pun merasa gelisah. Meski sedang dalam proses rencana untuk turun jabatan, saat ini ia masih seorang Pemimpin Desa dan ia merasa lalai menjaga warganya sendiri. Apa lagi yang dibawa paksa adalah penyelamat desa yang suaminya sedang menjalankan misi penting atas perintah darinya. Jika saja, ia tidak menyuruh suaminya untuk pergi menjalankan misi pasti sang penyelamat desa dan suaminya masih ada di dalam desa untuk saling menemani dan melindungi satu sama lain dengan yang lainnya. Dalam hal ini, Tuan Nathan juga ikut merasa bersalah.


"Mengingatnya saja sudah membuatku menjadi kembali merasa gelisah. Ayah, sepertinya penculiknya adalah salah satu dari yang sering disebut sebagai Sang Dewa. Aku yakin saat melihat penampilannya, tapi aku juga baru pertama kali melihat Dewa ini. Awalnya dia datang sendiri, tapi saat dia mengucap kalimat perintah untuk membawa pergi salah satu dari aku atau kak Raisa, anak buahnya bermunculan. Mungkin jumlah anak buahnya kira-kira ada 10 orang. Mereka semua memakai jubah berwarna putih," ungkap Monica


"Sang Dewa itu datang dengan mengendalikan tanah dengan sihir hingga bisa mengapung di udara. Dia memanggil kak Raisa dengan sebutan Sang Dewi karena mengetahui bahwa kak Raisa adalah reinkarnasi dari jiwa seorang Dewi dan memanggilku dengan sebutan Putri Suci yang katanya, aku adalah keturunan dari keluarga bangsawan Dewa-Dewi. Aku tidak terlalu mengerti, tapi dia juga bilang tentang hal yang sama yang pernah terjadi di masa lalu," sambung Monica


"Saat kejadian, kami sedang berada di jalan yang sepi. Tidak ada yang melihat kejadian itu selain kami yang mengalaminya langsung. Kami tidak bisa meminta bantuan, tidak ... sepertinya kak Raisa-lah yang tidak ingin meminta bantuan karena takut membahayakan orang lain. Kak Raisa juga terus menggenggam tanganku seolah berusaha melindungiku. Mungkin dia berpikir jika aku beralih sedikit saja maka orang itu akan memaksa membawaku pergi. Namun, ternyata yang ingin dibawa pergi adalah dia sendiri. Bahkan saat mereka sudah pergi dengan membawa kak Raisa, mereka menyerangku seolah ingin melenyapkan saksi, tapi tak ada satu pun serangan mereka yang berhasil mengenaiku. Aku merasa seolah sedang berada di dalam perlindungan dan kurasa itu adalah sihir yang kak Raisa berikan padaku tanpa kuketahui secara diam-diam. Aku sungguh merasa sangat bersalah dan menyesal," tambah Monica lagi.


Memang tidak diperlihatkan dengan jelas. Sebenarnya Tuan Nathan merasa terkejut setelah mendengar rangkaian cerita dari sang putri. Pria itu seolah langsung bisa mengetahui dan menebak siapa dan apa tujuan para penculik yang membawa pergi Raisa.


.

__ADS_1



Bersambung.


__ADS_2