Bertemu Dan Jatuh Cinta

Bertemu Dan Jatuh Cinta
90 - Salah Paham.


__ADS_3

"Kalau begitu, hari ini kau harus terus bersama kami semua untuk menghabiskan waktumu yang tersisa bersama-sama!" Kata Aqila


"Eh, tentu saja, dong!" Patuh Raisa


..."Gawat! Padahal aku sudah mencoba berjanji untuk menghabiskan waktuku hari ini bersama dengan Rumi saja. Bagaimana ini?! Aku juga tidak bisa menolak keinginan temanku yang lainnya! Aku berada dalam dilema!!" Batin Raisa...


Raisa bersama Aqila dan Chilla pun berjalan bersama menuju tempat berkumpul mereka dengan semua teman, yaitu Resto Citra Petir...


Raisa tiba di tempat berkumpul bersama kedua teman gadisnya itu dengan terus menyunggingkan senyum walau gugup. Bukan apa, ia hanya takut Rumi akan mempermasalahkan tentang rencana kebersamaan mereka saat ia juga tak bisa menolak ajakan temannya yang lain. Karena ia berkata akan menghabiskan waktu bersama semua temannya hari ini, padahal ia sudah berjanji hanya akan bersama Rumi saja seharian ini...


Namun, saat berjumpa dan melihat Rumi, Raisa melihat sikap Rumi yang biasa saja. Seolah tak terjadi apa pun dengan mereka berdua semalam. Padahal Raisa sudah sangat gelisah memikirkan semuanya...


..."Huh, dia terlihat baik-baik saja! Padahal sebelum ini aku sudah sangat merasa senang akan bertemu dengannya. Dan berubah menjadi khawatir, takut dia marah saat tau aku tidak bisa menolak ajakan yang lain untuk menghabiskan waktu bersama mereka semuanya. Ternyata, hanya aku saja yang berlebihan. Dia menatapku saja tidak! Apa dia sudah melupakan tentang semuanya yang terjadi semalam? Apa sia-sia saja bagiku merasa senang dan takut ini!? Dasar, semua lelaki sama saja! Tidak ada yang begitu peduli dengan perasaan perempuan!" Batin Raisa...


Raisa, Aqila, dan Chilla pun mencari tempat yang tersisa dan duduk bersama.


"Hai, semua... Kami datang!" Seru Aqila


"Akhirnya, kalian datang juga!" Sahut Devan


"Hhh~ Aku mau makan!" Kata Chilla


"Baru saja datang, kau sudah meributkan tentang makan. Dasar, gendut!" Cibir Ian


"Jangan pedulikan aku, itu urusanku!" Timpal Chilla


"Kalau begitu, cepatlah makan! Bukankah tadi kita baru membicarakan tentang menghabiskan waktu bersama Raisa di hari terakhirnya dia di sini? Jangan sampai kau tidak ikut atau tertinggal karena sibuk makan." Ujar Aqila


"Baik! Aku akan lahap makan dengan cepat! Kalian jangan tinggalkan aku, ya!" Ucap Chilla


"Benar juga! Ini hari terakhirmu di sini ya, Raisa? Lalu, apa yang akan kita lakukan hari ini?" Tanya Morgan


"Aku tidak tahu, tidak punya rencana. Terserah kalian, aku ikut saja." Kata Raisa


"Kita butuh rencana!" Sambar Amy


"Bagaimana kalau kita ajak Raisa berkeliling desa? Dia kan belum mengetahui banyak letak tempat di sini." Saran Dennis


"Ide yang cukup bagus!" Kata Marcel


"Berkeliling desa beramai-ramai seperti ini? Memangnya tidak masalah?" Tanya Billy


"Memangnya, kenapa? Anggap saja tugas mengawal tamu desa yang sedang berwisata." Ujar Wanda


"Aku sih setuju sajalah." Kata Sandra


"Bagaimana dengan yang lain? Menurutmu, Rumi?" Tanya Morgan


"Aku ikut saja." Jawab Rumi


..."Ah, apa dia benar-benar marah? Dia terlalu cuek! Rumi pasti marah padaku karena tidak menepati janji. Terserah sajalah! Toh, semalam aku jgga tidak benar-benar berjanji. Hanya berkata tergantung situasi hari ini dan hari ini pun situasinya sudah jadi seperti ini. Harapan tidak sesuai dengan keinginannya juga bukanlah salahku!" Batin Raisa...


"Persiapkanlah dirimu untuk lebih mengenal desa ini, Raisa!" Kata Amy


"Hmm, baiklah. Kalau begitu, aku mau ke toilet dulu sebentar." Ujar Raisa


"Apa kau merasa gugup karena akan berkeliling desa, Raisa?" Tanya Dennis


"Tidak kok. Aku memang ingin ke toilet." Jawab Raisa

__ADS_1


..."Aku merasa gugup bukan karena itu. Tapi, ah! Sudahlah! Toh, dia juga terlihat tidak begitu peduli!" Batin Raisa...


"Aneh! Memangnya di rumahmu kau tidak ke toilet dulu sebelum ke sini?" Ujar Devan


"Sudahlah, tak perlu mempermasalahkannya. Para gadis memiliki banyak urusan saat harus ke toilet, tahu! Kalian para lelaki takkan mengerti masalah kami, para gadis!" Ucap Chilla


Raisa pun beranjak menuju toilet di sana...


Di dalam toilet, Raisa membasuh wajahnya dengan air kran dari washtafel alih-alih mencucinya dengan sabun pencuci wajah. Ia hanya perlu menata kembali moodnya yang sedang kacau dengan basuhan air di wajahnya. Sesekali ia menghela nafas untuk menenangkan pikirannya~


Sementara itu...


"Makanku sudah selesai. Aku ke toilet dulu!" Kata Rumi


Rumi pun langsung beranjak dari tempatnya...


"Ada apa dengannya? Apa Rumi habis makan menu yang pedas?" Tanya Billy


"Hmm, entahlah." Kata Morgan


Di toilet, setelah mengeringkan kembali wajahnya dan menatap cermin, Raisa melihat sesuatu masuk dari celah bawah pintu masuk toilet. Itu, seekor ular! Namun, bukan ular biasa atau berbahaya... Itu adalah ular sihir milik Rumi!


..."Rumi mengirimkan ularnya ke sini? Mau apa dia? Ular sihirnya dapat mentransfer segala informasi pada pemiliknya. Dia tidak berencana mengintip seseorang, kan? Tak bisa dibiarkan!" Batin Raisa...


"Raisa, ayo! Bertemu di belakang tempat makan ini!" Pesannya yang diantar oleh ular sihir nmilik Rumi.


..."Oh, ternyata hanya ular pengirim pesan suara!" Batin Raisa...


"Baiklah, aku sudah menerima pesanmu. Kau bisa ke luar dari sini terlebih dulu." Kata Raisa menyampaikan pesan balasan.


Ular sihir Rumi pun pergi dan kembali dengan ke luar melalui celah bawah pintu toilet~


..."Biarkan lelaki itu menunggu di luar! Supaya dia bisa lebih menghargai perasaan seorang perempuan... Bisa-bisanya dia bersikap cuek setelah kejadian semalam?! Biar dia tahu rasa!" Batin Raisa...


Raisa memang berkata seperti itu di dalam hatinya, seolah sedang jual mahal! Tapi, nyatanya dia tidak tega membiarkan Rumi menunggu. Setelah Raisa selesai dari toilet, ia pun beranjak ke luar resto dari pintu belakang untuk menemui Rumi. Raisa pun menghampiri Rumi dan berdiri di sampingnya.


"Kau ingin bertemu di sini? Mau bicara apa? Cepatlah, mungkin yang lain sudah menunggu." Tanya Raisa


..."Aku bicara dengan ketus dengannya. Bagaimana jika dia lebih marah padaku? Masa sih baru menjalin hubungan langsung bertengkar?" Batin Raisa seolah merana....


"Raisa, kau marah padaku ya?" Tanya Rumi


"Eh?" Bingung Raisa


Ini tak seperti yang Raisa duga! Raisa mengira, Rumi yang akan marah padanya. Pasalnya, ia telah melanggar kesepakatan semalam dengan Rumi. Tapi, nyatanya Rumi-lah yang khawatir ia marah...


Saat ini Rumi sedang memasang wajah dengan ekspresi memelas dengan mata yang berbinar dan berharap belas kasih. Rupanya, ia sangat takut bila sampai Raisa marah padanya!


"Sebenarnya, apa maksudmu, Rumi? Aku marah untuk apa? Aku malah heran kau setuju saja saat teman yang lain ingin menghabiskan waktu bersama beramai-ramai, padahal semalam kau mengotot hanya ingin berdua denganku. Aku kira kau yang marah padaku..." Ujar Raisa dengan suara pelan di akhir ucapannya.


"Aku bersalah! Padahal semalam aku mengotot ingin berdua saja denganmu hari ini, tapi aku malah tidak menjemputmu dan malah meninggalkanmu untuk berkumpul lebih dulu dan bertemu dengan Morgan. Aku takut kau marah. Aku yang sudah salah ini, rasanya memang tidak baik egois meminta waktumu untuk hanya berdua denganku, makanya aku menyetujui kita semua menghabiskan waktu bersama." Ungkap Rumi


..."Ternyata, itulah alasannya terus diam dan seolah cuek denganku. Bukannya marah, dia malah merasa bersalah dan takut aku marah padanya. Tapi, posisiku ini memang benar masih kalah dari Morgan. Baginya, aku masihlah dinomor duakan setelah Morgan, Matahari-nya itu! Jika, mengingat posisiku di hatinya, aku ingin sekali marah padanya!" Batin Raisa...


Perempuan memang tidak pernah mau dinomor duakan oleh atau dengan siapa pun! Tapi, bisakah Raisa marah pada Rumi? Rasanya ia takkan pernah tega! Alih-alih marah, ia malah merasa rendah hati. Seolah memang tidak seharusnya terjadi seperti ini...


"Kau salah paham, rupanya! Aku tidak marah... Aku rasa memang lebih baik kita menghabiskan waktu beramai-ramai bersama yang lain juga. Sebagai gantinya saat hari berganti malam, aku akan menghabiskan waktu berdua denganmu. Berdua saja, aku janji! Karena yang lain pasti hanya akan bersama sampai sore di penghujung hari, bukan? Setelah itu, aku bisa bersama denganmu saja!" Ujar Raisa


"Benarkah, bisa seperti itu?" Tanya Rumi memastikan.

__ADS_1


"Ya, tentu saja. Lagi pula, aku tahu kau pasti lebih memilih Morgan, dia kan Matahari-mu. Sebenarnya, aku juga ingin menjadi matahari untukmu. Tapi, itu tidak mungkin! Karena di dunia mana pun hanya ada satu matahari dan kau pun pasti lebih memerlukan Morgan dari pada aku yang tidak bisa selalu berada di sisimu." Ucap Raisa yang suaranya terus berubah menjadi sangat pelan.


"Ternyata, kau memang marah padaku ya, Raisa?" Tanya Rumi dengan perasaan bersalah.


"Sudahlah, aku tidak apa. Sudah kubilang, aku tidak marah." Jawab Raisa dengan memaksakan senyuman kecil palsunya.


..."Aku memang tidak bisa selalu berada di sisimu. Aku sedih karena itu, bukan karena cemburu dengan Morgan. Karena aku bahagia saat sedang bersamamu seperti ini. Begitulah, begini pun cukup bagiku!" Batin Raisa yang berusaha menerima apa pun kenyataannya saat ini....


"Benarkah, kau tidak marah padaku?" Tanya Rumi


"Iya, tidak marah. Sebagai gantinya, aku tidak mau kau menunjukkan ekspresi seperti ini lagi. Aku memang tidak membencinya, tapi aku sedikit tidak suka. Jika denganku, kau cukup bersikap biasa saja. Bersikaplah senyamanmu saat bersamaku, dengan begitu, barulah aku bisa bersikap senyamannya juga denganmu." Ujar Raisa


"Aku mengerti! Yang aku tidak mengerti, entah kenapa dengan sendirinya aku bersikap seperti ini saat bersamamu. Hanya denganmu aku jadi seperti ini." Ungkap Rumi


..."Oh, jadi seperti inilah saat muncul sifat bucinnya padaku. Aku juga bukannya tidak suka, tapi rasanya aku tidak bisa menahannya. Karena kau trrlihat menggemaskan sekali!" Batin Raisa...


Saat ini Rumi masih saja menunjukkan ekspresi wajah memelas dengan mata berbinar. Sungguh, menggemaskan sekali! Raisa tidak tahan dengan ekspresinya itu. Seperti ingin mencubit habis-habisan pipinya... Tapi, Raisa hanya bisa menahan kegemasannya.


"Haha, kau lucu sekali, sih! Sudahlah, ayo kembali masuk! Pasti semua sudah menunggu di dalam." Kata Raisa dengan senyuman manisnya.


Sebelum Raisa mengajak Rumi masuk kembali ke dalam resto, ia terlebih dulu mengusap pipi Rumi dengan lembut saking tidak bisa menahan rasa gemasnya sebagai ganti karena tak mampu mencubitnya. Rumi kembali terpana! Pasalnya, wajah Raisa yang mengusap pipinya terlihat begitu mempesona! Hingga tak sadar, Rumi terus memegangi pipinya yang diusap Raisa dengan terus membayangkan saat Raisa mengusap lembut pipinya...


Wajah Raisa sangat cantik saat disertai senyuman manisnya~


Raisa dan Rumi pun kembali memasuki resto melalui pintu belakang untuk kembali berkumpul dengan semua temannya yang lain.


...


"Eh, kalian kembali bersama-sama?" Tanya Morgan saat melihat Raisa dan Rumi kembali dari arah toilet bersamaan.


Raisa pun hanya tersenyum menanggapi ucapan Morgan, sedangkan Rumi hanya diam beribu bahasa dengan ekspresi dinginnya.


Saat di depan banyak orang Rumi selalu bersikap dan berekspresi dingin. Tapi, jika hanya bersama Raisa sikap dan ekspresinya langung berubah 180 derajat, menunjukkan ekspresi imut dan manja. Tentu saja, Raisa tak tahan saat melihatnya! Padahal keduanya baru mengungkapkan perasaan yang saling sukanya semalam. Tapi, sikapnya sudah berubah drastis dalam waktu secepat ini... Sungguh, tidak bisa dibayangkan sifat budak cinta seseorang~


"Itu bisa saja terjadi! Wajar saja, kan toilet lelaki dan perempuan selalu saling berdekatan." Ujar Dennis


"Itu benar!" Kata Sandra


"Aku tidak sabar ingin berkeliling desa dengan kalian semua. Membayangkannya saja pasti rasanya seperti sedang wisata sekolah bersama semua teman sekolah!" Ucap Raisa


"Aku berharap setelah kau berkeliling desa, kau bisa terus mengingat desa ini dan selalu ingat untuk datang berkunjung ke sini saat memiliki waktu luang di duniamu." Ujar Rumi


"Tentu saja! Tapi, setelah pulang ke duniaku, aku akan sangat sibuk di sana. Ujian, kelulusan, mengurus semuanya! Mungkin akan butuh waktu lama untuk kembali berkunjung lagi ke sini. Saat itu, kalianlah yang datang ke duniaku lagi ya!" Ungkap Raisa


"Untuk apa kami datang jika kau sedang sibuk di sana?" Ketus Devan bertanya.


"Hei, jika untuk kalian, aku pasti bisa menyempatkan waktu! Jadi, datanglah kunjungi aku di duniaku!" Kata Raisa


...


Usai berkumpul, mereka semua langsung pergi berkeliling desa. Raisa sangat menikmati waktu dan momen tersebut, sedangkan yang lain pun senang bisa menemani Raisa berkeliling dan mengenal atau menghafal semua tempat di Desa Daun, Negara Api itu. Tak lupa juga, Raisa mengajak semua temannya itu berfoto bersama dengan menggunakan ponsel miliknya untuk menambah dan memperbanyak momen kebersamaannya bersama dengan semua teman spesialnya di dunia lain yang berbeda dimensi itu...


Saat berkeliling desa, tak jarang juga mereka membeli barang bagus di penjual bebas di suatu pasar desa. Rausa pun menambah belanjaannya, bukan untuk buah tangan untuk orang di dunianya melainkan menyimpannya untuk dirinya sendiri. Seperti cendra mata yang unik dan menarik. Di antara semua yang dibeli untuk dirinya, ada sebuah jepit rambut sederhana yang cantik yang khusus dipilihkan oleh Rumi. Merasa itu benda spesial, Raisa pun langsung memakai jepit itu di rambutnya sebagai hiasan. Raisa pun tersenyum senang... Rumi yang melihatnya pun merasa Raisa menjadi semakin cantik saja!~


.



Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2