
๐ Arkana dan Laras
ย
โGue masih nggak percaya kalau gadis secantik lo nggak punya pacar, mustahilโ gombal Arkana.
โIh beneranโ kata Laras penuh penekanan.
โWah gue boleh daftar dongโ
โHahaha, sebenarnya gue yang mau daftar jadi pacar lo Kaโ gumam Laras namun terdengar jelas di telinga Arkana.
โKok gue jadi ngeri sendiri ya, Qania help meโ jerit batin Arkana.
โAh lo emang suka sama gue?โ pancing Arkana.
โSangatโ jawabnya antusias.
โEmang apa yang lo suka dari pria jelek macam gue ini?โ Tanya Arkana, tanpa Laras sadari Arkana menatap jijik ke arahnya.
โHei siapa yang berani bilang lo itu jelek. Lo itu bahkan sangat tampan, gue sangat tertarik dan suka sama lo Kaโ pekik Laras, ia sangat tidak suka saat Arkana dikatai jelek meski pun itu orangnya sendiri yang bicara.
"Kan barusan yang bilang itu gue" ucap Arkana memasang wajah memelas.
"Enggak Ka, kamu itu super duper tampan menurut gue. Gue udah lama suka sama lo, dan baru kali ini gue berani menemui lo" ungkap Laras tanpa ragu.
Prok..
Prok..
Prok..
"Good job Laras, good job".
Qania bertepuk tangan di depan Laras dan Arkana, diikuti oleh Fero dan Rizal. Laras yang melihat Qania tersentak kaget, sementara Arkana langsung tersenyum lega tanpa Laras tahu.
"Biar aja deh udah kepalang tanggung, permaluin duluan kayaknya boleh juga. Lumayan, serangan fajar sebelum demo besok" batin Qania.
"Qaniaa.." seakan ciut, Laras begitu kaget saat melihat Qania di depannya.
"Iya, lo pikir hantu?" balas Qania.
Ingatkan kalau Qania mulai marah atau tidak suka sama seseorang, dia pasti akan bicara lo gue. Bahasa yang dia hindari karena baginya tidak sopan, begitulah ajaran orang tuanya meskipun itu bahasa yang sering digunakan remaja sekarang bahkan orang tua.
"Kok bisa?" Laras gelagapan.
"Ya bisa" bentak Qania, bahkan mereka yang ada di dekatnya sampai terkejut.
"Pertama minta papanya buat ngedis gue waktu pemilihan mahasiswa studi banding, kedua mencoba merayu tunangan orang, terus apa lagi hah?" bentak Qania membuat Laras menutup matanya karena takut dan malu.
Bukan hanya Laras, Arkana, Fero dan Rizal pun terkejut dengan sikap Qania saat ini. Ini salah satu sisi yang belum pernah mereka lihat sebelumnya dari Qania. Tatapan mata Qania begitu tajam dan raut wajahnya begitu dingin, mencekam.
"Lo ngomong apa sih Qan?" tanya Laras belaga bego dan seolah tidak paham dengan perkataan Qania.
"Larasati Devana Bramantio, seorang mahasiswi yang nggak pintar-pintar amat juga nggak cantik-cantik amat. Berusaha merayu tunangan Qania Salsabila Sanjaya, sungguh disayangkan" ejek Qania membuat Laras mengepalkan kedua tangannya.
"Cukup Qania" teriak Laras kemudian mengayunkan tangannya ke wajah Qania namun dengan cepat Qania menahan pergelangan tangannya.
Plak....
"Awwwhhh..." ringis Laras, pipinya memerah dan air matanya hampir saja jatuh.
Sementara ketiga pria itu tercengang dengan mulut terbuma lebar saat menyaksikan Qania yang menurut mereka begitu lembut tiba-tiba saja menampar seseorang.
"Sayang kamu..." Arkana mencoba meyakinkan dirinya dengan apa yang baru saja dilihatnya.
"Awas aja lo Qan, gue bakalan balas lo" ancam Laras yang sudah sangat malu.
Saat Laras melangkah meninggalkan mereka, Qania langsung menarik tangan Laras.
__ADS_1
"Apa lagi hah?" bentak Laras.
"Jangan coba-coba mengusik Qania Salsabila, lo nggak bakalan tahu apa yang akan lo alami setelahnya" ucap Qania penuh penekanan dengan tatapan membunuh ke arah Laras.
Qania mengambil air di atas meja kemudian menumpahkannya di atas kepala Laras.
"Ini baru permulaan Laras, lo bakalan lihat apa yang bakalan lo dapat selanjutnya setelah mengusik gue" kata Qania kemudian dengan kasar ia menghempaskan tangan Laras.
Laras yang sudah sangat malu langsung berlari meninggalkan kafe dan bergegas masuk ke dalam mobilnya.
Brakk...
Laras menukul setir mobilnya.
"Brengsek lo Qania, tunggu pembalasan gue. Kali ini gue pastiin lo bakalan lebih malu dari gue" umpatnya, di matanya kini tersirat dendam yang teramat sangat pada Qania.
Kembali ke kafe...
Qania mendaratkan tubuhnya di atas sofa yang tadi ia duduki, tanpa bicara apapun. Ketiga pria itu pun ikut diam sambil mengikutinya.
Qania menyugar rambutnya ke belakang, ia mencoba mengatur napasnya sekaligus mengembalikan moodnya yang sempat hilang kendali tadi.
"Dia Larasati Devana Bramantio, anak rektor di kampus. Semenjak awal masuk kampus dia selalu kalah sama aku makanya dia dendam. Selama ini aku biarin dia ngelakhin apapun selama aku nggak terusik, karena pihak kamlus selalu pro ke aku. Tapi tadi setelah tahu dia ngincar kamu juga aku nggak bisa nahan emosi aku. Baru juga aku mau ceritain dia ke kamu, soal dia yang berniat ngedekatin kamu eh malah dia udah nyamperin kamu duluan disini" cerita Qania, ia paham bahwa ketiga pria itu penasaran dan sangat ingin meminta penjelasan darinya.
"Jadi kamu tahu dia sayang?" tanya Arkana.
"Sangat tahu. Dimana ada lomba kampus disitu pasti ada Qania dan Larasati" jawab Qania kemudian menyandarkan kepalanya di bahu Arkana.
"Tapi sumpah lo keren banget tadi Qan, gue saja sampai kaget bukan main" seru Fero.
"Sama, gue juga sampai nggak bisa bilang apapun dengan aksi lo tadi" timpal Rizal.
"Aku malah masih nggak percaya kamu bisa kayak gitu" sambung Arkana sambil menyandarkan dagunya di atas kepala Qania.
"Ada banyak hal yang belum kalian tahu tentang aku" jawab Qania kemudian tertawa.
"Sayang aku haus, mau jus jeruk" rengek Qania, karena setelah marah-marah ia pasti ingin makan dan minum.
"Makasih sayang"
"Sama-sama, tunggu ya"
"Oke, jangan lama"
"Iya nyonya"
.............
Angin kencang menerpa wajah Qania dan Arkana, saat ini mereka tengah berada di atas motor. Setelah perdebatan panjang akhirnya Arkana setuju untuk membawa Qania jalan-jalan.
"Sayang emang benar kamu nggak bakalan kena marag kalau pulang larut gini?" tanya Arkana masih ragu, ia kembali teringat saat ia kena marah papa Qania waktu itu.
"Kamu tenang aja sayang, kalau ada urusan kampus gini aku nggak di batasi waktunya. Dulu aku sering pulang jam dua belas, jam satu, jam tiga, bahkan nggak pulang karena seharian di kampus" cerita Qania.
"Appaaa...?"
"Heii biasa aja dong sayang" gerutu Qania.
"Maaf sayang. Tapi kenapa nggak pulang?" tanya Arkana merasa curiga.
"Ya karena tugas yang sulit, atau ada kegiatan besar. Aku sering tidur di himpunan tau nggak" lanjut Qania.
"Apaaa? Kamu tidur bareng teman-teman kamu yang cowok?" tanya Arkana geram.
"Iya, tapi mereka jaga jarak dan bukan cuma aku aja kok sayang. Bahkan kita sekelas sering nginap di himpunan. Apalagi aku pengurus himpunan, aku lebih sering sama si Cika yang nginap di himpunan. Tapi aman kok, merek sangat protektif sama yang cewek-cewek" jelas Qania, ia sadar kekasihnya sedang kesal.
"Syukurlah, tapi setelah ini nggak ada lagi ya tidur di himpunan" tegas Arkana.
"Maaf sayang, sepertinya masih deh" cicit Qania.
__ADS_1
"Appaaa...?"
"Kita bakalan lepas jabatan dan itu bakalan membutuhkan waktu panjang buat musyawarah besarnya sampai laporan pertanggung jawaban. Aku harap kamu ngerti ya" pinta Qania.
"Hmmm"...
"Aku bakalan minta kamu datang kalau waktu istirahatnya, aku janji. Asal kamu siap dua puluh emlat jam"
"Aku siap"
Qania tersenyum kemudian ia mempererat pelukannya di tubuh kekasihnya sambil menikmati angin malam.
.................
Qania baru saja akan memejamkan matanya, sebuah pesan masuk ke ponselnya.
โ Dosen Wali Aqoeee
"Jangan pakai PDH, pakai kaos hitam atau warna apa terserah. Asalkan kalian nyaman dan solid"
....
โ Qania Salsabila
"Baik bu"
....
Setelah mendapatkan pesan tersebut Qania langsung menghubungi Cika.
๐ฑ Civil Cika
๐......
"Hallo Qan" sapa Cika.
"Hallo Cik, kamu dimana?" tanya Qania.
"Di rumah, ada apa?"
"Barusan bu Lira smsin aku, dia larang kita buat pakai PDH. Katanya pakai baju hitam aja. Tolong kamu sebarin ke anak-anak yang lain ya"
"Oke Qan"
"Ya sudah, selamat tidur Cika"
"Selamat tidur juga Qania"
tut...tut..tut...
๐ Di Kafe
"Gila, Qania sadis juga ya Ka" kata Rizal masih belum percaya.
"Kayaknya lo harus hati-hati deh Ka" pesan Fero.
"Hahaha, gue juga masih kaget soal tadi. Tapi gue suka kalau Qania bisa seperti itu, itu artinya dia nggak lemah" ucap Arkana kemudian tersenyum senang sambil mengingat kejadian tadi.
"Itu artinya Qania bakalan berubah kayak gitu kalau dia merasa sangat terusik dan sudah nggak bisa nahan kekesalannya" terka Rizal.
"Tapi kok sama si Fandy itu dia nggak ngelawan kayak tadi?" tanya Fero menelaah.
"Udah kok, hanya si Fandynya aja tuh yang nggak sadar-sadar dan nggak tahu malu bahkan makin menjadi aja tu orang" ucap Arkana kesal.
"Otaknya udah miring kali" ucap Fero asal.
"Bukan cuma udah miring, tapi udah nggak ada" ejek Rizal.
Ketiganya tertawa, namun dalam hati Arkana masih memikirkan aksi Qania tadi. Diam-diam ia tersenyum merasa begitu lucu saat mengingatnya.
__ADS_1
"Kamu tenang aja sayang, siapa pun itu yang mendekati aku nggak akan aku gubris. Aku hanya sayang dan cinta sama kamu, nggak akan ada yang lain. Aku senang kamu menunjukkan perasaan tidak suka saat ada yang mendekatiku, aku suka kamu akhirnya cemburu. Etss apa iya dia tadi cemburu? Ah entahlah. Yang jelas setelah ini aku tahu dimana kamu menempatkan aku di hidupmu dan aku sangat senang akan hal itu. Terima kasih Qania, aku bakalan selalu jagain dan lindungin kamu. Aku akan setia dan selalu menjadikan kamu satu-satunya. I love yoy Qania Salsabila" Arkana membatin.
...๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ...