Selamanya Cinta

Selamanya Cinta
Ngeteh


__ADS_3

Mobil yang dikemudikan oleh Rizal melintas di depan rumah Qania. Masih terlihat ramai di rumah Elin karena puncak acaranya nanti malam. Rizal yang niat awalnya hanya akan melintas dibuat mengerem mendadak karena Qania yang tiba-tiba muncul di depan mobil tersebut.


Memang Rizal membawa mobilnya dengan begitu pelan serta ia hanya fokus melihat ke arah rumah Qania dimana ada Pak Zafran, Syaquile dan Arqasa yang tengah bermain di halaman.


Rupanya Qania muncul dari arah rumah Elin. Rizal berdecak melihat Qania yang masih berdiri di depan mobil dengan jarak sambil tertawa dan berkacak pinggang. Rizal membuka kaca jendelanya lalu menyembulkan kepalanya.


"Nyonya Wijaya anda sudah bosan hidup? Masih frustasi? Mau bunuh diri?" ledek Rizal.


"Ck, tidak sopan sekali Anda Pak Manager," ucap Qania sambil berjalan ke arah mobil.


Khawatir Qania akan melihat keberadaan Tristan di dalam mobil dan akan menjadi wartawan mendadak, Rizal dan Fero memutuskan untuk segera turun. Sementara Tristan, ia sedang terpesona melihat Qania dengan tampilan sederhananya ala gadis rumahan.


"Oh ada Fero juga ya," ucap Qania. Ia menghentikan langkah kakinya sebelum dekat di mobil.


"Tentu saja. Tadi sih kita niatnya emang mau mampir buat ngeteh tapi nggak jadi deh. Kita mau balik dulu, banyak kerjaan," ucap Fero.


"Ya udah singgah aja dulu. Nggak boleh lewat kalau nggak ikut masuk," ancam Qania.


"Baiklah jika Nyonya muda memaksa." Rizal terkekeh.


Rizal dan Fero pun berjalan mengekori Qania. Keduanya saling berbisik mengenai keberadaan Tristan.


"Biarin aja, sekali-kali kita kerjain," ucap Fero.


"Jadi Lo emang niat mau ngerjain dia?"


"Sebenarnya mau lihat nyalinya juga. Berani nggak dia turun atau lebih milih jamuran di dalam mobil," lanjut Fero.


"Hahaha, benar juga," ucap Rizal membenarkan.


Rizal dan Fero menyapa Pak Zafran dan Syaquile dan mendapat sambutan dengan ramah. Keduanya pun turut mengacak rambut Arqasa yang sedang bermain bola dengan Syaquile.


"Om, rambut Ar jadi jelek," dengusnya.


"Lihat Ro, marah pun semakin mirip dengan Arkana," ucap Rizal tak henti memandangi wajah Arqasa.


"Ya iyalah Om Riz, Ar kan anaknya. Gimana sih," jawab ketus Arqasa, masih kesal rupanya.


"Eh ada Nak Fero sama nak Rizal. Bibi ambilin gelas dulu ya," ucap Bi Eti yang datang membawa nampan berisikan teh dan camilan.


"Oke Bi," ucap Fero dan Rizal bersamaan.


"Tumben main kesini?" tanya Pak Zafran sambil kemudian meneguk tehnya. "Eh Om minum duluan ya, hehe," lanjutnya.


"Silahkan Om. Tadi kita cuma lewat doang, eh lihat si Qania juga tiba-tiba berdiri di dekat mobil," ucap Rizal.


Ingin, bahkan sangat ingin Tristan turun dari mobil dan bergabung bersama keluarga Qania. Namun ia urungkan. Bagaimana pun ia belum mendapatkan pengakuan dari Qania dan ia pun tidak ingin membuat masalah dengan kedatangannya. Biarlah ia duduk diam di dalam mobil sambil memperhatikan interaksi keluarga hangat tersebut.


Tristan tersenyum tatkala melihat Qania yang sedang menatap ke arah mobil. Ia merasa seolah Qania sedang menatapnya padahal itu sama sekali tidak mungkin mengingat kaca jendela yang tak tembus pandang.


“Gimana persiapan di hotel Zal?” tanya Qania yang entah mengapa pandangannya terus tertuju ke mobil Rizal.


“Hampir selesai pas tadi gue tinggal. Tenang aja, kayaknya sekarang udah selesai,” jawab Rizal kemudian meneguk tehnya.


“Kenapa lo lihatin mobil Rizal mulu Qan?” tanya Fero berbisik, ia menyadarinya sejak tadi karena arah pandang Qania yang sesekali melirik ke mobil itu. Namun ia juga tidak melihat tanda-tanda Tristan akan turun atau menampakkan wajahnya.


“Enggak sih Ro. Aku juga nggak tahu ada hal menarik apa di mobil Rizal sampai aku lihatin mulu dari tadi,” jawab jujur Qania yang memang penasaran kenapa matanya seolah tertarik untuk terus menatap ke arah mobil tersebut.


“Oh elo cenayang ya Qan,” kekeh Fero.


“Maksudnya?”


“Lo bisa tahu kalau sebenarnya kita datang bawa hadiah buat elo. Lo bisa cek aja sendiri,” jawab Fero menjahili Qania.


“Yang benar?” tanya Qania penasaran sekaligus curiga.


“Benar, benar banget malah,” jawab Fero meyakinkan.


“Ya udah aku lihat dulu,” ucap Qania yang langsung bergegas menuju ke mobil.


Rizal yang awalnya sedang berbincang-bincang dengan Pak Zafran pun melirik Fero yang sedang berbisik-bisik dengan Qania hingga Qania berjalan ke arah mobilnya. Fero menjawab lewat isyarat yang berarti semua aman terkendali.


Gue yakin lo itu Arkana. Buktinya ikatan batin antara lo sama Qania itu sangat kuat. Kita tinggal nunggu aja kapan Tuhann akan membuka semua rahasia ini, gumam Fero dalam hati.


Saat Pak Zafran dan yang lainnya tengah asyik mengobrol dan Arqasa yang sedang bermain bola bersama Syaquile, Qania justru kian mendekati mobil jantungnya kian degdegan. Merasa déjà vu tentu saja dengan perasaan ini. Ia memegangi dadanya dengan tangannya yang kini terasa begitu dingin. Qania mendekati pintu di kursi belakang, karena ia yakin tidak mungkin Rizal dan Fero meletakkan hadiahnya di depan.


Sedangkan Tristan, ia pun merasakan hal yang sama. Baru kali ini ia merasa begitu degdegan saat Qania mulai mendekatinya. Ia merasa seperti pencuri yang tengah bersembunyi dan rombongan warga yang mengejarnya kian mendekat dan hampir mendapati tempat persembunyiannya. Semakin dekat Qania melangkah, Tristan semakin gugup hingga akhirnya Qania berhasil membuka pintu tersebut.

__ADS_1


Deggg ….


Baik Qania maupun Tristan sama-sama tercengang saat keduanya saling pandang. Cukup lama untuk terdiam dan tenggelam dalam keterkejutan mereka masing-masing. Lebih tepatnya disini yang terkejut adalah Qania karena Tristan dari tadi sudah melihat kedatangannya.


“Ka-kamu?”


“Oh, ha-hai Qania.”


Qania tiba-tiba saja langsung masuk ke dalam mobil dan duduk di samping Tristan. Ia memang masih terkejut namun otaknya langsung bekerja untuk menyembunyikan keberadaan Tristan dari keluarganya yaitu Papa-nya dan anaknya yang sudah dua hari ini merengek ingin bertemu Tristan.


“Sejak kapan kamu disini?” tanya Qania ketus, mode ketusnya kepada Tristan on lagi.


“Sejak tadi siang, hehehe,” jawab Tristan.


“Mau ngapain?” tanya Qania.


“Ya mau lihat calon makmum aku lah. Mau ngapain lagi coba aku disini. Ada-ada aja sih pertanyaannya,” ucap Tristan kemudian mengacak-acak rambut Qania.


“Ih jangan diacak-acak.”


Qania turun dari mobil dengan kesal. Tristan merasa bersalah karena sudah membuat Qania marah dan meninggalkannya. Padahal ia sangat ingin menghabiskan waktu bersama Qania. Qania berjalan masuk ke dalam rumahnya tanpa menoleh lagi. Tristan pun lesu seketika.


Tak lama kemudian ia melihat Qania keluar dengan mengenakan jaket namun masih dengan pakaian rumahannya yang tadi sedang duduk di atas motor.


“Ar ikut Mami yuk, Mami mau ke mini market,” ajak Qania.


“Tapi Mi ….”


“Kalau nggak mau ya Mami nggak bisa ngabulin keinginan kamu,” ancam Qania dengan suara yang begitu lembut sehingga bukannya Arqasa merasa terancam malah merasa begitu disayangi.


“Ya udah ya udah Ar ikut. “


Dengan malas Arqasa naik ke atas motor di belakang Mami-nya, tentu saja ia tidak ingin jika sang Mami tidak bisa mengabulkan keinginannya.


Tristan memperhatikan itu, ia merasa kecewa pada dirinya sendiri karena kini Qania justru akan pergi bersama Arqasa. Dalam penyesalannya itu ia terkejut dengan bunyi ketukan di kaca mobil di sampingnya.


“Qania?” ucapnya lirih.


Samar-samar Tristan mendengar jika Qania memintanya untuk turun. Ia melihat sekeliling, Qania ternyata memilih arah kanan karena mobil menghalangi pandangan orang di rumahnya dari sisi ini. Dengan senyuman merekah ia turun tak lupa mengenakan masker dan kacamatanya.


Siapa sih? Batin Arqasa bertanya setelah pria itu duduk di depannya.


“Kemana kita?” tanya Tristan.


“Jalan aja lurus sampai nabrak tembok,” jawab Qania asal.


“Ih Mami, emang Mami mau kita nabrak tembok. Lagian Om ini siapa? Kenapa naik di motor juga?” tanya Arqasa yang kemudian mengalihkan pandangannya ke depan. Ia menatap intens pria yang kini membuka kacamatanya.


“Dad—eh Om Tristan!!” pekik Arqasa terkejut kegirangan.


“Hai jagoan, ayo kita jalan-jalan,” ucap Tristan yang kini mengabaikan Qania. Ia pun mencium puncak kepala Arqasa sebelum berbalik untuk menyetir motor tersebut.


Mendapat ciuman yang pertama kali dari sosok yang begitu persis dengan Daddy-nya membuat hati Arqasa menghangat. Matanya berkaca-kaca, baru kali ini ia merasakan memiliki sosok Ayah yang selama ini ia inginkan dan sangat ia dambakan. Tangan mungilnya itu terulur untuk memeluk erat pinggang Tristan. Tristan membantu tangan mungil itu melingkar di perutnya dan satu tangannya lagi memegang kendali setir motor.


Qania tentu saja tidak luput dari pemandangan yang menurutnya sangat mengharukan itu. Air matanya ingin menerobos keluar namun terus ia tahan dengan menengadahkan wajahnya. ia begitu bahagia dengan situasi ini, ia bisa merasakan kebagaian anaknya.


Tristan melirik dari kaca spion, seulas senyum terukir di bibirnya. Ia pun sama bahagianya, merasa sedang dalam zona keluarga bahagia dimana ada Ibu, Ayah dan Anak. Dia Ayahnya dan Qania Ibunya serta Arqasa anak mereka. Sungguh benar-benar terlihat bagai keluarga bahagia.


“Kita akan kemana Ar?” tanya Tristan.


“Kita ke mall aja, main disana,” jawab Arqasa.


“Nggak bisa sayang, ini udah sore dan nanti malam kita akan pergi ke pesta resepsi aunty Elin,” cegah Qania.


“Yaa Mami.” Arqasa mendesah kecewa.


“Tak apa, nanti malam setelah pesta kita akan pergi kesana,” ujar Tristan yang membuat Arqasa kembali bersemangat.


“Horeee!”


“Nah sekarang kita kemana?”


“Ke taman dekat kafe,” jawab Qania.


Tristan yang sudah hafal jalanannya pun langsung menarik gas menuju ke tempat yang baru saja disebutkan oleh Qania. Ia terus bersenandung sambil sesekali mengelus tangan Arqasa yang memeluknya itu.


Daddy akan membuatmu bahagia jagoan. Daddy janji bakalan bikin kamu lupa kalau daddy ini hanya penyambung. Kamu akan menjadi anak daddy dan bukan anak Arkana meskipun dia adalah Ayah biologisnya, batin Tristan.

__ADS_1


Sesampainya di taman, rupanya tempat itu begitu ramai sehingga Qania mengurungkan niatnya untuk turun. “Kita ke rumah Kakek Setya,” ucap Qania lagi.


“Tapi aku nggak tahu rutenya,” ucap Tristan.


“Kamu lurus aja dari sini, ntar ketemu perempatan belok kanan. Kalau udah belok kanan kamu tinggal lurus aja sampai ada pertigaan kamu ambil kiri,” ucap Qania menjelaskan rutenya.


“Baik.”


Tristan kembali menarik gas motornya dengan terus mengingat rute yang tadi disebutkan oleh Qania. Ia merasa senang begitu melihat rumah yang dulu pernah ia datangi untuk mencari Qania. Motor tersebut berhenti di depan pintu gerbang yang tertutup rapat.


“Mi gimana mau masuk?” tanya Arqasa berbalik badan untuk menatap Mami-nya.


“Mami punya kok kuncinya. Lagian cuma akan ada kita bertiga karena Bi Ochi di rumah Elin dan Pak Anwar tadi nganterin Kakek Setya ke kantor karena ada urusan mendadak dan baliknya nanti jam tujuh. Oh ya sayang, nanti malam kita akan nginap disini,” ucap Qania panjang lebar menjelaskan serta memberitahukan kepada Arqasa tentang mereka yang akan menginap.


“Baik Mi.”


Qania pun turun dan membuka kunci gerbang serta membukakan sedikit pintu untuk sepeda motor bisa masuk. Setelah itu Tristan menarik gas pelan dan membawa mobil tersebut masuk dengan masih membonceng Arqasa. Qania sendiri kembali menutup gerbang.


“Kita ke kolam belakang saja. Ar mau main di sana,”  ucap Arqasa begitu ia turun dari motor. Mengabaikan Mami-nya, ia menarik-narik tangan Tristan agar ikut serta dengannya dan Tristan pun menurut saja sementara Qania mendengus kesal.


Ketiganya kini berada di kolam belakang rumah, Qania duduk di gazebo sambil memperhatikan Tristan dan Arqasa yang sedang bermain bola. Ia tersenyum tipis menikmati pemandangan yang dimatanya terlihat seperti Arqasa sedang bermain bersama Arkana.


Hampir setengah jam bermain akhirnya Tristan memutuskan untuk istirahat membiarkan Arqasa yang masih asyik dengan bolanya. Ia duduk di samping Qania meminta air minum dan Qania langsung menyodorkan segelas air untuknya.


“Terima kasih Mami,” ucap Tristan terkekeh sebelum meminum airnya.


“Hih, sejak kapan aku menjadi Mamimu,” sungut Qania.


“Nanti aku akan jadi Daddy, Mi,” lanjut Tristan menggoda Qania.


“Mimpi aja sana,” ketus Qania.


Qania beranjak dari duduknya namun dengan cepat Tristan menarik tangannya hingga Qania yang sudha setengah berdiri itu terjatuh tepat di atas pangkuan Tristan. Seringai licik terbit di bibir Tristan dan itu membuat Qania memutar bola matanya jengah.


“Kenapa terburu-buru hemm?” ucap Tristan yang kini menatap lekat kedua bola mata Qania.


“Tristan tolong jangan seperti ini. Tidak baik dilihat oleh Arqasa,” pinta Qania yang memang merasa tidak nyaman. Berbeda jika itu memang Arkana maka Qania tanpa diminta pun akan duduk di atas pangkuannya bahkan menyandarkan dadanya.


“Dia pasti maklum lah,” ucap Tristan tanpa mengalihkan pandangannya.


“Tapi aku tidak begitu,” tandas Qania.


“Qania, aku sangat mencintaimu. Tolong bersikap lembut dan penuh kasih sayang lah padaku. Aku ini calon imammu lho,” rengek Tristan.


“Kau bukan lagi bocah,” sindir Qania.


“Biar saja. Aku ingin kau menerima cintaku,” ucap Tristan.


“Kau memaksaku?” tanya Qania dengan nada kesal.


“Tentu saja aku memaksa.”


“Aku tidak suka dipaksa!”


“Sayangnya aku orang yang paling ahli dalam hal paksa-memaksa,” ucap Tristan sambil mengedipkan sebelah matanya dan itu membuat Qania terdiam. Alasannya tidak lain adalah ia terpana dengan kedipan mata yang biasa ia lihat saat Arkana dulu menggodanya.


Melihat Qania yang sedang terpaku menatapnya, Tristan langsung mengambil kesempatan itu untuk bisa mencium bibir Qania. Namun baru saja akan tersentuh, sebuah bola tiba-tiba saja mendarat di kepalanya.


“Awwww!”


“Ayo lo ngaku tadi pasti lagi bayangin nyium Qania ya?” ledek Fero.


“Eh?”


Tristan tersadar dan mendapati dirinya masih berada di mobil bukan di rumah mertua Qania.


Apa iya tadi gue cuma halu doang? Pikir Tristan.


“Lo pasti mikir mesum ya, sampai tuh bibir monyong-monyong gitu,” ledek Rizal.


“Ah enggak kok,” kilahnya.


“Udah nggak usah malu gitu. Ayo kita ke hotel. Lo juga pasti butuh istirahat,” ucap Rizal yang kemudian melajukan mobilnya menuju ke hotel.


Tritsan merasa keki karena sepanjang jalan baik Fero maupun Rizal tak berhenti menggodanya. Tapi dengan itu semua ia justru merasa sudah begitu akrab dengan dua sahabat Arkana itu. ia merasa tak canggung lagi dan bahkan bisa saling meledek dan juga memaki.


 

__ADS_1


__ADS_2