
Kakak beradik yang sebenarnya merupakan anak orang berada memilih masuk ke warung makan kecil yang kata Qania disana ada makanan yang enak dengan harga murah dan juga porsinya sangat memuaskan. Dan sang adik tentu saja sangat antusias, makanan murah meriah yang dapat mengenyangkan tentu saja juga menjadi pilihannya. Keduanya sudah terlatih sedari kecil untuk hidup sederhana. Tidak memegang kartu kredit selama sekolah, uang jajan sekolah seadanya dan juga jika ada keperluan lain mereka nantinya akan meminta.
"Mbak, pesan dua porsi yang seperti biasa ya, minumannya juga samain aja kayak biasanya," ucap Qania kepada pemilik warung.
"Oke Mbak, ditunggu ya," jawab Mbak-nya dengan ramah. Ia sudah sangat mengenal pelanggannya yang satu ini.
Qania pun berjalan menuju ke meja dimana Syaquile sudah menunggunya.
"Katanya mau ngajak ke kafenya Tristan," sindir Syaquile.
"Ya nanti aja setelah kelar urusan kampus. Lagian kafenya juga ada di depan kampus," ucap Qania membuat Syaquile mencebikkan bibirnya.
Baru saja Syaquile akan bersuara, pesanan mereka pun datang.
"Hmmmm ...." Qania menghirup napas dalam-dalam, "Seperti biasa Mbak, aromanya saja sudah menggugah selera," puji Qania.
"Mbak Qania ini ada-ada saja deh. Silahkan dinikmati Mbak, Mas ...."
"Dia adik saya Mbak, mirip kan?" ucap Qania mengerti maksud pertanyaan Mbak pemilik warung.
Nggak, nggak mirip, batin Mbak-nya.
"Oh, iya Mbak, mirip. Saya permisi dulu ya," ucapnya kemudian undur diri.
"Ya udah yuk makan, setelah itu kita ke kampus," ucap Qania yang lebih dulu memasukkan satu suapan ke dalam mulutnya. "Gimana, enak?"
"Enak Kak. Ada juga ya makanan enak dan murah meriah dengan porsi banyak gini," jawab Syaquile sambil menikmati makanannya.
"Tentu saja," ucap Qania merasa bangga karena sudah membawa adiknya ke tempat makanan enak.
.... . . ....
Tokk ... tokk ... tokk ...
"Masuk!"
Ceklek ...
Qania membuka pintu ruangan tersebut dan langsung tersenyum lembut kepada pria paruh baya yang juga sedang tersenyum menatapnya.
"Jadi, bagaimana dengan urusan ujian proposal?" tanya pak Erlangga ketika Qania sudah duduk di depannya.
"Aman Pak. Oh ya, ada apa Bapak memanggil saya?" tanya Qania tanpa basa-basi.
"Ya, saya memanggil kamu sebenarnya ada hal yang ingin saya bahas tentang magangmu dua minggu dari sekarang," jawab Pak Erlangga yang kini wajahnya sudah sangat serius.
Raut wajah Qania pun berubah menjadi serius, ia yakin bahwa kali ini memang ada hal yang sangat penting sehingga sudah sejak lama Pak Erlangga terus membahas tentang magangnya nanti.
"Saya ingin kamu melakukan sesuatu untuk saya."
"Sesuatu Pak?" tanya Qania.
"Kamu akan magang di kantor milik Pak Handoko, dia sebenarnya seorang pengacara. Namun mungkin kamu pernah mendengarnya sebagai pebisnis yang namanya cukup tenar di kalangan pecinta kuliner. Dia memiliki banyak restoran serta beberapa hotel. Dan ada banyak lagi usahanya yang terbilang cukup sukses. Nah sekarang saya ingin bertanya, pernah kamu melihat Bu Maharani seperti seseorang yang sedang menyimpan dendam jika bercerita denganmu?" ujar Pak Erlangga diakhiri pertanyaan yang membuat Qania pun bingung.
"Bu Maharani, Pak? Enggak sih ... eh pernah Pak waktu saya membantu keluarga Alvindo," ucap Qania teringat akan kejadian dimana ia meminta Pak Agus untuk membantu menangani kasus proyek Tristan dulu.
"Bu Maharani adalah adik sepupu saya. Dia memiliki seorang adik yang tidak lain pun adalah sepupu saya. Dia dulunya adalah salah satu anggota LSM yang sangat disegani para pebisnis apalagi yang berbisnis kotor. Sepupu saya itu sangat cerdas dan apa yang ia kerjakan selalu saja berhasil. Sudah banyak kejahatan seperti korupsi dan sejenisnya yang ia tangani dan berhasil membuat para tikus negara itu mendekam di penjara," cerita Pak Erlangga dan Qania pun mendengarkan dengan baik tanpa menyela sedikitpun.
"Hari itu dia meneleponku dan mengatakan bahwa ada kasus yang benar-benar membuatnya tak bisa berbuat apa-apa karena pilihan untuk menjerumuskan tikus negara itu adalah pilihan yang sulit karena bertentangan dengan hatinya. Awalnya saya dan Rani tak menanggapi itu karena yang kami tahu itu bukanlah masalah percintaannya. Dia menjalin hubungan dengan wanita misterius yang sampai saat ini kami tidak tahu siapa wanita itu.
"Kami bicara sangat banyak dan dari kata-katanya terdengar seperti seseorang yang tengah di kepung musuh padahal ia sedang santai dan katanya sedang berada di kafe. Dia mengucapkan kalimat-kalimat perpisahan namun dalam nada bercanda. Tentu saja kami tak menanggapi serius pula mengingat adik kami itu orangnya humoris. Setelah kami bercakap-cakap cukup lama dia pun pamit karena akan pergi ke suatu kabupaten yang katanya pemimpin daerahnya terlibat dalam kasus korupsi besar-besaran.
"Terakhir kali ia mengirim pesan ke Rani kalau ternyata ini hanya sebuah jebakan. Benar, dia di jebak. Karena pesannya yang tak kami mengerti saya pun meneleponnya dan saat saya berbicara dengannya rupanya ia sedang berada di dalam taksi.
Flash back on ....
"Apa maksud pesanmu itu Ga?" tanya Maharani.
"Mbak, maafin aku dan tolong jika aku tak kembali tolong amankan dokumen di mejaku di kantor atas nama tuan Alvindo."
"Hei kamu kenapa? Kamu baik-baik saja kan Ga?" tanya Maharani panik.
"Aku nggak baik-baik saja Mbak. Aku dijebak Mbak. Mereka sudah merencanakan pembunuhan ini untukku. Tolong Mbak, jika aku tidak kembali tolong sekarang juga cepat amankan dokumen itu. Jangan sampai jatuh ke tangan yang salah Mbak. Tolong!!"
__ADS_1
"Kamu dimana sekarang Ga, bilang sama Mbak, hikss kamu dimana?" isak Maharani.
"Aku di--"
Brakkkk ....
Bunyi ledakan yang sangat keras menjawab pertanyaan Maharani. Ia yang mendengarnya sebelum panggilan tersebut terputus pun tak kuasa menahan air matanya hingga akhirnya ia kehilangan kesadaran.
"Rani bangun Rani!!" teriak Pak Agus sambil menepuk-nepuk pipi istrinya yang berada di dalam pelukannya.
"Gus, kamu urus Rani sekarang dan coba lacak keberadaan adiknya. Biar aku yang ke kantor untuk mengambil dokumen tersebut," ucap Pak Erlangga dengan terburu-buru. Ia pun sama syoknya setelah mendengar suara ledakan tersebut.
Dengan gilanya Pak Erlangga mengemudikan mobil menuju ke sebuah kantor berlantai tiga. Ia berlari masuk tanpa memperdulikan sapaan karyawan kantor tersebut.
Ia pun masuk ke ruangan adik sepupunya dan mencari dokumen yang tadi di maksud oleh sepupunya tersebut. Namun nihil, ia sudah mengobrak-abrik ruangan tersebut namun tak menemukan apa yang ia cari.
"Brengsek!! Rupanya memang benar ini sudah direncanakan. Tapi siapa?" umpat Pak Erlangga.
Ia menjadi putus asa, merasa gagal menjadi kakak untuk kedua sepupunya itu. Belum lagi tentang suara ledakan itu memenuhi rongga pikirannya. Ia pun duduk di kursi kerja itu sambil mengusap kasar wajahnya. Baru saja ia akan beranjak, ia tiba-tiba teringat akan kebiasaan baik sang adik sepupu yang menempatkan kamera tersembunyi di atas vas bunga kecil yang ada di mejanya. Ia pun segera mengambilnya.
"Dapat!" pekiknya.
Ia pun langsung memeriksa isi dari rekaman dalam kamera tersebut.
"Tuan Handoko? Kenapa? Apa urusannya dengan berkas tuan Alvindo? Dan apa isi dari berkas itu? Kenapa sampai adikku yang dijebak karena ini? Siapa sebenarnya yang salah dan siapa yang coba ia lindungi?"
Ribuan pertanyaan memenuhi benak Pak Erlangga. Tak ada klu sedikitpun yang ditinggalkan oleh adik sepupunya itu.
Ponselnya berdering dan itu dari adik iparnya.
"Terlambat. Berkas itu sudah diambil oleh tuan Handoko. Bagaimana keadaan Rani?" tanya Pak Erlangga.
"Tuan Handoko? Apa urusannya dengan berkas tuan Alvindo? Tapi bukankah dia rekan bisnis tuan Alvindo sekaligus pengacara tersohor di kota ini?" tanya Pak Agus.
"Itu yang sedang aku pikirkan. Sebaiknya aku pulang, kita bahas di rumah."
Panggilan pun berakhir dan Pak Erlangga memutuskan untuk kembali ke rumah Pak Agus.
Hari berlalu namun tak ada kabar dari adik mereka hingga akhirnya mereka pasrah karena tim yang mereka sebar untuk mencari pun tak menemukan hasil. Mereka akhirnya menyatakan bahwa adik mereka itu sudah tiada, dengan berat hati.
"Anda mencari siapa?" tanya Bu Maharani saat berhadapan dengan pria tersebut di teras.
"Pak Angga, saya mencari Pak Angga," jawabnya gugup.
Maharani terkejut bukan main, bagaimana setelah sebulan berlalu ada yang datang mencari sang adik.
"Kamu siapa?" tanya Maharani curiga.
"Sebaiknya kamu masuk," ajak Pak Agus.
Disana pun ada Pak Erlangga yang sedang duduk di ruang tamu.
"Katakan!" ucap Pak Agus dengan tegas.
"A-adik saya bekerja pada Pak Angga. Dia mendapat tugas sebulan yang lalu untuk menyelidiki kasus korupsi dan money laundry di perusahaan tuan Alvindo yang bekerja sama dengan Negara. Namun setelah dia mendapatkan bukti tersebut, kami tiba-tiba saja sudah mendapatkan mayatnya di depan rumah. Du-dua hari yang lalu adik saya kembali tanpa nyawa," ceritanya dengan suara bergetar menahan tangis.
"Appaaa?!!" Saking terkejutnya Bu Maharani bahkan sampai berdiri.
"Jadi apakah dokumen tuan Alvindo yang dimaksud itu tentang ini?" gumam Pak Erlangga.
"Lalu?" tanya Pak Agus yang masih bisa menguasai dirinya.
"Ha-hari dimana dia menelepon saya, dia mengatakan bahwa saya harus datangi keluarga Pak Angga. Karena di tempatnya berada ia sudah mendengar tentang menghilangnya Pak Angga. Sebenarnya dari awal kepergiannya ia sudah mendapat firasat tak enak dengan dirinya. Maka dari itu adik saya yang selalu berada disisinya tak ia ikutkan dan menyuruhnya mengurus masalah ini. Dan benar saja, kabar buruk itu datang. Adik saya pun dengan janjinya ia terus mencari kebenaran dari kasus ini. Dan pada akhirnya dia mendapatkan jawaban itu. Di-di kantor tuan Handoko. Ia mendapatkan jawaban kasus itu disana. Baik tuan Alvindo maupun tuan Handoko mereka bekerja sama. Dan satu hal yang adik saya tidak ketahui itu adalah mereka sudah tahu kalau adik saya adalah asisten Pak Angga. Mereka memburu adik saya dan dua hari yang lalu ia mengatakan ini kepada saya dan tengah malam kami mendapati mayatnya di depan pintu," ceritanya panjang lebar dan dengan deraian air mata mengingat bagaimana ia menemukan tubuh adiknya yang berlumuran darah.
Suara tangis Maharani pecah memenuhi ruangan tersebut. Sementara Pak Agus dan Pak Erlangga mengepalkan tangan mereka.
"Apa ini bisa kita simpulkan kalau mereka lah yang berada di balik kematian adik saya?" lirih Bu Maharani.
"Ya, saya yakin akan hal itu Nyonya," ucapnya.
"Nama Anda siapa?" tanya Pak Agus.
"Herman Pak," jawabnya.
__ADS_1
"Baik Herman, apakah kau ingin membantu kami membayar kematian adik kita?" tanya Pak Agus.
"Ba- bagaimana caranya Pak?"
"Masuk dan bekerjalah di perusahaan tuan Handoko. Pantau gerak gerik mereka. Laporkan! Saya yang akan mengurusnya nanti. Suatu saat keadilan pasti akan datang kepada kita."
Ucapan Pak Erlangga sontak membuat semangat di diri Herman membara.
"Baik Pak. Demi adik-adik kita saya akan melakukannya."
"Kamu tenang saja, kami akan mengusahakan keamanan keluargamu," ucap Pak Erlangga dingin.
"Terima kasih Pak. Saya pamit dulu," ucap Herman.
"Berikan nomor ponsel dan alamatmu," ucap Bu Maharani.
Herman pun memberikannya kemudian ia pamit pulang.
"Baiklah, kalian akan segera mendapatkan balasan atas apa yang sudah kalian lakukan kepada adik saya," geram Bu Maharani.
Flash back off ...
"Jadi maksud bapak tuan Alvindo dan tuan Handoko berada di balik kronologi menghilangnya adik Anda?" tanya Qania yang sebenarnya cukup takut dengan misinya kali ini.
"Ya. Herman pun pernah mendapati mereka membahas kematian adik saya namun ia tidak bisa mendengar banyak karena tak ingin dicurigai," jawab Pak Erlangga, ia menatap intens pada Qania yang sedang gugup.
"Rumit juga ya tugas saya kali ini Pak, hehe." Qania berusaha mengusir rasa takutnya dengan tertawa.
"Sangat. Kamu takut ee," ledek Pak Erlangga.
"Tentu saja Pak, hehe." Qania menjawab dengan sangat jujur.
"Tenang saja, setelah kamu bisa menyelesaikan misi ini kamu akan mendapatkan kebahagiaan dan tentu saja rasa puas karena kesuksesanmu itu. Kamu baru calon pengacara lho tapi bisa menangani kasus besar," ucap Pak Erlangga menyemangati.
"Tapi saya ragu Pak," ucap Qania jujur.
"Tenang saja, kamu punya orang-orang dibelakangmu yang hebat. Jangan lupa mertuamu bukanlah orang sembarangan. Dia bahkan lebih hebat dari kami dan tuan Handoko. Jangan ragu meminta bantuannya," ujar Pak Erlangga.
"Bapak benar juga. Lalu imbalan apa yang akan saya dapatkan jika berhasil?" tanya Qania namun dengan nada bercanda.
"Oh sedang bernegosiasi rupanya," kekeh Pak Erlangga.
"Tentu saja Pak," timpal Qania.
"Imbalan yang akan kamu dapatkan seumur hidup. Yakin saja jika kamu berhasil maka kamu akan hidup tenang karena sudah membantu orang lain," gurau Pak Erlangga.
"Ih Bapak. Aku pikir bisa langsung sarjana tanpa ujian skripsi," ucap Qania cemberut.
"Bisa saja. Tapi ini lebih dari yang kamu harapkan lho," ucap Pak Erlangga dengan sorot mata yang serius.
"Maksud Bapak?" tanya Qania penasaran.
"Apakah kamu ingin tahu siapa nama adik saya?" tanya Pak Erlangga mengalihkan.
"Boleh deh Pak, biar aku tahu jika nanti sudah menjalankan misi.
Pak Erlangga pun berbisik kepada Qania yang mana membuat mata Qania membulat sempurna sementara Pak Erlangga menyeringai puas.
"Bagaimana Qania, sanggup?" ledek Pak Erlangga.
"Tentu saja," jawab Qania mantap.
"Ya sudah kamu urus dulu tentang ujianmu lalu fokus ke magang," alih Pak Erlangga.
"Baik Pak, saya juga mau pamit. Mau pulkam," ucap Qania.
"Iya hati-hati. Kuatin mental kamu," ucap Pak Erlangga.
"Pasti Pak. Saya permisi dulu," pamit Qania yang diangguki oleh Pak Erlangga.
Qania pun berjalan keluar dari jantungnya yang berdetak kencang mengingat percakapannya dengan Pak Erlangga tadi.
*Sepertinya memang semua ini saling terhubung, batinnya.
__ADS_1
...🍃🍃🍃🍃🍂🍂🍂🍂🍃🍃🍃🍃*...