Selamanya Cinta

Selamanya Cinta
Teman yang tak akrab


__ADS_3

Kembali ke mobil


“Awwwhh pa sakit” ringis Arkana saat papanya menjewer telinganya.


“Bagus om, sekalian balasin sakit hati kami” ledek Fero.


“Kita bakalan ada untuk om, jangan takut” timpal Rizal yang sedang menyetir.


“Kalian awas saja ya” ancam Arkana.


“Om dia mengancam kami” adu Rizal dengan nada mengejek.


“Papa please lepasin, aku ini anak papa” rengek Arkana.


Semuanya yang berada di mobil termasuk pak Anwar ikut tertawa melihat Arkana dijewer oleh papanya. Sementara Arkana sibuk mengelus kupingnya yang sudah memerah akibat papanya menjewernya dengan kuat yang entah sengaja atau tidak.


“Rasakan pembalasan papa, enak aja papa ini papa angkat kamu. Papa ini papa kandung kamu, apa kamu nggak nyadar wajah kita mirip hah?” Setya mengomeli Arkana yang sedang merajuk.


“Papa, aku ini lagi merajuk bukannya di bujuk malah diomeli, gimana sih” gerutu Arkana.


“Siapa suruh kamu berkata seperti itu. Emang nggak ada alasan lain apa?” ketus Setya.


“Iya deh aku salah, aku minta maaf” Arkana memegang kedua telinganya dengan wajah memelas.


Gelak tawa terdengar dari mobil itu, saat ini mereka tengah menuju ke kantor polisi.


Satu setengah jam menempuh perjalanan, akhirnya mereka sampai di kantor polisi. Ketika mereka masuk, disana sudah ada Zafran dan teman-teman Arkana termasuk Ifan. Mereka juga melihat motor Rizal yang terparkir di parkiran kantor polisi.


“Zafran” panggil Setya saat melihat Zafran sedang duduk berbincang bersama seorang intel.


“Setya, akhirnya” Zafran berdiri kemudian memeluk Setya.


“Terima kasih banyak untuk bantuannya” Setya melepas pelukannya.


“Hei kau seperti orang lain saja denganku. Lagi pula semua ini berkat Arkana dan kawan-kawannya. Aku hanya membantu sedikit”.


“Baiklah, kau selalu seperti itu” Setya mengalah.


“Kau kan sudah tahu. Oh iya mari kita mengurus laporan penculikanmu” ajak Zafran, mereka kemudian duduk di depan polisi yang bertugas menginput data laporan.

__ADS_1


“Tolong bawa kemari mereka semua” perintah polisi yang bername tage Idrus itu.


Daren dan anak buahnya yang berjaga, termasuk si botak dan si gondrong serta Bobby dibawa oleh polisi yang di suruh pak Idru. Daren menatap penuh kebencian pada Arkana dan orang-orang yang bersamanya.


“Jadi menurut keterangan yang tadi bapak Zafran Sanjaya berikan kepada kami, mereka telah melakukan tindak kejahatan yaitu berupa penculikan pada bapak Setya Wijaya, benar begitu pak Setya?” tanya pak Idrus menatap Setya yang duduk di depannya bersama Zafran, sementara Arkana dan yang lainnya berdiri di belakang mereka.


“Iya benar pak. Dan para intel juga terlibat membantu pembebasan saya” jawab Setya mantap.


“Apakah ada bukti yang memberatkan mereka selain saksi mata?” tanya pak Idrus.


Setya dan Zafran diam, mereka memang tidak memiliki bukti selain mata para saksi.


Diamnya Setya dan Zafran membuat Daren tersenyum tipis, kali ini ia merasa bahwa ia tidak akan berlama-lama di tempat ini dan akan segera menuntut balas pada Arkana.


“Bagaimana pak?” tanya pak Idrus sekali lagi.


“Kami tidak memiliki bukti selain saksi mata” Zafran menghela napas.


“Kalian memiliki banyak saksi mata termasuk dari anggota kepolisian, tapi kesaksian mereka belum cukup kuat” tegas pak Idrus.


Diam, hening. Daren semakin merasa berada di atas angin.


“Mereka memang tidak memiliki bukti pak, tapi saya punya” Arkana berjalan mendekati meja kerja pak Idrus.


“Oh ya? Anda siapa?” tanya pak Idrus.


“Saya Arkana Wijaya, anak kandung dari bapak Setya Wijaya”.


“Jadi Arkana, bukti apa yang anda miliki?”


“Semua ada di dalam flash disk ini, rekaman cctv ruangan papa saya. Disana terekam dengan jelas saat saudara Daren Wilanata bersama anak buahnya datang menyerang dan menculik papa saya” Arkana tersenyum, kemudian ia melirik ke arah Daren yang wajahnya merah padam menahan amarah.


“Baik, biar saya periksa terlebih dahulu” pak Idrus menerima flash disk dan mencolokkannya ke laptop.


Benar saja, disana terlihat jelas aksi Daren dan anak buahnya saat datang menyerang Setya dan salah satu pegawai kantor yang mereka aniaya yaitu Kinanti.


“Ba.bagaimana bisa?” Daren melotot melihat rekaman cctv yang di perlihatkan kepadanya.


“Tentu saja bisa. Elo kalau mau jadi penjahat jangan tanggung-tanggung dong. Masa orang sepintar Daren Wilanata sampai lupa jika di kantor pengacara itu pasti ada cctvnya” ejek Arkana membuat Daren mengepalkan kedua tangannya.

__ADS_1


“Kurang ajar, kenapa gue sampai lupa. Arrghh awas saja lo Arkana, setelah gue keluar dari sini gue pastiin orang yang akan gue temuin lebih dulu itu adalah elo. Tunggu pembalasan gue Arkana Wijaya. Gue Daren Wilanata nggak akan ngebiarin elo hidup tenang sampai lo sujud-sujud ke gue minta diberikan kematian sesegera mungkin” geram Daren, ia merutuki kebodohannya.


“Baik, saya rasa bukti ini sudah cukup kuat untuk persidangan nantinya. Kami akan menindak lanjuti ini” menghela napas, “dan saya juga merasa bahwa pak Setya sebagai seorang pengacara sangat paham tentang semua prosedurnya” lanjut pak Idrus.


“Tentu pak, saya akan mengurusnya” jawab Setya.


“Kalau begitu kami akan memproses kasus ini”.


“Kalau begitu kami permisi pak” ucap Setya sambil menjabat tangan pak Idrus.


“Terima kasih” Setya bergantian menjabat tangan pak Idrus.


“Sama-sama pak Setya” ucap pak Idrus.


Arkana melirik Daren yang juga tengah menatapnya dengan tatapan membunuh, namun Arkana malah tersenyum manis kepadanya. Bagi Daren, senyum Arkana itu adalah sebuah ejekan untuknya sehingga ia tidak bisa lagi menahan diri untuk tidak menghajar orang itu.


Dengan cepat Daren mendekati Arkana dan memberikan satu bogeman di wajah Arkana. Sudut bibirnya mengeluarkan darah, namun Arkana hanya tersenyum simpul menatap Daren yang masih menatap nyalang padanya.


“Kalian semua tahan dia” perintah pak Idrus pada polisi yang lainnya.


“Kurang ajar kamu, apakah kamu tidak sadar tindakan kamu barusan semakin memberatkan hukuman kamu?” teriak Setya yang kesal karena Daren menyerang Arkana secara tiba-tiba.


Saat ini Daren sudah di pegangi oleh dua orang polisi.


“Sudah pa, itu tidak perlu. Dia hanya mengeluarkan isi hatinya karena merasa di khianati oleh temannya pa” Arkana membela Daren, karena ia tahu bahwa ini pasti reaksi kekecewaan Daren padanya.


Tidak ada yang membantah Arkana, mereka kemudian memilih untuk pergi meninggalkan kantor polisi.


“Hahaha, cihh bodoh amat. Silahkan saja kalian melakukan keinginan kalian, tuntut saya sebanyak mungkin. Dan saya pastikan saat saya keluar nanti, Saya DAREN WILANATA AKAN MENUNTUT BALAS DAN AKAN MEMBERIKAN KALIAN BALASAN YANG LEBIH MENYAKITKAN DARI KEMATIAN” teriak Daren saat melihat rombongan Arkana pergi.


Arkana berbalik untuk menatap Daren, Arkana memancarkan aura dingin dengan sorot mata tajam seakan ingin menerkam Daren disana. Kemudian ia tersenyum lebar, Arkana bukannya dendam melainkan senyuman tulus karena Daren pernah menjadi temannya meskipun tidak akrab.


Arkana sangat menyayangkan kenapa Daren harus memiliki jejak buruk dengan keluarganya, padahal Daren merupakan salah satu orang yang Arkana segani karena ia adalah saingan berat Arkana di atas aspal.


Setelah kepergian Arkana dan rombongannya, Daren dan anak buahnya bergantian untuk dimintai keterangan terkait kasus tersebut. Daren juga meminta izin untuk menelepon seseorang ketika polisi memintanya untuk menyiapkan pengacaranya.


"Tunggulah saatnya nanti Arkana Wijaya" gumam Daren dengan penuh kebencian sebelum polisi memasukkannya kedalam sel.


 

__ADS_1


...🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺...


__ADS_2