
Di markas Ifan..
Kedua orang tawanan mereka itu masih pingsan dengan posisi duduk di kursi dengan tangan dan kaki diikat dan mulut di lakban. Mereka masih belum melakukan apapun karena menunggu Arkana datang.
“Gila, jadi orang baik itu nggak enak juga ya” (anggap saja yang bicara si A, salah satu teman Arkana, rekan timnya).
“Maksud lo?” Tanya si B
“Ya itu, om Setya. Pekerjaannya jadi pengacara ngebantuin orang tanpa pilih-pilih untuk mendapatkan keadilan, eh malah dia yang harus mendapatkan masalah” jawab si A merasa kasihan.
“Benar juga lo. Tapi itu sudah jadi resiko bokapnya Arka, dia pasti sudah memperhitungkan sebab akibatnya ke depan” sambung si C.
“Sebaiknya kita bantu Arkana, dia dan bokapnya orang baik dan sangat ramah pada semua orang. Bisa jadi kita-kita atau pun keluarga kita nanti ditolongin sama mereka” sahut si A.
“Lo lupa rumahnya si B hampir diambil sama pengusaha sombong tempo hari dan untungnya ada bokapnya Arkana dengan suka rela menolong dan membawa kasusnya ke jalur hukum sehingga mereka nggak berani ngusik lagi, kan B?” Tanya si C.
“Gue mana bisa lupa bro, makanya gue dengan senang hati bantuin Arkana. Apalagi saat gue dengar bokapnya diculik, gue rasanya mau langsung bunuh tu orang” jawab si B geram.
Tok..
Tok..
Tok..
Di luar Arkana dan Fero sedang menunggu dibukakan pintu, dengan cepat Ifan berlari untuk membuka pintu dan mempersilahkan Arkana dan Fero masuk.
“Mereka masih belum sadar?” Tanya Arkana saat melihat dua orang yang terlelap itu.
“Belum bro” jawab si B.
“Tolong lepasin lakban di mulutnya” pinta Arkana dengan sopan, namun tatapannya kepada dua orang di hadapannya itu sangat tajam seakan ingin membunuh.
“Sip bro” Fero dengan kasar menarik lakban di mulut kedua orang itu namun mereka masih belum sadar juga.
Arkana mengepalkan sebelah tangannya, sementara tangan yang satunya memegang sebotol air mineral dingin. Arkana membuka tutup botol tersebut dan langsung menyiramkan air itu ke wajah dua orang di hadapannya.
“Banjir..banjir..” teriak keduanya.
“Banjir pala lo” bentak Fero.
Kedua tawanan mereka tersadar saat mendengar suara Fero, keduanya berusaha bangkit namun mereka baru sadar kalau tangan dan kaki mereka diikat.
“Bangsaat” teriak keduanya.
“Lepasin gue” teriak salah satu dari mereka.
“Melepaskan elo, JANGAN MIMPI” bentak Arkana dengan aura membunuh terpancar di wajahnya.
“Hahaha jadi lo jebak kita, hahaha “
“Tertawalah sebelum gue bungkam mulut lo berdua” ucap Arkana dingin namun seringai di wajahnya membuat dua orang di hadapannya itu gemetar.
“Lo mau apa dari kita?” Tanya salah satunya yang bernama Bobby.
__ADS_1
“Gue mau apa? Kalau gue bilang gue mau nyawa lo berdua gimana?” Arkana menyeringai.
“Lo bunuh kita, lo nggak bakalan tahu dimana bokap lo” ancam Bobby.
“Nggak masalah, asal lo berdua mati di tangan gue”
Arkana mengeluarkan pisau yang terlihat sangat tajam, ia mengusap pisau itu di hadapan tawanannya itu.
Glek..
Bobby dan temannya yang bernama Lucky itu kesulitan menelan salivanya, mata mereka melotot dan lututnya gemetar.
“Kira-kira siapa di antara kalian yang ingin mencoba pisauku ini lebih dulu?” Tanya Arkana dengan wajah bak psikopat, ia terus mengusap pisau tersebut.
Glek..
Lagi, keduanya gemetar bahkan hanya untuk menelan salivanya saja terasa seperti tercekik.
“Oh ya, karena saya berbaik hati, mintalah satu permohonan terakhir” ucap Arkana sambil tersenyum setan.
“App..ap.pa ma.mak.sudmu?” Tanya Lucky gelagapan.
“Ya, seperti biasa jika seseorang ingin meninggalkan dunia ini tentunya dia punya permintaan terakhir” jawab Arkana menyeringai.
“Tolong lepaskan saya, saya masih punya anak dan istri. Jika saya mati siapa yang akan mengurus mereka” mohon Lucky.
Lucky sedari tadi diam, karena dibandingkan dengan Bobby, ia sangatlah penakut.
“Diam bodoh! Dia hanya menggertak kita” bentak Bobby.
“Tolong saya, lepaskan saya, saya hanya diminta untuk mengikuti teman anda dan dijanjikan akan diberi imbalan besar” mohon Lucky dengan ketakutan.
“Brengsek lo. Diam nggak lo, dasar pengecut” bentak Lucky.
“Biar saja lo mau ngatain gue apa, tapi gue masih sayang nyawa gue dan masih ingin mengurus anak dan istri gue” tutur Lucky sambil menatap nyalang pada Bobby.
“Terserah lo” ketus Bobby.
“Sepertinya temannya yang satu ini ingin cepat kea lam baka Ka” teriak Ifan mengejek.
“Tenang Fan, secepatnya dia bakalan gue kirim ke sana” ucap Arkana sambil menusuk ujung pisau di bawah dagu Bobby.
“Anj**g lo, bunuh saja gue” bentak Bobby tanpa rasa takut.
“Jangan terburu-buru, sepertinya nyali besarmu itu akan sia-sia jika kau mati secepat ini” ledek Arkana.
“Bangsat lo!”
“Teruslah mengumpat, sebelum mulut lo itu bungkam”
“Tu..tuan, tolong jangan bunuh saya” Lucky gemetar.
“Bacot lo” bentak Bobby membuat Lucky mengatupkan mulutnya.
__ADS_1
“Fan, lo sama tim mau main-main nggak?” Tanya Arkana melirik kea rah Ifan dan timnya yang berada di belakang Bobby dan Lucky.
“Main-main macam apa dulu nih bro?” Tanya Ifan.
“Emm, seperti bermain dengan nyawa seseorang mungkin?” jawab Arkana berpose seolah sedang berpikir.
“Wah kayaknya seru tuh” si A.
“Mau dong” si B.
“Gue juga mau” si C.
“Eh tunggu, bukannya tadi berenam sama Ifan?” Tanya Fero yang baru menyadari rekan tim merek kurang.
“Oh si D dan E lagi keluar beli makanan sebelum lo datang, dan juga lagi nyari tempat strategis buat buang mayat mereka” jawab Ifan dengan mengedipkan sebelah matanya.
“Ma..ma..yat, d..di.dibuang?” gumam Lucky gemetar ketakutan.
“Oh good job brother. Karena gue sayang banget sama kalian, jadi gue serahin si pemberani ini ke kalian. Buat dia menjerit memohon kematiannya” ucap Arkana dengan langtang kemudian melirik Bobby dengan tatapan mata elang yang ingin menerkam mangsanya.
“Thanks brother, kau memang yang terbaik” sahut si A dengan kegirangan.
“Bermainlah yang lembut, buat kematiannya seolah hal ternyaman yang pernah dia rasakan” ejek Arkana.
Bobby gemetar ketakutan namun ia menutupi dengan keangkuhannya, sementara Lucky terus memohon ampun pada Arkana.
“Neng maafkan abang meninggalkanmu, tolong jaga anak kita dengan baik. Maaf abang tidak bisa melihatmu untuk yang terakhir kalinya” isak batin Lucky, tanpa ia sadari air matanya menetes.
“Tuan saya mohon lepaskan saya, saya akan melakukan apa pun untuk tuan” mohon Lucky tak menyerah walaupun ia tahu itu mustahil.
“Dasar penjilat” umpat Bobby.
“Ya udah Ka, kasihan tuh dari tadi mohon-mohon dilepasin. Makanya bang, kalau nggak berani jangan jadi orang jahat” ledek si B.
Arkana dan semua teman-temannya yang ada di ruangan itu tertawa mendengarkan ejekan si B kepada Lucky. Namun beberapa saat kemudian Arkana kembali memasang wajah dingin sambil menatap ke arah Bobby.
“Bius dia, biarkan dia istirahat sejenak sebelum dia istirahat selamanya” ucap Arkana dingin.
“Oke bro” ucap si A, ia berjalan kemudian membekap mulut dan hidung Bobby.
Bobby memberontak namun apalah daya kedua tangan dan kakinya masih terikat, sementara Lucky menunduk ketakutan.
Setelah beberapa menit, Bobby kembali pingsan. Namun untuk memastikannya, si A menampar pipinya, mencubit bahkan menjambak rambutnya namun tetap tidak ada reaksi.
“Sepertinya dia sudah pingsan” ucap si B yang membantu si A.
“Ya sudah, biarkan dia istirahat sejenak” ucap Arkana dengan bibir berkedut saat melihat Lucky yang masih melamun.
Tiba-tiba Ifan dengan membawa balok berukuran besar memukul punggung Bobby.
“Biar lebih jelas, haha” ucap Ifan tertawa.
Arkana menatap Lucky yang masih melamun.
__ADS_1
“Sekarang giliranmu” ucap Arkana dengan lantang.
...🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺...