Selamanya Cinta

Selamanya Cinta
Dilema


__ADS_3

Satu minggu berlalu pasca operasi Ghaisan kini sudah diperbolehkan untuk pulang. Selama perawatannya di rumah sakit, ia semakin dekat dengan Qania, perasaannya semakin lama semakin tumbuh untuk Qania namun ia enggan untuk mengungkapkannya karena ia sadar diri bahwa Qania sudah memiliki kekasih.


“Bagaimana ini bisa terjadi pada diriku? Bagaimana bisa sesingkat ini aku jatuh cinta pada gadis remaja?” batin Ghaisan sambil menatapi Qania yang tengah berjalan sambil berbincang bersama Elin menuju mobil mereka.


Qania mencuri pandang pada Ghaisan, ia merasa bahwa sedari tadi pria itu tengah memperhatikannya. Sesaat pandangan mereka beradu.


Deg..


Entah mengapa jantung Qania berdetak tak karuan kala netra mereka saling beradu. Qania menjadi salah tingkah begitu pun dengan Ghaisan. Sementara Elin tak menyadari kedua orang disisi kanan dan kirinya tengah berbicara lewat tatapan mata.


“Ada apa dengan jantungku” batin Qania sambil memegangi dadanya.


“Mengapa gadis ini begitu menarik perhatianku?” pikir Ghaisan.


Tak lama kemudian mereka bertiga sudah berada di area parkir rumah sakit, disana sudah ada supir Elin yang menantikan mereka. Ketiganya masuk dengan Ghaisan duduk di sebelah supir dan Elin bersama Qania duduk di belakang.


Sepanjang jalan mereka mengobrol sambil bercanda, namun tetap saja Ghaisan tak lupa mencuri-curi pandang pada Qania tanpa Qania sadari.


Tak lama mereka sudah berada di depan rumah, Qania pamit untuk langsung pulang ke rumahnya. Sesampainya di rumah ia mendapati Arkana yang sudah menunggunya di depan pintu rumahnya sambil menatapnya dengan tajam.


Qania mengerti maksud tatapan itu sehingga ia segera menghampiri Arkana yang tengah tersulut emosi itu.


“Sayang kamu kapan datang?” tanya Qania sambil tersenyum manis pada Arkana.


“Aku baru saja ingin pulang” jawab Arkana ketus.


“Loh kok?” Qania heran.


“Aku sudah berjam-jam nungguin kamu disini sementara kamu sepertinya sedang sibuk bersamanya” ucap Arkana kemudian pergi berlalu.

__ADS_1


“Arkana mau kemana?” teriak Qania yang berlari menghampirinya.


“Pulang” jawab Arkana singkat.


“Kamu kenapa sih?” tanya Qania kesal.


“Entahlah, apakah ini hanya perasaanku saja atau memang angin sudah berubah arah” ucap Arkana sambil memandangi Qania lekat.


“Maksud kamu apa?” tanya Qania bingung.


“Entahlah, aku hanya merasa perahuku kini sedang berada di persimpangan. Aku ingin ke arah kanan tapi sepertinya perahuku terbawa arus hingga ia malah ke arah kiri” ucap Arkana penuh misteri.


“Aku nggak ngerti” ucap Qania kesal.


“Haruskah aku menjelaskan bahwa saat ini hatimu sedang mencari suasana baru hingga tidak sadar kamu telah membagi hatimu pada Ghaisan. Aku merasakannya Qania, bahkan aku melihat lewat tatapan matamu padanya yang tidak biasa. Tidak perlu mengelak, mungkin bagimu saat ini dialah yang terbaik lebih dari diriku” tegas Arkana.


“Air matamu tumpah tapi hati dan pikiranmu membenarkan ucapanku” ucap Arkana tersenyum kecut kemudian pergi meninggalkan Qania yang tengah mematung menunduk.


“Maaf” lirih Qania saat Arkana sudah pergi bersama motornya.


Sementara Arkana pergi dengan perasaan kecewa, bagaimana bisa Qania tidak mengejar ataupun mencegah ia pergi. Hatinya semakin sakit saat melihat respon Qania yang hanya diam saja saat ia berusaha pergi.


 


Di dalam kamarnya Qania sibuk mondar-mandir memikirkan perkataan Arkana tadi siang. Ia menjadi bingung dengan perasaannya saat ini, apakah benar apa yang di katakan oleh Arkana.


“Aku sayang kamu Arkana” lirih Qania sambil menjatuhkan dirinya di atas tempat tidur.


Tiba-tiba Qania tersentak saat mengingat bahwa Arkana pasti akan melakukan aksi nekad saat sedang kesal padanya. Apalagi yang akan Arkana lakukan kalau bukan balapan. Qania bergegas mencari ponselnya, kemudian ia segera menghubungi Arkana.

__ADS_1


“Ada apa?” tanya Arkana ketus.


“Kamu dimana?” tanya Qania panik.


“Ada apa mencariku hemm? Bukankah sudah ada dia?” tanya balik Arkana.


“Aku serius, kamu dimana?” tegas Qania.


“Di kafe” jawab Arkana singkat.


“Jemput aku sekarang” pinta Qania dengan tegas.


“Mau ngapain?” tanya Arkana malas.


“Sekarang atau tidak selamanya” ancam Qania.


“Baiklah” jawab Arkana kemudian menghembuskan napas kasar.


Setelah mematikan telepon, Qania bergegas mengganti pakaiannya, begitupun dengan Arkana yang langsung bergegas menuju ke rumah Qania menaiki motornya.


“Bro, lo mau kemana?” tanya Fero saat melihat Arkana naik ke motornya.


“Jemput Qania” jawabnya.


“Oh oke, hati-hati” pesan Fero yang dijawab anggukan oleh Arkana.


 


Arkana membelah jalan yang cukup ramai karena hari sudah menjelang malam, ia bergegas menemui Qania meskipun hatinya masih kesal. Sepanjang jalan ia hanya fokus menyetir motornya tanpa memikirkan apapun untuk diucapkan saat bertemu kekasihnya.

__ADS_1


__ADS_2