
Semua keluarga Qania melambaikan tangan saat Qania akan masuk dan melakukan penerbangan. Tangis pilu berpisah dengan Arqasa tak kuasa Qania bendung. Hanya saja anaknya yang belum mengerti apa-apa itu justru tersenyum sangat manis padanya membuat Qania merasa itu adalah cara anaknya memberinya semangat agar cepat menyelesaikan studinya dan kembali lagi untuk bersama dengannya.
Selama di dalam pesawat Qania hanya diam sambil berusaha menepis pikirannya pada anaknya karena ia teringat akan pesan mamanya.
“Jangan pikirkan anakmu, dia pasti akan merindukanmu dan akan mencarimu jika kamu terus memikirkannya. Tenanglah, ada Mama dan Papa serta mertuamu yang akan mengurus anakmu. Dia tidak akan kekuarangan apapun. Belajarlah dengan giat dan cepatlah kembali”,.
Qania menghela napas, ia kemudian mengambil ponsel yang sebelumnya sudah ia aktifkan mode penerbangan dan memasang headsetnya lalu ia mendengarkan rekaman suara Arkana yang sedang bernyanyi. Hanya itu yang bisa menghiburnya dan menemaninya saat menghadapai rasa kesepiannya.
*
Tak terasa pesawat yang Qania tumpangi sudah mendarat sempurna di landasannya di kota yang ia tuju dan akan jadi tempat tinggalnya selama kurang lebih empat tahun.
Qania berjalan dan menemui jemputan yang akan ia gunakan menuju ke hotel yang sudah mertuanya sewakan untuk beberapa hari karena Qania bersikeras untuk menyewa kamar kos daripada apartemen yang ditawarkan ketiga orang tuanya.
Mobil itu membawa Qania ke sebuah hotel berbintang yang lantainya bertingkat-tingkat itu. setelah melakukan check in Qania langsung di antar menuju ke kamarnya. Karena kelelahan Qania pun langsung tertidur tanpa mandi ataupun berganti baju dulu, kebiasaan.
*
Qania sudah bersiap untuk berangkat ke Universitas, ia tidak merasa asing dengan kota barunya ini karena dulu saat ia melakukan pertukaran mahasiswa ia kuliah di Universitas yang sama dengan yang akan ia masuki kali ini.
Qania turun dari kamarnya yang berada di lantai delapan kemudian berjalan keluar hotel untuk mencari angkutan yang akan ia gunakan untuk pergi ke kampus karena hari ini adalah hari tesnya. Tak berselang lama, taksi pun lewat dan Qania segera naik.
“Universitas GM pak” ucap Qania.
“Baik mbak” jawab supir tersebut.
Qania melihat keluar dan tersenyum karena kota ini sedikit banyak sudah berubah. Sekitar tiga tahun yang lalu ia datang ke kota ini dan sekarang ia datang lagi, tentu saja kota ini sudah ada perubahannya.
Tanpa Qania sadari, taksi sudah memasuki area kampus.
“Mbak sudah sampai” ucap supir taksi itu.
“Oh iya pak, makasih” ucap Qania kemudian memberikan uang.
“Sama-sama mbak”,.
Qania menatap gedung kampus yang tidak berubah itu, hanya tanaman saja yang semakin mempercantik lingkungan tersebut. Qania berjalan menuju ke ruang diadakan tes seleksi masuk perguruan tinggi dengan hati berdebar.
Di dalam ruangan itu ada banyak calon mahasiswa baru, Qania merasa kecil tentu saja. Bukan karena ia tidak pandai, hanya saja ia merasa mereka yang berasal dari kota yang sama tentu lebih menguasai materi untuk masuk ke Universitas.
“Huh tenang Qania, kamu pasti bisa” ucapnya berbisik pada diri sendiri.
Qania duduk di kursinya dan langsung mengisi soal yang berjumlah seratus nomor itu. ia sedikit lega karena apa yang ia pelajari dari buku-buku papanya dan mertuanya ada banyak yang keluar. Tak sampai waktu yang di tentukan Qania sudah menyelesaikannya.
“Fyuuhh, berharap bisa lulus meskipun berada di peringkat akhir” ucap Qania bernapas lega setelah keluar dari ruang ujian tersebut.
Qania melangkahkan kakinya keluar dari area kampus untuk mencari angkutan namun tak sengaja matanya melirik pada sebuah kertas yang tertempel di halte bus.
“Wah ada rumah kost murah di dekat sini. Sebaiknya aku ke alamat ini aja” ucap Qania setelah membaca kertas tersebut kemudian mengambilnya.
Qania mulai menyusuri jalan dan berhenti tepat di depan pagar besi yang tinggi seperti yang tertera di kertas tersebut.
Qania memicingkan mata melihat bangunan yang ada di depannya ini.
“Astagfirullah, ini kan rumah kost ku dulu” ucap Qania sambil menepuk jidatnya.
“Pantas saja aku nggak asing dengan jalan ini. Mungkin karena banyak yang berubah dan bertambah di kompleks sini” ucap Qania kemudian membuka gerbang di depannya tersebut.
Pandangan Qania tertuju pada wanita yang sudah berusia sekitar enam puluh tahunan yang sedang menyapu daun mangga kering di halaman rumah tersebut. Qania tersenyum kemudian berjalan ke arah wanita itu.
“Assalamu’alaikum nek Nilam” sapa Qania dengan antusias.
Nek Nilam itu menghentikan aktivitasnya kemudian melihat Qania yang berdiri di depannya.
“Wa’alaikum salam. Cari siapa nak?” tanyanya.
“Nek, ini aku Qania yang dari kota T. Aku pernah ngekos disini tiga tahun lalu loh” ucap Qania menceritakan.
Ia nampak berpikir seperti sedang mengingat sesuatu.
“Nak Qania anak ketua DPRD tampan itu?” tanyanya bersemangat.
“Yes, seratus buat nenek” ucap Qania kemudian memeluk wanita tua itu.
“Kamu apa kabarnya nak? Ada tujuan apa datang kesini?” tanya nek Nilam sambil menggandeng tangan Qania dan membawanya duduk di teras.
“Alhamdulillah kabar saya baik nek. Saya kesini untuk kuliah lagi ngambil jurusan Hukum. Oh iya saya kesini mau ngekos lagi nek, masih ada kamar kosong nggak?” tanya Qania yang ia tahu kalau rumah ini sepi dan dari brosur yang ia dapat kamar ini masih punya tiga kamar kosong yang berarti hanya ada satu orang yang menyewa kamarnya.
Qania merasa kasihan pada nek Nilam yang sudah tua ini, ia hanya mengandalkan penyewa kamar saja untuk makan sehari-harinya dan kali ini ia hanya memiliki satu penyewa kamar. Tentu saja ia saat ini sangat kekurangan. Suaminya sudah lama meninggal dan anaknya sudah menikah namun hidupnya pas-pasan juga.
“Tentu” jawabnya bersemangat.
__ADS_1
“Kamar lamamu masih kosong, ayo masuk” ajaknya.
“Asyik” sorak Qania kemudian ikut berjalan di belakang nek Nilam, ia menghapus air mata yang menetes di pipinya secepat kilat.
Nek Nilam membuka pintu kamar yang dulu Qania tempati, ia langsung mengajak Qania duduk di atas ranjang besi yang hanya bisa menampung dua orang itu.
“Masih sama ya Nek” ucap Qania.
“Tentu, kamar ini jarang di tempati karena berada di tengah. Rata-rata yang ngekos disini memilih kamar yang ada di belakang dan di depan. Katanya biar kalau pulang telat nggak ngeganggu nenek” ceritanya.
Qania tahu nek Nilam sedikit berbohong karena kamar ini sepertinya memang sudah lama tidak ada yang menyewanya. Terlihat dari sarang laba-laba dan juga debu di kamar ini.
“Kalai begitu Qania mau ngekos di kamar ini ya Nek. Tapi kali ini Qania akan tinggal kurang lebih empat tahun, nenek nggak keberatan kan lama-lama lihat wajah Qania” canda Qania namun memasang tampang memohon.
Qania melihat mata nek Nilam berbinar, dalam hati ia merasa lega.
“Tentu saja, sepuluh tahun pun Nenek nggak keberatan” jawabnya senang.
“Wah terima kasih Nek. Tapi Qania harus balik dulu mau ngambil barang-barang di hotel. Nanti sore Qania datang kesini dengan semua alat tempur Qania” kekeh Qania membuat nek Nilam ikut tertawa.
“Hahaha nak Qania selalu saja melucu. Ya sudah kamu sebaiknya cepat kembali ke hotel dan segera ambil barang-barangmu. Bair Nenek siapkan dulu kamarmu ya” ucapnya bersemangat.
“Nggak usah Nek, nanti Qania aja” tolak Qania.
“Nggak apa-apa”,.
“Hmm baiklah asal Nenek nggak capek. Qania pergi dulu ya” pamit Qania kemudian mencium tangan nek Nilam.
Nek Nilam mengantar Qania sampai di gerbang rumahnya, Qania langsung berjalan kembali ke halte bus untuk mencari taksi. Qania menyusuri jalan dan tak sengaja melihat ada kafe di dekat kampus yang menarik perhatiannya.
“Menarik” ucapnya.
Qania ingin singgah namun ia teringat akan janjinya pada nek Nilam untuk segera kembali. Untung saja saat Qania sedang memandangi kafe itu, sebuah taksi melintas di depannya sehingga dengan cepat ia mencegatnya lalu masuk dan memberikan alamat hotelnya pada si supir.
*
Qania sudah selesai mandi dan kini ia sudah bersiap dengan kopernya yang barang-barangnya masih utuh karena ia hanya mengambil dua pasang pakaian saja. Sebelum ia keluar, ia duduk di sofa dan menelepon papanya.
“Hallo Pa, Assalamu’alaikum” sapa Qania.
“Wa’alaikum salam nak. Gimana kabarmu?”,.
“Alhamdulillah baik Pa. Anak aku mana Pa?”,.
“Oh iya Pa, Qania mau ngabarin kalau Qania udah dapat tempat kost dan Papa tahu kok tempatnya”,.
“Oh ya? Dimana sayang? Aman nggak?”,.
“Itu loh Pa, tempat Qania ngekost dulu di rumah nek Nilam. Papa ingatkan?”,.
“Oh kamu ngekost disana sayang, syukurlah. Itu kan nggak jauh dari kampus ya, nanti kalau ada waktu kami akan berkunjung”,.
“Wah ide bagus pa. Hm, udah dulu ya Pa. Qania mau check out dulu, nek Nilam udah nungguin”,.
“Ya sudah, kamu hati-hati ya nak. Assalamu’alaikum”,.
“Wa’alaikum salam”,.
Qania menatap wallpaper ponselnya sebelum ia memasukkannya ke dalam tas. Ia tersenyum memandang foto anaknya yang sedang tersenyum itu.
“Sabar ya nak, Mami nggak bakalan lama kok. Ini demi kita” ucap Qania lirih kemudian berdiri dan menarik dua kopernya keluar.
Setelah melakukan check out Qania langsung mencari taksi untuk mengantarnya langsung ke rumah nek Nilam. Beruntungnya di lingkungan sekitar hotel itu banyak taksi yang berlalu lalang sehingga ia tidak perlu menunggu lama untuk mendapatkan taksi.
Taksi itu membawa Qania ke alamat yang ia berikan. Saat Qania melintas di depan kefe yang tadi menarik perhatiannya.
“Pak bisa tolong berhenti sebentar. Saya ingin masuk ke kafe dulu” ucap Qania.
“Baik mbak” jawabnya.
Hati Qania berdebar begitu memasuki halaman kafe yang halamannya cukup asri itu namun tampilan kafenya sangat modern.
“Perasaanku saja atau memang kafe ini mirip dengan kafe punya papa Setya yang di dekat taman ya?” gumam Qania sambil berjalan memasuki kafe tersebut.
Qania cukup tercengang dengan penataan di dalam kafe tersebut.
“Benar-benar mirip. Apa ini kafe milik papa?” gumam Qania yang masih tercengang.
“Permisi mbak, silahkan duduk dan mau pesan apa ya?” sapa salah satu pelayan di kafe tersebut yang terlihat masih sangat muda.
“Oh, maaf mbak. Saya hanya mau survey dulu soalnya saya baru pindah dan taksi saya sedang menunggu. Saya harus kembali dulu ke kostan saya untuk mengantar barang-barang saya dan kembali kesini. Nggak apa-apa kan mbak?” tanya Qania yang entah kenapa kata-kata seperti itu yang keluar dari mulutnya.
Kening pelayan itu mengkerut.
“Oh warga baru, emang mbak ngekost dimana?” tanyanya.
__ADS_1
“Nggak jauh dari sini di rumah nek Nilam” jawab Qania.
“Oh ya? Wah berarti kita serumah dong ya, saya juga ngekost disana” ucapnya girang.
“Wah kebetulan banget. Berarti kita bakalan berteman nih setelah ini” ucap Qania senang.
“Tentu, gue Fatmala, panggil aja Lala” ucapnya memperkenalkan diri.
“Qania. Oh ya aku balik dulu kasihan supir taksinya nungguin. Kamu belum mau pulang?” tanya Qania.
“Jam kerjaku tinggal sejam lagi. Kamu duluan aja” jawabnya.
“Oke, nanti malam kita makan disini dan aku yang traktir” ajak Qania.
“Woah hurang kaya” kekehnya.
“Nggak, anggap aja salam perkenalan” elak Qania.
“Oke, tungguin di rumah nek Nilam ya. Nggak lama lagi aku bakalan pulang” ucap Lala.
“Oke, balik dulu ya” ucap Qania kemudian meninggalkan Lala yang menatapnya dengan senyuman bahagia.
*
Qania, Lala dan nek Nilam kini sedang berjalan menuju kafe sesuai janjinya pada Lala tadi untuk mentraktir mereka makan malam di kafe. Nek Nilam awalnya menolak, namun dengan sejuta bujuk rayu Qania dan Lala akhirnya ia setuju juga.
“Oh ya Qan, kamu ngapain di kota ini?” tanya Lala sambil berjalan masuk ke kafe.
“Kuliah’ jawab Qania, matanya terus menyisir ruangan kafe tersebut.
“Mahasiswa baru?” tanya Lala lagi.
“Iya, jurusan Hukum” jawab Qania.
“Lah kok sama, tadi kamu ikutan tes juga?”,.
“Iya, wah semoga kita bakalan sekelas ya” ucap Qania senang.
“Ayo Nek, kita duduk di sana” ajak Lala menunjuk ke arah sudut kafe yang pemandangannya menuju ke taman samping yang ada kolam ikannya.
Nek Nilam hanya menurut saja, sementara Qania ia seolah sudah hapal dengan setiap sudut ruangan kafe ini. Mereka pun duduk dan salah satu pelayan pria datang memberikan buku menu. Mereka memesan makanan yang sama yaitu nasi goreng dan berbagai makanan ringan serta tiga jus mangga beserta air putihnya.
“Oh ya La, boss kamu namanya siapa?” tanya Qania.
“Oh boss kafe ini jarang datang kesini, namanya boss Tristan Anggara” jawab Lala tersenyum.
“Lah kok kamu senyum-senyum” tegur nek Nilam.
“Habis boss Lala cakep Nek” jawab Lala malu-malu.
“Oalah” kekeh nek Nilam.
‘Hmm, rupanya bukan punya papa Setya. Tapi kok sama persis ya?” batin Qania kecewa.
“Emang kenapa nanya gitu Qan?” selidik Lala.
“Nggak, aku mau lamar kerja disini” jawab Qania asal.
“Emang papamu udah bangkrut nak Qania. Bukannya papamu itu ketua DPRD dan pengusaha ya?” tanya nek Nilam kaget.
“APPAA? Wah Qania lo anak pejabat sekaligus pengusaha. Gue nggak nyangka teman gue hurang kaya” ucap Lala menggebu-gebu.
“Huss yang kaya itu orang tua aku, bukan aku” sanggah Qania.
‘Aku sebenarnya emang kaya, harta warisan papa Setya itu milikku dan anakku. Tapi apa itu perlu dalam pertemanan?’ batin Qania.
“Sama aja” ucap Lala tak mau kalah.
Nek Nilam hanya tersenyum melihat keakraban Qania dan Lala, anak kostnya yang baru tiga bulan menempati rumahnya itu. Tak lama kemudian makanan pesanan mereka datang dan mereka langsung melahapnya sambil berbincang ria tentu saja.
...🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀...
Terima kasih sudah membaca 😊😊🤗🤗
Kalau boleh tinggalkan jejak, like, komen, rate. Tenang author nggak minta divote🤣🤣 Tapi kalau mau author sangat berterima kasih 😊😊😊
🥀Cari author di social media
_Fb : Vicka Villya Ramadhani
_IG : Vivillya
__ADS_1