
“Saya.”
Qania tersentak kaget. Ia mulai menerka-nerka siapa orang ini. Suaranya berasal dari sebelah kanan dan suara itu bahkan terdengar asing di telinga Qania. Akhirnya karena penasaran, Qania pun menoleh. Ia mengernyit saat melihat sosok pemuda yang berumur sekitar tiga puluhan dengan wajah tampan dan tegas serta memakai pakaian santai pula sedang tersenyum lembut padanya.
“Siapa?” tanya Qania memastikan. Bahkan ia terus mengingat wajah itu, namun sama sekali tidak bisa ia ingat siapa pemilik wajah itu.
“Tidak usah dipaksakan. Kau tidak akan mengingat siapa saya karena kita bukanlah dua orang yang saling mengenal, Qania,” ucapnya dengan lembut dan terdengar begitu ramah di telinga Qania.
Qania sedikit tersentak, pria itu bisa mengetahui apa yang sedang ia pikirkan. “Hehehe, tapi Anda mengenal saya,” ucap Qania namun pria itu hanya tersenyum tipis kemudian mengangguk pelan.
“Boleh kita bicara sebentar?” tanyanya, kali ini suara itu terdengar tegas.
“Tentu saja, kemarilah. Bukankah Anda sudah mengkonfirmasi pada Arjuna Wilanata atas kedatangan Anda,” gurau Qania membuat pria itu sedikit terkekeh.
“Benar sekali,” ucapnya kemudian mendekat.
Qania menggeser duduknya ke samping kiri, membiarkan pria tersebut duduk di sisi kanan. Dengan mendengar dan menatap wajah pria itu saja Qania langsung bisa melihat orang ini sepertinya sangat berwibawa dan cukup disegani sehingga Qania berbicara formal dengannya.
“Jadi—“
“Nama, alamat, tempat tanggal lahir, pekerjaan, status?” potong Qania cepat membuat pria tersebut tertawa.
“Nggak sekalian NIK-nya?” guraunya.
“Boleh kalau bisa,” timpal Qania.
Keduanya pun tertawa dan terlihat seperti bukan dua orang asing. Sangat terlihat mereka begitu akrab, bak kawan lama yang baru berjumpa setelah sekian lama.
“Maaf, tapi saya tidak bisa menyebutkan nama saya. Nanti kau akan mendapatkan jawabanmu. Dan bisa dipastikan dalam waktu dekat kau bisa mengenaliku,” ucapnya dengan tenang.
“Oh ayolah, kenapa hari ini sepertinya semua orang ingin main tebak-tebakan denganku sih?” keluh Qania.
“Mungkin kamu orangnya cerdas sehingga hari ini orang-orang itu ingin kau menggunakan otak cerdasmu itu,” ucapnya.
Dan orang-orang itu termasuk dirimu, gerutu Qania dalam hati.
“Ya, memang saya salah satu dari orang-orang yang saya maksud itu,” ucap pria tersebut kembali membuat Qania syok.
__ADS_1
“Ah, sudahlah. Kau bisa menebak apa yang aku pikirkan. Sekarang katakan, Anda ingin bicara apa dengan saya?” tanya Qania yang sudah pasrah pada hasil tebakan pria tersebut.
“Sangat bijak. Baikah, pertama-tama saya ingin mengucapkan terima kasih padamu. Atas jasa mu yang membuat saya jadi seperti sekarang ini. Saya sangat tenang dan lega karena berkat bantuanmu akhirnya apa yang menjadi bebanku selama ini terselesaikan. Kau sangat hebat. Saya sangat berterima kasih atas bantuanmu itu. Kini perasaanku menjadi bebas, rasanya sedang merayakan tujuh belas Agustus tahun empat lima,” ucapnya sambil menatap berbinar pada Qania yang tengah terbengang karena tak tahu apa yang sedang orang ini bicarakan.
“Jasa? Saya bahkan tidak mengenal Anda. Bagaimana bisa saya berjasa pada kehidupan Anda,” sanggh Qania.
Pria itu tersenyum tipis, “Kau akan tahu. Akan kau ketaui dalam waktu dekat ini. Jangan lupa akan pertemuan kita hari ini jika kau sudah berhasil melakukannya. Saat kau mengingat kejadian hari ini maka itu adalah tanda ucapan terima kasih dariku. Kita mungkin tidak akan bertemu lagi, jadi ucapan terima kasihku datang hari ini,” ucapnya tulus sambil menatap lekat kedua netra Qania yang terlihat sangat bingung.
“Aku semakin tidak mengerti,” gumam Qania.
“Kau akan mengerti. Hari semakin senja, kau tidak bisa tinggal lebih lama disini,” ucapnya mengalihkan pandangannya pada langit yang mulai terlihat berwarna jingga.
“Ya, benar aku ingin pulang. Kenapa kalian menculikku ke tempat seindah ini?” tanya Qania diselingi candaan.
Lagi, ia hanya menjawab ucapan Qania dengan senyuman tipisnya. “Yang kedua saya ingin berterima kasih juga padamu karena sudah memberikan sedikit kebahagiaan pada seseorang meskipun hanya sesaat. Terima kasih karena sudah membiarkan dirimu sakit demi kebahagiaan singkat seseorang. Saya tidak bisa berkata apa-apa lagi selain ucapan terima kasih.” Ucapnya lirih membuat hati Qania sedikit tersentuh.
Padahal saat ini Qania kembali berperang dingin dengan otaknya, mencoba mencari tahu kebaikan yang ia lakukan untuk kebahagiaan singkat seseorang. Namun Qania memutuskan untuk menyimpan pikirannya ini,, nantilah akan ia pikirkan kembali saat sudah kembali ke rumah.
“Yang ketiga, saya ingin memohon maaf karena sudah membuatmu kesakitan. Maafkan saya Qania. Harusnya semua ini bisa dicegah namun ketidakberdayaan saya membuatmu dan banyak orang di sekitarmu menjadi terluka. Maafkan saya, harusnya semuanya tidak berjalan seperti ini. Yang seharusnya berjalan dengan mulus justru malah berbalik arah bahkan membuat kehidupanmu melintang seperti ini. Semua kesalahan ada pada saya, semoga setelah hari itu tiba kau juga bisa memaafkan saya. Maafkan ketidakmampuanku untuk mencegah masalah besar itu. Tolong sampaikan maafku pada semua orang di sekitarmu.” Ucapnya terisak. Qania bahkan terkejut pria ini sedang menahan tangis di sampingnya.
“Aku tidak paham dengan apa yang sedari tadi Anda katakan. Tapi dari hati saya yang terdalam, saya tulus dan ikhlas memaafkan Anda. Ah aku jadi penasaran kesalahan besar apa yang sudah Anda lakukan itu dan kebaikan apa yang sudah saya lakukan terhadap anda,” ucap Qania berusaha menyikapi ucapan pria di sampingnya ini.
Qania tersadar bahwa ucapan pria di sampingnya ini sama persis seperti yang tadi dikatakan oleh Arkana. Tapi maksudnya apa coba? Pikir Qania.
“Jangan pikirkan disini, sekarang waktunya kamu kembali,” ucap pria tersebut membuyarkan lamunan Qania.
“Ahh … sudah waktunya kembali ya. Ya sudah, dimana jalan keluarnya?” ucap Qania setelah beberapa kali menghembuskan napas untuk menstabilkan perasaannya yang semakin tidak karu-karuan yang disebabkan oleh ketiga pria yang datang menemuinya hari ini di tempat yang sama.
Tiba-tiba saja Qania bersedih, dalam benaknya ia bertanya-tanya kenapa dua pria ini datang dan duduk bersamanya. Bisa mengobrol dengan leluasa sementara Arkana-nya bahkan tak bisa ia lihat.
“Sekarang berjalanlah ke arah timur. Kau akan menemukan dua batang pohon yang sama dan hanya dua pohon itu yang berada di tempat ini. Berjalanlah di antara pohon tersebut, maka kau akan kembali ke tempat semula sebelum kau datang ke tempat ini,” ucapnya memberi arahan dan Qania hanya mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Baik, terima kasih. Aku pasti akan mengingatmu, aku sudah merekam wajahmu di dalam ingatanku. Sampai jumpa lagi, aku pamit ya,” ucap Qania seraya berdiri kemudian berjalan ke arah yang dimaksud oleh pria tersebut.
Tak sampai lima menit, Qania sudah menemukan pohon yang dimaksud. “Akhirnya bisa kembali juga,” gumam Qania.
Namun, baru saja Qania menapaki kakinya sejauh lima langkah dari pohon tersebut justru ia malah terperosok masuk ke dalam jurang.
__ADS_1
“Aaaaaa … tolooooonnggg!!” teriak Qania.
. . .
“Aaaaaaa … toloooonggg!!”
Syaquile mengguncang-guncangkan tubuh Qania. Kakaknya sudah sangat berisik dengan berteriak di dalam pesawat. Parahnya lagi, mereka semua menatap ke arahnya. Hal tersebut semakin membuat Syaquile malu.
“Kak bangun dong ih,” gerutu Syaquile masih terus mengguncnag tubuh Kakak-nya. “Duh, Kakak mimpi apa lagi sih? Jangan-jangan mimpiin tentang pesawat ini akan jatuh. Waah, kalau seperti itu nggak bisa dibiarin dong,” ucap Syaquile sambil memikirkan teriakan Kakak-nya tanpa peduli bahwa saat ini dahi Qania sudah mengeluarkan keringat sebesar biji jagung.
Suara Qania semakin melirih hingga akhirnya tak terdengar lagi dan itu membuat Syaquile merasa lega.
“Mimpi apa sih Kak, kenapa sampai berteriak seperti ini?” gumam Syaquile sambil terus menatap wajah sang Kakak yang kini terlihat kembali tenang.
Tak lama berselang, pesawat yang mereka tumpangi sudah mendarat di bandara kota Y. Syaquile pun membangunkan Qania yang sampai saat ini masih sangat nyenyak.
“Kak, bangun Kak. Kita udah nyampe nih,” ucap Syaquile untuk yang ke sekian kalinya.
Akhirnya setelah lama menunggu, Qania pun mulai mengerjapkan matanya. Setelah terbuka sempurna kedua mata indah itu pun mulai mengedar mencoba mengenali tempatnya saat ini.
“Kita masig di pesawat Dek?” tanya Qania setelah mengumpulkan kembali kesadarannya.
“Ya iyalah Kak. Kakak dari tadi tidur atau pingsan sih? Susah banget di banguninnya. Aku juga sampai malu karena tadi Kakak ngigau sambil teriak-teriak,”keluh Syaquile sambil membantu Kakak-nya berdiri.
“Ngigau?” beo Qania. Berarti tadi aku cuma mimpi,lanjut Qania dalam hati.
“Iya. Kakak teriak-teriak minta tolong. Emang Kakak mimpi apa?” tanya Syaquile.
Kakak beradik itu kini tengah menuruni tangga pesawat.
“Oh itu. Nanti Kakak ceritain sedetailnya ya saat di kostan. Oh iya Dek, tadi Kakak mimpi Kakak jatuh ke dalam jurang. Tapi anehnya Kakak justru terangkut di sebuah akar pohon yang besar dan disana Kakak bertemu dengan seorang anak kecil berusia sekitar tiga tahun. Dia sangat cantik dan wajahnya sangat familiar. Dia yang bantuin Kakak tadi. Dan waktu Kakak bertanya siapa namanya, eh dia malam bilang namanya Queen tapi itu tergantung Kakak yang menamainya. Dan katanya lagi nama Queen itu dari Kakak. Aneh, kan?” cerita Qania.
“Namanya juga mimpi Kak, nggak ada yang nggak aneh kalau soal mimpi. Mendingan sekarang kita ke depan. Tadi aku udah mesan taksi online juga,
“Ya sudah,” ucap Qania pasrah. Intinya ia akan mengungkap dan mencari jawaban atas begitu banyaknya teka-teki yang ia dapatkan hari ini setelah ia sudah sampai di kostnya
...🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃....
__ADS_1