
“pak apakah kita kembali kekantor?” tanya Faris yang
sudah duduk didepan untuk mengemudi.
“tidak usah , biar aku antar kamu pulang. Persiapkan
kebutuhan kita selama disana, kita akan berangkat nanti malam” sahut Sastra
yang sudah duduk disebelah Faris.
“saya bisa naik taksi tuan” lirih Faris merasa tidak
enak harus diantar oleh bosnya.
“tidak ada bantahan, ayo segera berangkat” perintah
Sastra.
Selama di mobil Sastra mencoba mengenal asistennya
lebih dalam, meskipun papanya sudah memberitahu tentang asistennya itu namun
Sastra ingin mendengar secara langsung dari mulut asistennya. Dengan begini
kecanggungan antara mereka tidak akan terjadi lagi.
Faris adalah anak dari sahabat Bagas semasa kecil.
Bagas menemukan Faris 10 tahun yang lalu
ditepi jalan raya dengan kondisi mengenaskan. Melihat kondisi anak itu, hati
bagas tergerak untuk mengulurkan bantuannya.
Bagas mengajak Faris ke sebuah restoran mewah untuk
makan karna kondisi Faris terlihat sangat kelaparan. Bibirnya kering dan
wajahnya yang sangat lesu.
“makanlah, kamu bisa menghabiskan semua makanan yang
ada di meja” sujar Bagas
Melihat makanan yang begitu menggiurkan Faris segera
melahapnya. Faris seperti orang yang sudah tidak makan selama seminggu. Melihat
cara makan Faris, Bagas yakin Faris tidak berasal dari keluarga yang biasa
saja. Faris sangat fasih menggunakan peralatan makan yang mewah khusus untuk
oran-orang kaya.
Setelah Faris selesai makan, Bagas menanyakan
bagaimana kondisi Faris bisa seperti ini.
Faris menarik napasnya dalam-dalam, seolah berat
untuk menceritakan kisah hidupnya:
Dua minggu yang lalu ayah, ibu dan keduan
adikku meninggal dalam sebuah kecelakaan tunggal ketika mereka sedang
melaksanakan perjalanan bisnis ke Bandung. Dulu ayah dan ibuku mengelola usaha properti yang sudah lumayan berkembang.
__ADS_1
Aku juga memiliki dua orang adik laki-laki, namun mereka meninggal dalam
insiden kecelakaan tersebut. Sepeninggalan ayah dan ibuku, keluarga dari pihak
mama dan papa bertengkar hebat memperebutkan harta warisan. Mereka sibuk berdiskusi
membagikan harta yang ditinggalkan oleh ayah dan ibuku, aku merasa sangat sedih
bahkan kuburan ayah, ibu dan juga adikku belum kering tapi dengan santainya
paman dan bibiku meributkan harta warisan. Tidakkak mereka memikirkan
perasaaanku? Aku hanya menangis dan mengurung diri di dalam kamar ayah dan
ibuku, aku menangis sejadi-jadinya
bingung dengan situasi yang kualami.
Diusiaku yang masih 15 tahun, emosiku masih
sangat labil dan aku sangt terguncang. Aku tidak memiliki tujuan hidup, aku
meninggalkan sekolahku aku hanya duduk di tepi makam keluargaku. Apalagi tiga
hari setelah kematian ayah, ibu dan
adikku keluarga ku meninggalkanku dengan hanya memberiku uang 500 ribu. Pekerja
yang biasanya bekerja dirumahku pun sudah diberhentikan oleh paman dan bibiku.
Makin hari uang peganganku makin menipis, hingga pada minggu kedua aku
dikejutkan dengan kedatanagn dept colector kerumah. Mereka menyita
barang-barang dan juga rumah kami, mereka mengatakan bahwa rumah dan seluruh
gelandangan sampai Bagas menemukannya.
Bagas menitikkan air mata mendengar kisah anak yang
baru ditemuinya, setelah itu Bagas berjanji akan membantu anak itu. Bagas
menceritakan kondisi anak itu kepada istrinya dan mereka berniat untuk membawa
anak itu kerumah mereka, namun Faris menolak tidak ingin merepotkan Bagas
terlalu jauh.
Bagas dan Lisa hanya bisa pasrah mendengar keputusan
Faris, mereka pun membiarkan Faris hidup sendirian dirumah sederhana yang sudah
disediakan Bagas untuknya. Bagas membiayai hidup Faris dan menyekolahkannya
hingga kuliah. Setelah lulus Kuliah Bagas menarik Faris ke perusahaan miliknya
dan menjadikannya sebagai asisten.
“ini tempat tinggal saya pak, silahkan mampir dulu”
ajak Faris
Sastra memasuki rumah sederhana itu, terlihat
sederhana namun terasa nyaman untuk ditempati.
“Pak Bagas memberikan rumah ini untuk kutinggali
__ADS_1
ketika aku masih berusia 14 tahun, aku tinggal berdua dengan Bik minah disini.
Bik Minah itu asisten ramah tangga yang dikirim oleh pak Bagas dan Buk Lisa
untuk mengurus keperluanku. Bik Minah sudah seperti orang tua bagiku, hanya bik
Minah yang kumiliki ddidunia ini selain keluarga pak bagas.” Terang Faris
ketika dia sudah berada diruang tamu bersama dengan Sastra.
“apakah kamu pernah bertemu bibimu setelah kematian
orang tuamu? Tanya Ssatra penasaran.
“aku tidak pernah menemui mereka dan mereka
sepertinya tidak mencariku sama sekali. Aku sangat bersyukur dipertemukan
dengan keluarga tuan” lirih Faris.
“apakah kecelakaan yang dialami orang tuamu memang
murni kecelakaaan? Maksudku bisa saja kan kecelakaan itu sudah direncanakan?”
tanya Sastra dengan hati-hati
“aku pun sempat berpikiran seperti itu, namun polisi
mengatakan memang ini murni kecelakaan, karna memang ditemukan rem mobil yang
dipakai ayahku blong. aku juga sempat
mendatangi kantor papaku dulu untuk menanyakan kejanggalan itu kepada sopir
pribadi papa, karna setau aku sopir pribadi papa sanagt rutin melakukan servis
mobil”
“setelah aku tiba disana satpam mengusirku dan
mengatakan bahwa sopir ayah sudah berhenti bekerja setelah kematian ayahku. Aku
juga berusaha mencari sopir itu bermodalkan alamat yang kuperolah namun
tetangganya mengatakan mereka sudah pindah tepat dua hari sebelum kematian
ayahku, sejak saat itu aku tidak berusaha mencari kebenarannya lagi. Aku
mengikhlaskan semuanya dan mencoba menjalani hidup sebagaimana mestinya “
terang Faris panjang lebar.
Sastra yang mendengar cerita asistennya itu merasa
prihatin dan juga bersyukur papanya menolongnya. Sastra juga bersyukur Tuhan
memberi dia keluarga yang utuh dan harmonis meskipun kadang merasa kesepian
karna dia adalah seorang anak tunggal, papa dan mamanya pun anak tunggal, tapi
setidaknya dia bersyukur hidupnya masih jauh ke bih beruntung dibandingkan
dengan hidup Faris.
Sastra pun pamit meninggalkan Faris dikediamannya,
dia segera meluncur menuju rumahnya dia sangat ingin bertemu papa dan mamanya
__ADS_1
dan memeluknya mengungkapkan rasa terimakasih yang amat dalam atas cinta kasih
orang tuanya.