Selamanya Cinta

Selamanya Cinta
bab 4


__ADS_3

“pak apakah kita kembali kekantor?” tanya Faris yang


sudah duduk didepan untuk mengemudi.


“tidak usah , biar aku antar kamu pulang. Persiapkan


kebutuhan kita selama disana, kita akan berangkat nanti malam” sahut Sastra


yang sudah duduk disebelah Faris.


“saya bisa naik taksi tuan” lirih Faris merasa tidak


enak harus diantar oleh bosnya.


“tidak ada bantahan, ayo segera berangkat” perintah


Sastra.


Selama di mobil Sastra mencoba mengenal asistennya


lebih dalam, meskipun papanya sudah memberitahu tentang asistennya itu namun


Sastra ingin mendengar secara langsung dari mulut asistennya. Dengan begini


kecanggungan antara mereka tidak akan terjadi lagi.


Faris adalah anak dari sahabat Bagas semasa kecil.


Bagas menemukan Faris 10  tahun yang lalu


ditepi jalan raya dengan kondisi mengenaskan. Melihat kondisi anak itu, hati


bagas tergerak untuk mengulurkan bantuannya.


Bagas mengajak Faris ke sebuah restoran mewah untuk


makan karna kondisi Faris terlihat sangat kelaparan. Bibirnya kering dan


wajahnya yang sangat lesu.


“makanlah, kamu bisa menghabiskan semua makanan yang


ada di meja” sujar Bagas


Melihat makanan yang begitu menggiurkan Faris segera


melahapnya. Faris seperti orang yang sudah tidak makan selama seminggu. Melihat


cara makan Faris, Bagas yakin Faris tidak berasal dari keluarga yang biasa


saja. Faris sangat fasih menggunakan peralatan makan yang mewah khusus untuk


oran-orang kaya.


Setelah Faris selesai makan, Bagas menanyakan


bagaimana kondisi Faris bisa seperti ini.


Faris menarik napasnya dalam-dalam, seolah berat


untuk menceritakan kisah hidupnya:


Dua minggu yang lalu  ayah, ibu dan keduan


adikku meninggal dalam sebuah kecelakaan tunggal ketika mereka sedang


melaksanakan perjalanan bisnis ke Bandung. Dulu  ayah dan ibuku mengelola usaha properti yang sudah lumayan berkembang.

__ADS_1


Aku juga memiliki dua orang adik laki-laki, namun mereka meninggal dalam


insiden kecelakaan tersebut. Sepeninggalan ayah dan ibuku, keluarga dari pihak


mama dan papa bertengkar hebat memperebutkan harta warisan. Mereka sibuk berdiskusi


membagikan harta yang ditinggalkan oleh ayah dan ibuku, aku merasa sangat sedih


bahkan kuburan ayah, ibu dan juga adikku belum kering tapi dengan santainya


paman dan bibiku meributkan harta warisan. Tidakkak mereka memikirkan


perasaaanku? Aku hanya menangis dan mengurung diri di dalam kamar ayah dan


ibuku,  aku menangis sejadi-jadinya


bingung dengan situasi yang kualami.


Diusiaku  yang masih 15  tahun, emosiku masih


sangat labil dan aku sangt terguncang. Aku tidak memiliki tujuan hidup, aku


meninggalkan sekolahku aku hanya duduk di tepi makam keluargaku. Apalagi tiga


hari  setelah kematian ayah, ibu dan


adikku keluarga ku meninggalkanku dengan hanya memberiku uang 500 ribu. Pekerja


yang biasanya bekerja dirumahku pun sudah diberhentikan oleh paman dan bibiku.


Makin hari uang peganganku makin menipis, hingga pada minggu kedua aku


dikejutkan dengan kedatanagn dept colector kerumah. Mereka menyita


barang-barang dan juga rumah kami, mereka mengatakan bahwa rumah dan seluruh


gelandangan sampai Bagas menemukannya.


Bagas menitikkan air mata mendengar kisah anak yang


baru ditemuinya, setelah itu Bagas berjanji akan membantu anak itu. Bagas


menceritakan kondisi anak itu kepada istrinya dan mereka berniat untuk membawa


anak itu kerumah mereka, namun Faris menolak tidak ingin merepotkan Bagas


terlalu jauh.


Bagas dan Lisa hanya bisa pasrah mendengar keputusan


Faris, mereka pun membiarkan Faris hidup sendirian dirumah sederhana yang sudah


disediakan Bagas untuknya. Bagas membiayai hidup Faris dan menyekolahkannya


hingga kuliah. Setelah lulus Kuliah Bagas menarik Faris ke perusahaan miliknya


dan menjadikannya sebagai asisten.


“ini tempat tinggal saya pak, silahkan mampir dulu”


ajak Faris


Sastra memasuki rumah sederhana itu, terlihat


sederhana namun terasa nyaman untuk ditempati.


“Pak Bagas memberikan rumah ini untuk kutinggali

__ADS_1


ketika aku masih berusia 14 tahun, aku tinggal berdua dengan Bik minah disini.


Bik Minah itu asisten ramah tangga yang dikirim oleh pak Bagas dan Buk Lisa


untuk mengurus keperluanku. Bik Minah sudah seperti orang tua bagiku, hanya bik


Minah yang kumiliki ddidunia ini selain keluarga pak bagas.” Terang Faris


ketika dia sudah berada diruang tamu bersama dengan Sastra.


“apakah kamu pernah bertemu bibimu setelah kematian


orang tuamu? Tanya Ssatra penasaran.


“aku tidak pernah menemui mereka dan mereka


sepertinya tidak mencariku sama sekali. Aku sangat bersyukur dipertemukan


dengan keluarga tuan” lirih Faris.


“apakah kecelakaan yang dialami orang tuamu memang


murni kecelakaaan? Maksudku bisa saja kan kecelakaan itu sudah direncanakan?”


tanya Sastra dengan hati-hati


“aku pun sempat berpikiran seperti itu, namun polisi


mengatakan memang ini murni kecelakaan, karna memang ditemukan rem mobil yang


dipakai ayahku blong.  aku juga sempat


mendatangi kantor papaku dulu untuk menanyakan kejanggalan itu kepada sopir


pribadi papa, karna setau aku sopir pribadi papa sanagt rutin melakukan servis


mobil”


“setelah aku tiba disana satpam mengusirku dan


mengatakan bahwa sopir ayah sudah berhenti bekerja setelah kematian ayahku. Aku


juga berusaha mencari sopir itu bermodalkan alamat yang kuperolah namun


tetangganya mengatakan mereka sudah pindah tepat dua hari sebelum kematian


ayahku, sejak saat itu aku tidak berusaha mencari kebenarannya lagi. Aku


mengikhlaskan semuanya dan mencoba menjalani hidup sebagaimana mestinya “


terang Faris panjang lebar.


Sastra yang mendengar cerita asistennya itu merasa


prihatin dan juga bersyukur papanya menolongnya. Sastra juga bersyukur Tuhan


memberi dia keluarga yang utuh dan harmonis meskipun kadang merasa kesepian


karna dia adalah seorang anak tunggal, papa dan mamanya pun anak tunggal, tapi


setidaknya dia bersyukur hidupnya masih jauh ke bih beruntung dibandingkan


dengan hidup Faris.


Sastra pun pamit meninggalkan Faris dikediamannya,


dia segera meluncur menuju rumahnya dia sangat ingin bertemu papa dan mamanya

__ADS_1


dan memeluknya mengungkapkan rasa terimakasih yang amat dalam atas cinta kasih


orang tuanya.


__ADS_2