
Arkana berjalan menuju pintu samping dan benar saja di sana sudah ada bi Eti yang menunggunya. Bi Eti langsung menuntunnya menuju ke kamar yang sudah ia persiapkan dan setelah itu ia pergi untuk mengambil pakaian seperti yang nyonya nya katakan tadi.
Sementara kini Qania dan mamanya tengah duduk di ruang tamu. Alisha menikmati cokelat panasnya yang baru saja di antarkan oleh bi Eti setelah mengurus keperluan Arkana. Namun Qania justru menatap kesal ke arah mamanya.
"Arkana mana ma?" tanya Qania yang sudah cukup kesal karena mamanya terlihat begitu santai.
"Nggak tahu tuh, mungkin udah pulang" jawab mamanya santai.
"Ih mama ngeselin deh" Qania mengerucutkan bibirnya.
"Yang ada si Arkana itu yang ngeselin" balas mamanya.
"Iya tapi aku harus bicara ma sama Arkana. Masa sih mama yang ngambil keputusan sepihak tadi pagi tanpa nanyain pendapat aku" keluh Qania.
"Aku ini mama kamu dan mama paling tahu yang terbaik buat anak mama" tegas Alisha.
"Ya aku tahu soal itu ma, aku tahu orang tua selalu ingin yang terbaik untuk anaknya, tapi ini menyangkut hati ma, masalah perasaan Qania" sanggahnya.
"Perasaan kamu itu masih labil sayang, kamu belum bisa menentukan mana yang baik dan tidak baik buat kamu" lagi-lagi mamanya mematahkan argumen Qania.
"Ma, Qania sayang ma sama Arkana" rengeknya.
"Ya dan mama sayang sama kamu nak" ujar Alisha menatap Qania intens.
"Aku tahu dengan sadar kalau mama sayang aku, aku kan anak mama. Nggak mungkin mama nggak sayang sama aku sedangkan mama berjuang untuk lahirin aku" tegas Qania.
"Nah itu kamu tahu, makanya kamu harus nurut sama mama dan jadilah anak yang baik" tukas mamanya.
"Tapi ma, bali lagi ini masalah hati ma masalah perasaan. Qania sangat sayang pada Arkana ma, tolonglah izinin Qania untuk menemui Arkana" mohon Qania.
"Untuk apa? Untuk di perlakukan seperti itu lagi dan disakiti lagi? Kamu terlalu naif sayang" ucap mamanya sambil menatap sinis kearah Qania.
"Mama nggak ngerti" lirih Qania.
"Apa yang mama nggak ngerti dari kamu hah? Mama itu hanya mencegah kamu dari hal berbahaya yang bernama patah hati itu. Terakhir kali mama melihat kamu patah hati sama mantanmu yang brengsek itu, mama benar-benar trauma" ungkap mamanya sambil memijat keningnya.
"Tapi Arkana beda ma, jangan disamain dengan dia itu" bantah Qania.
"Bedanya Arkana jauh lebih menyakitkan, memutuskan untuk membatalkan pertunangan hanya karena rasa curiga dan cemburu" sahut mamanya tak mau kalah.
"Mamaaaa... Aku saja ngerti dengan perasaan Arkana" jerit Qania semakin kesal.
__ADS_1
"Kamu begitu cintanya sama Arkana" ucap mamanya sambil geleng-geleng kepala.
"Ini mungkin ikatan batin yang mama ciptain sama tante Ayu waktu kami masih dalam kandungan" gumam Qania yang masih dapat di dengar oleh mamanya.
"Dasar budak cinta" cibir sang mama.
Tak ada kata lagi yang bisa Qania keluarkan untuk membantah mamanya, semuanya di patahkan oleh mamanya dan tidak ada satupun yang mamanya katakan itu bertentangan karena bagi Qania semua ucapan mamanya memanglah benar.
......
Sementara Arkana yang berada di dalam kamar tamu yang begitu dekat dengan ruang tamu itu begitu terharu mendengar obrolan Qania dan mamanya yang begitu membelanya.
"Maaf aku tidak sadar selama ini jika kamu begitu mencintaiku. Bahkan kamu sampai rela berdebat dengan mamamu hanya untuk membelaku dan hubungan kita. Bodohnya aku jika melepaskanmu Qania" ucap Arkana yang merutuki dirinya sendiri.
Setelah berganti pakaian Arkana memutuskan untuk segera keluar dan menemui Qania beserta mamanya di ruang tamu.
"Tante Al, Qania" sapa Arkana yang kini sudah berada dekat dengan mereka.
Qania menoleh karena ia hafal betul jika suara yang memanggilnya dari dalam rumahnya itu adalah suara Arkana.
"Arkana, sejak kapan kamu berada disitu?" tanya Qania yang menatap Arkana dengan matanya yang membulat.
"Cukup lama untuk mendengarkan kamu membelaku dan hubungan kita di depan mamamu" jawab Arkana dengan lirih.
"Hmm kemari Arkana, katanya kamu ingin bicara" panggil Alisha.
Arkana berjalan dengan ragu-ragu kemudian duduk di sebelah Qania.
"Bicaralah" ujar Alisha.
"Hmm" Arkana menarik napas panjang lalu menghembuskannya perlahan. "Qania, aku tahu aku begitu egois dan selalu bertindak semauku disaat aku sedang kesal dan cemburu. Aku begitu naif, aku menyadari tindakanku ini sudah salah dan tanpa memikirkan perasaanmu. Kamu tahu aku begitu mencintaimu dan takut kehilanganmu, namun tanpa sadar akulah yang membuat kamu pergi dariku karena sikapku. Aku hanya takut semua hal buruk yang ada di benakku itu terjadi dan aku terlalu mencintaimu sehingga aku sangat takut kehilanganmu. Aku mohon maafkan aku" ungkap Arkana sambil sesekali menatap Qania dan mamanya bergantian.
"Kau terlalu banyak bicara, aku bingung mendengarkanmu" ucap Qania namun dalam hati ia begitu melambung tinggi.
"Aku bersungguh-sungguh dengan semua ucapanku Qania, tidak bisakah kamu melihat hanya ada cinta untukmu di mataku?" tanya Arkana penuh penekanan.
"Disana tidak ada cinta, hanya ada rasa cemburu dan keegoisan" jawab Qania.
"Aku tahu aku salah dan aku menyadari kesalahanku itu, aku memohon maafkan aku" pinta Arkana.
"Ini nih yang aku nggak suka, kamu pemaksa" ujar Qania.
__ADS_1
Arkana terdiam menyadari bahwa benar kalau dirinya memanglah seorang yang suka memaksakan kehendaknya.
"Bagus Qania, bersikaplah keras dulu. Meskipun mama tahu saat ini hatimu sudah luluh" batin Alisha.
"Kamu tahu Arkana, kamu itu laki-laki paling menyebalkan, paling egois dan paling suka seenaknya. Dan satu hal lagi, kamu tidak pernah berpikir panjang dan langsung memutuskan sesuatu tanpa memikirkan dampaknya. Aku benci hal seperti itu" tegas Qania.
"Aku tahu" lirih Arkana.
"Kalau kamu tahu kamu harusnya ngaca dan sadari, sikapmu sendirilah yang selalu membuatmu hancur" lanjut Qania.
"Aku janji akan merubah semuanya" tutur Arkana.
"Jangan suka mengumbar janji yang nantinya akan kamu ingkari" ketus Qania.
"Lalu aku harus apa untuk bisa mendapatkan kembali maafmu Qania dan bisa memperbaiki hubungan yang sudah aku rusak ini?" tanya Arkana mulai putus asa.
"Entahlah, aku pun tidak tahu" desah Qania.
Keduanya pun terdiam, tenggelam dalam pikirannya masing-masing.
"Ehemm" deheman Alisha membuat keduanya kembali tersadar.
"Saya tahu kalian berdua saling mencintai dan tidak ingin berpisah. Saya paham betul kalau kamu Arkana, kamu begitu mencintai anak saya sehingga sedikit saja dia menyinggung pria lain kamu langsung terbakar cemburu. Dan kamu Qania, mama tahu kamu juga sangat mencintai Arkana, dan mama rasa kamu lebih tahu dia di bandingkan mama, rasanya kamu juga harus menjaga perasaannya karena kamu tahu dia seperti apa. Kalian saling mengetahui apa yang kalian sukai dan tidak sukai, lalu kenapa kalian tidak bisa menahan diri dan saling mengerti perasaan masing-masing. Mama rasa kalian sudah cukup dewasa untuk saling mengerti pasangan kalian tanpa harus ribut seperti ini" nasihat Alisha, ia berharap agar keduanya bisa mencerna perkataannya barusan.
"Arkana paham tante, Arkana minta maaf dan akan berusaha mengubah hal buruk dari Arkana dan mengerti dengan perasaan Qania. Apa yang Qania sukai dan tidak sukai akan Arkana mengerti" ucap Arkana bersungguh-sungguh.
"Qania juga minta maaf, seharusnya Qania tidak membuat Arkana kesal padahal Qania tahu Arkana orangnya seperti apa. Qania mengaku salah" tutur Qania.
"Jadi kalian berdua sudah mengerti?" tanya Alisha.
Keduanya pun mengangguk membuat Alisha menghembuskan napas lega.
"Apakah nanti dengan cara seperti ini baru kalian berdua sadar hah?" tanya Alisha dengan raut wajah kesal namun setelahnya ada senyum lega tergambar di wajahnya.
"Maaf" ucap keduanya bersamaan.
"Ya sudah, mama tinggal dulu dan kalian selesaikan urusan kalian. Satu kali lagi ini terjadi, tidak ada toleransi dari mama" ucap Alisha memperingatkan.
"Baik" jawab keduanya kompak.
"Ya sudah mama masuk dulu" pamit Alisha yang langsung berdiri lalu pergi meninggalkan pasangan kekasih itu.
__ADS_1
__________