Selamanya Cinta

Selamanya Cinta
Sidang


__ADS_3

Sedih itu kalo sa tra dengan ko


Jang tanyakan sa pu rasa untuk ko


Setiap hari sa berdoa


Semoga kita sanggup baku jaga


Jang hiraukan dong yang tra suka


Tutup mata juga telinga


Anggap saja dunia tong punya


Cukup senyum dengar cerita


 


Karna ada ko yang buat sa nyaman


Karna ada ko yang selalu tenangkan


Jauhkan sa dari keraguan


Trada yang sanggup memisahkan


Pegang sa janji dan percaya


Hanya ko satu yang sa punya


Sa pu hari so sempurna


Sa akan jaga ko untuk selamanya


 


Qania menatap sendu pada Arkana yang tengah bernyanyi sambil bermain gitar ditemani angin sepoi-sepoi dan suara ombak pantai yang menyejukkan pikiran.


Bohong kalau Qania tidak terharu dan meleleh dengan keromantisan yang diberikan oleh Arkana, namun ia masih saja melamun. Arkana yang melihat Qania diam saja langsung tanggap, ia langsung melepas gitarnya dan membawa Qania kedalam dekapannya. Ia tahu meskipun acara reuni SMA itu sudah berlalu sejak sebulan yang lalu tapi Qania masih saja memikirkan kejadian buruk yang harus ia alami di sekolahnya itu.


“Masih memikirkan kejadian waktu itu sayang?” Tanya Arkana lirih.


Qania hanya mengangguk dalam dekapan Arkana membuat Arkana menghela napas panjang lalu menatap lurus ke lautan yang entah dimana ujungnya itu.


“Aku takut sayang” lirih Qania.


“Apa yang kamu takutkan hemm?”,.


“Aku takut mama sama papa marah sayang”,.


“Tuhan saja nggak marah, mama dan papa pasti nggak akan marah juga kok. Tinggal kita saja yang bagaimana cara kita untuk memberi pengertian” hibur Arkana kemudian mengecup puncak kepala Qania.


Qania diam lalu mengeratkan pelukannya pada Arkana, ia merasa sangat nyaman dan damai dalam dekapan kekasihnya itu. Ia bahkan sering kali tertidur dalam dekapan Arkana.


“Sayang?” panggil Arkana.


“Iya sayang?”,.


“Gimana kalau kita…”,.


“Awww sakit sayang” ringis Arkana karena mendapat cubitan dari Qania.


“Syukurin”,.


“Pulang yuk sayang” ajak Arkana.


“Ke rumah kamu aja ya” usul Qania.


“Baik my queen” ucap Arkana kemudian berjongkok di depan Qania, “naik sayang” pintanya.


Tanpa malu-malu Qania langsung naik ke punggung Arkana, lelaki satu-satunya yang pernah membuatnya jatuh cinta sampai lupa bahwa di dunia ini ada banyak pria yang juga sedang menginginkannya.

__ADS_1


Bersama Arkana semua terasa bahagia dan nyaman. Qania tidak pernah melirik pria lain dan bahkan ia selalu memuji Arkana dan membanggakan Arkana pada setiap orang yang datang menyapanya dan menawarkan cinta mereka pada Qania.


Bagi Qania, hanya Arkana lah satu-satunya pria yang akan selamanya  ia sayangi dan cintai sepenuh hatinya dan seumur hidupnya.


‘Bisakah waktu berhenti saat ini juga? Aku tidak rela momen indah seperti ini cepat berlalu. Aku bahkan ingin memamerkan dan berteriak kepada seluruh penghuni bumi jika aku, Qania Salsabila Wijaya sangat beruntung memiliki Arkana Wijaya’,.


 


*


*


 


Arkana dan Qania kini tengah duduk di sofa di bawah jendela kamar Arkana dengan Qania yang duduk bersandar di dada Arkana. Keduanya sedang menikmati suasana sore dari jendela kamar Arkana.


“Sayang terima kasih” ucap Arkana sambil tersenyum meskipun Qania tidak melihat senyumannya.


“Sama-sama sayang” jawab Qania malu-malu.


“Sidang skripsi kapan sayang?” Tanya Arkana.


“Rencana minggu depan sayang, soalnya minggu ini aku akan ujian seminar hasil dulu” jawab Qania sambil menatap kendaraan yang berlalu lalang.


“Berarti sebentar lagi acara besar yang kita tunggu-tunggu akan dilaksanakan sayang” goda Arkana.


“Hah aku tidak sabar menunggunya” Qania ikut menggoda Arkana.


“Jangan salahkan aku akan lebih buas dari yang kau tahu sayang. Aku akan membuang semua pakaianmu dan menggantinya dengan lingerie” ucap Arkana menyeringai membuat Qania langsung menengadahkan kepalanya.


Cup….


Qania mendengus kesal karena Arkana selalu mencuri ciumannya setiap kali Qania menengadahkan wajahnya. Sudah tidak terhitung berapa kali Arkana melakukan itu pada Qania jika mereka dalam posisi seperti ini.


“Kau…”,.


“Bicara lagi akan ku buat bengkak bibir” ancam Arkana dan Qania hanya bisa mendengus kesal saja. Ia belum lupa tentu saja dengan ciuman mereka tadi yang membuatnya beberapa kali kehabisan pasokan udara.


“Makanya cepat…”,.


“Bukan aku yang harus cepat, tapi kamu. Kan kita nungguin kamu sidang skripsi dan wisudah” potong Arkana.


“Hehe, ini juga udah di usahakan cepat sayang. Sabar makanya, nanti malam itu aku akan membuatmu mengalah dan berteriak menyerah padaku” goda Qania.


“Woaah tidak salah sayang, hemm?” ledek Arkana.


“Hehe, tentu saja benar jika tidak salah” sahut Qania cekikikan.


“Sudah pandai rupanya. Sebaiknya dari sekarang kita mendownload video delapan belas plus biar kamu bisa mempelajari berbagai macam gaya” usul Arkana membuat Qania meneriaki namanya.


“Arkanaaaaaaa”,.


Arkana tertawa terbahak-bahak setelah puas mengerjai Qania. Sudah hal biasa baginya membuat kekasihnya itu kesal dan sialnya hal itu sangat ia sukai.


“Kau apa tidak malu berbicara seperti itu padaku, hah?” sungut Qania.


“Tentu saja tidak” ledek Arkana.


“Terserah, aku mau turun. Dari tadi bertamu tapi tidak disuguhi air minum” sindir Qania membuat Arkana tertawa.


“Berasa jadi tamu, hemm? Bukannya kamu nyonya di rumah ini?” ledek Arkana.


“Oh iya, aku lupa. Soalnya kalau udah sama kamu aku berasa jadi bego” celetuk Qania yang hanya ditanggapi tawa oleh Arkana.


Arkana menemani Qania yang turun ke bawah untuk mencari minuman dan cemilan di dapur. Ia seperti induk ayam yang mengekor di belakang Qania.


“Sabaaaarrr, satu bulan lagi” teriak papa Arakana yang sedang mengotak-atik laptopnya di ruang nonton.


“Iri bilang boss” balas Arkana membuat papanya tertawa.


“Hisss nggak baik ngomong gitu sama papa” tegur Qania namun Arkana cuek-cuek saja.

__ADS_1


“Papa lagi ngapain?” Tanya Qania yang baru saja duduk di sebelah papa Arkana, Setya Wijaya.


“Ini nih sayang, papa lagi pelajari berkas buat sidang penentuan kasus penculikan papa waktu itu” jawab Setya tanpa melepas pandangannya dari laptopnya.


“Kapan pa?” Tanya Qania penasaran.


“Hari rabu depan sayang” jawab Arkana.


“Yah kok samaan sih sama sidang skripsiku” ucap Qania lesu, ia juga ingin menghadiri sidang tersebut.


“Kamu fokus saja sama ujian kamu nak, biar bisa cepat nikah dan pindah ke rumah ini” ujar Setya.


“Siap papa mertua” ucap Qania sambil berpose member hormat.


Ketiganya pun saling mengobrol mengenai sidang kasus penculikan tersebut, mereka juga membahas pernikahan Arkana dan Qania serta rencana-rencana lainnya setelah pernikahan digelar. Gelak tawa terdengar di ruangan tersebut, membuat Setya sangat bersyukur dalam hatinya karena kembali merasakan kehangatan keluarga di rumahnya setelah puluhan tahun berlalu.


 


*


*


 


Saat Qania tengah berkonsentrasi dengan ujiannya, di ruang sidang pengadilan saat ini suasana sangat tegang karena tim Setya hampir saja kalah dari tim Daren yang dimana disana ada Juna dan pengacara yang ia sewa dan merupakan pengacara terbaik di Negara mereka. Juna tidak tanggung-tanggung menyewa pengacara untuk kebebasan Daren, adiknya.


“Dengan ini saudara Daren Wilanata dinyatakan bersalah dan dijatuhi hukuman penjara selama dua belas bulan dan akan dibawa ke rumah tahanan yang berada di kota asalnya”,.


Tukk..


Tukk..


Tukk..


Juna menyeringai puas, ia bahkan sangat senang dan menikmati wajah kesal dari Arkana dan papanya.


‘Tidak ada yang bisa mengalahkan Arjuna Wilanata. Kau boleh menang atas Qania, tapi tidak akan ku biarkan kalian menghancurkan masa depan adikku’,.


Arkana menguatkan papanya, baru kali ini ia melihat ketidakberdayaan papanya setelah sidang putusan kasus yang ia tangani. Ia tahu benar kalau papanya tidak pernah kalah dalam tiap sidangnya.  Arkana memutuskan untuk membawa papanya pulang bersama dengan Zafran dan Alisha yang juga turut menemani sidang tersebut.


“Papa sabar ya pa, takdir sudah berkata seperti ini” hibur Arkana sambil membantu papanya berdiri.


“Benar Set, ayo kita pulang” ajak Zafran.


Setya berdiri dan berusaha terlihat santai dan baik-baik saja di depan semua keluarganya. Ia tidak ingin menjadi beban pikiran Zafran, Alisha dan Arkana.


“Jangan mimpi untuk mengalahkan saya tuan Setya Wijaya” ucap Juna yang datang menghampiri mereka.


“Sombong sekali anda, memang anda siapa?” Tanya Zafran geram.


“Saya, saya Arjuna Wilanata. Anda sendiri siapa, hemm?” Juna balik bertanya dengan nada merendahkan.


“Dia Zafran Sanjaya, ketua DPRD kabupaten ini dan juga ayah dari tunangan saya Qania Salsabila” jawab Arkana sinis.


Juna tersentak karena orang yang baru saja ia remehkan ini adalah orang nomor dua di kabupaten ini dan juga merupakan orang tua dari gadis incarannya.


“Kalau saya mau saya juga akan menuntutmu untuk tindakan kekerasan fisik dan rencana pelecehan seksual pada putri saya. Tapi sayang anak dan menantuku terlalu baik sehingga mereka tidak ingin memperpanjang kasus ini” ucap Zafran menohok Juna.


Juna terdiam, ia tidak bisa berkata apa-apa lagi karena apa yang dikatakan oleh Zafran memang benar. Ia pun melenggang pergi tanpa berpamitan, wajahnya semakin terlihat kesal setelah berbicara dengan lawan sidangnya itu padahal niatnya ingin mengejek tapi malah ia yang mendapat malu.


“Sial, semua usaha gue itu nggak berhasil juga. Percuma gue udah keluarin biaya waktu itu untuk mensponsori acara reuni di sekolah yang bukan sekolahan gue tapi gagal juga. Brengsek!” umpat Juna yang kini berada di dalam mobilnya.


“Lo lihat saja nanti, gue Arjuna Wilanata tidak akan menyerah kecuali gue emang udah nggak bisa apa-apa” Juna menyeringai, ia memperhatikan keluarga hangat itu keluar dari gedung pengadilan dan masuk bersama-sama dalam satu mobil dengan Arkana yang menyetir.


“Kali ini gue biarin kalian lolos begitu saja dari hadapan gue tapi tidak nanti” ucapnya kemudian menyalakan mesin mobilnya lalu pergi meninggalkan halaman gedung tersebut.


 


...🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀...


Terima kasih sudah membaca 😊😊

__ADS_1


__ADS_2