
Di kantor Setya Wijaya
Arkana tadi mendatangi rumah Qania setelah puas menonton aksi Qania, ia berniat memberitahukan pada orang tua Qania akan hal tersebut namun saat sampai disana justru bi Eti mengatakan bahwa tuan dan nyonya sedang pergi ke kantor pak Setya Wijaya yaitu papanya sendiri. Tanpa menunggu lagi, Arkana yang sedang menggunakan mobilnya itu langsung menuju ke kantor papanya.
Sampai di kantor, Arkana langsung melenggang masuk ke kantor itu dan juga membalas sapaan beberapa karyawan papanya.
Tok..
Tok..
Tok..
“Masuk” sahut pak Setya dari dalam.
“Hai pa” sapanya lalu melirik ke arah sofa, “eh ada om dan tante juga rupanya” Arkana berjalan lalu menciumi tangan ketiga orang tua itu, kemudian dia ikut bergabung.
“Tumben main ke kantor” sindir papanya.
“Sebenarnya tadi nggak ada niat kesini sih pa” ucap Arkana membalas papanya.
“Terus?”
“Tadi aku itu ke rumah om sama tante tapi kata bi Eti lagi keluar ketemu papa, jadi aku kesini” jawab Arka sambil melirik kea rah Zafran dan Alisha.
“Kamu ke rumah ya? Mau ketemu Qania? Hmm si Qania dari pagi udah ke kampus sama temannya” ucap Alisha dengan lembut.
“Kamu nih Ka, masih pagi nyariin Qania mulu. Sepertinya udah nggak sabar banget buat nikah” ledek papanya.
“Ih papa nih kalau ngomong suka benar deh” balas Arkana yang mengundang gelak tawa dari orang-orang yang ada di ruangan tersebut.
“Kamu banget nih Set waktu muda” ucap Zafran sambil menyeka air matanya akibat tertawa tadi.
“Setya versi muda, hahaha” timpal Setya.
“Oh iya Ka, kamu tadi ke rumah mau ketemu tante sama om atau ketemu Qania?” Tanya Alisah setelah berhenti tertawa.
“Ya ampun aku sampai lupa” ucap Arkana sambil menepuk jidatnya. “Aku tuh mau nunjukin video ini loh” ucap Arkana tanpa basa-basi langsung mengambil ponselnya dari saku celananya.
Arkana memutar video tersebut kemudian memberikannya kepada Alisha. Mereka tercengang melihat aksi Qania memimpin demo di kampus. Setelah video berakhir, ketiga orang tua tersegum tersenyum karena kagum akan keberanian Qania.
“Calon mantuku memang keren” puji Setya.
“Siapa dulu dong papanya” sambung Zafran.
“Lihat mamanya dong” Alisha tak ingin kalah.
“Kalian semua salah” tiba-tiba Arkana menyela ucapan mereka.
“Salah?” Tanya ketiganya membeo.
“Iya salah, yang benar itu siapa dulu dong calon suaminya” ucap Arkana kemudian tertawa.
Ketiga orang tua itu saling bertatapan, kemudian ikut tertawa. Alisha yang kebetulan ada di dekat Arkana langsung mengacak rambut anak itu karena merasa gemas.
“Iya deh kamu yang menang” ucap Alisah kemudian tertawa.
“Oh iya tan, emang calon istri aku itu sering demo kayak gini?” Tanya Arkana sembari menyandarkan kepalanya di sofa. Ia berpikir bagaimana jika iya, tentu ada banyak orang di luar sana yang mengaguminya.
“Jangan ditanya lagi, hanya saja baru kali ini dia yang memimpin” jawab Alisha kemudian menatap Arkana. “Ada apa? Kamu nggak suka Qania seperti itu? Memang sih terkesan nggak baik, secara dia kan perempuan. Eh ralat, dia di kampus dianggap laki-laki” Tanya Alisha sambil menatap intens pada Arkana.
“Maksud tante dianggap laki-laki?” Tanya Arkana menatap balik pada Alisha.
__ADS_1
“Kamu kan pasti tahu teman-teman Qania itu mayoritas cowok” jawab Alisha singkat, dia merasa Arkana mengerti maksudnya.
“Oh itu, iya tan aku tahu. Aku bahkan sudah akrab tuh sama mereka, kemarin aku main ke sana. Aku sempat risih kok Qaniaku itu dikelilingi cowok sih, tapi setelah kenal dengan mereka ternyata mereka orangnya supel dan juga aku merasa Qania aman bersama mereka” ungkap Arkana, ia memang selalu mengatakan pendapat dan perasaannya tanpa ada yang ditutupi.
“Om juga sama pemikirannya kayak kamu, awalnya om ragu diawal Qania kuliah. Tapi melihat mereka memperlakukan Qania bagai mutiara yang harus di jaga baik-baik, rasa khawatir dan sebagainya itu hilang” ucap Zafran sembari tersenyum lebar.
“Oh ya om, kata Qania om nggak pernah marah kalau Qania sampai pulang larut atau bahkan nggak pulang?” Tanya Arkana, ia masih belum percaya dengan ucapan Qania semalam, secara Qania kan anak gadis om Zafran satu-satunya, begitu pikirnya.
“Iya benar, bahkan pernah seminggu hanya pulang mandi doang, selebihnya semua di himpunan. Itu pertama masuk kampus, masih jadi mahasiswa baru yang baru saja mendapat tugas besar, kalau tidak salah tugas gambar. Om awalnya ragu, tapi setiap kali pulang hampir semua teman-temannya nganterin ke rumah dan menjelaskan kegiatan mereka semalaman. Pernah sekali om sama tante nganterin makan malam buat mereka dan ternyata di sana mereka ada banyak sekali dan sedang sibuk-sibuknya dengan tugas, ada dosennya juga. Semenjak saat itu om sama tante nggak ngelarang Qania kalau soal kampus” cerita Setya sambil mengenang awal-awal Qania menjadi mahasiswa.
Arkana dan Setya menyimak dengan baik cerita Zafran.
“Kamu tahu Ka, Qania pernah sakit akibat seminggu ngurusin tugas itu yang katanya udah dead line. Dan lucunya semua teman-temannya juga sakit” sambung Alisha diakhiri tawa.
“Sakit tante?”
“Iya sakit, setelah tugas selesai dan nilainya keluar eh Qania jatuh sakit. Tante sama om awalnya berencana memindahkan Qania karena takut akan kondisinya, ini baru awal sudah seperti ini saja, gimana nantinya. Begitu pemikiran kami, tapi Qania bilang dia bukan anak cemen, ya sudah kita nggak bisa apa-apa” jawab Alisha kembali teringat hari itu.
#flash back on..
“Assalamu’alaikum ma, Qania pulang” ucap Qania melangkah masuk.
“Wa’alaikum salam. Eh kamu udah pulang nak, sama siapa?” Tanya Alisha.
“Sama Baron ma, aku capek banget” ucap Qania sambil duduk di ruang makan. “Ma, laper dari semalam belum makan” rengek Qania.
“Tunggu mama siapin dulu, kamu sih nggak pulang dulu tadi pagi” omel mamanya yang sedang mengambil makanan dari lemari penyimpanan.
“Tadi tuh aku udah nggak sempat ma, tugas aku selesainya subuh terus harus di kumpul pukul sembilan tepat di kampus. Paginya aku harus copy tugas aku, jilid dan lain-lain sampai akhirnya aku sama yang lainnya nggak ada kepikiran buat makan atau pun mandi sama gosok gigi. Untung aja aku sampai di kampus lima menit sebelum jam sembilan, fyuuhhh” cerita Qania sambil menaruh makanan di piringnya.
“Terus gimana hasil kerja keras kamu seminggu itu?”
“Ya Alhamdulillah ma, sangat memuaskan dan aku bangga” jawab Qania dengan senyuman di wajahnya.
“Oke ma”
..Malam Hari..
“Ma, Qania mana?” Tanya Zafran yang baru pulang dari kerja.
“Di kamarnya pa, tadi setelah makan siang udah nggak turun-turun padahal jam makan malam udah lewat” jawab Alisha sedikit khawatir.
“Oh ya? Mari kita lihat ma” ajak Zafran ikutan panic.
Alisha membuka pintu kamar Qania, terlihat anaknya itu sedang tidur di tutupi selimut, hanya kepalanya saja yang tidak.
“Sayang, bangun nak, makan malam dulu yuk” ucap Alisha yang sudah duduk di sebelah Qania sambil mengusap rambut anaknya itu.
“Hmmm”
“Sayang, kamu sakit atau apa nak?” Tanya Zafran penuh perhatian.
“Qania lelah ma, pa. badan rasanya lemas semua” jawab Qania yang baru saja duduk bersandar di tempat tidurnya.
“Apa papa panggil dokter buat meriksa kamu nak, suhu badan kamu juga agak tinggi?” Tanya papanya, tadi ia memeriksa dahi anaknya dengan meletakkan telapak tangannya di sana.
“Boleh sih pa” jawab Qania.
Dengan cepat Zafran langsung menelepon dokter dan tak berselang lama, dokter yang merupakan tetangga mereka juga sudah sampai di kamar Qania.
“Tante Farah, Qania sakit apa?” Tanya Qania dengan suara serak.
__ADS_1
“Kamu kelelahan sayang. Jangan memporsir tenaga kamu, itu tidak baik bagi kesehatan. Tante akan kasih kamu obat sama vitamin” jelas Farah, dokter yang merupakan tetangga mereka juga.
“Kan mama sudah bilang sama kamu dari awal buat pindah jurusan saja, begini jadinya kan” ucap Alisha mengomeli sang putrid.
“Ma, Qania nyaman sama pilihan Qania, dan ini sudah resikonya. Aku hanya belum terbiasa ma, tapi pasti setelah ini aku akan baik-baik saja. Aku bukan anak cemen ma, dan kalau aku pindah mama sama saja mempermalukan aku karena seolah-olah aku itu nggak sanggup dan menyerah dengan sendirinya sama pilihan aku” tolak Qania dengan halus, ia bahkan sudah menitikkan air matanya.
“Terserah kamu deh Qan” jawab mamanya pasrah.
“Emang Qania kuliahnya ambil jurusan apa?” Tanya Farah.
“Teknik sipil tante” jawab Qania dengan bangga.
“Oalah, pantesan. Anak tante si Fajar juga ngambil jurusan itu di salah satu universitas di kota C. sama kayak kamu, awalnya dia juga sakit kayak gini dan sama juga nggak mau pindah meski tante paksa. Tapi dia sekarang sudah selesai dan lagi ngambil magisternya. Ini biasa kok Al, kamu tenang saja nanti juga dia akan baik-baik saja. Namanya juga peralihan dari siswa SMA yang masih santai kemudian jadi mahasiswa yang super sibuk” cerita Farah, membuat Alisah dan Zafran pasrah namun hal itu juga membuat Qania puas dan merasa menang dari kedua orang tuanya.
“Tuh kan pa, ma. Kalian dengar sendiri dari tante Farah” ucap Qania dengan berani karena memiliki pembela, ia tersenyum manis pada dokter Farah.
“Iya deh” jawab mamanya pasrah.
“Ya sudah kalau begitu kamu makan terus minum obat” titah papanya.
“Oke papa” turut Qania dengan semangat membuat mamanya geleng-geleng kepala.
“Kalau begitu saya pamit dulu Al, Zaf” ucap dokter Farah.
“Mari saya antar mbak” ajak Alisha.
“Makasih tante” ucap Qania dengan tersenyum manis.
“Sama-sama sayang. Oh iya di rumah ada banyak buku teknik sipil, kalau kamu mau nanti ke rumah saja” tawar Farah sambil menuruni anak tangga bersama Qania dan kedua orang tua Qania.
“Wah terima kasih tante Farah, Qania pasti datang” Qania sangat senang.
“Sama-sama sayang, sebaiknya kamu sekarang makan dan minum obat setelahnya. Tanet pulang dulu.
“Oke tante”
Setelah Qania makan malam, ia baru saja akan minum obat namun ia terkejut dengan chat grup kelasnya.
“Kamu kenapa sayang?” Tanya Alisha yang baru saja masuk ke kamar Qania sambil membawa segelas susu hangat.
“Enggak ma, aku hanya bingung ini senang atau sedih” jawab Qani.
“Ada apa?”
“Ini nih ma, teman-teman Qania semuanya sakit juga, hehehe” jawab Qania diakhiri tawa, namun Alisha hanya menggelengkan kepalanya.
“Ya sudah, kamu minum obat, lalu habiskan susu ini kemudian tidur. Mama keluar dulu” perintah mamanya.
“Iya ma” jawab Qania ketus.
“Haih anak itu” gumam Alisha sambil melenggang keluar dari kamar anaknya itu.
#Flashback off…
“Ya ampun jadi sampai segitunya tan” ucap Arkana setelah mendengar cerita Alisha.
“Ya gitu, tapi nggak kerasa dia udah mau lulus kuliah” ucap Alisha sambil tersenyum senang.
“Dan juga akan segera menikah” sambung Arkana dengan sok polos.
Ucapan Arkana tersebut membuat ketiga orang tua itu menatapnya, tanpa diduga Setya langsung melemparkan bantal sofa pada anaknya itu. Alisha dan Zafran tertawa saat Setya memarahi Arkana yang terus merengek minta ampun itu.
__ADS_1
...🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺...