Selamanya Cinta

Selamanya Cinta
Kabar


__ADS_3

Julius dengan cepat menggendong tubuh Qania keluar dari mobil, seperti orang kesetanan ia berteriak memanggil petugas rumah sakit. Tak lama kemudian beberapa perawat datang dengan membawa brankar. Julius pun meletakkan Qania di atas brankar tersebut dan petugas langsung mendorong menuju ke ruang UGD.


Julius mondar-mandir sambil menatap ruang UGD yang tertutup itu. Berkali-kali ia mengusap wajahnya hingga memerah. Ia begitu panik hingga tidak bisa melakukan apapun selain mondar-mandir tak jelas.


Dengan deraian air mata Lala berlari menghampiri Julius. Ia menyeka air matanya sebelum bertanya dan juga mengatur napasnya yang masih terengah-engah.


"Di-dimana kak Qania?"


"Di di dalam, dari tadi belum ada satupun dokter maupun perawat yang keluar," jawab Julius berhenti berjalan.


"Gimana bisa kak Qania kecelakaan? Dia itu sudah dua hari yang lalu ada di lokasi KKN?" Cecar Lala.


"Gue nggak tahu. Tadi pas gue mau keluar gerbang kampus gue lihat dengan mata kepala gue sendiri saat motor sport dan mobil truck bertabrakan hebat. Pengendara motornya terlempar jauh dan saat gue buka helmnya gue kaget lah ternyata itu Qania. Buru-buru gue bawa dia ke rumah sakit. Gue takut dia kenapa-kenapa kalau gue sampai terlambat dengan tubuhnya yang sudah bermandikan darah," cerita Julius.


Lala terisak, ia begitu khawatir Qania sampai kenapa-kenapa. Saat keduanya terdiam, seorang suster keluar dari ruang UGD dan langsung menghampiri mereka yang masih setia berdiri di depan pintu.


"Keluarga pasien?" Tanya suster tersebut.


"I-iya. Bagaimana keadaan kakak saya?" Tanya Lala.


"Dokter sedang menanganinya. Boleh ikut saya ke bagian admisitrasi untuk menyelesaikan pembayaran agar pasien bisa ditindak lanjuti," ucapnya kemudian berjalan meninggalkan Lala dan Julius.


Raut wajah Lala semakin panik, ia bingung harus apa sekarang dalam keadaan ia tidak memiliki uang banyak.


"Lo kenapa?" Tanya Julius.


"Gue nggak punya uang buat bayar pengobatan kak Qania," lirihnya.


"Biar gue yang ngurus, Lo tunggu disini." Ucap Julius kemudian ia segera menyusul suster tersebut.


Lala pun duduk menunggu, kemudian ia terpikir untuk menghubungi keluarga Qania. Ia pun langsung menelepon Syaquile.


"Ha-halo kak Syaquile," ucap Lala terbata begitu panggilannya dijawab oleh Syaquile.


"Kamu kenapa La?"


"Kak Qania, Kak. Kak Qania kecelakaan dan sekarang lagi ditangani dokter di ruang UGD," ucap Lala berusaha menahan sesak di dadanya saat mengatakan hal tersebut.


"Appaa? Ke-kecelakaan? Bagaimana bisa?" pekik Syaquile.


Lala pun menceritakan apa yang tadi dikatakan oleh Julius kepadanya.


"Kamu tolong tunggu disana karena malam ini juga aku bakalan kesana. Kamu matiin teleponnya aku mau nelpon orang di rumah," ucap Syaquile.


Syaquile langsung menekan tombol panggil pada kontak mamanya, dan hanya dua kali terdengar nada sambung panggilan tersebut langsung dijawab.


"Assalamu'alaikum, Nak. Tumben telepon jam segini?" Ucap Alisha sambil menemani Arqasa mengerjakan tugas sekolahnya.


"Wa'alaikum salam Ma, aku sekarang mau siap-siap ke kota Y dan aku harap kalian semua bisa segera menyusulku kesana. Kak Qania kecelakaan Ma, dan sekarang sedang ditangani dokter di ruang UGD. Aku nggak punya banyak waktu, Ma. Aku mau ke bandara sekarang, mau ngejar penerbangan malam ini juga. Assalamu'alaikum."


Tanpa menunggu sahutan dari mamanya Syaquile langsung mematikan telepon tersebut. Ia langsung mengunci pintu kamarnya dan membawa motornya menuju ke bandara.


Alisha menjatuhkan ponsel yang begitu mendengar kabar dari Syaquile. Air matanya menetes, ternyata hal ini yang membuatnya resah sedari pagi. arkasa yang melihat neneknya menangis pun langsung menengok dan bertepatan dengan kedatangan Zahran.


"Nenek kenapa nangis?" Tanya Arqasa.


"Ma, Mama kenapa nangis?" Tanya Zafran panik.


"Ba-barusan Adik telepon katanya Kakak kecelakaan dan sekarang lagi ditangani sama dokter di ruang UGD. Ayo kita menusuk Pa, Mama takut terjadi sesuatu sama Qania," jawab Alisha dengan air mata yang mulai membasahi pipinya.

__ADS_1


Koper yang sedang dipegang oleh Zafran terjatuh ke lantai.


"Mama sekarang siap-siap, Papa mau menghubungi Setya dulu," ucap Zafran berusaha tidak terlihat panik padahal dalam hati ia sangat khawatir.


Alisha pun langsung berlari naik ke tangga untuk mengemaskan barang-barang yang akan mereka bawa.


"Ma, bawa pakaian kita masing-masing sepasang aja ya Ma nggak usah banyak-banyak bawaan," teriak Zafran.


Zafran menekan tombol panggil pada kontak Setya dan langsung diangkat olehnya.


"Kamu dimana?" Tanya Zafran tanpa basa-basi.


"Masih di bandara, baru nyampe," jawab Setya sambil berjalan keluar bandara.


"Sekarang lu masuk lagi dan pesankan empat tiket pesawat ke kota Y, buruan," perintah Zafran.


"Kita mau nyusulin Qania?" Tanya Setya bingung.


"Cepat Set, Qania kecelakaan dan lagi di ruang UGD dia sekarang. Gue nggak matiin nih telepon, gue tungguin Lo sampai dapat tiket," ucap Zafran.


Meskipun sangat terkejut Setya langsung berlari lagi masuk ke dalam dan langsung menanyakan jadwal keberangkatan ke kota Y.


"Permisi nona, apakah ada jadwal penerbangan ke kota Y malam ini?" Tanya Setya dengan napas tersengal-sengal.


"Tunggu sebentar ya Pa, saya cek dulu," ucapnya ramah.


"Baik Pak, penerbangan ke kota Y malam ini setengah jam lagi," jawabnya.


"Saya ingin memesan empat tiket penerbangan sekarang juga."


"Sekarang Lo ke bandara, kita cuma punya waktu setengah jam," ucap Setya di telepon.


...🌻🌻🌻...


"Lo kenapa Zak?" Tanya Mae yang membuat Zakih terkejut.


'Gue cerita nggak sih ya ke Mae?'


"Mae, tadi gue nelpon Qania tapi tiba-tiba aja terputus. Lo bisa nggak telepon adiknya si Qania yang kuliah di Ekonomi itu. Soalnya gue dari tadi gelisah," ucap Zakih.


"Bentar ...." Mae pun langsung menghubungi Lala.


"Hallo Mae, hiksss ...."


"La, Lo kenapa ngangkat telepon gue langsung nangis?" Tanya Mae heran.


"Kak Qania ... kak Qania kecelakaan dan sampai sekarang dokter yang meriksa kak Qania belum keluar. Gue takut Mae, gue takut kak Qania kenapa-kenapa. Hikss ...."


"Apaa? Qania kecelakaan?" Pekik Mae, Zakih pun langsung merebut ponsel Mae.


"Hallo La, ini gue Zakih. Qania kenapa bisa kecelakaan, Tristan mana?"


"Tabrakan sama truck. Tri-Tristan siapa Zak?"


"What the ****! Jadi Lo nggak sama Tristan sekarang? Terus siapa yang bawa Qania ke rumah sakit, elo?" Umpat Zakih.


"Julius yang nemuin kak Qania kecelakaan di depan kampus."


"Ow ****! Ya udah ntar gue sama yang lain bakalan ke rumah sakit. Lo jagain Qania, kasih kabar terus soal perkembangannya, La," ucap Zakih kemudian menutup panggilan tersebut.

__ADS_1


Suasana rumah tempat tinggal mahasiswa KKN menjadi heboh dengan berita kecelakaan Qania. Mereka ada yang menangis termasuk Mae, sementara yang pria terus mengumpati Tristan yang ternyata tidak bersama Qania.


"Sialan Lo Tristan, udah dikasih kepercayaan malah ini balasan Lo ke Qania. Gue bakalan bikin perhitungan sama Lo," geram Yusuf.


...🍄 🍄 🍄...


Raka berlari menuju ke ruang UGD, ia sedang menyusun tugas akhirnya ketika mendapat telepon dari Lala kalau Qania kecelakaan dan masih belum ada kabar dari dokter yang menanganinya.


"La, gimana?" Tanya Raka dengan napas yang masih memburu.


Lala hanya menggeleng, air matanya tumpah lagi.


Raka mendesah, ia mengusap kasar wajahnya. Jantungnya seperti akan copot begitu mendengar pujaan hatinya kecelakaan. Ia mengedarkan pandangannya dan melihat Julius yang berdiri menyender di dinding dekat pintu ruang UGD.


Baru saja Raka akan bertanya, ponsel Julius berdering dan ia pun segera mengangkatnya.


"Lo bawa Qania ke rumah sakit mana? Disini ada polisi yang lagi mengidentifikasi kecelakaan tadi?"


"Rumah sakit kota," jawab Julius lemas kemudian menyimpan kembali ponselnya ke dalam saku celananya.


Raka memperhatikan baju putih Julius susah berubah menjadi merah karena darah Qania. Ia langsung mengambil kesimpulan bahwa kecelakaan yang dialami oleh Qania sangat parah, terbukti dari banyaknya darah yang menempel di tubuh Julius. Hatinya semakin hancur saat membayangkan itu semua.


Lagi-lagi keinginan Raka untuk bertanya pada Julius tertahan karena pintu ruang UGD terbuka dan keluar seorang dokter pria bersama dua orang perawat.


"Gimana keadaan Qania, Dok?" Tanya Julius, ia yang paling dekat dengan dokter tersebut.


Lala dan Raka pun mendekat.


"Mohon kepada keluarga untuk bersabar, karena pasien saat ini masih dalam keadaan kritis. Pasien mengalami pendarahan yang cukup hebat namun untung saja persediaan darah di rumah sakit bisa membantunya. Masih ada cedera lain yang mungkin terjadi mengingat benturan yang dialami oleh pasien. Kemungkinan terbesarnya adalah patah tulang, namun itu masih asumsi saya sementara. Kami masih harus melakukan pemeriksaan untuk memastikan kondisi keseluruhan pasien."


"Kami akan memindahkannya di ruang ICU, permisi."


Lala menutup mulutnya dengan tangan, air matanya menetes begitu mendengar penjelasan dokter.


"Nggak mungkin," lirihnya sambil menggelengkan kepalanya.


Raka terhuyung ke belakang, tak kuasa mendengar kabar kalau wanita pujaannya itu akan mengalami patah tulang. Ia menangis dalam hati.


'Semoga kamu kuat, Qan. Aku bakalan selalu ada buat kamu.'


Sementara Julius, pria itu terdiam tak mampu berucap. Sesak, tentu saja. Melihat wanita favoritnya yang selalu energik dan tiba-tiba tidak bisa berbuat apa-apa membuatnya kesakitan.


Ketiganya mengikuti para perawat yang mendorong brankar Qania. Mata mereka tak kuasa meneteskan airnya saat melihat kondisi Qania dimana wajanya terdapat beberapa perban.


Waktu terus berlalu hingga tak terasa sudah hampir dua jam mereka berada di rumah sakit dalam suasana hening. Dalam hati mereka tak berhenti berdoa untuk kesembuhan Qania.


Kesunyian terpecahkan begitu bunyi ponsel Julius menggema di ruangan tersebut.


"Hallo Ma," sapa Julius.


"Iya aku bakalan pulang sekarang."


Julius menghela napas berat.


"Gue balik dulu ya. Mama udah nyariin soalnya. La terus kabarin gue ya soal kondisi Qania," ucapnya lirih, sangat nampak ia tidak ingin pergi dari sana.


"Iya, Jul. Lo hati-hati," ucap Lala.


...🌹 🌹 🌹...

__ADS_1


Terima kasih sudah membaca 🤗🤗🤗


Part selanjutnya nyusul agak siangan. sebenarnya ini kemarin up-nya, tapi lupa ternyata belum di up hanya tersimpan di draft 😁😁


__ADS_2