Selamanya Cinta

Selamanya Cinta
Sidang Pertama


__ADS_3

Tristan benar-benar membawa Qania mengukur jalan dengan mengendarai sepeda motor. Jam tujuh nanti ia akan melakukan penerbangan dan ia ingin di beberapa jam terakhir ini ia habiskan bersama Qania. Qania diam saja, ia kini paham jika Tristan sebenarnya tak ingin pergi namun menurut Qania ada baiknya juga agar Tristan tidak tahu kalau besok ia akan melakukan sidang pertama.


Qania khawatir dengan reaksi Tristan jika ia hadir di persidangan dengan fakta-fakta yang akan mereka beberkan.


“Qan, kita sholat dulu. Baru makan ya,” ucap Tristan karena waktu hampir memasuki waktu Maghrib.


“Tapi aku nggak bawa alat sholat,” ucap Qania.


Tristan seolah mendapat ide, ia membelokkan motornya ke arah pertokoan.


Masih ada dua puluh menit. Masih sempat untuk mencarinya, batin Tristan.


Ia menghentikan motornya di area parkir pertokoan dan langsung turun.


“Kamu tunggu disini,” ucap Tristan yang kemudian membuka helmnya lalu menitipkannya pada Qania.


Qania mengernyit, tak paham apa yang akan Tristan lakukan disana.


Di dalam toko Tristan bertemu dengan pramuniaga dan menanyakan tentang perlengkapan sholat. Ia pun digiring masuk ke dalam toko yang ada di dalam sana dan diperlihatkan banyak jenis mukenah.


Tristan terpana melihat alat sholat cantik berwarna cokelat dan tanpa ragu ia pun langsung meminta untuk dibungkus kan yang itu saja.


Dengan tersenyum-senyum Tristan keluar sambil menenteng paper bag di tangannya dan menyodorkannya pada Qania.


Qania menatap bergantian Tristan dan paper bag tersebut. Tristan mengerti raut wajah penuh tanya tersebut.


“Bukalah,” ucap Tristan sangat lembut.


Qania pun membukanya. Ia terkejut melihat isinya.


Ya ampun mukenah cantik dengan warna favoritku! Dari mana Tristan tahu kalau aku menyukai warna ini?


“Seperangkat alat sholat dulu, mahar dulu. Nanti akadnya nyusul,” ucap Tristan dengan wajah yang memerah kemudian ia memakai helmnya.


Qania merona, ia tak mampu menyembunyikan senyumannya. Bahagia, tentu saja ini membuatnya bahagia.


Tristan pun melajukan motornya menuju ke masjid.


. . .


 


Qania dan Tristan saling berpegangan tangan masuk ke area bandara. Sebelah tangan Tristan menarik kopernya. Ada rasa berat meninggalkan wanita yang baru beberapa hari ini bersamanya. Ia semakin mengeratkan pegangan tangan tersebut, mengisyaratkan bahwa genggaman ini tidak ingin dan tidak akan ia lepaskan seumur hidup.


“Kamu masuk aja. Hati-hati dan berkabar kalau sudah sampai,” ucap Qania dengan lembut.


“Aku rasanya nggak mau pergi,” ucap Tristan lesu.


“Aku akan menunggumu. Kan kita punya ponsel untuk saling terhubung,” ucap Qania membujuk Tristan.


Tristan hanya mengangguk lesu. Tanpa melepaskan genggamannya ia menarik tubuh Qania masuk ke dalam dekapannya. Ia menciumi puncak kepala Qania cukup lama sambil menghirup dalam-dalam aroma rambut itu.


“Hari ini  aku akan melepaskan genggaman ini. Tapi itu hanya sementara. Aku janji setelah pulang nanti, hanya ada tanganmu yang akan ku genggam dan tak akan pernah dilepas,” ucap Tristan yang sedang menatap genggaman tangan mereka kemudian ia menciumi punggung tangan Qania yang sedang ia genggam itu.


Qania terharu, rasanya matanya mulai panas namun ia mencoba menahannya. Ia tak ingin terlihat lemah di hadapan Tristan.


“Ya, aku akan menantikan itu. Sekarang pergilah dan segeralah kembali untukku,” ucap manis Qania yang membuat Tristan justru semakin berat untuk melangkah.


“Hahh ... baiklah. Demi kamu, ingat aku hanya sebentar saja melepaskan genggaman ini,” ucap Tristan kemudian melepaskan tangan Qania.


Qania tersenyum namun dalam hati ia merasa seperti baru saja kehilangan. Dengan dipaksakan ia menyunggingkan senyuman agar Tristan segera pergi.

__ADS_1


Qania melambai pada Tristan hingga pria itu tak terlihat lagi. Qania menghembuskan napas lega kemudian ia segera pergi menggunakan taksi yang tadi ia naiki bersama Tristan dari rumah pria itu.


 


. . .


 


Pagi yang dinanti pun tiba. Qania begitu gugup menatap dirinya di pantulan cermin. Bagaimanapun ini adalah kali pertama ia masuk dalam kasus yang melibatkan pengadilan meskipun ia adalah korban.


Berbagai hal mulai merasuki pikirannya. Bagaimana kalau mereka kalah? Bagaimana kalau justru keadaan berbalik menyerangnya? Bagaimana jika dirinya yang dituduh bersalah mengingat dia yang merekam kejadian tersebut dan dianggap sebagai sebuah jebakan?


Semua kemungkinan tersebut membuat Qania resah. Ia kembali melirik jam tangannya yang menunjukkan pukul delapan dan itu artinya satu jam lagi sidangnya akan dimulai.


“Baiklah Qania, jangan merusak dan meracuni pikiranmu dengan hal-hal yang justru membuat mentalmu ciut. Oke, mari kita keluar dan hadapi semua ini dengan membawa aura positif,” ucapnya pada pantulan dirinya di cermin. Sebuah senyuman manis ia berikan untuk dirinya sendiri sebagai penyemangat.


Di tempat berbeda, Pak Handoko terlihat sedang berbicara dengan pria seusianya namun menutupi wajahnya dengan kacamata hitam dan juga masker. Polisi tak menaruh perhatian lebih sehingga mereka bisa leluasa berbicara.


“Saya tidak mau tahu, kalau sampai bukti itu dibeberkan di pengadilan nanti, saya akan tetap menyeretmu. Enak saja saya masuk penjara sendirian sementara kamu juga yang terlibat justru enak-enakan menghirup udara segar dan menikmati kekayaan itu,” ucap sarkas pak Handoko.


“Ini semua juga salahmu. Aku sudah memperingatkan untuk melenyapkan semua bukti-bukti itu. Apa jadinya heh? Sekarang kau sendiri yang kalang kabut,” dengus tuan Alvindo.


“Ya itu dulu untuk jaga-jaga jika seandainya kau mengkhianati kerja sama kita. Aku memiliki bukti atas kejahatan yang kita lakukan bersama dan kita akan menuainya bersama,” sahut pak Handoko tak mau kalah.


“Kalau sudah begini ya yakin saja kalau memang kita berdua akan masuk ke jeruji besi bersama bagaimanapun aku bersembunyi. Kau ini pengacara apa sih?! Jelas-jelas kalau bukti itu dibeberkan maka ada namaku juga yang terlibat. Kau tidak tahu saja kalau aku sudah mendapatkan surat panggilan dari kepolisian hanya saja orang rumah tidak ada yang tahu kalau aku sudah kembali,” ucap tuan Alvindo antara kesal dan juga resah.


“Ap-apa?! Jadi apakah masalah itu sudah masuk ke laporan kepolisian? Jangan-jangan kasus Angga—“


“Bahkan aku merasa lebih dari itu. Kau bersiaplah. Jika sampai kasus Clara terbuka, kasus Angga dan juga kasus para asistennya terkuak maka kita berada di kemungkinan terburuknya. Dan jangan sampai masalah asisten lamamu itu terkuak, habislah kita,” ucap tuan Alvindo frustrasi.


“Sial! Ini benar-benar sial! Semoga Sudirman memang benar tidak memiliki keluarga,” ucap pak Handoko penuh harap.


“Semoga.”


Sampai di gedung pengadilan, mereka berpapasan dengan keluarga Pak Agus dan keluarga Julius yang datang lebih dulu. Pak Handoko sempat bersitatap dengan Julius dan Raka yang turut hadir sebagai saksi. Begitu Pak Handoko dan rombongannya masuk, mobil yang ditumpangi Papa Setya dan Qania pun memasuki halaman kantor pengadilan tersebut.


“Qania, akhirnya kalian datang juga,” sambut Bu Maharani kemudian memberikan kecupan di pipi kiri dan kanan Qania.


“Iya Bu, tadi masih ada urusan sedikit,” jawab Qania. “Raka, Julius, kalian juga sudah disini rupanya,” ucap Qania menyapa dua temannya itu.


“Ya sudah ayo kita masuk,” ajak Tante Rianti, mama Julius.


Mereka pun masuk dan begitu mereka duduk di dalam ruangan sidang pun dimulai.


Hakim membacakan kasus tersebut dan mulai meminta Papa Setya memberikan bukti-bukti yang memberatkan Pak Handoko dalam kasus ini.


Pak Handoko terus menguatkan diri dan meyakinkan dirinya bahwa ia lah yang akan memenangkan kasus ini.


Saat Papa Setya sedang membacakan bukti-buktinya, pengacara Pak Handoko menyelah.


“Maaf yang mulia, tapi klien saya sama sekali tidak bersalah dalam kasus ini. Wanita itu lah yang menjebaknya dan merayunya di dalam gudang tersebut. Jadi ini tidaklah sepenuhnya kesalahan klien saya,” ucapnya.


Ketiga hakim tersebut mengangguk kemudian melirik papa Setya yang menunggu gilirannya untuk berbicara.


“Mohon maaf yang mulia, akan tetapi klien saya memiliki rekaman medis yang menyatakan bahwa ia memiliki trauma akut dengan yang namanya kekerasan fisik dan pelecehan. Apakah mungkin klien saya melakukan hal yang mereka tuduhkan. Sangat tidak masuk akal seorang pengidap trauma justru melakukan hal sebaliknya,” bela Papa Setya, mereka masih menahan untuk mengeluarkan bukti.


Ketiga hakim kembali saling memandang dan berbisik lalu mengangguk.


“Mohon maaf yang mulia, tapi dari sudut pandang klien saya, kasus ini ada unsur kesengajaan dimana memang wanita itu sudah merencanakan semuanya dengan matang. Saat kejadian tersebut, CCTV di gudang tersebut mati. Bukankah itu adalah sesuatu yang patut dicurigai?”


“Jika Anda bertanya tentang CCTV gudang, maka kami memiliki video apa yang terjadi di dalam gudang tersebut,” ucap Papa Setya sedikit menyeringai.

__ADS_1


Pengacara Pak Handoko terbelalak, namun ia segera menormalkan ekspresinya. Namun hal tersebut tak luput dari pandangan Papa Setya.


Papa Setya pun maju dan memperlihatkan video tersebut kepada ketiga hakim dengan memberikan flashdisk dan dipertontonkan lewat laptop.


Pengacara Pak Handoko terdiam, ia tidak menyangka mereka memiliki bukti tentang kejadian di ruangan tersebut. Hingga selesai video tersebut diputar, para hakim pun kembali berbisik-bisik.


“Baiklah, apakah ada pembelaan dari pihak pelaku?” tanya hakim.


“Ka—“


“Mohon maaf hakim yang mulia, saya akan membela diri saya sendiri. Coba Anda pikirkan mengapa mereka memiliki video tersebut dan justru CCTV kami yang tidak berfungsi? Ini adalah sebuah jebakan. Wanita itu sengaja masuk dan menggoda saya karena ia mencuri dokumen penting saya. Di sudah menjebak saya. Saya berang karena dokumennya diambil sampai saya kalap. Saya juga adalah korban dari rencana wanita itu. Dan bisa saja video itu sudah dimanipulasi dengan menghilangkan sebagian kejadian.” Pak Handoko mulai emosi, ia yang tidak puas dengan kinerja pengacaranya memilih untuk berbicara sendiri.


“Mohon maaf yang mulia, tapi saya memiliki bukti rekaman pembicaraan dimana Pak Handoko sudah membebaskan saya untuk memilih dokumen mana saja yang ingin saya ambil dari gudang. Tidak ada syarat dan ketentuan tidak boleh menyentuh dokumen lain,” ucap Qania berdiri kemudian tanpa disuruh ia segera memutar rekaman dimana i meminta izin pak Handoko untuk meminta beberapa dokumen di gudang.


Fyuuh untung saja aku merekamnya, batin Qania.


Papa Setya salut pada Qania, dalam hati ia begitu membanggakan menantunya tersebut begitupun dengan para pendukung Qania. Sementara pak Handoko tak bisa berbicara lagi. Ia mulai memutar otak untuk mencari pembelaan bagi dirinya.


“Yang mulia, kami dari pihak korban meminta keadilan. Kami juga memiliki bukti rekaman medis yang menyatakan bahwa klien saya sempat dinyatakan meninggal setelah kejadian tersebut dan akhirnya karena izin Tuhan maka beliau diberikan kesempatan untuk kembali ke dunia ini,” ucap Papa Setya kemudian memberikan bukti dari rumah sakit kepada para hakim.


Mereka membacanya dan berdiskusi. Dari arah belakang, Raka pun memberanikan diri untuk berbicara.


“Mohon maaf yang mulia, selain bukti-bukti tersebut, saya juga memiliki pembelaan untuk korban. Di video tersebut terlihat juga saya datang memukili pelaku bersama rekan saya. Itu semua karena rekaman telepon ini,” ucap Raka kemudian maju dan memberikan ponselnya kepada para hakim.


Pak Handoko terdiam, kali ini ia tak mampu membela diri karena semua bukti memberatkan dirinya. Sementara tuan Alvindo yang turut hadir pun hanya bisa diam dalam penyamarannya.


“Baiklah, dari kasus dan semua buktinya yang jelas memberatkan pihak pelaku, maka kami sudah memutuskan jika pelaku melanggar undang-undang KUHP Pasal 351 ayat 1 dengan hukuman penjara lima tahun,” ucap hakim kemudian ia mengetuk palu.


Pak Handoko menutup matanya, dalam hati ia begitu merutuki nasib dirinya. Bagaikan sebuah mimpi. Mimpi yang bahkan tak pernah ia bayangkan sebelumnya.


“Mohon maaf yang mulia, saya lupa memberikan bukti lain tentang beberapa kasus kejahatan pelaku. Dalam kasus klien saya pun ia menyebutkan telah memperkosa sekretarisnya hingga wanita itu menjadi gila. Beliau juga mengantongi kasus pembunuhan terhadap seorang jurnalis beserta dua asistennya serta terlibat pencucian uang dan juga dugaan pembunuhan asisten pribadinya sendiri yaitu saudara Sudirman” ucap Papa Setya.


Baru saja, baru saja Pak Handoko bernapas lega karena kasus itu tidak disinggung, namun ia kembali tersambar petir.


Ap-apa? Apa benar itu? Batin asisten Revan.


Para hakim kembali berdiskusi. Mereka membaca secara saksama bukti-bukti tersebut.


“Baiklah, karena kasus atas saudari Qania sudah diputuskan, maka untuk kasus terbaru ini akan kami lakukan penyidikan.”


“Sidang kami pending untuk dua Minggu kedepan.”


Palu diketuk, Qania berpelukan dengan Papa Setya kemudian mereka berjabat tangan dengan para hakim sementara Pak Handoko tertunduk lesu. Ia mulai membayangkan hari-hari yang akan ia lalui di penjara. Istrinya pun kini jatuh pingsan dan asisten Revan segera melarikannya ke rumah sakit.


Tuan Alvindo mendekati pak Handoko dan mencoba memberi dukungan walaupun ia sendiri hanya tinggal menunggu waktunya juga.


 


. . .


 


Di rumah Pak Erlangga, waktu sudah menunjukkan pukul tiga sore. Qania berpamitan dengan Papa Setya karena tadi mereka sudah memutuskan untuk pulang dulu ke kota mereka dan akan kembali beberapa hari sebelum sidang. Pak Erlangga pun mengatakan bahwa Qania bisa memanfaatkan waktunya untuk menyusun skripsi.


Qania mengangguk setuju. Ini memang adalah kesempatan untuk menyelesaikan itu semua juga menyegarkan pikirannya dan melepas rindu pada anak semata wayangnya.


“Bagaimana dengan keluarga Pak Nizar?” tanya Papa Setya.


“Akan kami amankan,” jawab Pak Erlangga.


“Baiklah. Kalau begitu kami pamit dulu,” ucap Papa Setya.

__ADS_1


Mereka pun berpamitan karena pesawat mereka akan berangkat setengah jam lagi dan mereka diantar supir pak Erlangga.


__ADS_2