Selamanya Cinta

Selamanya Cinta
Pesan Arkana


__ADS_3

“Kak udah siap belum?” tanya Syaquile yang sedari tadi mengetuk pintu kamar Qania.


“Iya dek, kakak mau keluar nih” jawab Qania kemudian berjalan untuk membuka pintu. “Yuk pergi” ajaknya.


Keduanya pun pergi beriringan, menaiki motor Syaquile menuju ke mall. Begitu pun motor yang sedari tadi menunggu tak jauh dari rumah Qania, siapa lagi kalau bukan Fandy. Ia bergegas mengikuti Qania, begitu pun Fadly dan Jerry yang juga mengawasinya.


Beberapa menit kemudian Syaquile dan Qania sudah sampai di mall. Keduanya bergegas masuk sambil bergandengan tangan, kalau ada yang melihat mereka pasti akan mengira bahwa keduanya adalah pasangan kekasih.


“Kak, kita mau nonton, main, atau makan dulu?” tanya Syaquile.


“Kita main yuk, kakak malas nonton” jawab Qania.


“Oke” kata Syaquile kemudian menarik tangan Qania untuk pergi.


“Ah bahkan gue iri sama adiknya” ucap Fandy yang terus mengawasi mereka.


“Gila kakak lo, masa cemburu sama saudaranya Qania” ucap Jerry sambil menggelengkan kepalanya.


“Hmm, dia benar-benar sudah tidak waras” kata Fadly geram.


Qania dan Syaquile tengah menikmati beberapa permainan yang ada di mall tersebut, terdengar tawa mereka dari sana.


“Lihatlah betapa cantiknya dia saat tertawa” kata Fandy yang sedang duduk memperhatikan Qania.


“Fad, kok gue lihat Fandy itu sudah seperti orang psikopat ya?” ucap Jerry sambil memandangi Fadly dengan serius.


“Lo benar, gue juga mikir gitu” balas Fadly yang masih terus memandangi Fandy.


Setelah puas bermain, Syaquile dan Qania berjalan kembali bergandengan sambil berbincang-bincang, sesekali terdengar tawa dari mereka.


“Dek, kakak lapar nih. Makan yuk, capek juga main ini itu dari tadi” ajak Qania.


“Sama kak, aku juga haus. Yuk cari makan” kata Syaquile.


Keduanya berjalan memasuki area yang menyediakan makanan di dalam mall.


“Kak aku yang mesan, kakak tunggu di sini” kata Syaquile sambil mengedipkan sebelah matanya membuat Qania tertawa.


“Uhh sweet, thank you my brother” kata Qania memasang wajah imut.


“Nggak usah kayak gitu juga mukanya, nggak enak dilihat” ledek Syaquile kemudian pergi mengantre untuk memesan makanan dan minuman.


“Hai Qania” sapa Fandy yang ikut duduk di dekat Qania.


“Kamu..” Qania terkejut ketika dia menoleh ke arah suara yang menyapanya, saat itu ia sedang asyik chatting dengan Arkana.


“Iya ini aku” jawab Fandy cengengesan.


“Ngapain kamu disini?” tanya Qania, raut wajahnya nampak tidak senang.


“Duduk” jawabnya enteng.


“Bangak kursi yang lain, bisa tolong menyingkir dari sini?” pinta Qania dengan lembut, namun dalam hati ia sangat geram.


“Hei santai, begitu kah caramu menyambut kawan lama, uppss mantan maksudnya” ucap Fandy terkekeh.


“Orang ini seperti sudah kehilangan akal sehatnya, dia sudah gila kali ya” batin Qania.


Qania tak menjawab, ia malah kembali fokus dengan ponselnya. Ia tersenyum sambil membaca pesan dari Arkana.


“Qan, kamu lagi ngapain sih? Kenapa aku dicuek?” tanya Fandy berusaha melihat apa yang sedang di lakukan Qania dengan ponselnya.


Hening..


Hening..


“Qan, ngomong dong. Aku dari tadi nanya nggak di jawab-jawab” bujuk Fandy.


“Oh kamu masih di sini, kirain sudah pergi. Tadi kan aku nyuruh pergi dari sini, masih banyak kursi yang kosong tuh” ucap Qania sambil menatap Fandy dengan aura dingin.


“Kok gitu sih Qan, aku bicara baik-baik malah kamu ketus gitu” bentak Fandy.


“Kalau nggak suka aku gini, ya tinggal pergi aja” balas Qania namun tidak dengan suara lantang.


“Kamu ngeselin banget sih Qan, ayo ikut aku sekarang aku mau bicara” Fandy menarik tangan Qania hingga ponselnya terlepas dan terjatuh di lantai.


“Fandy lepas, aku nggak mau. Lepasin” bentak Qania namun Fandy semakin keras menggenggam tangannya.

__ADS_1


“Nggak akan, ayo ikut” kata Fandy.


“Lepasin tangan calon istri gue” teriak Arkana yang baru saja datang.


“Arkanaa” ucap Qania hampir tak terdengar.


“Kalau gue nggak mau, lo mau apa?” tantang Fandy.


“Beraninya lo nyentuh tangan pacar gue dengan tangan kotor lo” teriak Arkana.


Arkana mendekat dan berusaha melepaskan cengkraman Fandy pada tangan Qania.


“Sayang tangan aku sakit” Qania meringis, air matanya pun sudah tumpah saking sakitnya.


“Bangsat..”


Bughh..


Arkana menendang tangan Fandy yang tengah mencengkram tangan Qania hingga cengkraman tersebut terlepas.


“Sakiiitt..” ringis Qania, ia mulai menangis.


“Maaf sayang, biar aku yang selesaikan. Kamu menyingkir dari sini, Syaquile bawa kakak menjauh” panggil Arkana pada Syaquile yang sedari tadi menatap mereka.


“Kamu hati-hati sayang” pesan Qania sebelum Syaquile membawanya menjauh.


“Beraninya lo sakitin Qania..” suara lantang Arkana membuat semua beralih fokus padanya.


“Bacot lo..”


Fandy langsung menyerang Arkana, ia akan menendang perut Arkana namun Arkana yang dapat membaca pergerakan Fandy dengan cepat menangkap kaki Fandy dan memutarnya.


“Arghh….” Teriak Fandy kesakitan.


Fadly yang sudah tidak tahan karena tidak tega mendengar rintihan saudaranya tanpa pikir panjang langsung ikut menyerang Arkana.


Bughhh…


Arkana tersungkur karena mendapat tendangan dari samping.


“Kaki gue terkilir kayaknya” jawabnya.


“Hahaha, bala bantuan rupanya” sindir Arkana yang baru saja berdiri karena terjatuh akibat serangan mendadak dari Fadly.


“Banyak mulut lo, sini maju” teriak Fadly yang sudah bersiap menyerang Arkana.


Arkana dengan cepat berjalan ke arah Fadly dan terjadilah perkelahian. Wajah Fadly memar karena mendapat pukulan dari Arkana begitu pun dengan Arkana yang mengeluarkan darah segar dari sudut bibirnya.


“Jer lo Cuma nontonin Fadly yang sudah hampir tumbang hah? Teman macam apa lo?” teriak Fandy yang juga asyik melihat perkelahian tersebut.


Namun Jerry hanya mengangkat sebelah alisnya sambil menatap ke arah Fandy.


“Lo dalam masalah besar Fad” kesal Jerry namun hanya bisa menahan diri.


Tak lama kemudian petugas keamanan yang di panggil oleh seseorang pun datang menghentikan pertikaian tersebut.


“Apa-apaan kalian berkelahi di sini hah?” teriak petugas keamanan tersebut.


“Bubar-bubar dan kalau tidak ingin berlanjut ke pihak berwajib saya minta kalian ganti rugi atas kerugian yang kalian buat di tempat ini” lanjutnya.


“Tentu pak” jawab Arkana.


Arkana bergegas menuju ke bagian kasir dan menyerahkan uangnya untuk ganti rugi lalu berjalan kembali ke arah Qania.


“Yuk balik” ajak Arkana.


Qania, Syaquile dan Arkana berjalan bersama namun Qania menghentikan langkahnya di hadapan Fandy dan Fadly yang tengah berdiri.


“Saya pikir kamu tidak sama dengan kakakmu, tapi ternyata saya salah. Kamu membela orang yang salah, bukankah kamu tahu apa saja kejahatan yang sudah dia lakukan. Saya kecewa padamu Fadly, semoga Elin tidak akan tahu semua ini” ucap Qania dengan tegas lalu pergi.


Fadly yang mendengar perkataan Qania tersebut langsung terduduk, ada rasa menyesal akan perbuatannya.


“Apa yang sudah gue lakukan” gumamnya sambil menjambak rambutnya.


“Lo dalam masalah besar bro, gue nggak mau ikut campur lagi. Sudah cukup, Qania benar kalau kalian sama saja. Bahkan lo lebih bodoh daripada psikopat ini” kata Jerry menyindir Fandy dan Fadly, lalu bergegas pergi meninggalkan mereka.


__ADS_1


“Aku lapar sayang” rengek Qania saat mereka sudah tiba di parkiran.


“Sama kak, aku juga” ucap Syaquile memelas pada Arkana.


“Yuk makan di kafe depan” ajak Arkana.


“Ayoo..” teriak Qania dan Syaquile kegirangan.


Ketiganya kini sudah berada di kafe, sedang menunggu pesanan mereka.


“Oh ya sayang, gimana kamu bisa ada di mall tadi? Nggak ngabarin pula” tanya Qania menatap Arkana.


“Kak Arkana dari tadi ada di mall kak” Syaquile yang menjawab.


“Hah?” Qania kaget, “Kamu tahu dari mana?” tanya Qania penasaran.


“Jadi…”


Beberapa jam sebelum ke mall…


Arkana baru saja keluar dari rumah Qania setelah mengantarnya dari makam, tak sengaja saat ia keluar Syaquile yang baru saja pulang sekolah berpapasan dengannya.


“Hai kak” sapa Syaquile.


“Hai dek” balas Arkana.


“Aku masuk dulu ya kak”..


“Oke”..


Baru saja Arkana akan pergi, ia berbalik dan memanggil Syaquile yang baru di ambang pintu.


“Syaquile..” panggilnya.


“Iya kak” Syaquile berbalik.


“Kakak mau ngomong bentar boleh?”..


“Tentu, ayo masuk dulu kak” ajak Syaquile.


“Kita bicara di gazebo samping saja” jawab Arkana dan Syaquile langsung mengikutinya.


“Ada apa kak? Sepertinya serius” tanya Syaquile ketika kedua sudah duduk.


“Gini, kakak dengar kamu akan pergi main ke mall sama kak Qania. Kakak sebenarnya tidak ingin mengganggu acara kakak adik, tapi apa kamu bisa bantu kakak?” tanya Arkana.


“Tentu kak, apa yang harus aku bantu?” tanya Syaquile menatap Arkana.


“Kamu ajak kakakmu pergi ke mall, tapi sebelum kalian pergi pastikan jika di sekitar rumah kalian tidak ada orang yang mengintai. Kalau ada, kamu harus ngasih tahu kakak secepatnya. Kakak akan ikuti kalian diam-diam, bahkan di mall juga kakak tidak akan mendekat, hanya jaga-jaga saja. Kakak senang kalau tidak ada yang mengintai, tapi ingat pesan kakak ya. Kakak hanya khawatir. Dan jika terjadi sesuatu, kakak akan membantu kalian. Ingat, kalau ada yang mencurigakan segera beritahukan kakak” jelas Arkana.


“Maksud kakak ada yang mengintai kami?” tanya Syaquile serius.


“Hmm, bisa dibilang begitu. Kamu tahu kan beberapa kejadian yang menimpa kakakmu beberapa waktu belakangan ini?”..


“Iya kak, aku sampai lupa itu. Baik kak, aku pasti akan mengabari kakak kalau ada apa-apanya” kata Syaquile dengan lantang.


“Bagus, kalau begitu kakak pamit dulu” ucap Arkana kemudian berdiri.


“Hati-hati kak” balas Syaquile.


Kedua berjalan ke arah teras rumah, Arkana mengambil motornya dan Syaquile masuk ke dalam rumah.


Saat sudah berada di luar pagar, Syaquile diam-diam memantau sekelilingnya, dan benar saja ada seseorang di atas motor yang tengah memperhatikan mereka. Syaquile berupaya untuk bersikap tenang dan pura-pura tidak tahu bahwa ada yang mengikuti mereka, padahal ia terus mengawasi dari spion motornya. Syaquile diam-diam mengambil ponselnya dan mengetikkan pesan untuk Arkana, meskipun ia tahu itu berbahaya saat berkendara.


✉Kak Arka


“Benar kak, ada yang mengikuti kami. Tapi sejauh ini masih aman, kami akan segera sampai di mall”


….


✉Gue


“Oke, kakak sudah di mall saat ini. Kamu tetap hati-hati”


….


Balas Arkana, ia sudah mulai geram dan juga cemas.

__ADS_1


__ADS_2