
Hari berlalu, detik berganti menit. Menit berganti jam. Jam berganti hari dan hari berganti bulan. Kehidupan keluarga Arkana Wijaya setiap harinya selalu dikaruniai dengan kebahagiaan. Arkana yang setiap saat jatuh cinta pada Qania dan Qania yang selalu mencintainya.
Kehidupan rumah tangga mereka setelah pertemuan kembali itu tiada hari tanpa canda tawa. Arkana dan Qania berkomitmen untuk saling menjaga kepercayaan, kejujuran dan juga selalu berbagi apapun itu, entah masalah atau hal lainnya sekecil apapun itu.
Arqasa, bocah tampan itu pun setiap hari semakin tumbuh dan semakin cerdas. Ia terus bahagia dan tak sabar menanti adiknya yang ingin ia ajak main. Ia selalu mengelus perut Maminya dan mengajak adik dalam perut itu berbicara. Ia menirukan apa yang dilakukan oleh Daddynya.
Perut Qania semakin membesar, tapi lebih besar lagi perhatian dan cinta kasih yang Arkana curahkan padanya. Arkana bertekad untuk tidak membuat Qania menangis, kecewa dan marah padanya. Ia tidak ingin istrinya yang ia ketahui begitu setia dan sayang padanya meskipun ia tidak bersamanya dalam waktu yang lama itu sampai bersedih. Sebisa mungkin Arkana selalu menjaga perasaan Qania. Ia hanya ingin melihat tawa dan senyum serta wajah kesal Qania. Air mata kesedihan tak ia izinkan untuk hadir dalam kehidupan mereka.
Kedua orang tua mereka pun sangat bahagia menyaksikan anak-anak mereka tak pernah bertengkar seperti semasa mereka pacaran dulu.
“Dulu aja mereka sedikit-sedikit putus, sedikit-sedikit berantem. Sekarang lihat mereka jadi pasangan halal kok adem banget ya. Arkana juga terlihat sangat berbeda dari waktu mereka pacaran. Lebih pengertian dan semakin dewasa,” ucap Mama Alisha.
“Ya, sesuatu yang sangat wajib untuk kita syukuri,” timpal Papa Zafran.
“Kalian benar, aku saja yang setiap hari bersama mereka tidak berhenti bersyukur melihat kebahagiaan mereka. Semoga sampai mereka menua dan menutup mata rumah tangga mereka tetap harmonis. Semoga tidak akan ada cela untuk pelakor dan pebinor dalam rumah tangga mereka. Meskipun aku yakin sekali bahwa memang tidak akan ada yang bisa menembus pertahanan rumah tangga mereka,” ucap Papa Setya ikut menimpali.
Ketiganya tersenyum sambil melihat Qania dan Arqasa tengah bermain di halaman samping rumah kediaman Papa Zafran. Qania sebenarnya tengah mengajar Arqasa namun dengan cara mengajaknya bermain game agar anaknya itu tidak bosan dan lebih mudah paham serta tidak tertekan karena belajarnya lebih santai dan lebih seperti tengah bermain game saja.
“Udah paham semua Ar?” tanya Qania.
“Udah Mi. Ar juga udah lelah bermain. Haus Mu,” sahutnya sambil merapihkan peralatan belajar mereka.
“Tunggu ya, Mami ambil jus dulu sama Kakek Nenek,” ucap Qania kemudian ia bergegas berdiri dan menuju ke arah dimana orang tua dan mertuanya tengah duduk mengobrol.
“Sudah selesai Qan?” tanya Mama Alisha.
“Udah Ma, capek juga. Tapi aku senang karena Arqasa mudah mengerti dan cepat tanggap. Dia juga udah capek dan minta minum,” jawab Qania.
“Udah kamu istirahat aja, biar Mama yang bawain Ar minum,” ucap Mama Alisha.
Qania pun menurut dan langsung duduk bersama kedua Papanya sedangkan Mama Alisha memberikan Arqasa minuman.
“Kamu kenapa Nak?” tanya Papa Zafran yang melihat Qania mengernyit seolah menahan rasa sakit.
“Ini Pa, dari tadi perut Qania sakit. Tapi beberapa saat kemudian udah nggak sakit. Abis itu timbul lagi sakitnya dan hilang lagi,” jawab Qania.
“Eh, jangan-jangan kamu udah mau melahirkan, Nak?” ujar Papa Setya yang membuat Papa Zafran terperanjat.
“Tapi hari perkiraan lahirnya masih dua minggu lagi, Pa,” ucap Qania.
“Sebaiknya kamu siap-siap. Kita akan ke rumah sakit. Papa akan telepon Arkana. Hah anak itu harusnya siaga karena istrinya sudah mendekati hari persalinan,” gerutu Papa Setya sambil menelepon Arkana.
Mama Alisha yang mendengar obrolan mereka langsung mendekati Qania sambil bergandengan tangan dengan Arqasa.
“Biar Arkana yang ambil perlengkapan persalinan. Ayo kita ke rumah sakit sayang,” ucap Mama Alisha khawatir.
Qania pun menurut saja apa kata mamanya.
“Hallo Ka, perut Qania sakit dan kamu harus segera mengambil perlengkapan persalinan dan kami akan segera ke rumah sakit—“
Tutt ... Tutt ... Tutt
__ADS_1
Papa Setya sedikit mengumpat begitu sambungan teleponnya diputus mendadak oleh Arkana. Ia pun menyusul masuk ke dalam mobil Papa Zafran yang sudah siap siaga mengantar Qania ke rumah sakit.
Sementara di tempat berbeda, Arkana yang sedang melihat laporan keuangan hotel mereka mendapat telepon dari Papa Setya. Tanpa menjawab dan menunggu Papa Setya selesai bicara ia langsung mematikannya dan bergegas pulang. Mendengar Qania sakit perut membuat Arkana terburu-buru, ia tidak ingin melewatkan satu detik pun untuk proses persalinan Qania.
Arkana bahkan tak membalas sapaan Bu Ochi dan langsung menuju ke kamar mereka untuk mengambil perlengkapan persalinan. Bi Ochi yang melihatnya turun dengan menjinjing tas itu langsung paham jika Qania akan segera melahirkan.
Begitu Arkana sampai di parkiran rumah sakit, bertepatan dengan mobil Papa Zafran yang juga sampai. Arkana bernapas lega karena ia tidak datang terlambat.
Mama Alisha membantu Qania keluar sementara Papa Zafran menggandeng Arqasa. Lain halnya dengan Qania, begitu Arkana mendekatinya ia langsung menangis dan marah-marah.
“Arkana Wijaya! Kamu nggak pikir keselamatan kamu hah?? Kamu bawa mobil pasti ngebut banget. Dari hotel ke rumah dan dari rumah ke rumah sakit dalam waktu singkat. Kamu nggak mikirin aku dan Ar jika kamu kenapa-kenapa di jalan, hah? Kamu nggak sayang sama kami? Kamu nggak sayang sama nyawamu?” Qania meneriaki Arkana dengan tangisnya yang sudah pecah. Ia tidak mempedulikan lagi rasa sakit di perutnya.
Arkana langsung memeluk Qania dan Mama Alisha melepaskan rangkulannya pada Qania.
“Maaf sayang, aku terlalu khawatir tidak berada di sampingmu saat kamu merasakan sakit. Aku tidak mau melewatkan waktu sedikitpun saat proses persalinanmu,” ucap Arkana menyesal dan merasa bersalah pada Qania.
Arkana mengurai pelukannya kemudian menghapus jejak air mata di pipi sang istri.
“Sayang, aku minta maaf. Ini semua karena aku nggak mau kamu melewati ini sendirian. Kamu tahu sendiri aku tidak ada bersamamu saat kamu melahirkan Arqasa. Maka dari itu aku seperti ini. Sekali lagi maafkan aku, sayang,” ucap Arkana dengan lembut, ia menatap penuh cinta pada Qania.
Qania memeluk Arkana, ia merasa begitu dicintai oleh sang suami. Mendadak ia merintih tertahan karena perutnya kembali sakit. Arkana yang mendengarnya langsung menggendong Qania ala bridal style yang membuat Qania terkejut.
“Arkana, kamu apa-apaan sih. Aku malu tahu nggak,” ucap Qania protes namun tidak bisa ia pungkiri bahwa ia begitu senang dengan perlakuan Arkana.
“Aku akan menggendongmu sampai ke ruang persalinan,” ucap Arkana kemudian ia melempar senyuman mautnya yang membuat Qania tak berkutik.
“Daddy, Mami, nggak usah banyak drama. Ayo bawa Mami ke dalam,” ucap Ar yang membuat mereka semua tertawa.
“Siapa juga yang cemburu. Ar cuma nggak sabar aja buat nyambut adik bayi, bwee.”
Mereka kembali tertawa dan kemudian bergegas masuk ke ruang persalinan.
“Sekarang sudah bukaan tujuh ya Pak, Bu. Harus bersabar dan jangan lupa berdoa. Jangan mengejan sebelum waktunya karena itu hanya akan membuang-buang tenaga. Jika sakitnya datang, tarik napas lewat hidung dan keluarkan lewat mulut,” ucap dokter tersebut mengarahkan Qania.
Arkana yang setia menemani Qania tak bisa berbuat apa-apa saat tangannya dicengkram kuat oleh Qania. Ia bisa merasakan bagaimana Qania begitu kesakitan. Peluh seperti biji jagung di kening Qania langsung dikecup oleh Arkana.
“Sayang, kamu sabar ya. Aku yakin kamu pasti kuat. Kamu adalah wanita tangguh yang pernah aku kenal,” ucap Arkana mencoba menguatkan Qania.
“Arkana, ini sangat sakit. Sangat sakit sekali,” ucap Qania.
Mendengar Qania mengucapkan kata ‘sakit’ membuat Arkana sangat takut.
“Dokter, suster, oeprasi saja istri saya. Sungguh dia sangat kesakitan ini. Cepat siapkan ruang operasi saja!” teriak Arkana panik.
Qania yang tengah merasakan sakit yang luar biasa mendadak melupakan sakitnya dan langsung menarik rambut Arkana.
Arkana menahan rasa sakit di kepalanya. Ia mengira bahwa itu adalah reaksi Qania karena menahan rasa sakitnya.
“Dokter cepatlah. Aku tidak mau melihat istriku kesakitan!” teriak Arkana lagi.
Qania melepaskan cengkeramannya di rambut Arkana dan memukul mulut sang suami.
__ADS_1
“Kamu apa-apaan sih, Ka. Jangan bikin malu aku deh. Namanya juga mau melahirkan ya pasti sakit dong! Kamu gimana sih, bikin malu aku saja,” gerutu Qania yang membuat Arkana terdiam dengan rasa bingungnya.
Dokter dan suster yang berada di dalam ruangan tersebut tidak kuasa menahan senyuman mereka. Sungguh sangat romantis menurut mereka menyaksikan Arkana yang begitu khawatir sementara Qania dengan santai menyiksanya.
Kembali Qania merasakan sakit yang semakin lama. Ia paham bahwa sebentar lagi waktu persalinan tiba. Dokter pun juga turut mendekat dan memeriksa jalan lahir.
“Baik Bu, sekarang sudah pembukaan lengkap ya. Jika rasa mengejan itu datang maka mengejanlah dan jangan sampai mengeluarkan suara ....”
Dokter itu memberi instruksi pada Qania. Qania yang sudah berpengalaman melahirkan pun tak banyak bertanya.
Cengkraman erat di tangan Arkana membuatnya tak kuasa menahan tangis saat menyaksikan detik-detik Qania melahirkan. Arkana tidak memperdulikan tangannya yang sakit karena Qania berusaha menyalurkan rasa sakitnya itu padanya. Ia bahkan terus menguatkan Qania dan tak henti dalam hati membacakan doa untuk keselamatan istri dan anaknya.
Suara tangisan bayi terdengar bersamaan dengan kumandang adzan Maghrib di Musala rumah sakit.
“Alhamdulillah, bayinya sudah lahir dengan selamat dan ibunya juga selamat. Selamat ya Pak, Bu, anak kalian sangat cantik. Biar dibersihkan dulu sama suster dan setelah itu kita akan melakukan IMD ya. Saya bersihkan dulu jalan lahirnya,” ucap dokter tersebut.
Arkana menangis haru dan terus menghujani kecupan di kening Qania.
“Selamat sayang, selamat dan terima kasih karena kamu sudah berjuang bertaruh nyawa untuk melahirkan anak kita. Aku sungguh mencintaimu dan aku akan selalu mengingat hari ini, hari dimana kamu berjuang untuk anakku,” ucap lirih Arkana yang membuat Qania begitu terharu.
Qania tersenyum lemah dan menitikkan air mata.
Setelah dokter dan suster selesai melakukan tugasnya, bayi cantik itu diserahkan kepada Qania dan keluarganya yang berada di luar pun langsung masuk karena Qania pun sudah di pindahkan di ruang rawat.
Arkana menunaikan kewajibannya membacakan Iqamah di telinga sang bayi dengan khusyuk. Syaquile yang menyaksikan itu sedikit tersenyum karena teringat kejadian dirinya yang mengadzani Arqasa kala itu karena kedua kakeknya tengah berdebat.
“Cucu kakek cantik banget. Namanya siapa sayang? Nanti sebentar kakek akan carikan kamu cincin, kalung, gelang dan anting berlian biar kamu makin cantik,” celetuk Papa Setya yang membuat Papa Zafran mendampratnya.
“Cucu kita baru lahir belum sejam kamu udah mau beliin set perhiasan. Dasar gila!”
Mereka pun tertawa. Qania yang sedang melakukan IMD pun ikut tertawa.
“Mi, benar kan kalau adik Ar itu cewek. Ar jadi senang sekarang dan tenang juga. Karena nggak ada saingan buat ngalahin ketampanan Ar dan Daddy,” ucap Arqasa sambil mengelus tubuh adiknya.
Tawa lagi-lagi terdengar dari ruangan tersebut mendengar ucapan Arqasa.
“Iya sayang. Kamu tenang aja, tetap Ar yang paling tampan,” ucap Qania membelai rambut Arqasa.
“Nama adik cantik Ar siapa Mi?” tanya Arqasa.
“Queenza Al-Khanza, sayang,” jawab Qania.
“Nama yang sangat indah,” puji mereka semua.
Setelah baby Queenza puas menyedot ASI, para kakek dan nenek pun berebutan untuk menggendongnya. Arkana hanya geleng-geleng kepala karena tidak mendapatkan kesempatan untuk menggendong putrinya selain saat melakukan tugasnya tadi.
Qania tersenyum bahagia melihat kebahagiaan keluarganya. Ia melirik Arkana yang juga tengah meliriknya.
“Terima kasih sudah memberikan kebahagiaan untuk aku dan Papa, sayang. Aku sangat mencintaimu,” bisik Arkana di telinga Qania kemudian ia mengecup lembut kening Qania.
__ADS_1