Selamanya Cinta

Selamanya Cinta
Wali Qania


__ADS_3

Hari berlalu begitu cepat, tanpa terasa hari ini adalah hari pertama Qania magang. Ia sudah memoles dirinya dengan make up natural dan juga dengan pakaian rapih. Kemeja berwarna putih serta rok di bawah lutut berwarna hitam. Ia mengikat rambutnya tanpa sisa. Wajahnya masih terlihat seperti gadis berusia dua puluh tahun dengan tampilannya tersebut.


Ia keluar dari kamar dan langsung menuju ke ruang tamu karena Lala sudah menghidangkan sarapan mereka disana. Lala pun hari ini akan magang juga. Ia akan magang di salah satu bank swasta yang direkomendasikan oleh fakultasnya. Warna pakaian mereka senada serta gaya rambut pun sama-sama terikat tanpa sisa.


“Kamu sudah persis seperti pegawai bank, La,” ucap Qania kemudian ia duduk di samping Lala.


“Kakak juga sudah seperti pegawai kantoran Kak,” balas Lala sambil menuangkan makanan ke dalam piringnya.


“Hahaha, kita terlihat keren dengan setelan ini, bukan?” kekeh Qania yang juga sedang memenuhi piringnya dengan makanan.


“Benar sekali Kak. Ayo kita makan!”


Keduanya pun mulai memakan nasi goreng itu sambil mengobrol tentang hari magang mereka ini. Keduanya sama-sama gugup namun tetap saling menyemangati hingga sarapan itu habis dan keduanya sama-sama membawa peralatan makan mereka ke dapur lalu membersihkannya.


“Semangat La, hati-hati di jalan,” ucap Qania saat keduanya sudah berada di atas motor bersiap untuk pergi ke tempat magang masing-masing.


“Kak Qania juga semangat dan hati-hati ya,” balas Lala.


Keduanya pun mulai melaju di jalan namun tak mengambil jalan yang sama karena tempat magang yang berbeda dan daerahnya juga berbeda. Tempat magang Lala tak begitu jauh hanya sekitar lima belas menit jika di tempuh dengan sepeda motor sementara untuk Qania sekitar tiga puluh menit barulah sampai di tempat magangnya.


“Untung saja berangkat pagi, jadi tidak kena macet,” gumam Qania saat ia berada di barisan paling depan saat lampu lalu lintas berwarna merah.


Begitu lampu berubah menjadi warna hijau, Qania segera melajukan motornya agar tidak terlambat. Qania tiba disana sepuluh menit sebelum jam kerja dimulai. Hari ini ia dan beberapa mahasiswa magang dari berbagai kampus hanya akan melakukan perkenalan serta informasi dibagian mana mereka akan ditempatkan di kantor tersebut.


Qania tidak langsung masuk, ia memperhatikan orang-orang yang berlalu lalang di kantor tersebut dengan setelan kerja mereka. Bukannya ingin menghitung jumlah karyawan disana, tetapi Qania ingin menunggu para mahasiswa yang akan magang bersamanya.


Qania tersentak begitu melihat salah satu mahasiswa magang yang datang menghampirinya.


“Selamat pagi Qania,” sapa Julius.


“Julius! Kamu magang disini juga?” tanya Qania terkejut.


“Ya,” jawab Julius kemudian memperhatikan orang-orang yang berlalu lalang. Ia pun mendekat lalu berbisik pada Qania. “Kau tahu, Om Angga itu adalah pamanku. Aku ini anak dari sepupu Ibu Maharani dan Pak Erlanggga kalau kau mau tahu,” bisiknya yang semakin membuat Qania terbelalak.


“Jadi kau tahu kenapa aku ditugaskan untuk magang disini?” tanya Qania.


“Ya, aku tahu. Aku tahu semua rencana ini. Dan aku juga baru tahu tentangmu dan juga Tristan Anggara itu. Aku akan membantumu Qania. Emm, maafkan aku. Maaf dulu aku sudah menyakitimu. Maukah kau menjadi temanku lagi seperti dulu, Qania?” tanya Julius dengan lirih.


Qania tersenyum, “Tentu saja. Aku bahkan sudah lama memaafkanmu dan juga aku sudah melupakan semua itu. Kau saja yang menjaga jarak denganku,” ucap Qania.


“Hehe. Maaf. Itu juga karena aku menjaga perasaan seseorang,” jawab Julius malu-malu.


“Kau sudah memiliki kekasih?” tanya Qania.


“Hehehe, Gueena,” kekeh Julius.


“Gueena?!!”

__ADS_1


Tentu saja Qania terkejut karena Gueena adalah most wanted di kampus dan itu adik tingkatnya di fakultas Hukum. “Ck, kau bergerak cepat rupanya. Sudah berapa lama?” tanya Qania.


“Hampir setahun,” jawab Julius. “Dia tahu kalau dulu kita sempat dekat dan dia banyak mendengar rumor tak baik apalagi mulut Rossa sering bikin dia nggak percaya diri. Katanya dia nggak sebanding kalau sama kamu. Dia minder dan kadang suka ngambek kalau denger mulut berbisa Rossa,” cerita Julius setengah frustasi.


“Ya ampun Gueena. Dia itu bahkan sangat cantik dan kenapa harus minder pada ibu beranak satu ini? Huh itu pasti hasil hasutan Rossa itu,” keluh Qania.


“Nggak salah lagi Qan. Makanya itu aku tuh udah lama mau ngajakin dia ngobrol sama kamucuma aku masih canggung pasca kejadian waktu itu. Dia juga ngeidolain kamu lho Qan,” ucap Julius dengan bersemangat menceritakan kekasihnya.


Bisa Qania lihat dari mimik Julius yang begitu senang, ia menebak bahwa Julius benar-benar mencintai Gueena.


“Iya, nanti ajakin di ngobrol. Dan sekarang kita udah harus masuk. Noh kita udah dipanggil. Yang lainnya tadi aku perhatiin juga udah pada masuk,” ucap Qania sambil tersenyum kaku pada staf di kantor tersebut.


“Hahaha, sorry Qan. Keasyikan ngobrol soalnya. Yuk masuk,” ajak Julius.


Qania pun melangkah lebih dulu sambil menundukkan kepala menghormati para staf disana begitu pun dengan Julius. Keduanya mengikuti staf yang tadi memanggil mereka dan akhirnya sampai di sebuah ruangan dimana sudah ada beberapa mahasiswa yang tengah duduk menunggu.


Jumlah mahasiswa magang di kantor ini yaitu lima orang. Pemimpin mereka pun kini sudah memasuki ruangan dan mulai memberikan petuahnya dan juga beberapa aturan darinya langsung yang harus dipatuhi oleh mahasiswa magang. Qania menyimaknya dengan diam, padahal dalam hati ia sibuk berpikir keras mengenai misinya nanti melihat bagaimana Pak Handoko memiliki gaya bahasa dan gerak tubuh yang cukup mengintimidasi.


Sepertinya akan sangat sulit, tapi akan kucoba untuk melanjutkannya. Toh aku tidak sendiri, ada Julius yang bersamaku disini. Semoga saja ada hasilnya dan aku bisa mendapatkan apa yang selama ini aku cari, batin Qania.


Tak berbeda dengan Qania, Julius pun tengah membatin. Memikirkan cara ia dan Qania akan menyelesaikan misi mereka kali ini. Ia begitu berambisi karena bagaimanapun pamannya itu harus mendapatkan keadilan jika ia berhasil mendapatkan bukti. Paman yang sangat ia sayangi dan begitu baik padanya.


Lihat saja nanti ketika gue dan Qania berhasil menemukan bukti. Lo pasti udah gak bisa ngomong sok berwibawa kayak gitu. Dasar sampah! Julius mengumpat dalam hati.


Setelah cukup lama di ruangan tersebut, akhirnya mereka menuju ke ruang kerja mereka masing-masing karena tadi sudah diberitahukan mereka akan di tempatkan di divisi mana saja. Qania kali ini akan bekerja sebagai asisten sekretaris Pak Handoko karena bu Clara masih cuti pasca melahirkan. Dan itu kesempatan yang sangat baik untuk Qania sebab semakin dekat dengan target.


Qania mengikuti Pak Handoko beserta asisten pribadinya yang bernama Revan. Ia sebenarnya gugup karena di lantai ini hanya ada tiga ruangan yaitu ruangan Pak Handoko, ruangan Bu Clara dan juga ruangan Revan. Dan itu artinya hanya ada ia sendiri wanita disana. Ia harus bisa menjaga dirinya.


“Duduk,” ucap asisten Revan yang berdiri di samping Pak Handoko yang duduk berhadapan dengan Qania yang hanya dipisahi oleh meja kerjanya.


Qania pun langsung duduk dan Pak Handoko langsung saja bertanya padanya, “Bisakah perkenalkan dirimu?”


“Oh bisa Pak. Nama saya Qania Salsabila. Saya berasal dari salah satu kabupaten yang ada di Sulawesi Tengah,” jawab Qania berusaha terlihat santai padahal ia sedang gugup.


“Di dalam data dirimu dari kampus, walimu adalah Arkana Wijaya? Ayahmu?” tanya Pak Handoko.


“Oh bukan Pak, itu suami saya,” jawab Qania dengan senang hati.


“Suami? Sudah menikah?” tanya kaget Pak Handoko.


“Ya, dan ibu dari seorang anak,” jawab Qania lagi.


“Lantas kau disini tinggal bersama mereka?”


“Oh tidak Pak. Saya mengontrak rumah disini dan juga suami saya orangnya sibuk mengurus bisnis kulinernya. Sementara saya juga masih ingin melanjutkan studi. So, dia ngijinin,” jawab Qania.


“Baiklah Qania, mulai besok kau bisa bekerja dan semua tugas-tugasmu akan dijelaskan nanti oleh Pak Revan,” ucap Pak Handoko.

__ADS_1


“Baik Pak, kalau begitu saya permisi. Terima kasih,” ucap Qania kemudian berdiri lalu menundukkan kepalanya sejenak untuk memberi hormat.


Qania berjalan keluar dan baru saja ia akan menaiki motonya, Julius datang menghampirinya.


“Makan siang?” ajak Julius.


“Boleh. Asal Gueena gak marah,” ucap Qania.


“Nggak, aku udah izin kok,” ucap Julius.


“Ya udah ayo.”


Keduanya pun sama-sama menuju ke sebuah kafe dengan menaiki motor masing-masing. Kali ini Julius memilih mengendarai motor supaya tidak nampak bahwa ia memiliki orang tua yang kaya raya di tempat magangnya ini.


Sesampainya di kafe mereka langsung memesan makanan mereka masing-masing.


“Qan, suka dengan kejutannya?” tanya Julius tersenyum penuh arti.


“Kejutan?” beo Qania.


“Data diri.”


“Data diri? Ah, jadi itu kamu?” tanya Qania cukup terkejut mengingat tadi data dirinya menuliskan walinya adalah Arkana.


“Ya gitu deh. Kata Paman Erlang, wali kamu itu Pak Setya Wijaya yang merupakan seorang pengacara hebat. Untuk mengantisipasi berbagai hal, aku meminta paman Erlang untuk mengubah datamu. Aku khawatir saja, mungkin saja mertuamu dan juga Pak Handoko saling mengenal atau bahkan saling bersitegang, posisi kamu pasti bahaya, Qan. Makanya aku antisipasi, jangan sampai terjadi Sesuatu yang gak kita inginkan. Sedia payung sebelum hujan,” ungkap Julius.


“Benar sekali Jul, makasih banyak ya,” ucap Qania merasa lega.


Sesaat kemudian makanan dan minuman mereka datang.


“Yuk makan,” ajak Julius.


“Yuk.”


Keduanya pun menikmati makan siang mereka bersama. Sesekali mata tajam Qania berusaha mengawasi sekitar. Ia hanya merasa bersikap waspada itu perlu karena jika ia lengah bisa saja rahasianya dan juga Julius akan terbongkar dan mereka lah yang akan terkena bahayanya.


Mulai besok harus ekstra waspada dan juga teliti. Jangan sampai aku kehilangan satu informasi tentang Pak Angga. Jangan sampai ada yang terlewatkan dan jangan sampai gagal. Ini menyangkut hidup dan mati serta kebahagiaanku dan juga anakku.


 


...🌳🌳🌳🌳🌳🌳🌳🌳🌳🌳🌳🌳...


Maaf ya baru bisa Up. Baru menyelesaikan pekerjaan RL yang menumpuk itu. Tapi In Sya Allah akan Up setiap harinya 🙏🙏🙏


Terima kasih sudah setia membaca dan menunggu 😊😊😊


 

__ADS_1


__ADS_2