
Semenjak kejadian di taman waktu itu, Ghaisan berusaha mengubur dalam-dalam perasaannya yang baru saja mulai tumbuh untuk Qania. Ia merasa tidak pantas menyimpan perasaannya terlebih lagi Qania tidak memiliki perasaan yang sama terhadapnya. Ya, Qania hanya bisa menatap penuh cinta ke satu pria yaitu Arkana, meskipun di depannya ada banyak pria yang begitu menginginkannya.
Elin datang menghampiri Ghaisan ke kamarnya, ia melihat pintu kamar itu terbuka sehingga tanpa meminta izin ia langsung menerobos masuk.
“Kakak mau pergi?” Tanya Elin yang melihat Ghaisan tengah memasukkan pakaiannya ke dalam tas.
“Iya, masa liburanku hampir habis” jawab Ghaisan tersenyum paksa.
“Ya jangan dulu dong kak, besok kan Elin mau rayain ulang tahun” bujuk Elin.
“Ya setelah acara kamu, kakak akan kembali” ucap Ghaisan, ia tidak ingin membuat adik sepupunya itu sedih.
“Yah nggak seru deh, maunya kakak disini aja supaya Elin nggak kesepian” rengek Elin.
“Hei kakakmu ini abdi Negara, nggak bisa liburan sesuka hati” ucap Ghaisan sambil mengacak rambut Elin membuat si pemilik rambut memanyunkan bibirnya, sehingga Ghaisan tertawa.
“Ya aku tahu, tapi haruskah secepat ini kembali bekerja?” Tanya Elin.
“Sudah hampir sebulan loh kakak cuti. Kakak harus kembali” jawab Ghaisan kemudian merangkul Elin.
Mama dan papa Elin datang menghampiri mereka di dalam kamar.
“Kakak kamu itu hanya memikirkan pekerjaannya, dia tidak sadar kalau hidup itu bukan cuma bekerja, tapi berumah tangga juga” ucap papa Elin mencibir Ghaisan.
“Betul tuh pa” timpal mama Elin, membuat Ghaisan menjadi salah tingkah.
“Apa perlu kami carikan kamu calon istri?” Tanya papa Elin menggoda Ghaisan.
“Sebenarnya kakak sudah menyukai seseorang pa, hanya saja ya bertepuk sebelah tangan” cerita Elin kemudian menjadi lesu.
“Wah siapa gadis beruntung sekaligus tidak beruntung itu?” Tanya mama Elin.
“Maksudnya beruntung dan tidak beruntung itu apa ma?” Tanya Elin kebingungan, ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
“Ya beruntung karena bisa merebut hati kakakmu, sekaligus tidak beruntung karena menyia-nyiakan kakakmu yang baik ini” jelas mamanya.
“Ohh” ucap Elin mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Jadi siapa dia?” Tanya papa Elin.
“Ya siapa lagi pa, Qania Salsabila” jawab Elin bangga akan sahabatnya.
__ADS_1
“Qania sahabat kamu? Yang di depan rumah?” Tanya mamanya tak menyangka.
“Huss apaan sih, jangan ngomongin orang” sela Ghaisan yang dari tadi hanya diam saja.
“Emang benar kok” bantah Elin.
“Jangan merusak hubungan orang” tegas Ghaisan.
“Kan aku Cuma ngasih tahu mama sama papa kak” sahut Elin.
“Jadi dia yang sudah buat kamu merasakan jatuh cinta, dia memang anak yang manis jadi wajar saja. Tapi jika kamu serius papa akan membantumu, selagi janur kuning belum melengkung semua masih milik umum dan kamu masih bisa nikung” tukas papa Elin yang juga sudah menjadi papa Ghaisan.
Setelah ditinggal oleh kedua orang tuanya semenjak remaja, papa dan mama Elin lah yang mengasuh Ghaisan karena papanya adalah kakak dari papa Elin. Ia sudah dianggap anak sendiri, tidak seperti keponakan dan paman. Sehingga tidak ada yang percaya bahwa mereka bukanlah orang tua kandung Ghaisan, kecuali kerabat dan keluarga yang lain yang sudah tahu hal ini.
“Jangan gitu pa, kasihan orang yang sudah mencintainya terlebih dahulu” tolak Ghaisan, padahal dalam hati ia juga turut membenarkan perkataan papanya.
"Ah papa benar" timpal Elin.
"Kalian apaan sih, jangan berpikir begitu. Saya tidak ingin merusak hubungan orang apalagi menjadi orang ketiga, itu bukan prinsip saya" tolak Ghaisan.
"Mama setuju sama Ghaisan, lagi pula masih banyak wanita di luar sana yang bisa di jadikan istri daripada merebut milik orang. Seperti tidak laku saja" ucap mama Elin mendukung Ghaisan.
"Nah mama benar sekali" puji Ghaisan kemudian memeluk wanita paruh baya itu.
Malam ini adalah pesta perayaan ulang tahun Elin, rumahnya saat ini sudah begitu ramai. Ada teman-teman Elin, keluarganya dan rekan kerja papanya serta tetangga sekitar rumah yang turut hadir di acara tersebut.
Fadly yang sudah lama berpacaran dengan Elin juga turut hadir bersama teman-temannya. Ia nampak keren dengan gayanya, dan selalu mendampingi Elin menyambut tamu. Sementara Ghaisan mendampingi kedua orang tua mereka untuk menyambut tamu bagian orang tua.
Qania dan kedua orang tuanya terlihat memasuki ruangan yang disediakan untuk perayaan tersebut, dimana Qania nampak begitu cantik dengan rambut yang diikal, sebelahnya dipakaikan jepitan besi putih dengan motif kupu-kupu yang sedang hinggap di bunga mekar. Ia mengenakan gaun berwarna biru cerah yang membalut hingga dibawah lututnya, sangat nampak kecantikan alaminya. High heels yang ia kenakan senada dengan tas dan jepitannya yang berwarna putih.
Tak heran, Ghaisan langsung terpanah melihat kedatangan gadis yang sudah mencuri hatinya itu. Papanya yang melihat reaksi Ghaisan langsung menyikutku.
"Eh ada apa pa?" tanya Ghaisan kikuk.
"Matanya mau copot" ledek sang papa.
Ghaisan menjadi salah tingkah karena kedapatan tengah memperhatikan Qania. Ia menggaruk lehernya yang tidak gatal.
Di luar, Fandy datang dengan menaiki motor . Ia begitu bersemangat menghadiri undangan Elin karena ia tahu disana pasti ada Qania. Namun saat ia masuk, ia memang tidak melihat Arkana disana tetapi ia melihat Qania tengah bersama Ghaisan. Ia mencuri dengar bahwa Qania tengah di jodoh-jodohkan dengan Ghaisan. Hal tersebut membuatnya kesal.
"Qania cantik sekali jeng" puji mama Elin kepada mama Qania.
__ADS_1
"Terima kasih loh jeng untuk pujiannya, anak kamu juga cantik sekali" balas mama Qania.
"Oh iya Qania udah punya calon belum? Kalau belum, boleh nih di jodohin sama anak saya. Kenalkan ini Ghaisan, dia seorang perwira, dan yang terpenting dia jomblo" ucap papa Elin sambil melirik kearah Ghaisan dan mengedipkan sebelah matanya.
Keduanya saling bertatapan, seakan mata mereka saling bicara dalam bahasa isyarat.
"*Papa apaan sih" Ghaisan.
"Kamu diam saja, kalau mau enak biar papa yang urusin" papanya.
"Asal jangan bikin malu pa" Ghaisan.
"Tenang saja" papanya*.
Kira-kira seperti itu lah maksud dari tatapan keduanya.
"Wah ini nak Ghaisan, sudah besar ya" ucap papa Qania sambil tersenyum hangat.
"Ia om" jawab Ghaisan kemudian menyalami tangan papa dan mama Qania.
Mereka kemudian mengobrol biasa, sempat mereka bahas soal Qania yang dibawa pulang oleh Ghaisan saat harus pulang sendirian dari penginapan waktu itu.
Qania hanya bisa senyum, sambil sesekali menjawab pertanyaan ketika mereka bertanya kepadanya. Hatinya mulai risih, karena ia tidak suka di jodoh-jodohkan, terlebih lagi ia sudah punya Arkana.
"Pria menyebalkan itu kenapa lama sekali datangnya sih" gerutu Qania dalam hati.
Elin datang memanggil Qania dan Ghaisan untuk bergabung bersamanya dan Fadly, disana juga ada Fandy. Saat tengah asyik mengobrol, Ghaisan mendapat telepon dari seseorang dan seketika wajahnya berubah menjadi begitu panik.
"Ada apa kak?" tanya Elin.
"Kakak harus pergi sekarang, kakak boleh pinjam motor kamu?" tanya Ghaisan panik.
"Kan motor di bengkel kak" jawab Elin mengingatkan Ghaisan bahwa ia sendiri lah yang membawa motor adiknya ke bengkel.
"Ya ampun kakak sampai lupa" ucap Ghaisan semakin panik.
"Pakai motor gue aja bro, nih kuncinya" ucap Fandy menawarkan.
"Thanks" tanpa ragu Ghaisan langsung menerima kunci motor Fandy dan bergegas pergi.
"Permainan akan di mulai" ucap Fandy dalam hati.
__ADS_1
........